Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Friday, January 23, 2015

Makalah Filsafat Pendidikan Progresivisme


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Progresivisme bukan merupakan suatu bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri melinkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan 1918. Selama dua puluh tahunan berdiri sebagai gerakan yang kuat di Amerika Serikat, banyak guru yang ragu-ragu dngan gerakan ini karena guru telah mempelajari dan memahami filsafat Dewey sebagai reaksi terhadap filsafat lainnya. Kaum progresif sendiri mengkritik filsafat Dewey. Perubahan masyarakat yang dilontarkan oleh Dewey adalah perubahan secara evolusi sedangkan kaum progresif mengharap perubahan yang sangat cepat agar lebih cepat mencapai tujuan.

1.2 Tujuan Pembuatan Makalah
Adapun tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk : 
  1. Mempelajari pandangan progresivisme dalam filsafat pendidikan. 
  2. Memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Pendidikan. 
1.3. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam menyusun makalah ini adalah metode pustaka, yaitu mencari dari buku sumber yang membahas tentang filsafat pendidikan progresivisme.


BAB II 
PEMBAHASAN
(FILSAFAT PROGRESIVISME)

2.1. Prinsip Filosofis
2.1.1 Hakekat Manusia
Menurut Henderson (1959), pendidikan progresivisme dilandasi oleh filsafat naturalisme romantik dari Rousseau, dan pragmatisme dari John Dewey. Filsafat Jean Jacques Rousseau yang mendasari pendidikan progresivisme adalah pandangan tentang hakikat manusia, sedangkan dari pragmatisme Dewey adalah pandangan tentang minat dan kebebasan dalam teori pengetahuan.

Rousseau, seorang ahli filsafat Prancis berpendapat bahwa segala sesuatu, termasuk anak, dilahirkan adalah baik berasal dari pencipta alam namun semuanya itu mengalami degenerasi, penyusutan martabat, dan nilai-nilai kemanusiaannya karena tangan-tangan manusia. Manusia memiliki kebebasan bertindak. Barang siapa mengingkari kebebasan seseorang, berarti mengingkari kualitasnya sebagai manusia, menyangkal hak, dan kewajiban kemanusiaan. Karena hal itu semua bertentangan dengan hakikat manusia. Menyangkal kebebasan dari kemauan manusia berarti meniadakan kesusilaan dari tindakannya.

Manusia pada hakikatnya baik, namun masyarakat manusialah yang menjadikan dia jahat (tidak baik). Rousseau ingin mendidik anak terpisah dari kelompok manusia. Rousseau ingin menjauhkan anak dari segala keburukan masyarakat yang serba dibuat-buat sehingga kebaikan anak-anak yang dimiliki secara alamiah sejak saat kelahiran dapat berkembang secara spontan dan bebas. 

2.1.2 Hakekat Realitas
pandangan progresivisme tentang realitas seperti halnya pandangan John Dewey bahwa “perubahan” dan “ketidaktetapan” merupakan esensi dari realitas. Menurut progresivisme, pendidikan selalu dalam proses pengembangan, penekanannya adalah perkembangan individu, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan harus siap memperbaharui metode, kebijaksanaannya, berhubungan dengan perkembangan sains dan tekhnologi, serta perubahan lingkungan.

2.1.3 Hakekat Pengetahuan
Untuk memperoleh pengetahuan yang benar, kaum progresif sepakat dengan pandangan Dewey, yaitu menekankan pengalaman indera, belajar sambil bekerja, dan mengembangkan intelegensi, sehingga anak dapat menemukan dan memecahkan masalah yang dihadapi.

Kaum progresif menolak pandangan bahwa belajar secara esensial merupakan penerimaan pengetahuan sebagai suatu substansi abstrak yang diisikan oleh guru ke dalam jiwa anak. Pengetahuan menurut pandangan progresif merupakan alat untuk mengatur pengalaman, untuk menangani situasi baru secara terus-menerus, di mana perubahan hidup merupakan tantangan di hadapan manusia.

Manusia harus dapat berbuat dengan pengetahuan. Oleh karena itu, pengetahuan harus bersumbe pada pengalaman. Menurut Dewey, kita harus mempelajari apa saja dari sains eksperimental. Penelurusan pengetahuan abstrak harus diartikan ke dalam pengalaman pendidikan yang aktif. 

2.1.4 Hakekat Nilai
Kualitas dari hasil pendidikan tidak ditentukan dengan menentukan atau menetapkan suatu ukuran yang berlaku secara mutlak dan abadi. Norma atau nilai kebenaran yang abadi tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan berhasil tidaknya usaha pendidikan. Pendidikan dapat diartikan sebagai suatu rekonstruksi pengalaman yang berlangsung terus-menerus.

2.2. Implikasi Pendidikan
2.2.1 Tujuan Pendidikan
sekolah merupakan masyarakat demokratis dalam ukuran kecil, di mana siswa akan belajar dan praktik keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup dalam demokrasi. Dalam pengalamannya, siswa akan mampu menghadapi perubahan dunia. Karena realitas berubah terus-menerus, kaum progresif tidak memusatkan perhatiannya terhadap tbody of knowledge yang pasti, sama seperti, sama seperti halnya dengan pandangan perenialisme dan esensialisme. Kaum progresif menekankan “bagaimana berpikir”, bukan “apa yang dipikirkan”.

Tujuan pendidikan adalah memberikan keterampilan dan alat-alat yang bermanfaat untuk berinteraksi dengan lingkungan yang berada dalam proses perubahan secara terus-menerus. Yang dimakssud dengan alat-alat adalah keterampilan pemecahan masalah (problem solving) yang dapat digunakan oleh individu untuk menentukan, menganalisis, dan memecahkan masalah. Proses belajar terpusatkan pada perilaku cooperative dan disiplin diri dimana kebudayaan sangat dibutuhkan dan berfungsi dalam masyarakat.

2.2.2 Peranan Siswa
Proses belajar terpusat pada siswa, namun hal ini tidak berarti bahwa mereka akan diizinkan untuk mengikuti semua keinginannya karena belum cukup matang untuk menentukan tujuan yang memadai. Siswa memang banyak berbuat dalam menentukan proses belajar, namun ia bukan penentu akhir. Siswa membutuhkan bimbingan dan arahan dari guru dalam melaksanakan aktivitasnya.

Pengalaman siswa adalah rekonstruksi yang terus-meners dari keinginan dan kepentingan pribadi. Mereka aktif bergerak untuk mendapatkan isi mata pelajaran yang logis. Guru mempengaruhi pertumbuhan siswa, tidak dengan menjejalkan informasi ke dalam kepala anak, melainkan dengan pengawasan lingkungan dimana pendidikan berlangsung. Pertumbuhan diartikan sebagai peningkatan intelegensi dalam pengelolaan hidup dan adaptasi yang intelegen (cerdas) terhadap lingkungan. 

2.2.3 Peranan Guru
Peranan guru adalah membimbing siswa dalam kegiatan pemecahan masalah dan kegiatan proyek. Mungkin akan ada banyak guru yang kurang senang terhadap peran ini karena didasarkan atas suatu anggapan bahwa siswa mampu berpikir dan mengadakan penjelajahan terhadap kebutuhan dan minat sendiri.

Guru harus menolong siswa dalam menentukan dan memilih masalah-masalah yang bermakna, menemukan sumber-sumber data yang relevan, menafsirkan dan menilai akurasi data, serta merumuskan kesimpulan. Guru harus mampu mengenali siswa, terutama pada saat apakah ia memerlukan bantuan khusus dalam suatu kegiatan sehingga ia dapat meneruskan penelitiannya. Guru dituntut untuk sabar, fleksibel, berpikir interdisipliner, kreatif dan cerdas.

Peran guru dalam suatu kelas yang berorientasi secara progresif adalah berfungsi sebagai seorang pembimbing atau orang yang menjadi sumber yang pada intinya memiliki tanggung jawab untuk memfasilitasi pembelajaran siswa. Guru berhubungan dengan membantu para siswa mempelajari apa yang penting bagi mereka, bukannya memberikan sejumlah kebenaran yang dikatakan abadi. Terhadap tujuan ini, guru progresif berusaha untuk memberi siswa pengalaman-pengalaman yang mereplikasi/meniru kehidupan keseharian sebanyak mungkin. Para siswa diberi banyak kesempatan untuk bekerja secara kooperatif di dalam kelompok, seringkali pemecahan masalah yang dipandang penting oleh kelompok itu, bukan oleh guru. Peranan guru tidak langsung, melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Kebutuhan dan minat siswa akan menentukan apa yang mereka pelajari. Anak harus diizinkan untuk merencanakan perkembangan diri mereka sendiri, dan guru harus membimbing kegiatan belajar.

2.2.4 Kurikulum
Kurikulum disusun sekitar pengalaman siswa, baik pengalaman pribadi maupun pengalaman sosial. Sains sosial sering dijadikan pusat pelajaran yang digunakan dalam pengalaman-pengalaman siswa, dan dalam pemecahan masalah serta kegiatan proyek. Pemecahan masalah akan melibatkan kemampuan berkomunikasi, proses matematis, dan penelitian ilmiah. Oleh karena itu, kurikulum seharusnya menggunakan pendekatan interdisipliner. Buku merupakan alat dalam proses belajar, bukan sumber pengetahuan. Metode yang dipergunakan adalah metode ilmiah dalam ikuiri dan metode problem solving.

2.2.5 Metode
belajar melalui pemecahan masalah akan menjadi presenden terhadap pemberian sumject matter. Jadi, belajar harus dapat memecahkan masalah yang penting dan bermanfaat bagi kehidupan anak. Dalam memecahkan suatu masalah, anak dibawa berpikir melewati beberapa tahapan, yang disebut metode berpikir ilmiah, sebagai berikut :

Anak menghadapi keraguan, merasakan adanya masalah;
  1. Menganalisis masalah tersebut, dan menduga atau menyusun hipotesis-hipotesis yang mungkin;
  2. Mengumpulkan data yang akan membatasi dan memperjelas masalah;
  3. Memilih dan menganalisis hipotesis;
  4. Mencoba, menguji, dan membuktikan.
2.3. Tanggapan Kelompok
2.3.1 Kaitan dengan KTSP
Menurut pandangan progresivisme bahwa anak memasuki situasi belajar yang disesuaikan dengan usianya dan berorientasi pada pengalaman. Pendidikan harus berhubungan dengan minat anak, minat individu, yang dijadikan sebagai dasar motivasi belajar. Secara kodrati, anak suka belajar apa saja yang berhubungan dengan minatnya, atau untuk memecahkan masalahnya. Peranan guru tidak langsung melainkan memberi petunjuk kepada siswa. Hal ini relevan dengan aturan yang ada pada KTSP dimana peran guru hanyalah sebagai fasilitator, artinya memfasilitasi kebutuhan belajar siswa serta membantu kesulitan yang dialami siswa selama pembelajaran. Sementara siswa lebih berperan aktif dalam mencari sumber ilmu dan menemukan sendiri konsep yang diperolehnya dari hasil pengalaman.

2.3.2 Kaitan dengan Isu Kontemporer
Manusia pada dasarnya memiliki sifat sosial, harus mampu bekerja sama dan mampu berkomunikasi dengan manusia lainnya. Progresivisme berpandangn bahwa kasih saying dan persaudaraan lebih berharga bagi pendidikan daripada persaingan dan usaha pribadi. Isu kontemporer saat ini memperlihatkan bahwa setiap orang bersaing untuk meraih keuntungan pribadi. Sementara menurut pandangan progresif bahwa kehidupan yang demokratis merupakan kondisi yang diperlukan bagi pertumbuhan. Hal ini sangatlah penting untuk memperoleh kehidupan yang sejahtera baik bagi individu maupun bagi kehidupan sosial.

BAB III
KESIMPULAN
Filsafat progresif berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Karenanya, cara terbaik mempersiapkan para siswa untuk suatu masa depan yang tidak diketahui adalah membekali mereka dengan strategi-strategi pemecahan masalah yang memungkinkan mereka mengatasi tantangan-tantangan baru dalam kehidupan dan untuk menemukan kebenaran-kebenaran yang relevan saat ini. Melalui analisis diri dan refleksi yang berkelanjutan, individu dapat mengidentifikasi nilai-nilai yang tepat dalam waktu yang dekat.

Orang-orang progresif merasa bahwa kehidupan itu berkembang dalam suatu arah positif dan bahwa umat manusia, muda maupun tua baik dan dapat dipercaya untuk bertindak dalam minat-minat terbaik mereka sendiri. Berkenaan dengan ini para pendidik (ahli pendidik) yang memiliki suatu orientasi progresif memberi kepada para siswa sejumlah kebebasan dalam menentukan pengalaman sekolah mereka. Sekalipun demikian, pendidikan progresif tidak berarti bahwa para guru tidak memberi struktur atau para siswa bebas melaksanakan apa pun yang mereka inginkan. Guru-guru progresif memulai dengan posisi dimana keberadaan siswa dan melalui interaksi keseharian di kelas, mengarahkan siswa untuk melihat bahwa mata pelajaran yang akan dipelajari dapat meningkatkan kehidupan mereka.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top