Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Friday, September 12, 2014

ARTIKEL KESEHATAN- Konsep Penyakit Diabetes Melitus Tipe II

TINJAUAN TEORITIS

2.1. Konsep Penyakit Diabetes Melitus Tipe II
2.1.1. Pengertian
Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan yang bersifat heterogen dan ditandai dengan hiperglikemia serta gangguan-gangguan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein yang berkaitan dengan defisiensi absolut maupun relatif aktivitas sekresi insulin (WHO, 1997).
Sedangkan diabetes melitus tipe II merupakan salah satu jenis diabetes melitus yang mempunyai angka kejadian paling tinggi yaitu sekitar ± 90% dari populasi klien diabetes melitus.

2.1.2. Penyebab
Penyebab diabetes melitus tipe II berbeda-beda tergantung pada jenis diabetes melitusnya.
2.1.2.1. Diabetes melitus tipe I
Penyebab paling sering dihubungkan dengan destruksi sel beta pada pulau-pulau langerhans pankreas yang mengakibatkan tidak adanya seksresi insulin pankreas. Destruski sel beta ini dapat disebabkan oleh faktor genetik, imunologi, dan mungkin pula lingkungan.
a.       Faktor genetik
Individu yang mewarisi tipe antigen HLA (Human Leucocyte Antigen) spesifik DR3 dan DR4 mempunyai kecenderungan untuk terjadinya diabetes melitus tipe I. HLA  merupakan gen yang bertanggung jawab atas antigen transplantasi dan proses imun lainnya. Kecenderungan diabetes melitus tipe I ini diperlihatkan dari hasil penelitian bahwa resiko diabetes melitus tipe I meningkat 10 – 20 kali lipat pada individu yang mempunyai HLA DR3 dan DR4.
b.      Faktor imunologi
Pada diabetes melitus tipe I ditemukan adanya respon autoium yang merupakan respon abnormal dimana antibody terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Proses autoantibody terhadap sel-sel pulau langerhans dan insulin endogen terdeteksi pada saat diagnosis dibuat atau beberapa tahun sebelum timbul tanda-tanda klinis diabetes melitus.
c.       Faktor lingkungan
Hasil penelitian menyatakan bahwa virus (virus mumps, rubella, coxsackievirus) atau toksin tertentu dapat memicu proses autoimun yang menimbulkan destruksi sel beta pankreas.
2.1.2.2. Diabetes melitus tipe II
Hiperglikemia pada diabetes melitus tipe ini disebabkan oleh gangguan sekresi insulin, resistensi insulin perifer, dan peningkatan produksi glukosa hepar.
Penyebab resistensi insulin pada  diabetes melitus tipe II masih belum diketahui, tetapi faktor-faktor resiko berikut berperan dalam proses terjadinya resistensi insulin :
  1. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia diatas 65 tahun).
  2. Obesitas, terutama yang bersifat sentral.
  3. Kurangnya aktivitas fisik.
  4. Faktor herediter.
  5. Faktor etnik (golongan Hispanik serta penduduk asli Amerika tertentu memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk terjadinya diabetes melitus tipe II dibandingkan dengan golongan Afro-Amerika).  

2.1.3. Klasifikasi
Diabetes melitus diklasifikasikan berdasarkan penyebabnya terdiri dari diabetes melitus tipe I (IDDM), diabetes melitus tipe II (NIDDM), diabetes melitus sekunder, gangguan toleransi glukosa, dan diabetes melitus gestasional (GDM). Perbedaan dari tiap diabetes melitus tersebut dapat dilihat pada tabel berikut :

Jenis Diabetes Melitus
Klasifikasi Sebelumnya
Karakteristik Klinik
Diabetes melitus tipe I atau IDDM (Insulin Dependent Diabetes Melitus)


·         Diabetes Juvenilis
·         Brittle Diabetes





·         Onset biasanya tiba-tiba terjadi.
·         Klien memerlukan injeksi insulin untuk mencegah ketosis dan memperpanjang masa hidupnya.
·         Prevalensi sekitar 10-15% populasi diabetes.
·         Terjadi terutama pada anak-anak atau remaja tetapi dapat terjadi pada berbagai usia.
·         Klien mungkin kurus dan berat badan menurun pada saat terdiagnosa.
Diabetes melitus tipe II atau NIDDM (Non Insulin Dependent Diabetes Melitus)
·         Diabetes awitan dewasa (Maturity-onset diabetes)
·         Diabetes resisten-ketosis
·         Diabetes Stabil
·         Umumnya awitan berjalan lambat.
·         Beberapa klien memerlukan terapi insulin atau sulfonylurea untuk memperbaiki hiperglikemia.
·         Meskipun secara normal resisten-ketosis, klien ini dapat mengalami ketosis selama stress berat atau infeksi.
·         Prevalensi 85-90% dari populasi diabetes.
·         Biasanya terjadi pada usia dewasa pertengahan dan dewasa tua, tetapi dapat juga pada dewasa muda.
·         Jika terhadi pada klien dengan usia lebih muda, tipe NIDDM ini dinamakan maturity onset diabetes (MODY).
·         80% klien diabetes melitus ini mengalami obesitas.
Diabetes melitus yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom
Diabetes sekunder
·         Dapat terjadi pada gangguan spesifik seperti penyakit pankreas, gangguan endokrin, gangguan genetik yang dihubungkan dengan intoleransi glukosa.
·         Diabetes yang terinduksi oleh bahan kimia atau obat (kortiksoteroid)
Gangguan toleransi glukosa
·         Diabetes borderline
·         Diabetes laten
·         Diabetes kimia
·         Diabetes subklinis
·         Diabetes asimptomatis
·         Klien mempunyai konsentrasi glukosa plasma antara normal dan tidak.
·         Konsentrasi glukosa plasma dapat progresif menjadi diabetes, dapat menetap, atau kembali normal.
·         Diagnosis dibuat hanya dengan tes toleransi glukosa.

Diabetes melitus gestasional (GDM)
Diabetes gestasional
·         Intoleransi karbohidrat pertama diketahui selama kehamilan.
·         Anak dari ibu dengan GDM beresiko besar  terhadap mortalitas, malformasi kongenital, dan makrosomia.
·         Anak dari ibu dengan GDM mempunyai peningkatan resiko obesitas dan kerusakan toleransi glukosa pada kehidupan berikutnya.
·         Klien dengan GDM beresiko tinggi terjadi diabetes setelah kehamilan.
·         Diagnosis didasarkan pada hasil tes toleransi glukosa 100 g selama kehamilan (ADA, 1993).  


2.1.4. Patofisiologi
Insulin merupakan hormon endokrin yang diproduksi dalam sel beta pulau langerhans pada pankreas. Hormon ini berperan utama dalam membolehkan sel-sel tubuh untuk menyimpan dan menggunakan karbohidrat, lemak, dan protein. Selain itu juga insulin berperan sebagai katalis untuk menstimulasi enzim dan bahan kimia lain untuk produksi energi. Sekresi hormon insulin distimulasi oleh peningkatan kadar glukosa dalam darah yang dihasilkan dari makanan karbohidrat yang dikonsumsi. Sekresi ini terjadi biasanya 10 menit setelah makan.
Glukosa merupakan sumber bahan bakar utama untuk reaksi metabolisme energi dalam tubuh. Glukosa ini diperoleh melalui ingesti, glukoneogenesis, dan glikogenolisis. Kadar glukosa dalam darah yaitu sekitar 70 – 140 mg/dl yang mana dipertahankan dalam batas normal oleh regulasi dari hormon insulin dan glukagon.
Defisiensi insulin yang bersifat absolut dan relatif pada diabetes melitus akan mengakibatkan proses transportasi glukosa dalam darah kedalam sel terganggu, hal ini akan meningkatkan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia.
Pada diabetes melitus tipe I hiperglikemia akan mengakibatkan ginjal mengeksresikan glukosa tersebut kedalam urin yang biasanya tidak terjadi, sehingga akan ditemukan glukosa dalam urin atau glukosuria. Peningkatan glukosa dalam urin akan diikuti oleh peningkatan seksresi air sehingga terjadi peningkatan eksresi urin (poliuria). Peningkatan eksresi air melalui urin akan meningkatkan tekanan osmotik koloid plasma sehingga air dalam sel akan tertarik kedalam intravaskuler yang akhirnya air dalam sel berkurang dan pusat rasa haus akan terangsang dan akan membuat klien diabetes melitus melakukan banyak minum (Polidipsia).
Defisiensi insulin absolut pada diabetes melitus tipe I juga akan mengakibatkan glukosa dalam sel berkurang, sehingga mekanisme lapar terjadi dan membuat klien diabetes ingin makan secara berlebihan (Poliphagia). Selain itu simpanan glukosa yang berkurang dalam sel akan mengganggu proses metabolisme energi, sehingga proses glukoneogenesis dan glikogenolisis dapat terjadi sebagai kompensasi tubuh dalam mendapatkan sumber bahan bakar cadangan untuk metabolisme energi. Proses peningkatan glukoneogenesis akan berakibat pada peningkatan akumulasi hasil akhir metabolisme yang dapat mengganggu fungsi tubuh, seperti zat-zat keton sebagai hasil akhir pemecahan asam lemak. Peningkatan akumulasi zat-zat keton dalam tubuh ini akan mengganggu keseimbangan asam dan basa dan klien pada saat ini jatuh pada kondisi diabetik ketosidosis.
Pada diabetes melitus tipe II hiperglikemia sebagai akibat defisiensi insulin relatif terjadi karena dua faktor utama yaitu resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin. Hiperglikemia terjadi karena insulin yang disekresi tidak mampu untuk mentranspor glukosa kedalam sel, karena reseptor insulin di membran sel jumlahnya berkurang, sehingga glukosa dalam darah tetap tinggi. Selain peningkatan kadar glukosa darah pada diabetes melitus tipe II juga terjadi peningkatan kadar insulin dalam darah atau dalam batas normal. Hal tersebut terjadi karena hiperglikemia akibat resistensi insulin akan terus menstimulasi sekresi insulin oleh pankreas.
Awitan gejala pada diabetes melitus tipe II berlangsung lambat dan progresif, dan jika klien mengalami gejalanya, hal ini karena kadar glukosanya sangat tinggi. Gejala yang dialami tersebut bersifat ringan yang meliputi kelelahan, iritabilitas, poliuria, polidipsia, luka pada kulit yang lama sembuh, infeksi vagina, dan pandangan kabur. Sedangkan untuk kondisi diabetik ketoasidosis tidak akan terjadi pada klien diabetes melitus tipe II, karena insulin dengan jumlah adekwat masih mampu mencegah pemecahan lemak dab produksi keton yang menyertainya. meskipun demikian hiperglikemia yang tidak terkontrol akan membuat klien jatuh pada kondisi akut lain berupa sindrom hiperglikemik hiperosmolar nonketotik (HHNK).

2.1.5. Manifestasi Klinik
Diagnosa diabetes melitus ditegakan jika memenuhi krteria berikut :
a.       Peningkatan kadar glukosa plasma lebih dari 200 mg/dl dan gejala-gejala klasik seperti plidipsia, poliuria, pliphagia, dan kehilangan berat badan yang tidak jelas.
b.      Peningkatan kadar glukosa plasma puasa lebih besar dari 126 mg/dL.
Puasa adalah tanpa intake kalori selama 8 – 10 jam.
Pada OGTT, kadar glukosa darah 2 jam PP lebih besar 200 mg/dL.
(America Diagnosis Diabetes, 1998)

2.1.6. Komplikasi
2.1.6.1. Komplikasi Akut
Tiga kondisi darurat yang berhubungan dengan deviasi kadar glukosa plasma normal pada klien diabetes melitus yaitu
  1. Diabetik ketoasidosis (DKA) yang dihubungkan dengan defisiensi insulin dan ketosis.
  2. Hiperglikemik hiperosmolar Non ketotik (HHNK) dihubungkan dengan defisiensi insulin, dehidrasi berat, dan tidak ada ketosis.
  3. Hipoglikemia, terjadi pada kondisi insulin yang berlebihan.

2.1.6.1.1. Diabetik Ketoasidosis
Diagnosis laboratorium pada diabetik ketoasidosis (DKA) didasarkan pada :
a.       Nilai serum glukosa 300 mg/dl atau lebih besar.
b.      Ph arteri kurang dari 7,3
c.       Nilai bikarbonat (HCO3-) kurang dari 15 mEq/L.
d.      Ketonemia positif dengan perbandingan dilusi lebih besar dari 1 : 2.
e.       Urine positif keton.
Keterangan klinik dari dehidrasi dan asidosis meliputi penurunan turgor kulit atau tekanan bola mata, membran mukosa kering, hipotensi, tachycardia, tachypnea, dan pernafasan kusmaul. Mekanisme terjadinya diabetik ketoasidosis pada klien diabetes melitus tipe I dapat dilihat pada bagan berikut ini :
Mekanisme patofisiologi diabetik ketoasidosis (Donna Ignativicius, 1993)

2.1.6.1.2. Hiperglikemik Hiperosmolar Nonketotik Koma (HHNK)
            Komplikasi ini terjadi pada klien diabetes melitus tipe II. Diagnosis HHNK dibuat jika kadar glukosa plasma lebih besar dari 800 mg/dl, dan nilai osmolalitas lebih besar dari 350 mOsm, serta pada komplikasi ini tidak terjadi ketosis. Lansia dengan diabetes melitus lebih beresiko tinggi terjadinya komplikasi ini, karena persepsi rasa haus dan kemampuan mengkonsentrasikan urine pada lansia menurun, sehingga kemungkinan terjadi dehidrasi lebih besar.
            Kondisi seperti miokardial infark tersembunyi, sepsis, pankreatitis, dan stroke serta obat-obatan seperti glukokortikoid, diuretic, phenytoin sodium, dilantin sodium, betha blocker, dan kalsium channel blocker dapat mempresipitasikan HHNC. Mekanisme terjadinya HHNC dapat dilihat pada bagan berikut :
 2.1.6.1.3. Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan keadaan klinik gangguan saraf yangn disebabkan oleh penurunan glukosa darah (Boedisantoso R. & Imam S., 2002).
Penyebab hipoglikemia meliputi makan kurang dari aturan yang ditentukan, berat badan turun, setelah berolahraga, setelah melahirkan, sembuh dari sakit, makan obat yang mempunyai sifat serupa.
Tanda hipoglikemia terjadi jika kadar glukosa plasma kurang dari 50 mg/dl. Tanda klinis pada setiap orang bervariasi dan berbeda-beda, tanda-tanda klinis umumnya meliputi :
1.      Stadium parasimpatik : lapar, mual, tekanan darah turun.
2.      Stadium gangguan otak ringan : lemah, lesu, sulit bicara, kesulitan menghitung sederhana.
3.      Stadium simpatik : keringat dingin pada muka terutama di hidung, bibir, atau tangan.
4.      Stadium gangguan otak berat : koma (tidak sadar) dengan atau tanpa kejang.

2.1.6.2. Komplikasi Kronik
2.1.6.2.1. Komplikasi Makrovaskuler
Komplikasi atau penyulit makrovaskuler pada klien diabetes melitus ini meliputi penyakit cardiovaskuler, penyakit vaskuler perifer, dan penyakit serebrovaskuler.

  1. Penyakit kardiovaskuler
Resiko penyakit kardiovaskuler ini secara langsung dihubungkan dengan tingkat densitas lipoprotein, sehingga secara umum kelainan yang terjadi berupa penyakit arteri koroner. Kejadian komplikasi ini 6-8 kali lebih besar pada klien diabetes melitus dibandingkan klien non diabetes melitus. Salah satu cirri unik dari penyakit arteri koroner pada klien diabetes melitus adalah tidak terdapat gejala iskemik yang khas sehingga dapat mengalami infark miokard asimptomatik (silent). hal tersebut terjadi karena pada klien diabetes melitus terjadi neuropati otonom.
  1. Penyakit vaskuler perifer
Perubahan atherosklerotik pembuluh darah di kaki mengganggu pengiriman oksigen dan nutrien ke jaringan. Atherosklerotik pada klien diabetes melitus dapat disebabkan salah satunya oleh peningkatan insulin plasma, karena insulin dapat menstimulasi proliferasi dinding sel-sel otot halus (Gram, 1992). Insiden ini meningkat 2 – 3 kali lebih tinggi dibandingkan dengan klien non diabetes. 
Tanda-tanda penyakit vaskuler perifer meliputi berkurangnya denyut nadi perifer dan klaudikasio intermiten yaitu nyeri pada pantat atau betis ketika berjalan. Bentuk kelainan oklusif arteri ini yang lebih parah akan mengakibatkan meningkatnya insiden gangren dan amputasi pada klien-klien diabetes.

  1. Penyakit serebrovaskuler
Penyebab paling penting terjadinya penyakit serebrovaskuler ini adalah atherosklerosis. penyebab tersebut mempengaruhi pembuluh darah berukurang sedang dan besar sehingga stenosis dan oklusif ekstrakranial dan intracranial tidak dapat terhidarkan
Gejala penyakit serebrovaskuler ini dapat menyerupai dengan gejala hiperglikemia hiperosmolar nonketotik koma (HHNK) berupa pusinng atau vertigo, gangguan penglihatan, bicara pelo, dan kelemahan. Untuk itu pemeriksaan glukosa darah diperlukan untuk memastikannya. 

2.1.6.2.2. Komplikasi Mikrovaskuler
Komplikasi mikrovaskuler ini hanya dapat ditemukan pada klien diabetes melitus, kelainan mikrovaskuler ini ditandai dengan penebalan membran basalis pembuluh kapiler yang disebabkan serangkaian reaksi biokimia akibat peningkatan glukosa darah (Smeltzer, Suzanne C., 2001). Kelainan mikrovaskuler yang umum terjadi meliputi retinopati diabetik, nephropati diabetik, dan neuropati diabetik.
  1. Retinopati diabetik
Retinopati diabetik merupakan kelainan patologis mata yang disebabkan oleh perubahan dalam pembuluh-pembuluh darah kecil pada retina mata. Patogenesis diabetik retinopati ini dihubungkan juga dengan permeabilitas vaskuler yang abnormal, oklusi mikrovaskuler, dan hipoksia retina. Kejadian komplikasi ini sekitar 10 – 32,4% klien diabetes melitus.
Ada tiga stadium utama retinopati meliputi retinopati nonproliferatif (background retinopathy), retinopati praproliferatif dan retinopati proliferatif. Stadium yang lebih sering menyebabkan penurunan penglihatan sampai pada kebutaan yaitu pada stadium proliferatif. Selain itu juga penyebab penurunan penglihatan pada klien diabetes melitus yang dihubungkan dengan peningkatan glukosa darah yaitu degenerasi makula, myopia, katarak, dan glaukoma.
  1. Nephropati diabetik
Kejadian komplikasi nephropati diabetik yaitu 40% pada klien diabetes melitus tipe I dan 5 – 10% pada klien diabetes melitus tipe II (DeFronzo & Ferrannini, 1991). Komplikasi ini terjadi sekitar 15 – 20 tahun setelah awitan diabetes.
Perubahan yang terlihat pada saat terdiagnosa diabetes melitus meliputi peningkatan dalam ukuran ginjal, aliran darah ginjal (RBF), dan glomerolus filtration rate (GFR). Selain itu kegagalan ginjal dibuktikan pula oleh kenaikan kadar kreatinin dan ureum serum, tetapi tanda pertama yang terdeteksi yaitu adanya mikroalbuminurin. Gambaran klinik yang umum terjadi pada klien diabetes melitus yang mengalami gagal ginjal menahun seperti lemas, mual, pucat, sampai keluhan sesak nafas akibat akumulasi cairan. 
  1. Neuropati diabetik
Kejadian komplikasi ini berkisar antara 10 – 60% klien diabetes melitus. Abnormalitas metabolik dan vaskuler pada klien diabetes melitus akan berakibat pada kerusakan serabut saraf perifer dan otonom. Kerusakan tersebut diduga disebabkan oleh akumulasi sorbitol pada serabut saraf. Sorbitol merupakan hasil konversi glukosa oleh enzim aldose reduktase yang mana peningkatannya akan menurunkan konsentrasi mioinositol yang secara normal ada pada serabut saraf untuk mensintesis posfolipid membran sel (Donna Ignativicius, 1993).
Diabetik neuropati akan menyerang pertama kali pada bagian distal suatu organ, sebagai contoh luka gangrene pada kaki, pertama kali mengenai jari kaki kemudian akan menjalar ke bagian kaki.

2.1.7. Upaya Pencegahan Diabetes Melitus
Menurut WHO (1994) upaya pencegahan diabetes melitus terdiri dari tiga jenis atau tahap yaitu pencegahan primer, sekunder, dan tersier. 
2.1.7.1. Upaya Pencegahan Primer
Pencegahan primer merupakan segala aktivitas yang ditujukan untuk mencegah timbulnya hiperglikemia pada individu yang beresiko untuk jadi diabetes atau pada populasi umum (Slamet Suyono, 2003).
Dalam melaksanakan upaya ini faktor-faktor yang berpengaruh terjadinya diabetes melitus serta cara penanggulangannya harus diinformasikan kepada masyarakat umum. Faktor-faktor yang berpengaruh terjadinya diabetes melitus tersebut adalah :
  1. Faktor keturunan, merupakan faktor yang tidak dapat dirubah.
  2. Faktor kegiatan jasmani yang kurang.
  3. Faktor kegemukan atau distribusi lemak.
  4. Faktor nutrisi yang berlebih.
  5. Faktor lain seperti obat-obatan, hormon.

2.1.7.2. Upaya Pencegahan Sekunder
Upaya pencegahan sekunder merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mencegah komplikasi pada populasi yang mengalami diabetes melitus. Selain itu sejak tahun 1994, WHO memasukan kegiatan untuk menemukan penderita diabetes melitus sedini mungkin melalui tes penyaringan kepada populasi yang beresiko tinggi kedalam upaya pencegahan ini. 
Syarat untuk mencegah komplikasi adalah kadar gula darah harus selalu terkendali mendekati normal sepanjang hari dan sepanjang tahun, selain itu tekanan darah dan kadar lipid juga harus normal. Upaya untuk memenuhi persyaratan tersebut meliputi penatalaksanaan diet, latihan jasmani atau olahraga, pemantauan glukosa dan keton, perawatan kaki diabetik, dan terapi jika diperlukan.

2.1.7.2.1. Penatalaksanaan diit
a.       Prinsip umum
Prinsip dalam penatalaksanaan diit pada klien diabetes melitus diarahkan untuk mencapai tujuan berikut (Smeltzer, Suzanne C., 2001) :
  1. Memberikan semua unsur makanan esensial ( misalnya vitamin, mineral).
  2. Mencapai dan mempertahankan berat badan yang sesuai.
  3. Memenuhi kebutuhan energi.
  4. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupaya kadar glukosa darah mendekati normal melalui cara-cara yang aman dan praktis.
  5. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat. 
b.      Perencanaan makan
  1. Kebutuhan kalori
Kebutuhan kalori yang diperlukan oleh diabetesi disesuaikan dengan kebutuhan kalori untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal yang meliputi karbohidrat 60 – 70%, protein 10 – 15%, dan lemak 20 – 25%.
Metode untuk menentukan kebutuhan kalori adalah dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yaitu 25 – 30 kalori/Kg BB ideal dengan beberapa faktor yaitu jenis kelamin, umur, aktifitas, kehamilan / laktasi, adanya komplikasi, dan berat badan. Metode lain yaitu dengan melihat standar kebutuhan kalori diabetesi berdasarkan berat badan dan tingkat aktivitas dibawah ini :
Berat Badan
(Dewasa)
Kebutuhan kalori (Kalori/Kg BB ideal)
Aktivitas ringan
Sedang
Berat
Gemuk
Normal
Kurus
25
30
35
30
35
40
35
40
40 - 50

Untuk menghitung berat badan ideal adalah :
90% x (TB dalam cm – 100) x 1 Kg.
  1. Karbohidrat
Tujuan diet ini adalah meningkatkan konsumsi karbohidrat kompleks (khususnya yang berserat tinggi) seperti roti gandum, nasi beras tumbuk, sereal, dan mie yang berasal dari gandum yang masih mengandung bekatul. Tetapi konsumsi karbohidrat sederhana seperti susu, buah-buahan tidak harus dihindari. Konsumsi karbohidrat sederhana seperti gula pasir (sukrosa) tidak berlebihan dan lebih baik jika konsumsinya dicampur kedalam sayuran atau makanan lain daripada dikonsumsi secara terpisah. Konsumsi gula tidak lebih dari 5% total kalori.
  1. Lemak
Konsumsi lemak sebaiknya < 10% total kalori dari lemak jenuh dan lemak tidak jenuh ganda, sedangkan selebihnya yaitu 60 – 70% total kalori dari lemak tidak jenuh tunggal dan karbohidrat. Untuk klien diabetes melitus yang mengalami peningkatan LDL dapat diberikan anjuran diit dislipidemia tahap II yaitu < 7% total kalori dari lemak jenuh, < 30% total kalori dari lemak total dan kandungan kolesterol 200 mg/hari. Sedangkan untuk peningkatan VLDL, asupan lemak tidak jenuh sampai dengan 20% kalori dengan < 10% kalori masing-masing dari lemak jenuh dan tidak jenuh tunggal. Dan untuk klien dengan kadar trigliserida > 1000 mg/dl, semua tipe lemak makanan konsumsinya diturunkan.
  1. Protein
Konsumsi protein untuk klien diabetes melitus sebaiknya dari sumber protein nabati seperti kacang-kacangan, dan biji-bijian, hal ini untuk mengurangi asupan kolesterol serta lemak jenuh. Pengurangan konsumsi protein dilakukan jika ada tanda-tanda dini penyakit ginjal yaitu 0,8 g/Kg BB/hari atau 10% dari kebutuhan kalori total.
  1. Serat makanan
Berbagai penelitian menyatakan bahwa konsumsi tinggi serta dan tinggi karbohidrat akan menurunkan kadar total kolesterol dan LDL (Low Density Lipoprotein) dalam darah. Selain itu peningkatan konsumsi serat dalam makanan dapat meperbaiki kadar glukosa darah. Hal tersebut karena serat dapat memperlambat kecepatan absorpsi glukosa dalam saluran gastrointestinal.
Kebutuhan serat untuk klien diabetes melitus sama dengan kebutuhan serat orang normal yaitu sekitar 25 g/hari. Sedangkan untuk jenis serat yang dinajurkan yaitu serat terlarut seperti kacang-kacangan, dan beberapa jenis buah-buahan, karena serat terlarut lebih berperan besar dalam menurunkan kadar glukosa darah dan lemak (Smeltzer, Suzanne C, 2001).
  1. Alkohol
Penggunaan alkohol untuk klien diabetes sama dengan pada orang normal. Alkohol tidak mempengaruhi kadar gula darah, tetapi resiko hipoglikemia dapat terjadi pada klien yang menggunakan insulin dan sulfonilurea.
Alkohol tidak boleh dikonsumsi apabila :
·         Kadar glukosa darah belum terkendali.
·         Kadar trigliserida darah meningkat.
·         Menggunakan obat diabetes generasi pertama.
·         Menderita penyakit gastritis, pankreatitis, penyakit ginjal dan jantung. Alkohol juga tidak baik untuk ornag gemuk, karena mempunyai kalori yang tinggi.
  1. Natrium
Asupan natrium untuk klien diabetes melitus sama seperti biasanya yaitu 3000 mg, kecuali untuk yang memiliki hipertensi asupan natrium 2500 mg/hari.
  1. Bahan pemanis
Ada dua tipe pemanis yaitu pemanis nutritif dan pemanis non-nutritif, perbedaannya yaitu pada jumlah kalorinya, pemanis nutritif mengandung kalori, sedangkan pemanis non-nutritif mengandung sedikit kalori atau tidak ada sama sekali.
Pemanis nutritif kurang menyebabkan kenaikan glukosa darah jika dibandingkan dengan sukrosa. Pemanis ini sering digunakan dalam makanan “bebas gula” dan mempunyai efek laksatif (sorbitol). Makanan yang termasuk jenis pemanis ini yaitu fruktosa (gula buah), sorbitol, xylitol.
Pemanis non-nutritif sering digunakan dalam produk makanan dan juga tersedia untuk penggunaan di meja makan. Pemanis ini dapat meningkatkan glukosa darah yang minimal atau tidak menaikan, untuk itu jenis pemanis ini dianjurkan untuk dikonsumsi. Aspartam, sakarin, acesulfame K termasuk keadalam jenis pemanis ini.
  1. Daftar bahan penukar pengganti
Daftar bahan penukar merupakan suatu daftar nama bahan makanan dengan ukuran tertentu dan dikelompokan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak, dan hidrat arang (Kartini Sukardji, 2002).
Daftar makanan penukar ini dikelompokan kedalam 7 kelompok diantaranya :
Golongan 1     : bahan makanan sumber karbohidrat (nasi, roti, pati, dll).
Golongan 2     : bahan makanan sumber protein hewani (daging / telur).
Golongan 3     : bahan makanan sumber protein nabati (tahu / tempe).
Golongan 4     : sayur-sayuran
Golongan 5     : Buah-buahan.
Golongan 6     : Susu
Golongan 7     : Minyak atau lemak.

2.1.7.2.2. Latihan jasmani atau olahraga
a.       Manfaat
Pelaksanaan olahraga bagi klien diabetes melitus sangat diperlukan, karena olahraga atau latihan jasmani bermanfaat dalam :
·         Meningkatkan penurunan glukosa darah.
·         Mencegah kegemukan.
·         Berperan dalam mengatasi kemungkinan terjadinya komplikasi aterogenik, gangguan lipid darah, peningkatan tekanan darah, dan hiperkoagulasi darah.
b.      Prinsip olahraga bagi diabetesi
Dalam melaksanakan olahraga klien diabetes melitus harus memperhatikan prinsip-prinsip olahraga untuk diabetesi agar komplikasi hipoglikemia tidak terjadi dan manfaat olahraga dapat dicapai dengan baik. prinsip-prinsip tersebut meliputi
·         Frekuensi, olahraga sebaiknya dilakukan dalam seminggu 3-5 kali dan dilakukan secara teratur.
·         Intensitas ringan sampai dengan sedang yaitu sekitar 60 – 70% MHR (Maximum Heart Rate). MHR ditentukan sebagai berikut 220 – Umur.
·         Time atau durasi latihan yang dianjurkan yaitu sekitar 30 – 60 menit, dan dilakukan secara bertahap serta tergantung kondisi klien.
·         Tipe atau jenis olahraga yang tepat untuk klien diabetes melitus yaitu olahraga enduran (aerobik), karena olahraga tersebut dapat meningkatkan kemampuan kardiorespirasi.
Selain itu hal-hal yang harus diperhatikan dalam setiap kali olahraga adalah :
1.      Pemanasan
Tahap ini bertujuan untuk mempersiapkan beberapa system tubuh seperti menaikan suhu tubuh, meningkatkan denyut nadi mendekati intensitas latihan. Selain itu juga bertujuan untuk mencegah injuri akibat olahraga. Pemanasan sebaiknya dilakukan selama 5 – 10 menit.
2.      Latihan inti (Conditioning)
Pada tahap ini latihan diharapkan mencapai THR (Target Heart rate), karena jika THR tidak tercapai manfaat olahraga tidak ada, dan jika melebihi THR akan mempunyai resiko yang tidak diinginkan. Lama tahap ini yaitu 20 menit.
3.      Pendinginan (Cooling-down)
Tahap pendinginan penting untuk mencegah terjadinya penimbunan asam laktat yang dapat menimbulkan rasa nyeri pada otot sesudah berolahraga serta pusing-pusing karena darah masih terkumpul pada otot yang aktif. Lama tahap ini yaitu 5 – 10 menit, sampai denyut nadi mendekati denyut nadi istirahat.
4.      Peregangan (Stretching)
Peregangan dilakukan untuk melemaskan dan melenturkan otot-otot masih teregang dan lebih elastis.
c.       Hal negatif yang dapat terjadi pada saat berolahraga
1.      Memperburuk kadar gula darah diabetesi. Untuk itu hindari olahraga berat, latihan beban, dan olahraga kontak, tingkatkan intake cairan. Selain itu bagi diabetesi yang kadar glukosanya > 250 mg/dl, sebaiknya kadar glukosanya diturunkan dahulu sebelum mengikuti olahraga, karena olahraga dapat meningkatkan kadar glukosa darahnya.
2.      Exercise-induced hipoglicemia (pada DM tipe I). Untuk itu monitoring gula darah, kurangi dosis insulin sebelum berolahraga, tingkatkan asupan makanan saat berolahraga, bila ada tanda dan gejala hipoglikemia sebaiknya olahraga segera dihentikan.
3.      Gangguan pada kaki. Untuk itu pakai sepatu yang sesuai, jaga agar kaki tetap bersih dan kering.
4.      Komplikasi penyakit jantung dan pembuluh darah.
5.      Cedera otot dan tulang. Untuk itu pilihlah olahraga yang sesuai atau tepat, intensitas sebaiknya ditingkatkan secara bertahap, pemanasan dan pendinginan harus selalu dilakukan, dan olahraga berat dan berlebihan harus dihindari.

2.1.7.2.3. Pemantauan pengendalian diabetes melitus
Pemantauan status metabolik merupakan salah satu pengelolaan diabetes melitus. Menurut Sidartawan S. (2003) mengungkapkan bahwa :
Pengendalian diabetes yang baik berarti menjaga agar glukosa darah dalam kisaran normal seperti halnya pasien bukan DM, sehingga pasien terhindar dari hiperglikemia atau hipoglikemia.

Dalam suatu penelitian pada klien diabetes melitus tergantung insulin yang menjalani pengobatan insulin intensif didapatkan bahwa pengendalian diabetes melitus yang baik dan kadar glukosa darah yang mendekati normal terbukti dapat mengurangi komplikasi kronik diabetes melitus dan memperlambat progresifitas komplikasi diabetes (Diabetes Control and Complications Trial/DCCT di USA), sedangkan penelitian pada klien diabetes tidak tergantung insulin mengenai hal yang sama oleh United Kongdom Prospective Diabetes Study (UKPDS), hasilnya tidak jauh berbeda.
            Pemantauan status metabolik dapat dilakukan dengan beberapa cara antara rasa sehat secara subjektif, perubahan berat badan, tes glukosa urin, tes keton urin, pemeriksaan kadar glukosa darah di klinik, Hb A1C, fruktosamin, kadar lipid darah serta pemantauan glukosa darah mandiri (S. Soegondo, 2003). Metode pemantauan yang dipilih tergantung dari tipe diabetes, jenis pengobatan, derajat pengendalian yang ingin dicapai, usia klien, kecerdasan dan motivasi serta sumber daya yang tersedia.
a.       Pemeriksaan kadar glukosa darah
Metode enzimatik mutakhir (glucose oxydase atau hexokinase) adalah metode yang tepat, mudah, dan cukup akurat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan glukosa darah ini yaitu kadar glukosa plasma 10 – 15% lebih tinggi dibandingkan darh biasa (whole blood) (S. Soegondo, 2003). Pemeriksaan glukosa darah baik dengan tabel warna maupun meter elektronik memungkinkan klien untuk melakukan pemeriksaan kadar glukosa darah secara mandiri.
Pada diabetes melitus tergantung insulin kadar glukosa berfluktuasi dengan cepat, sehingga pemantauan secara mandiri dianjurkan. Pada klien yang mendapatkan pengobatan insulin secara intensif (pompa insulin atau suntikan insulin multipel), untuk mencegah hipoglikemia dan penyesuaian dosis insulin, klien sebaiknya memantau glukosa darahnya 4 kali sehari yaitu sebelum sarapan pagi, sebelum makan siang dan malam, serta sebelum tidur, sedangkan klien yang mendapatkan insulin 1 - 2 kali/hari, pemantauan glukosa darah cukup 1 kali sehari. Peningkatan pemantauan glukosa darah dilakukan pada klien diabetes yang sakit demam untuk mencegah hiperglikemia dan ketosis.
Pada klien diabetes melitus tidak tergantung insulin kadar glukosa darah relatif stabil, sehingga pemeriksaan glukosa darah pada saat konsultasi dan pemeriksaan kadar glukosa urin sudah cukup memadai, sedangkan bagi klien yang mendapatkan insulin dan obat hipoglikemik oral (OHO), pemeriksaan dilakukan 1 kali sehari (sebelum sarapan pagi atau sebelum tidur) atau pada kondisi yang lebih stabil kadar glukosa darahnya cukup 1-2 kali seminggu.     
b.      Pemeriksaan kadar glukosa urin
Pemeriksaan ini tidak terlalu dianjurkan, karena tes glukosa urin ini bergantung pada batas ambang rangsang ginjal (180 – 220 mg%) sehingga kadar glukosa darah dalam kisaran normal dan hipoglikemia tidak dapat terpantau. Pemeriksaan glukosa urin dapat dipakai untuk pemantauan pengendalian diabetes terutama bagi klien diabetes tipe II, dan juga dapat dilakukan pada klien diabetes tipe I yang tidak mau dilakukan pemeriksaan dengan carik uji glukosa darah.
c.       Pemeriksaan hiperglikemia kronik
Pemeriksaan HbA1C merupakan pemeriksaan  tunggal yang sangat akurat untuk menilai status glikemik jangka panjang. Pemeriksan ini melihat nilai glikosilasi hemoglobin. Dalam kondisi normal sebagian kecil fraksi hemoglobin akat mengalami glikosilasi yaitu hemoglobin akan terikat dengan glukosa darah dan bersifat reversibel. Pada klien diabetes melitus gliksosilasi hemoglobin akan meningkat secara proporsional dengan kadar rata-rata kadar glukosa darah selama 2-3 bulan sebelumnya.
Pada klien diabetes tergantung insulin (IDDM) dilakukan 4 kali dalam setahun, sedangkan pada diabetes tidak tergantung insulin (NIDDM) cukup 2 kali setahun. Selain pemeriksaan ini, cara lailn untuk pemantauan pengendalian diabetes jangka panjang  adalah pemeriksaan fruktosamin yang dapat menilai glukosa darah dengan jangka menengah yaitu 3-6 minggu.
d.      Pemeriksaan keton urin
Pemeriksaan ini dilakukan pada klien diabetes melitus, karena pada kondisi hiperglikemik dan defisiensi insulin, lemak akan digunakan tubuh sebagai sumber energi. Pada hasil pemecahan lemak akan didapatkan benda-benda keton yang dapat dideteksi dalam darah dan urin. Ketosis ini lebih rentan pada klien diabetes melitus tipe I, terutama pada kondisi kadar glukosa darah > 300 mg%. Pada kondisi tersebut pemeriksaan keton urin dilakukan setiap hari. 

2.1.7.2.4. Perawatan kaki diabetik
Kaki diabetik merupakan kelainan tungkai kaki bawah akibat diabetes melitus yang tidak terkontrol. Kelainan tersebut dapat disebabkan gangguan pembuluh darah, gangguan persyarafan, dan adanya infeksi. Masalah yang umum terjadi pada kaki diabetik yaitu :
a.       Kapalan, mata ikan dan melepuh.
b.      Cantengan (kuku masuk kedalam jaringan).
c.       Kulit kaki retak dan luka kena kutu air.
d.      Kutil pada telapak kaki.
e.       Radang ibu jari kaki (jari seperti martil).
            Perawatan kaki diabetik ini bertujuan untuk mencegah terjadinya luka. Hal-hal yang harus dilakukan dalam perawatan kaki diabetik :
  1. Periksa kaki setiap hari dari adanya kulit retak, melepuh, luka, perdarahan.
  2. Bersihkan kaki setiap hari pada waktu mandi dengan air bersih dan sabun.
  3. Berikan pelembab/lotion pada daerah kaki yang kering, tetapi tidak pada sela-sela jari kaki.
  4. Gunting kuku kaki lurus mengikuti bentuk normal jari kaki, tidak terlalu pendek atau terlalu dekat dengan kulit, kemudian kikir agar kuku tidak tajam.
  5. Memakai alas kaki sepatu atau sandal untuk melindungi kaki agar tidak terjadi luka baik di luar atau di dalam rumah.
  6. Gunakan sepatu atau sandal yang baik yang sesuai dengan ukuran dan enak untuk dipakai, dengan ruang dalam sepatu cukup untuk jari-jari.
  7. Periksa sepatu sebelum dipakai apakah ada kerikil, benda-benda tajam. Sepatu dilepas setiap 4-6 jam, serta gerakan pergelangan dan jari-jari kaki agar sirkulasi darah tetap baik.
  8. Bila ada luka kecil, obati luka dan tutup dengan pembalut bersih. Periksa apakah ada tanda-tanda radang.
  9. Segera ke dokter bila kaki mengalami luka.
  10. Periksakan kaki ke dokter secara rutin.
Hal-hal yang tidak boleh dilakukan diantaranya :
·         Jangan merendam kaki.
·         Jangan pergunakan botol panas atau peralatan listrik untuk memanaskan kaki.
·         Jangan gunakan batu atau silet untuk mengrangi kapalan (callus).
·         Jangan merokok.
·         Jangan pakai sepatu atau kaos kaki sempit.
·         Jangan menggunakan obat-obat tanpa anjuran doketr untuk menghilangkan mata ikan.
·         Jangan gunakan sikat atau pisau untuk kaki.
·         Jangan membiarkan luka kecil dikaki, sekecil apapun.

2.1.7.3. Upaya Pencegahan Tersier
Upaya pencegahan tersier merupakan usaha mencegah agar tidak terjadi kecacatan lebih lanjut, walaupun sudah terjadi penyulit (S. Waspadji, 2002). Untuk mencegah kecacatan ini diperlukan deteksi dini penyulit atau komplikasi agar penyulit ini dapat dikelola dengan baik. Pemeriksaan pemantauan yang diperlukan untuk penyulit pada klien diabetes melitus diantaranya :
a.       Mata : pemeriksaan mata/fundus secara berkala setiap 6-12 bulan.
b.      Paru : pemeriksaan berkala foto dada setiap 1-2 tahun atau kalau keluhan batuk kronik.
c.       Jantung : pemeriksaan berkala EKG/uji latih jantung secara berkala setiap tahun atau kalau ada keluhan nyeri dada / cepat capai.
d.      Ginjal : pemeriksaan berkala urin untuk mendeteksi adanya protein dalam urin.
e.       Kaki : pemeriksaan kaki secara berkala dan penyuluhan mengenai cara perawatan kaki yang sebaik-baiknya untuk mencegah kemungkinan timbulnya kaki diabetik dan kecacatan yang mungkin ditimbulkan kemudian. 

2.2. Konsep Perilaku Kesehatan
2.2.1. Pengertian
Secara umum perilaku dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan respon serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2004). Dari pengertian tersebut maka perilaku kesehatan didefnisikan sebagai suatu resppon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan (S. Notoatmodjo, 2003).

2.2.2. Klasifikasi
Ditinjau dari bentuk reponnya, perilaku dibedakan kedalam dua golongan diantaranya :


1.      Perilaku tertutup (covert behavior)
Merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup (covert), serta belum dapat diamati oleh orang lain. Respon terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan/kesadaran, dan sikap.
2.      Perilaku terbuka (overt behavior)
Merupakan respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata yang dengan mudah dapat diamati oleh orang lain.
Dari batasan pengertian perilaku kesehatan, Notoatmodjo (2003) mengklasifikasikan perilaku kesehatan menjadi tiga golongan diantaranya :
1.      Perilaku pemeliharaan kesehatan
Perilaku pemeliharaan kesehatan merupakan usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk penyembuhan bilamana sakit. Perilaku pemeliharaan kesehatan ini terdiri dari tiga asfek yang meliputi
  1. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan kesehatan bilamana telah sembuh dari penyakit.
  2. Perilaku peningkatan kesehatan, jika individu berada dalam kondisi sehat.
  3. Perilaku makanan dan minuman.
2.      Perilaku pencarian pengobatan
Perilaku ini berkaitan dengan upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan seperti mengobati sendiri sampai mencari pengobatan ke luar negeri.
3.      Perilaku kesehatan lingkungan
Perilaku kesehatan lingkungan merupakan bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan fisik maupun social budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya.  

2.2.3. Proses Pembentukan perilaku
Prosedur pembentukan perilaku menurut skinner dalam “operant conditioning” yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003) sebagai berikut :
a.       Langkah pertama, melakukan pengenalan terhadap sesuatu yang merupakan penguat, seperti hadiah.
b.      Langkah kedua, melakukan analisis, dipergunakan untuk mengenal bagian-bagian kecil pembentuk perilaku sesuai yang diinginkan. Kemudian komponen-komponen tersebut disusun dalam urutan yang tepat untuk menuju kepada terbentuknya perilaku yang dimaksud.
c.       Menggunakan secara urut komponen-komponen itu sebagai tujuan-tujuan sementara, mengidentifikasi reinforcer atau hadiah untuk masing-masing komponen tersebut.
d.      Melakukan pembentukan perilaku dengan menggunakan urutan komponen yang telah tersusun itu.



2.2.4. Perubahan (Adopsi) perilaku dan indikatornya
Perubahan perilaku atau penerimaan seseorang terhadap perilaku baru dalam kehidupannya melalui 3 tahap :
2.2.4.1.Pengetahuan
Pengetahuan adalah hasil dari tahu yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan merupakan domain yang penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. Menurut pengalaman dan hasil penelitian Rogers dalam Notoatmodjo (2003), bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat langgeng ( long lasting ) dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan.
            Penelitian Rogers (1974) mengungkapkan bahwa sebelum orang mengadopsi perilaku baru (berperilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan yaitu:
-       Awareness (kesadaran): dimana orang tersebut menyadari dalam arti   mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus.
-       Interest (tertarik): dimana orang mulai tertarik pada stimulus.
-       Evaluation (penilaian): rasa menimbang-nimbang baik tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap responden sudah lebih baik.
-       Trial (mencoba): dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
-       Adaption (adaptasi): penyesuaian, dimana subjek telak berperilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran serta sikap terhadap stimulus.
Pengetahuan dalam domain kognitif mempunyai enam tingkatan, yaitu:
(1)         Tahu (Know)     
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam tingkatan pengetahuan ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu yang spesifik dari suatu bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima.
(2)         Memahami (Comprehension)    
Memahami diartikan sebagai kemampuan untuk menjelaskan dengan benar tentang objek yang ingin diketahui. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari (Notoatmodjo, 2003).
(3)         Aplikasi (Application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi yang sebenarnya. Mengaplikasikan berarti dapat menerapkan atau menggunakan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam kehidupan sehari-hari (Notoatmodjo, 2003).
(4)         Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata kerja seperti menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memilahkan, mengelompokan dan sebagainya (Notoatmodjo, 2003).
(5)         Sintesis (Synthesis)
Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain, sintesis adalah suatu kemampuan menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang telah ada (Notoatmodjo, 2003).
(6)         Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian berdasarkan suatu kriteria yang dibuat sendiri atau menggunakan kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003).

2.2.4.2. Sikap
Menurut Newcomb dalam Notoatmojo (2003), sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap itu masih merupakan reaksi tertutup, bukan merupakan reaksi terbuka atau tingkah laku yang terbuka. sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek.
Struktur sikap menurut skema triadik terdiri dari tiga komponen yang saling menunjang (Azwar, 2003), yaitu :

a.       Komponen Kognitif (Cognitive)
Komponen kognitif berisi kepercayaan seseorang mengenai apa yang berlaku atau apa yang benar bagi objek sikap. Kepercayaan datang dari apa yang telah kita lihat atau apa yang telah kita ketahui. Sekali kepercayaan itu telah terbentuk, maka ia akan menjadi dasar pengetahuan seseorang mengenai apa yang diharapkan dari objek tertentu (Azwar, 2003).
b.      Komponen Afektif (Affective)
Komponen afektif merupakan perasaan yang menyangkut aspek emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Namun, pengertian perasaan pribadi seringkali sangat berbeda perwujudannya bila dikaitkan dengan sikap (Azwar, 2002).
Pada umumnya, reaksi emosional yang merupakan komponen afektif ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan atau apa yang kita percayai sebagai benar dan berlaku sebagai objek termaksud.
c.       Komponen Konatif (Conative)    
Komponen konatif dalam struktur sikap menunjukkan bagaimana perilaku atau kecenderungan berperilaku tertentu yang ada dalam diri seseorang berkaitan dengan objek sikap yang dihadapi. Pengertian kecenderungan berperilaku menunjukkan bahwa komponen konatif meliputi bentuk perilaku yang tidak hanya dapat dilihat secara langsung saja, akan tetapi meliputi pula bentuk-bentuk perilaku yang berupa pernyataan atau perkataan yang diucapkan seseorang. Dalam berperilaku pada situasi tertentu dan terhadap stimulus tertentu, seseorang banyak dipengaruhi dan ditentukan oleh kepercayaan dan perasaannya terhadap stimulus tersebut (Azwar, 2003).
Ketiga komponen sikap tersebut harus konsisten satu sama lain, karena apabila salah satu saja diantara ketiga komponen sikap tidak konsisten dengan yang lain, maka akan terjadi ketidakselarasan yang menyebabkan timbulnya mekanisme perubahan sikap sedemikian rupa sehingga konsistensi itu tercapai kembali. Ketidakseimbangan antara komponen sikap maka hal itu akan menyebabkan timbulnya bentuk perilaku kompensatif. Perilaku kompensatif tersebut dapat berbentuk reaksi yang berlebihan yang searah dengan sikap semula dan secara tidak sadar diperlihatkan individu untuk mempertahankan ego (Azwar, 2003).
Menurut Azwar (2003) faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap adalah sebagai berikut :
1)      Pengalaman Pribadi
Untuk dapat menjadi dasar pembentukan sikap, pengalaman pribadi terhadap objek yang berkairtan harus meninggalkan kesan kuat. Karena itu sikap akan lebih mudah terbentuk apabila pengalaman pribadi tersebut terjadi dalam situasi yang melibatkan faktor emosional.
2)      Pengaruh Orang Lain Yang Dianggap Penting
Orang lain di sekeliling kita merupakan salah satu komponen sosial yang ikut mempengaruhi sikap. Seseorang yang dianggap penting, seseorang yang diharapkan persetujuannya atau seseorang yang berarti khusus akan banyak mempengaruhi pembentukan sikap terhadap suatu objek.
3)      Pengaruh Kebudayaan
Skinner sangat menekankan pengaruh lingkungan termasuk kebudayaan dalam membentuk pribadi seseorang. Menurutnya, kepribadian adalah perilaku yang konsisten yang menggambarkan reinforcement yang dialami. Manusia mempunyai pola sikap dan perilaku tertentu dikarenakan kita dapat reinforcement dari masyarakat untuk sikap dan perilaku tersebut, dan bukan untuk sikap dan perilaku yang lain.
4)      Media Masa
Sebagai sarana komunikasi, berbagai bentuk media masa seperti televisi, radio, koran dan majalah akan mempunyai pengaruh besar dalam pembentukan opini seseorang. Adanya informasi baru mengenai suatu hal akan memberikan landasan kognitif baru bagi terbentuknya sikap terhadap hal tersebut. Pesan sugestif yang dibawa informasi tersebut apabila cukup akan memberi dasar efektif dalam menilai suatu hal sehingga terbentuklah arah sikap tertentu.
5)      Lembaga Pendidikan dan Agama
Lembaga pendidikan dan agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap, dikarenakan keduanya meletakkan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu. Pemahaman baik dan buruk, garis pemisah arti sesuatu boleh dan tidak boleh dilakukan, diperoleh dari pendidikan dan ajaran agama.


6)      Pengaruh faktor emosional
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang, kadang-kadang suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari emosi yang berfungsi sebagai penyaluran frustasi atau pengalihan bentuk mekanisme pertahanan ego. Sikap demikian merupakan sikap sementara dan segera berlalu begitu frustasi hilang, akan tetapi dapat pula merupakan sikap yang lebih resisten dan bertahan lama.

2.2.4.3.Praktek atau tindakan
Setelah seseorang mengetahui dan menilai objek kesehatan, proses selanjutnya yaitu melaksanakan atau mempraktekan apa yang diketahui atau disikapinya. Seperti halnya pengetahuan dan sikap, praktik juga mempunyai beberapa tingkatan diantaranya :
1.      Persepsi
yaitu mengenal dan memilih berbagai objek sesuai dengan tindakan yang akan dilakukan.
2.      Respon terpimpin
Pada tingkatan ini individu dapat melakukan sesuatu dengan urutan yang benar sesuai contoh.
3.      Mekanisme
Pada tingkatan ini individu dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis atau sudah menjadi kebiasaan.
4.      Adaptasi
Merupakan suatu tindakan yang sudah berkembang dan dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran.

2.2.5.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Perilaku
2.2.5.1.Faktor endogen atau genetik
Faktor endogen merupakan konsepsi dasar atau modal untuk kelanjutan perkembangan perilaku makhluk hidup dan berasal dari dalam diri individu. Yang termasuk dalam faktor ini adalah jenis ras, jenis kelamin, sifat fisik, sifat kepribadian, bakat pembawaan, intelegensi (Sunaryo, 2004).
2.2.5.2.Faktor eksogen
Merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku dari luar individu. Yang termasuk dalam faktor eksogen ini antara lain :
a.       Faktor lingkungan, lingkungan disini berkaitan dengan segala sesuatu yang ada disekitar individu baik fisik, biologis, maupun sosial. Lingkungan ini merupakan lahan untuk perkembangan perilaku sehingga lingkungan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku individu (Sunaryo, 2004).
b.       Pendidikan, faktor ini mencakup seluruh proses kehidupan individu sejak dalam ayunan hingga liang lahat, berupa interaksi individu dengan lingkungannya, baik secara formal maupun informal. Kegiatan pendidikan formal maupun informal berfokus pada proses belajar mengajar, dengan tujuan agar terjadi perubahan perilaku yaitu dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dan dari tidak dapat menjadi dapat (Sunaryo, 2004).
c.       Agama, merupakan suatu keyakinan hidup yang masuk kedalam konstruksi kepribadian seseorang yang sangat berpengaruh dalam cara berfikir, bersikap, dan berperilaku individu (Sunaryo, 2004).
d.      Sosial ekonomi, tingkat sosoal ekonomi individu akan mempengaruhi dalam penyediaan fasilitas untuk pemenuhan kebutuhan hidupnya sehingga akan berpengaruh dalam perilaku individu tersebut.
e.       Kebudayaan, menurut Koentjoroningrat dalam Sunaryo (2004) mendefinisikan kebudayaan sebagai keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiaskannya dengan belajar, serta dari hasil budi dan karyanya itu.
f.        Faktor-faktor lain
1.      Susunan saraf pusat, merupakan sarana untuk memindahkan energi yang berasal dari stimulus melalui neuron ke simpul saraf tepi yang sterusnya akan berubah menjadi perilaku.
2.      Persepsi, merupakan proses diterimanya rangsang melalui pancaindera yang didahului oleh perhatian (attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada di dalam maupun di luar dirinya (Sunaryo, 2004). melalui persepsi ini perubahan perilaku pada seseorang dapat diketahui.
3.      Emosi. Maramis dalam Sunaryo (2004) menyebutkan bahwa emosi adalah manifestasi perasaan atau afek keluar disertai banyak komponen fisiologik, dan biasanya berlangsung tidak lama.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top