Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Monday, March 3, 2014

Kenali Penyakit Diare ( Ilmu keperawatan )

Kenali Penyakit DiareDiare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan karena frekwensi satu kali atau lebih buang air besar dengan tinja berbentuk cair atau encer (Yuliani dan Suriadi, 2001).

Jumlah buang air besar normal dalam sehari bervariasi sesuai diet dan usia. Pada diare, tinja mengandung lebih banyak air dibandingkan yang normal- sering disebut mencret atau tinja seperti air. Diare yang mengandung darah disebut disentri (Andrianto, 1995).

Diare Akut dan Kronik
Diare akut timbul secara mendadak dan bisa berlangsung terus selama beberapa hari. Disebabkan oleh infeksi usus. Diare kronik merupakan diare yang berlanjut sampai 2 minggu atau lebih dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut (Suraatmaja, 2005).

Bahaya Diare
Diare dapat menyebabkan kurang gizi dan kematian. Kematian akibat diare akut atau disentri tersering disebabkan oleh kehilangan banyak cairan dan garam dari dalam tubuh. Kehilangan ini dinamai dehidrasi.

Diare menjadi lebih serius pada orang yang kurang gizi, sebab diare dapat menyebabkan kurang gizi dan dapat memperburuk keadaan kurang gizi yang telah ada, karena selama diare: Zat gizi hilang dari tubuh, orang bisa tidak lapar, ibu mungkin tidak memberi makan pada anak yang menderita diare. Beberapa ibu mungkin menunda pemberian makanan pada bayinya selama beberapa hari, walaupun diare telah membaik.

Untuk mengurangi kekurangan gizi pada anak yang telah menderita diare dan anak tersebut dapat makan sebaiknya segera memberikan makanan pada anak (Andrianto, 1995).

Penyebab Diare
Menurut Ngastiyah (1997), Penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa faktor yaitu:
(1) Faktor infeksi: (a) Infeksi enteral; infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab utama diare pada anak. Meliputi infeksi enteral yang terdiri dari: infeksi bakteri, infeksi virus dan infeksi parasit. (b) Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti: otitis media akut (OMA), tonsillitis/ tonsilofaringitis, bronkopneumonia, ensefalitis dan sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur dibawah 2 tahun.

(2) Faktor malabsorbsi. (a) Malabsobsi karbohidrat: disakarida (intoleransi laktosa, maltosa dan sukrosa); monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan galaktosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering intoleransi laktosa). (b) Malabsorbsi lemak. (c) Malabsorbsi protein.

(3) Faktor makanan: Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

(4) Faktor psikologis: Rasa takut dan cemas (jarang, tetapi dapat terjadi pada anak yang lebih besar).

Patofisiologi Diare
Menurut Ngastiyah, (1997). Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare adalah:
(1) Gangguan osmotik.
Akibatnya terdapat makanan atau zat yang tidak dapat diserap akan menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit kedalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare.

(2) Gangguan sekresi.
Akibat rangsangan tertentu (misalnya toksin) pada dinding usus akan terjadi peningkatan sekresi, air dan elektrolit ke dalam rongga usus dan selanjutnya timbul diare Karena terdapat peningkatan isi rongga usus.

(3) Gangguan motilitas usus.
Hiperperistaltik akan mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap makanan sehingga timbul diare. Sebaliknya bila peristaltik usus menurun akan mengakibatkan bakteri tumbuh berlebihan, selanjutnya timbul diare pula.

Menurut Fatimah, (2001). Diare dapat terjadi karena meningkatnya peristaltik usus sehingga absorpsi air mengalami gangguan. Keadaan ini merupakan akibat meningkatnya stimulasi saraf parasimpatis yang menyebabkan peningkatan peristaltik usus dan peradangan atau infeksi virus/ bakteri yang menyebabkan iritasi mukosa yang mengakibatkan meningkatnya sekresi mucus dan motilitas usus yang pada akhirnya tubuh akan kehilangan cairan dan elektrolit.

2.1.6 Manifestasi Klinik Diare
Menurut Suraatmaja, (2005) manifestasi klinik diare meliputi: bayi/ anak mula- mula menjadi cengeng, gelisah, suhu badan mungkin meningkat, nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare. Tinja makin cair, mungkin mengandung darah dan/ atau lender, warna tinja berubah menjadi kehijau- hijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama menjadi makin asam akibat banyaknya asam laktat yang terjadi dari pemecahan laktosa yang tidak dapat diabsorpsi oleh usus. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare. Bila penderita telah banyak kehilangan air dan elektrolit, terjadilah gejala dehidrasi. Berat badan turun, pada bayi ubun- ubun besar cekung, tonus dan turgor kulit berkurang, selaput lender mulut dan bibir terlihat kering.

2.1.7 Pencegahan Diare
Dalam pencegahan diare harus memperhatikan faktor- faktor seperti faktor penyebab langsung (kebersihan diri) dan faktor penyebab tidak langsung (kebersihan lingkungan).

Menurut Depkes RI, (2002) pencegahan diare yang benar dan efektif yang dapat dilakukan adalah:

(1) Pemberian air susu ibu (ASI)
ASI adalah makanan paling baik untuk bayi. Komponen zat makanan tersedia dalam bentuk yang ideal dan seimbang untuk dicerna dan diserap secara optimal oleh bayi. ASI saja sudah cukup untuk menjaga pertumbuhan sampai umur 4-6 bulan. Tidak ada makanan lain yang dibutuhkan selama masa ini.

ASI steril, berbeda dengan sumber susu lain; susu formula atau cairan lain disiapkan dengan air atau bahan- bahan yang terkontaminasi dalam botol yang kotor. Pemberian ASI saja, tanpa cairan atau makanan lain dan tanpa menggunakan botol, menghindarkan anak dari bahaya bakteri dan organisme lain yang akan menyebabkan diare. Keadaan seperti ini disebut disusui secara penuh.

Bayi- bayi harus disusui secara penuh sampai mereka berumur 4-6 bulan. Setelah 6 bulan dari kehidupannya, pemberian ASI harus diteruskan sambil ditambahkan dengan makanan lain (proses menyapih).

ASI mempunyai khasiat preventif secara imunologik dengan adanya antibody dan zat- zat lain yang dikandungnya. ASI turut memberikan perlindungan terhadap diare. Pada bayi yang baru lahir, pemberian ASI secara penuh mempunyai daya lindung 4 x lebih besar terhadap diare daripada pemberian ASI yang disertai dengan susu botol. Flora usus pada bayi- bayi yang disusui mencegah tumbuhnya bakteri penyebab diare.

Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan, risiko mendapat diare adalah 30x lebih besar. Pemberian susu formula merupakan cara lain dari menyusui. Penggunaan botol untuk susu formula, biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga mengakibatkan terjadinya gizi buruk.

(2) Makanan pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI adalah saat bayi secara bertahap mulai dibiasakan dengan makanan orang dewasa. Pada masa tersebut merupakan masa yang berbahaya bagi bayi sebab perilaku pemberian makanan pendamping ASI dapat menyebabkan meningkatnya resiko terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian. Perilaku pemberian makanan pendamping ASI yang baik meliputi perhatian terhadap kapan, apa dan bagaimana makanan pendamping ASI diberikan.

Ada beberapa saran yang dapat meningkatkan cara pemberian makanan pendamping ASI yang lebih baik, yaitu:
  1. Perkenalkan makanan lunak, ketika anak berumur 4-6 bulan tetapi teruskan pemberian ASI. Tambahkan macam makanan sewaktu anak berumur 6 bulan atau lebih. Berikan makanan lebih sering (4x sehari). Setelah anak berumur 1 tahun, berikan semua makanan yang dimasak dengan baik, 4-6x sehari, teruskan pemberian ASI bila mungkin.
  2. Tambahkan minyak, lemak dan gula ke dalam nasi/ bubur dan biji- bijian untuk energi. Tambahkan hasil olahan susu, telur, ikan, daging, kacang- kacangan, buah- buahan dan sayuran berwarna hijau ke dalam makanannya.
  3. Cuci tangan sebelum menyiapkan makanan dan menyuapi anak. Suapi anak dengan sendok yang bersih.
  4. Masak atau rebus makanan dengan benar, simpan sisanya pada tempat yang dingin dan panaskan dengan benar sebelum diberikan kepada anak.

(3) Menggunakan air bersih yang cukup
Sebagian besar kuman infeksius penyabab diare ditularkan melalui jalur fekal oral. Mereka dapat ditularkan dengan memasukkan ke dalam mulut, cairan atau benda yang tercemar dengan tinja, misalnya air minum, jari- jari tangan, makanan yang disiapkan dalam panci yang dicuci dengan air tercemar.

Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar- benar bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibanding dengan masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih.

Masyarakat dapat mengurangi resiko terhadap serangan diare yaitu dengan menggunakan air yang bersih dan melindungi air tersebut dari kontaminasi mulai dari sumbernya sampai penyimpanan di rumah.

Yang harus diperhatikan oleh keluarga: (a) Ambil air dari sumber air yang bersih, (b) ambil dan simpan air dalam tempat yang bersih dan tertutup serta gunakan gayung khusus untuk mengambil air, (c) pelihara atau jaga sumber air dari pencemaran oleh binatang dan untuk mandi anak- anak, (d) gunakan air yang direbus, (e) cuci semua peralatan masak dan makan dengan air yang bersih dan cukup.

(4) Mencuci tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan.

Mencuci tangan dengan sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak, sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makan anak dan sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare.

(5) Menggunakan jamban
Pengalaman di beberapa negara membuktikan bahwa upaya penggunaan jamban mempunyai dampak yang besar dalam penurunan resiko terhadap penyakit diare.

Keluarga yang tidak mempunyai jamban harus membuat dan keluarga harus buang air besar di jamban.

Yang harus diperhatikan oleh keluarga: (a) Keluarga harus mempunyai jamban yang berfungsi baik dan dapat dipakai oleh seluruh anggota keluarga. (b) Bersihkan jamban secara teratur. (c) Bila tidak ada jamban, jangan biarkan anak- anak pergi ke tempat buang air besar sendiri, buang air besar hendaknya jauh dari rumah, jalan setapak dan tempat anak- anak bermain serta lebih kurang 10 meter dari sumber air, hindari buang air besar tanpa alas kaki.

(6) Membuang tinja bayi yang benar
Banyak orang beranggapan bahwa tinja bayi itu tidak berbahaya. Hal ini tidak benar karena tinja bayi dapat pula menularkan penyakit pada anak- anak dan orang tuanya. Tinja bayi harus dibuang secara bersih dan benar.

Yang harus diperhatikan oleh keluarga: (a) Kumpulkan segera tinja bayi atau anak kecil dan buang ke jamban. (b) Bantu anak- anak buang air besar di tempat yang bersih dan mudah dijangkau olehnya. (c) Bila tidak ada jamban, pilih tempat untuk membuang tinja anak seperti di dalam lubang atau di kebun kemudian di timbun (d) Bersihkan dengan benar setelah buang air besar dan cuci tangannya dengan sabun

(7) Pemberian Imunisasi Campak
Diare sering timbul menyertai campak, sehingga pemberian imunisasi campak juga dapat mencegah diare. Oleh karena itu beri anak imunisasi campak segera setelah berumur 9 bulan.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top