Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Thursday, January 22, 2015

Contoh Artikel Pendidikan Tentang Guru

Contoh Artikel Pendidikan Benar atau tidak, masalah kesenjangan sosial di lembaga pendidikan menjadi isu yang tidak akan pernah habis dibicarakan. Memang secara kuantitatif perkembangan tingkat sosial di dalam dunia pendidikan baik formal atau non formal di negeri kita sudah mencapai taraf yang baik.

Tetapi sayang dalam hal kualitas belum mencapai tingkat sosial dalam dunia pendidikan kita juga masih dihadapkan kepada realitas kesenjangan warga terdidik atau guru di dalam lembaga pendidikan. Masalah yang terakhir ini menjadi lebih kompleks karena menyangkut dua dimensi, yakni dimensi kuantitatif, dan dimensi kualitatif. Kesenjangan kuantitatif berarti bahwa jumlah warga terdidik belum proporsional mewakili ukuran sosialnya, dan tingkatan ekonomi dari semua golongan masyarakat.

Ternyata tingkat profesi guru tidak sesuai dengan situasi tingkat sosialnya dimana seharusnya guru yang sudah menyandang keprofesian guru, padahal profesi sendiri pekerjaan yang menuntut keahlian tertentu atau professi mempunyai makna yang mengacu kepada sebutan tentang orang yang menyandang suatu keprofessionalan dan sebutan tentang penampilan seseorang dalam mewujudkan unjuk kerja sesuai dengan profesinya. Penyandangan dan penampilan “professional” ini telah mendapat pengakuan, baik segara formal maupun informal. Pengakuan secara formal diberikan oleh suatu badan atau lembaga yang mempunyai kewenangan untuk itu, yaitu pemerintah dan atau organisasi profesi.

Namun pengimplementasian diatas seolah hanya simbol, memang ketika kita dihadapkan pada sebuah kenyataan di lapangan di dalam lembaga pendidikan seolah aturan kerajaan mulai berlaku di tatanan hidup modern, yang seharusnya mengemban tugas tingkat sosial yang tinggi seprofesional mungkin, tetapi ironis justru kini tingkat sosialnya rendah sekali.

Berangsurnya suatu degradasi atau kelunturan pada perilaku dan moral dari setiap individu di dalam masyarakat, akibat dari proses intervensi secara langsung yang datang dari dunia barat, atau westernisasi, yang memunculkan sikap-sikap yang tidak seharusnya pada karakter seseorang, bagi orang barat mungkin hal egosentrisnya tinggi tidak menjadi masalah, sebab budaya barat dengan budaya timur sudah sangat jauh, berbeda dengan orang ketimuran, rasanya sikap egosentris merupakan sikap yang tidak sewajarnya, adanya degradasi moral dari waktu ke waktu akan membuat kondisi baru yang tidak menguntungkan bagi semua golongan masyarakat, hingga akhirnya sikap moral yang tidak seharusnya terjadi, adalah kesenjangan sosial yang kini kondisi tersebut ada dalam batas yang menghawatirkan.

Menyinggung masalah masyarakat yang ada dalam sebuah lembaga, baik lembaga structural, dan fungsioanl adalah warga sekolah, yang di dalamnya terdapat Kepala sekolah, para guru, para staf TU dan pembantu pelaksana, Komite, siswa yang menjadi bahan objektivitas pembelajaran serta masyarakat yang menjadi lingkungan lembaga tersebut. Sebab adanya satu kesenjangan sosial yang timbul akibat dari degradasi atau perubahan moral, maka warga sekolah termasuk guru di dalamnya dengan kepemilikan jargon pekerja professional, ironis memang yang seharusnya memiliki sifat dan sikap professional dan menjunjung tinggi nilai serta sikap, sepertinya hal ini merupakan angin lalu dan dibiarkan begitu saja tanpa ada pembenahan yang berarti.

Paling menghawatirkan kesenjangan sosial selalu terjadi di setiap lembaga pendidikan, yang menjadi pemicu, banyak faktornya mulai dari tingakatan ekonomi, tingkatan jabatan, tingkatan golongan, tingkatan kemampuan dll, kendati kesenjangan sosial diartikan sebagai kesenjangan antara sikap perilaku seseorang. Seperti yang dituturkan di muka, kesenjangan tersebut terjadi karena adanya rasa ego yang tinggi dari satu individu, sehingga akhirnya memiliki rasa angkuh dan sombong serta memandang yang rendah (golongan, kemampuan, tingkatan) dipandang sebelah mata serta dirasa tidak mempunyai pengaruh. Akhirnya kondisi ini melahirkan kehidupan dalam kerajaan, yang tinggi pangkatnya akan merasa paling bisa, dan memandang rendah yang pangkatnya di bawah. Sejatinya satu keharmonisan hubungan akan terwujud dan tercipta ketika terjalinnya hubungan satu individu dengan individu laiinya atau satu kelompok masyarakat dengan satu kelompok yang lainnya atas dasar suka dan duka dihadapi bersama, namun ironis di saat keterkenalan Indonesia dengan masyarakat yang ramah tamah dan santun akan sikap dan karakteristiknya, di masa kini kehidupan masyarakatnya sudah mulai luntur dan ditanggalkan setiap, satu hubungan sosial di masyarakat yang tercipta dengan kondusif akan melahirkan suasana yang kondusif, nyaman dan aman serta ada ketenangan bathin, satu kondisi terjalinnya antara satu individu dengan individu lain sangat memungkinkan menjadi sebuah ikatan bathin yang tidak dapat dilepaskan.

Dapat disimpulkan bahwa partisipasi sosial setiap individu sangat tergantung pada situasi dan kondisi sosial dan ekonomi rumah tangga yang bersangkutan. Tetapi semua itu tidaklah harus dijadikan masalah sebab dengan memiliki profesionalan itu, guru akan menghilangkan kesan kesenjangan sosial. Solusi yang dapat memecahkan masalah, adanya keterjalinan yang erat dengan mengedepankan nilai-nilai agamis yang berbudi luhur, dan sikap mulia.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top