Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Monday, August 17, 2015

CONTOH SINOPSIS DAN UNSUR EKSTRINSIK CERPEN


A. Identitas Cerpen
      Sumber Buku         :  Kumpulan Cerpen Muslimah Edisi 41
Judul Cerpen          :  Senja di Masjid Biru
      Pengarang              :  Intani Nur Kusuma
      Penerbit                  :  Enka Parahyangan
      Tahun Terbit            :  2005

B. Sinopsis Cerpen
     Apa yang mampu menghidupkan kembali seorang yang telah tiada? Barangkali hanya dengan satu cara, yaitu dengan memutar kembali kenangan, dan mengekalkan ingatan. Sebagaimana cerpen “Senja di Masjid Biru”. Di dalam cerita ini mengisahkan  seorang gadis bernama Bintang. Ia  dikenal sangat baik hati, rajin, disiplin dan cerdas di sekolahnya.
Pada suatu hari Bintang  dikejutkan sebuah paket besar dan sepucuk surat berlogo pos luar negeri singgah di kamarnya. Paket itu adalah sebuah biola Stradivarius dan sebuah lukisan cantik yang bergambar dirinya dalam balutan gamis yang berwarna coklat. Membaca baris demi baris surat itu mengantarkan ingatannya kembali menuju beberapa tahun silam. Pada musim gugur yang indah, tentang kenangan singkat di sebuah negeri bersama  seorang kakek tua di sebuah mesjid ketika ia menikmati paket hadiah liburan selama satu minggu di Turki. Paket itu diberikan pemerintahan Turki kepada Bintang atas keberhasilannya memenangkan lomba karya tulis tentang Keruntuhan Turki Usmani dan Implikasinya Terhadap Dunia Islam yang digelar pemerintahan Turki melalui Kedutaan Besarnya di Indonesia..
Selama satu minggu Bintang menikmati liburan disana, ia selalu bersama kakek tua itu. Setiap senja hari di pelataran Masjid Biru Bintang selalu menghabiskan waktunya bersama kakek tua itu. Mereka bernyanyi-nyanyi, menari, saling bercerita, dan bersenda gurau. Ibarat seorang kakek dengan cucunya. Mereka hidup bahagia. Namun, pada hari terakhir kepulangannya ke Indonesia, Bintang tidak melihat kakek tua itu lagi. Bintang sangat sedih karena disaat Bintang ingin berpamitan padanya, ia justru menghilang entah kemana.
Bintang terus membaca surat itu dengan diam. Nafasnya mendadak sesak. Disurat itu diceritakan  bahwa kakek itu dulu tak muncul karena sakit dan akhirnya meninggal dunia. Namun sebelum ia meninggal ia sempat menulis wasiat yang ditulis dalam sepucuk kertas bahwa sepeninggalnya ia meminta sebuah biola dan sebuah lukisan untuk dikirimkan kepada seorang gadis dari Indonesia yang bernama Bintang.
Mengingat kenangan indah itu Bintang sangat menangis haru, air matanya mengalir deras tak terbendung lagi. Suara- suara kakek itu melintas lagi di benaknya. Rasanya ia ingin sekali mengulang kembali kenangan indah bersama kakek tua yang ia sayangi itu.
C. Unsur Ekstrinsik Cerpen
  1. Kepercayaan yang dianut ( agama )
     Pengarang cerpen ini adalah seorang yang menganut agama islam yang pada waktu itu terdaftar sebagai mahasiwa di sebuah Universitas yang berlatarkan agama islam juga yaitu Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Maka cerpen atau hasil karyanya cenderung bernuansa islam ( religi ). Sebagaimana dalam cerpen ini “ Senja di Masjid Biru “ dalam menyampaikan cerita pengarang banyak menggunakan bahasa yang mengandung nilai- nilai islam. contohnya pada beberapa kalimat berikut ini :
   Dengan  beribu tanda tanya yang berkejaran  silih berganti di benakku, aku membukanya hati- hati, Bismillahirrahmanirrohim
     Kata Bismillahirrahmanirrohim yang terdapat pada kalimat diatas merupakan sebuah bacaan suci atau do’a yang sering dibaca oleh seorang muslim ketika  hendak  melakukan sesuatu (  kebaikan ).
“ Ya Rabbi…aku tak kuasa lagi menahan perih “
      Di dalam cerpen ini pengarang menggunakan istilah Rabbi untuk sebutan Tuhan. Istilah ini biasa digunakan orang- orang islam untuk memohon kepada Tuhannya.
Jangan lupa shalat, Nak.” Bisik mama haru ketika melepas keberangkatanku.
     Selain itu pengarang juga memasukkan kata shalat  yang merupakan bentuk pengabdian  ibadah orang muslim kepada Tuhannya.

  1. Latar belakang pengarang.
Kehidupan pengarang dan kejiwaannya berpengaruh terhadap proses penciptaan karya  sastra.  Misalnya pengarang yang saat itu sebagai mahasiswa banyak menulis karya sastra yang sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Contohnya pada kalimat berikut ini :
“ Waktu berjalan sedemikian cepatnya, dan aku pun beralih menjadi mahasiswa di sebuah kampus di Yogyakarta ”
 Tak terasa, bulan depan aku wisuda “
“ Kesibukan di kampus yang kujalani saat ini perlahan mengaburkan kenanganku tentang Istambul “   
  1. Aspek- aspek sosial
            Situasi sosial seperti masalah ekonomi,dan budaya akan berpengaruh terhadap sebuah karya sastra. Hal ini mudah dipahami. Sebagai contoh dalam cerpen ini pengarang banyak memunculkan istilah- istilah asing, misalnya dalam kalimat berikut ini :
“ Blue Mosque, Masjid Biru simbol kebanggaan Istambul. “
Tak lupa sejumlah travel guide yang berisi tempat – tempat wisata, museum, serta objek yang menarik lainnya yang bisa kupilih sesuka hatiku untuk kukunjungi 
 
  1. Semangat zaman, atmosfer, atau iklim tertentu.
Semangat zaman yang dimaksud disini menyangkut aliran seni yang di gemari saat itu. Sebagai contoh  cerpen ini banyak berceritakan kehidupan Anak SMA yang pada saat itu banyak di gemari orang. Ini bisa kita lihat dari contoh kalimat berikut ini :
 “ Bintang, selamat ya !”  Teman- temanku berebut menyalamiku pagi ini ketika aku baru saja melangkahkan kaki menuju kelas.
“ Kemarin pihak kedutaan Turki menelfon Bapak Kepala Sekolah “ 

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top