Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Saturday, March 1, 2014

MENGENAL PENYAKIT TB. PARU DAN CARA PENULARAN DAN PENANGGULANGANNYA.

MENGENAL PENYAKIT TB. PARU DAN CARA PENULARAN DAN PENANGGULANGANNYA.

1. Penyakit TB. Paru

            TB paru  adalah  penyakit  menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB paru (Mycobacterium Tuberculosis) dengan panjang 1-4/µm dan tebal 0,3-0,6 µm Kuman TB paru berbentuk batang mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada pewarnaan oleh karena itu di sebut pula sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Spesies lain kuman ini yang dapat memberikan infeksi pada manusia adalah M. bovis, M.kansasi, M.intracelluler, sebagian kuman terdiri dari  asam lemak (Lipid). Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan asam dan lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisik (Soeparman, 2004:820)
7
Mycobacterium tipe humanus dan tipe bovis adalah yang paling banyak menimbulkan penyakit TB paru pada manusia. Basil tersebut berbentuk batang, bersifat aerob, mudah mati di air mendidih (5 menit pada suhu 80° C, 20 menit pada suhu 60° C) dan mudah mati apabila terkena sinar ultraviolet (sinar matahari). Basil Tahan Asam dapat bertahan hidup berbulan-bulan dalam suhu kamar dan didalam ruangan yang lembab.
Identifikasi basil tahan asam (BTA) dapat dilakukan dengan cara hapusan, fluoresensi, biakan pada media khusus dan inokulasi basil pada hewan percobaan. Bahan-bahan untuk identifikasi dapat  diambil dari dahak penderita TB paru secara langsung, kerokan laring, kumbah lambung, kumbah saluran pernapasan dengan bantuan alat bronskoskopi dan dari cairan pleura. Bahan hapusan tersebut dicat dengan cara Ziehl-Nielsen atau Tan Thiam Hok dan di baca dengan cara gradasi  yang diusulkan oleh Gaffy atau Bronchorst (Hood Alsagaff, 2002 :76).
Batuk atau bersin penderitaTB paru menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk droplet (percikan ludah), droplet mengandung kuman dan dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam. Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam  saluran pernapasan. Setelah kuman TB masuk ke dalam tubuh manusia melalui pernapasan, kuman tersebut dapat menyebar dari paru  kebagian organ tubuh lainnya, melalui sistem peredaran darah, sistem saluran limfe, saluran napas atau penyebaran langsung ke bagian-bagian tubuh lainnya. Daya penularan dari seseorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari paru-paru, makin tingginya derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan dahak negatif (tidak terlihat kuman) maka penderita tersebut dianggap tidak menular ( Depkes , 2002 : 9).
b.      Tanda dan Gejala TB. Paru
            Tidak ada gejala klinis yang khas,gejala klinis sangat bervariasi dari suatu penyakit yang tidak menunjukan gejala dengan suatu bentuk penyakit dengan gejala sangat mencolok. Keluhan yang dirasakan penderita TB paru dapat bermacam-macam atau masalah tanpa keluhan sama sekali, keluhan yang terbanyak ditemukan adalah :
1).   Demam
2).Batuk
3).Sesak Napas
4).Nyeri Dada
5).Malaise
c.       Penegakkan Diagnosis
            Diagnosis TB paru pada orang dewasa dapat ditegakan dengan ditemukannya BTA pada pemeriksaan dahak secara mikroskopis. Hasil pemeriksaan dinyatakan positif apabila sedikitnya dua dari tiga specimen sewaktu pagi sewaktu (SPS) BTA positif.
Bila hanya 1 specimen yang positif perlu diadakan pemeriksaan lebih lanjut yaitu foto rontgen dada atau pemeriksaan SPS diulang.
1).    Kalau hasil rontgen mendukung TB paru maka penderita di diagnosis sebagai penderita TB paru BTA positif.
2).    Kalau rontgen tidak mendukung TB paru maka pemeriksaan  dahak SPS di ulangi.
d.      Pengobatan TB. Paru dan Pemantauan Kemajuan Hasil Pengobatan
      Tahun 1997 WHO dan IUATLD (international Union Against Tuberculosis and Lung Disease) membuat klasifikasi regimen pengobatan pada berbagai keadaan penyakit TB paru dan merekomendasikan panduan Obat Anti Tuberkolosis (OAT) standar. Jenis obat-obatan saat ini yang dipergunakan dalam penanggulan tuberkolosisi menggunakan paduan obat anti tuberkolosis (OAT) yang terdiri atas Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), Streptomisin (S) dan Enthabutol (E). Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket kombipak, dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan pengobatan sampai selesai.
Pemantauan kemajuan hasil pengobatan pada orang dewasa dilaksanakan dengan pemeriksaan ulang dahak secara mikroskopis sebanyak dua kali (sewaktu dan pagi). Hasil pemeriksaan dinyatakan negatif bila  kedua specimen tersebut negatif, tetapi bila salah satu specimen positif maka hasil pemeriksaan ulang dahak tersebut dinyatakan positif. Pemeriksaan dahak ulang untuk fase intensif dilakukan seminggu sebelum akhir bulan ke dua pengobatan kategori satu, atau seminggu sebelum akhir bulan ketujuh pada pengobatan kategori dua. Selanjutnya pada akhir pengobatan dilakukan pemeriksaan ulang dahak pada seminggu sebelum akhir bulan kedelapan pada katagori dua. Pemeriksaan dahak pada akhir pengobatan tahap intensif dilakukan untuk mengetahui apakah telah terjadi konversi dahak, yaitu perubahan dari BTA positif menjadi negatif (Depkes, 2002: 38-42).
e.       Hasil Pengobatan dan Tindak Lanjut
Hasil pengobatan penderita dapat dikategorikan sembuh, Pengobatan lengkap, Meninggal, Pindah (Transfer Out,Defaulter)/DO, dan gagal.
1).    Sembuh
Penderita dinyatakan sembuh bila hasil pemeriksaan ulang dahak (follow-up) paling sedikit dua kali berturut-turut negatif, salah satu diantaranya haruslah pemeriksaan pada akhir pengobatan (AP):
2).    Pengobatan lengkap
Penderita yang telah menyelesaikan pengobatan secara lengkap tapi tidak ada hasil pemeriksaan ulang dahak, khususnya pada akhir pengobatan (AP).
3).    Meninggal
Penderita yang dalam masa pengobatan diketahui meninggal karena sebab apapun.
4).    Pindah
Penderita yang pindah berobat ke daerah kabupaten lain/kota lain.Tindak lanjut Penderita yang ingin pindah, dibuatkan surat pindah dan bersama sisa obat di kirim ke Unit Pelayanan Kesehatan (UPK).

5).    Defaulled atau Drop Out
Penderita yang tidak mengambil obat dua bulan berturut-turut atau lebih sebelum masa pengobatan selesai.Tindak lanjut lacak penderita tersebut dan diberi penyuluhan pentingnya berobat secara teratur, apabila penderita akan melanjutkan pengobatan, lakukan pemeriksaan dahak. Bila positif mulai pengobatan  dengan kategori  dua, dan bila negatif sisa pengobatan kategori satu lanjutkan.
6).    Gagal
Penderita  BTA  positif  yang  hasil  pemeriksaan  dahaknya  tetap positif atau kembali menjadi positif pada satu bulan sebelum akhir pengobatan atau pada  akhir pengobatan. Penderita BTA negatif yang hasil pemeriksaan dahaknya pada akhir bulan ke dua menjadi positif. Tindak lanjut berikan pengobatan kategori dua mulai dari awal (Depkes, 2002 : 45-47).
f.       Pengawas Menelan Obat (PMO)
      Keberadaan PMO merupakan salah satu komponen penting dalam sistem pengobatan penderita tuberkulosis dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse), karena dengan pengawasan yang baik akan membantu intensifnya pengobatan. Oesman (2000) mengatakan bahwa, penderita TB paru tanpa PMO beresiko tidak teratur minum obat.
Yang bertindak sebagai PMO adalah :
1).    Keluarga
2).    Petugas kesehatan
3).    Kader
4).    Penderita yang sudah sembuh
5).    Tokoh masyarakat
6).    Tokoh agama (Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, 2003 : 13)
Tujuan adanya PMO adalah :
1).    Agar terjamin kesembuhannya
2).    Mencegah kekebalan obat
3).    Agar tidak menularkan penyakit TB paru kepada orang sehat yang lain
4).    Jika ada keluhan atau gejala efek samping obat, bisa segera dapat diatasi (Depkes RI, 2002 : 48-49).
Persyaratan Pengawas Makan Obat (PMO) terdiri dari :
1).    Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas kesehatan atupun oleh penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh penderita.
2).    Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita.
3).    Bersedia membantu penderita dengan sukarela.
4).    Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan penderita.
Tugas seorang Pengawas Makan Obat (PMO) adalah :
1).    Mengawasi penderita TB. agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.
2).    Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur.
3).    Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
4).    Memberi penyuluhan kepada anggota keluarga penderita TB. yang mempunyai gejala-gejala tersangka TB. untuk segera memeriksakan diri kepada petugas kesehatan.
Informasi penting yang perlu dipahami PMO untuk disampaikan adalah :
1).    TB. bukan penyakit keturunan atau kutukan.
2).    TB. dapat disembuhkan dengan berobat teratur.
3).    Tata laksana pengobatan penderita pada tahap intensif dan lanjutan.
4).    Pentingnya berobat secara teratur, karena itu pengobatan perlu diawasi.
5).    Efek samping obat dan tindakan yang harus dilakukan bila terjadi efek samping tersebut.
6).    Cara penularan dan mencegah penularan (Depkes, 2002 : 48-49).

2.      Karakteristik Pengaruh Keberhasilan Pengobatan TB Paru
      Berdasarkan pendapat beberapa ahli maka karakteristik  yang mungkin mempengaruhi keberhasilan pengobatan TB paru antara lain :
1).   Umur
2).   Pendidikan
3).   Pengetahuan
4).   Kepatuhan
5).   Pekerjaan
6).   Lingkungan
    
B.     Kerangka Konsep
            Berdasarkan latar belakang masalah dan tujuan penelitian dapat di kembangkan suatu kerangka  konsep. Penelitian ini menjelaskan  hubungan antara variabel  bebas dan variabel terikat dan  dapat di gambarkan sebagai berikut :
VARIABEL BEBAS


VARIABEL TERIKAT
Dosis obat
Ekonomi
Gaya hidup
VARIABEL PENGGANGGU

Umur
Pendidikan
Pengetahuan
Kepatuhan berobat
Pekerjaan
Lingkungan


Keberhasilan Pengobatan
TB. paru
            Keterangan :
                             : variabel diteliti
                             : variabel tidak diteliti
Bagan 2.1 :  Kerangka Konsep Hubungan Karakteristik Penderita TB paru dengan Keberhasilan Pengobatan TB Paru

C.    Hipotesis Penelitian
1.      Ada hubungan antara umur dengan keberhasilan pengobatan TB paru.
2.      Ada hubungan pendidikan dengan keberhasilan pengobatan TB  paru.
3.      Ada hubungan antara pengetahuan dengan keberhasilan pengobatan TB paru.
4.      Ada hubungan kepatuhan berobat dengan keberhasilan pengobatan TB. paru.
5.      Ada hubungan pekerjaan dengan keberhasilan pengobatan TB paru.
6.      Ada hubungan lingkungan dengan keberhasilan pengobatan TB paru.

D.    Definisi Operasional
Tabel 2.1
Definisi Operasional
           
Variabel
Definisi
Operasional
Kategori
Skor
Skala
Terikat :
Keberhasilan pengobatan TB. Paru

Penderita TB paru BTA positif yang sudah mendapatkan pengobatan selama 6 bulan dan pada akhir pengobatan BTA dinyatakan negatif melalui pemeriksaan dahak sebanyak 2 kali

1.      BTA Positif
2.      BTA Negatif

1
2

Ordinal
Bebas :
1.      Umur


Umur adalah ulang tahun terakhir penderita pada saat pendataan

1.      Dewasa muda (20-40 tahun)
2.      Dewasa Tua (40-60 tahun)
3.      Lanjut Usia (>60 tahun)

1

2

3

Ordinal
2.       Pendidikan




Jenjang pendidikan yang pernah ditempuh penderita dan ditunjukkan dengan ijazah
terakhir yang
dimiliki pada saat
pendataan.
1.     Pendidikan Dasar (tidak tamat SD-tamat  SD)
2.     Pendidikan Menengah (SLTP-SLTA)
3.     Pendidikan Tinggi (tamat akademi/PT)
1



2



3
Ordinal





Variabel
Definisi Operasional
Kategori
Skor
Skala

3.      Pengetahuan
Pengetahuan tentang tanda, gejala, cara penularan, pengobatan, pemeriksaan, dan penyembuhan penyakit TB paru diukur dengan jawaban responden atas pertanyaan.
1.       Tidak Baik


2.      Cukup


3.      Baik
Jawaban benar
< 55%
Jawaban benar
56–75 %
Jawaban benar
76–100 %
Ordinal
4.        Kepatuhan
       berobat
Ketaatan penderita menjalani pengobatan selama 6 bulan
1.       Tidak Patuh

2.       Patuh
Skor total < mean
Skor total > mean
Ordinal

5.       Pekerjaan

Kegiatan yang dilakukan sehari-hari yang menghasilkan untuk memenuhi kebutuhan
1.      Tidak bekerja
3.      Buruh
4.      Petani
5.      Pedagang
6.      PNS
7.      Pensiunan
1
2
3
4
5
6
Nominal



6.       Lingkungan
Segala sesuatu yang ada disekitar penderita yang dapat mempengaruhi kesehatan kondisi rumah (konstruksi dinding rumah, jenis lantai rumah ventilasi dan lubang asap).
1.      Kurang



2.      Sedang



3.      Baik
< 55 % kriteria lingkungan sehat
56 – 75 % kriteria lingkungan sehat
76 – 100% kriteria lingkungan sehat
Ordinal









Keterangan : alat ukur menggunakan kuesioner

 PENYAKIT TB. PARU DAN CARA PENULARANYA

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top