Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Wednesday, February 11, 2015

Contoh buku kumpulan puisi : Seperti pelangi ( Kumpulan Puisi )


Contoh buku kumpulan puisi 

Seperti pelangi ( Kumpulan Puisi )

Pada bumi semua berpijak
Pada langit semua tercurah
Pada Laut semua bermuara
Pada Tuhan semua bermula
Bismillahirrahmanirrahim

Memoar 30 Desember 2009
Tasikmalaya di waktu senja
Lahirkan suasana duka.
Diantara jutaan kepala manusia
Tertunduk haru bercucuran air mata.
Indonesia kembali berduka,
Sang guru bangsa
Kini pergi tiada.
Tinggalkan tanah air tercinta
Menghadap sang maha kuasa.
Sebagaimana panggilan jiwa.

Engkaulah pahlawan bangsa.
Jasa- jasamu terpatri di dalam dada.
Cita- citamu sangatlah mulia
Membela agama dan Negara.
Innaliiahiwainnailahi roji’un
Selamat jalan sang guru bangsa
Teriring do’a melepas kau tiada.

Sebuah Bidak Catur
Hidup seperti sebuah bidak catur.
Mengkisahkan si putih dan si hitam
Keduanya sama- sama ambil peranan
Adu strategi adakan perlawanan
Sang pion berdiri di barisan terdepan
Siap melaju secara perlahan
Setiap langkah dipikirkan
Salah melangkah datangkan kematian.

Satu demi satu
Umpan dikorbankan
Sementara sang raja hanya duduk terdiam
Bersembunyi di balik benteng pertahanan
Tanpa ada rasa iba belas kasihan
Relakan rakyatnya mati dalam pertempuran
Hanya karena tahta kekuasaan.
Begitulah kehidupan dunia
Serakahnya para penguasa
Menjadikan kepedihan yang menyala

“ mengapa mereka tak bersatu saja ? ”
Satukan kekuatan, berjalan seiring seirama
Bernyanyi, menari dan teriak bersama
“ majulah bangsaku, majulah Indonesia ! “

DUSTA
awalnya,
aku percaya
senyuman manis bibirmu
tatapan indah matamu
meyakinkanku
kaulah mawar kan menghiasi taman jiwa
yang bernyanyi di dingding hati yang sepi
melukis kasih senandung asmara.

tapi mengapa?
bunga- bunga cinta yang ku tanam.
benih kasih yang kutaburkan
musnah; lenyap terbakar kemunafikkan.
hati menangis sendu
sakit bagai terisiris sembilu

harapan musnah
tapi biarlah
jika kau salah
aku lebih salah
jika kau tak ku maafkan
Tuhan aku ikhlaskan
Periharalah aku dari kekecewaan.

IRONI
Kekayaan alam melimpah
Janjikan hidup penuh berkah
Namun tidak bagi negeri ini
Awan hitam menjadikannya tiada
Dihisap kaum serakah
Menjadikan kita kuli di negeri sendiri
Sampai regenerasi
Jatuh dalam penderitaan curamnya kehidupan
Bhineka Tunggal Ika
Tak lagi terpelihara
Lapuk ditelan angkuhnya peradaban
Bencana menyambut riang
Kemiskinan makin menyesakkan
“ Mengapa karunia lebih dari Tuhan
Melahirkan cacian bahkan kehancuran ? ”
“ Adakah kau pikirkan “

Jalan Menuju Masjid
Gaung pendar pencar gemulung adzan
Menggema di lekuk kubah di pucuk suar
Memeluk kalbu mengelusi kisi nurani
Mengagumkan- Mu memuji tinggi

Terpukauku melangkah mencari bunyi interupsi
Mencegat ayun kaki mengais duniawi
Mengiblat tertuju pada satu tuju
Rumah suci anak bani adam sujud dan ruku
Menghamburkan wirid ayat tilawah melantun syahdu

“ Dengarlah…Tuhan menyerumu “
Segeralah berwudlu, dahulukan yang fardlu
Berjalan menjemput kebahagiaan.

Harapan Tengah Malam
Derai embun malam ini
Pekat merapat kesunyian
Hati yang meradang sendu
Membeku keras bagaikan batu

Kesepian terus menggelayuti
Ditengah kelamnya malam
Tanpa bulan dan bintang
Tiada satupun yang menemani
Sendiri dengan keadaan sepi
Tanpa rasa untuk dikasih
Tanpa hati untuk dicinta
Aku rindu pada purnama malam
Bertaburkan cahaya bintang
Ingin kurengkuh kebahagiaan
Yang hilang melayang padam

Tuhan,,,
Tunjukan jalan untuk mengabdi
Pada kebahagiaan yang hakiki
Dalam ribaan kasihmu
Aku mengeluh penuh harap.

Tentang Kasih Sayang Ibu
Ibu,,,
Pengorbananmu sangatlah mulia
Semenjak aku dalam rahimmu
Sampai aku lahir ke dunia
Dan beranjak dewasa
Dengan tulus kasih sayang
Kau jaga aku dengan setia
Satu gigitan nyamukpun tak rela
Membekas dikulitku yang tak ternoda
Ketika malam merantai sepi
Ketika orang lelap dalam pejaman
Aku teriak bangun dengan tangisan
Kaupun timang aku dengan keikhlasan
Sampai matamu lelah tak terpejamkan
Menunggu aku kembali tidur dalam pelukan
Ibu kau lah pelita hati ini
Sejuta kasih yang kau berikan
Tak kan terbalas walau nyawa ku haturkan.

Tersiksa Di Balik Kata Kerinduan
Hening malam semakin muram
Hempas terbakar kesunyian.
Nelangsaku dalam mendetik hari
Pecahkan semua bising
Ijinkan langkah mengadu
Kesal ngiang membeku
“ Pergi “
bisik kencang sapaku
“ Pergi kesendirian “
Aku rindu perempuan itu
Dalam gemercik arus air hujan
Aku memohon
Mengapa aku tak bias memelukmu
Semua karena aku rindu perempunku.

Keadaan hati
Hati akan tersenyum bahagia
Hujan turun ditaman jiwa
Air mengalir terserap tanah
Akar- akarpun merayap, kemudian
Darinya bunga- bunga mekar berwarna- warna
Nan harum semerbak wanginya
Maka, bersyukurku atas karunia
Memuji- Mu dalam do’a.
Hati ini menangis sendu
Kemarau mengutuk hujan
Menjadikannya tanah kering kerontang
Dibakar panasnya matahari
Menyengat ke dalam pori- pori
Bungapun jatuh berguguran
Lenyap terhempaskan angin
Hilang dalam pandangan
Maka, bersabarku hadapi dengan tenang.

Aku Di Langit Pagi
dilangit pagi
kugantungkan cita- cita
menembus cakrawala
merobek langit tiinggi.
di dinginnya pagi
aku berlari pergi
merajut mimpi
mencari jati diri.
dilangit pagi
awan hitam mendominasi
arus hujan mencegat ayun kaki
meraih mimpi.

sungguh- sungguh
hujan telah menghalangi langkahku
tapi aku tak peduli
: teruskan perjalanan “
menjemput masa depan.
Hari esok kan lebih baik.

Nyanyian Bulan
Bulan bersinar di kaki langit hitam
tebarkan pesona hiasi malam
terangi jiwa yang muram
pelita di malam kelam
sungguh indahnya
berpendar di wajahnya yang bundar
menembus dinding- dinding awan
kutatap engkau lewat senyuman
senyuman penuh kekaguman
mentafakuri agungnya ciptaan Tuhan.

Antara Tasikmalaya- Ciamis
Biarkan embun menyambut datangnya pagi
Bersama angin berhembus memeluk lembut
Cahaya mentari tlah menyapa di ufuk timur
Saatnya, mohon do’a dari mama
Berlari mengepal semangat
Menjelajah mengejar waktu
jarak tasikmalaya- ciamis kian jauh
tapi tlah ku putuskan
berjuang merengkuh harapan
sepanjang jalan tasikmalaya- ciamis
kudayung lautan mimpi
biarpun ombak berguncang- guncang
menerjang datang menghadang
demi masa depan
demi kesejahteraan
demi tuhan
aku akan terus berjuang

Dalam Rebahan Salatku
Dalam rebahan salatku
Jasad bersujud mengeluh pasrah
kuratakan keningku diatas sadjadah
kumantapkan niatku semata ibadah
semua terasa ringan dan indah
setiap desah nafas takbir
semoga dihitung sebagai pahala
sebutir keringat yang di teteskan
semoga menjadi ladang amal ke surga
amin ya robbal alamin

Duhai Al- Amin
Ditengah kemaksiatan melanda
Ditengah kedurjanaan merajalela
Kejahiliyahan,,,kemungkaran,,,
Menimpa umat manusia
Di saat orang-orang kebingungan
Di saat kemerosotan moral berlaga
Menyembah arca, menyembah berhala
Latta,uzza dan yang lainnya
Duhai Al- Amin
Engkau bawa sinar tuhanmu
Ketika gelap alam semesta
engkau pemadam pertikaian
ditengah kehancuran

Duhai Al- Amin
Biar meskipun di padang pasir
Biar dibawah pohon kurma
Tilawahmu selalu mendesir
Menggetarkan hati umat mulia

Untuk Sahabat
Beberapa dasawarsa kita lalui
Mengukir lembaran rajutan kisah kehidupan
Duka
Bersama kita arungi samudera
Di tengah kejaran gelombang
Badai menerjang
mengulung- gulung terus menghantam
kita tetap terus berlayar
Bahagia
Hujan datang setelah kemarau panjang
Bersama angin
Kita rayakan terbang melayang
Melintasi hamparan dunia
Meniti langit berbatas cakrawala
Hujan adalah anugerah
setelah hujan,
Semoga ada pelangi yang hendak kita lukis bersama.

GUNUNG GALUNGGUNG
Pagi itu,,
Mentari menatap hangat suasana
Galunggung tanah tasikmalaya
Berdiri tegak memaku dunia
Berikan kedamaian dalam jiwa
Angin bertiup mengalun lembut
Berirama sepoi menyejukan
Dibawahnya sungai mengalir deras
Jernih, bersih, menyegarkan
Bermuara sampai di ujung telaga
Galunggung begitu agung
Indahmu tak bisa kupungkiri
Kau mengajakku lebih
Mensyukuri karunia Ilahi

JANGAN BILANG IA BERIMAN
Jangan bilang Ia beriman
Kalau Ia menutupi kebenaran
Jangan bilang Ia beriman
Kalau shalat Ia tinggalkan
Jangan bilang Ia beriman
Kalau zakatpun enggan
Jangan bilang Ia beriman
Kalau tak kenal Al-quran
Jangan bilang Ia beriman
Kalau dosa tak Ia sucikan
Jangan bilang Ia beriman
Kalau Ia masih berbuat kedzhaliman
Jangan bilang Ia beriman
Kalau keyakinan Ia jual-belikan
Ia beriman jika ada ketaqwaan

Wasiat Seorang Ayah kepada Anaknya

Anak- anakku
Jikalau aku Ayahmu
Pergi tidak ada lagi
Meninggalkanmu semua
Meninggalkan kehidupan dunia
Apa yang hendak kau sembah, Nak?
Menyembah Alloh apa menyembah harta
Menyembah Alloh apa mendewa- dewakan dunia
Apa yang hendak kau sembah, Nak?
Masihkah engkau mau ruku dan sujud
Masihkah engkau mau I’tikaf dan bertasbih
Anak- anakku
Teguhkanlah keyakinanmu
Jangan pernah berpaling
Tetaplah berjalan di Jalan- Nya.
Menempuh ridho- NYa.
Anakku ini Wasiat Ayah Padamu.


Di Kaki Puncak Merapi
( 27 0ktober 2010 )
Ratapan tangis mendengus
Seribu duka menyerbu, saat bumi ini hangus
Puncak merapi marah mendentum letus
Menyapu hutan dan kehidupan
Tanpa ada kasihan.
Anak menangis kehilangan bapak
Saudara entah ada dimana
Keluarga memeras habis air mata
Sampai tak lagi bersuara

Di kaki puncak merapi
Tangis terus berapi
Di kaki puncak merapi
Mereka berlindung diri
Pasrah pada goresan Ilahi.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top