Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Thursday, February 19, 2015

PENGARUH METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEMA SOLVING) TERHADAP KREATIVITAS SISWA

A. Latar Belakang Masalah
Kehidupan yang kita hadapi dan jalani di dunia modern sekarang ini, sering kita mengalami saat-saat dimana kita seolah-olah diombang-ambingkan antara cemas dan harapan, antara fesimisme yang kejam dan optimisme yang penuh dengan harapan. Optimisme yang selalu tergugahkan dengan pidato-pidato dalam berbagai nada dan irama yang diucapkan pejabat-pejabat dari yang tertinggi sampai dengan echelon-echelon yang paling rendah, dimana yang memperingkatkan kita kembali kepada tujuan paling akhir dari pendidikan kita, yaitu manusia Pancasila Paripurna yang dihiasi dengan sifat-sifat utama seperti berilmu, tanggung jawab, kreatif dan sebagainya. Hal tersebutlah yang masih memberikan harapan untuk kita selalu optimisme.

Sebuah analisis sederhana yang mesti kita telaah, dimana betapa banyaknya jalan yang di rusak air hujan, oleh karena selokan-selokan pelindungnya tidak berfungsi yang disebabkan pengerukan selokan itu belum saja diintruksikan dari atas. Inisiatif yang merupakan sinonim dari kreativitas sama sekali tidak ada.Kreativitas merupakan suatu sifat yang ideal yang dapat membawa anak-anak didik kita kedalam suatu dunia yang penuh dengan perubahan-perubahan yang inovatif, sehingga dapat menimbulkan suatu kenikmatan yang membayangkan indahnya dunia yang penuh dengan perubahan-perubahan yang inovatif tersebut. Namun kenikmatan tersebut sering diganggu dengan gambaran nyata yang kita sering hayati dalam dunia realistis yang penuh dengan berbagai isu dan intrik serta kontropersi.

Satu ilustrasi diatas, merupakan suatu bentuk kreativitas di kalangan kita yang sudah cukup kiranya untuk mendorong kita selaku kaum pendidik, ke arah usaha menyisipkan pembangkitan kreativitas tersebut didalam segala kegiatan termasuk di bidang pendidikan atau pengajaran. Di samping pesimesme yang berkaitan dengan ilustrasi diatas, kita sering digembirakan dengan berita-berita dari pelosok tentang suatu penemuan-penemuan baru diberbagai bidang.

Akan tetapi kita tidak boleh menganggap enteng suatu kenyataan yang memberikan suatu petunjuk bahwa faktor kreativitas, khususnya dibidang pengajaran belum mendapat tempat yang layak dalam perencanaan interaksi guru dan murid. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa setiap usaha untuk pendidikan/pengajaran yang mengutamakan kreativitas itu harus menyediakan suatu lingkungan tempat mendidik atau belajar dimana setiap individu dengan pandangan-pandangannya yang mendapatkan penghormatan atau penghargaan yang sama seperti yang diberikan kepada kelompok. Sebagai fondamen dari pendidikan, kreativitas itu merupakan suatu syarat yang mutlak harus ada untuk mencapai suatu tujuan yang akan dicapai, yaitu :
1.  Kreativitas harus merubah konsep lama yang mengatakan bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem, dimana faktor-faktor yang telah terdahulu dikumpulkan, dipelihara dan disistimatisasikan. Dengan demikian kreativitas itu harus mengembangkan pendidikan ke arah kekuatan yang sangat dinamis yang mampu mengkukuhkan kreativitas sebagai tujun akhir yang bukan merupakan suatu cara guna mencapai tujuan yang tidak menentu yang bersifat semu.
2.  Kreativitas yang harus kita kembangkan pada anak-anak didik kita adalah suatu kreativitas yang akan dapat mempersiapkan setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, sehingga dapat memberikan suatu arti kepada perikehidupan didalam dunia yang begitu berubah dengan cepat.
Dengan demikian sebagaimana telah kita ketahui tujuan daripada kreativitas tersebut diatas, maka menurut Balnadi Sutadipura mengemukakan bahwa kreativitas itu harus dapat memenuhi 3 (tiga) unsur yang penting, yaitu sebgai berikut :
1.   Kreativitas itu merupakan suatu proses daripada perubahan.
2. Perubahan itu terutama lebih menyangkut terhadap perseorangan dari pada kelompok.
3.  Perubahan itu haruslah menyangkut suatu segi yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan. (Balnadi Sutadipura, 1985 : 102).
Dengan adanya ketiga unsur penting tersebut diatas, maka sebagaimana telah digambarkan diatas, dalam suatu contoh yang menggambarkan bahwa sistem pendidikan kita sedikit banyak dalam tugasnya tidak begitu berhasil didalam membentuk manusia yang begitu kreatif, yang dapat maju seirama dengan lajunya kecepatan perubahan dibidang teknologi dan sosial. Sehingga demikian kepada kita telh dilemparkan suatu tuduhan bahwa kita dengan sengaja telah membentuk manusia-manusia statis yang harus menghuni dunia yang sangat dinamis.

Sebagian kebenaran tuduhan tersebut disebabkan oleh karena kita kaum guru telah terlanjur terlalu meletakan titik berat kepada “penimbunan fakta-fakta” yang melupakan “belajar berfikir” untuk menemukan suatu perubahan yang sangat baru dengan mempergunakan daya kreativitas yang dimiliki oleh peserta didik kita, sehingga dengan demikian akibatnya terjadi proses stagnasi yang menjurus ke arah statis dan akhirnya akan menjurus ke arah macet dalam berfikir dan bertindak.

Kreativitas yang harus kita kembangkan adalah daya cipta yang mula-mula timbul dari daya merangsang si anak ke arah penyajian kembali, penelaahan kembali yang lambat laun tetapi pasti, sehingga memastikan menjurus ke arah penemuan yang baru dan timbul problema baru. Proses penting sekali untuk menjamin terbentuknya suatu masyarakat yang dinamis. Tanpa usaha ke arah kreativitas ini betul-betul tidak akan menghasilkan suatu penemuan yang baru bagi kita.

Dengan demikian sehubungan dengan pemaparan latar belakang masalah diatas, maka dalam rangka pemecahan-pemecahan terhadap masalah-masalah diatas, kiranya akan dapat kita ketahui dari hasil penelitian-penelitian yang akan dilaksanakan, maka ada ketertarikan Penulis untuk membuat suatu karya ilmiah dalam bentuk Skirpsi dengan Judul PENGARUH METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEMA SOLVING) TERHADAP KREATIVITAS SISWA DIDALAM MATA PELAJARAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI CIBUNIGEULIS 3 KOTA TASIKMALAYA


B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dalam latar belakang masalah diatas, maka yang menjadi masalah, yaitu pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas V Sekolah Dasar Negeri Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya.
Sehubungan dengan hal tersebut yang menjadi pokok masalah, maka dengan ini penulis mengindentifikasi masalah kedalam sub-sub masalah, yaitu :
1. Bagaimana pelaksanaan metode pemecahan masalah (problema solving) didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ?
2.   Bagaimana kreativitas siswa didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ?
3.  Seberapa besar pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ?
C.          Maksud dan Tujuan Penelitian
1.      Maksud Penelitian
Adapun yang menjadi maksud dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Mencari data dan informasi tentang bagaimana pelaksanaan metode pemecahan masalah (problema solving) didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
2.     Mencari data dan informasi tentang bagaimana kreativitas siswa didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
3.      Mencari data dan informasi tentang seberapa besar pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.


2.      Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.     Untuk mengetahui, memahami dan menganalisa tentang bagaimana pelaksanaan metode pemecahan masalah (problema solving) didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
2.     Untuk mengetahui, memahami dan menganalisa tentang bagaimana kreativitas siswa didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.
3.     Untuk mengetahui, memahami dan menganalisa tentang seberapa besar pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa didalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

D.          Kegunaan Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian ini, diharapkan dapat memberikan suatu kegunaan penelitian, baik secara teoritis maupun secara praktis, yaitu sebagai berikut :
1.      Secara Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan suatu tambahan ilmu pengetahuan sebagai wujud dari perkembangan ilmu, baik bagi penulis maupun semua pihak yang berada dalam dunia pendidikan terutama mengenai pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

2.      Secara Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan motivasi bagi para pihak yang terkait, yaitu sebagai berikut :
a)      Anak Didik
Diharapkan dari hasil penelitian ini dapat menjadi sumbangan pemikiran, bagi dan dalam dunia kependidikan, khususnya bagi para anak didik atau murid-murid yang berada Sekolah Dasar Negeri Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya agar lebih memahami pengertian dan manfaat dari pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

b)     Guru dan SDN Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya
Diharapkan dari hasil penelitian ini, pihak Sekolah Dasar Negeri Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya dan para staff guru akan memperoleh informasi yang lebih jelas tentang metode atau cara atas pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

E. Kerangka Pemikiran
Persoalan kreativitas merupakan suatu pokok pemikiran yang aktual dalam dunia pendidikan kita, dimana dalam hal ini diperlukan adanya suatu syarat untuk membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya yang kreatif, yang meliputi :
1.   Lingkungan, dimana lingkungan merupakan suatu suasana yang kondusif sangat diperlukan didalam proses belajar mengajar yang menguntungkan.
2.    Anak-anak didik, dimana hal ini dimaksudkn kita pada umumnya dibekali dengan pembawaan intelektual yang mengandung harapan.
3.   Motivasi, dimaksudkan sebagai bekal penting yang harus dimiliki oleh setiap pelajar maupun pengajar.
4.   Sarana-sarana pendidikan yang tidak mengecewakan.
5.   Para pelaksana pendidikan atau pengajaran yang berdedikasi dan pada umumnya memiliki sifat-sifat yang diperlukan yang tidak sedikit jumlahnya.
6.   Faktor-faktor pendukung lainnya yang berasalah dalam internal negara kita sendiri yang berbeda dengan faktor pendukung negara lain.

Berfikir kreatif dalam bidang pendidikan harus dibandingkan seperti halnya dengan jenis berfikir yang terdapat dalam seni (art) dan penemuan-penemuan. Dimana usaha-usaha yang dijalankan adalah ada upayanya yang tidak adanya ketergantungan satu sama lainnya. Dimana usaha itu mengandung resiko dan ketidaktentuan yang seperti diharapkan akan berakhir secara jelas dengan suatu penemuan. Penemuan ini layak untuk mendapat perhatian, oleh karena penumuan ini mengandung maksud apapun hasil penemuannya, namun penemuan tersebut tetap memiliki suatu kegunaan yang sangat bernilai.

Bertitik tolak dari adanya proses kegiatan yang kreatif tersebut, maka harus kita ketahui bahwa didalam dunia pendidikan yang memegang kunci dalam pembangkitan dan pengembangan daya kreativitas si anak didik adalah guru. Dimana seorang guru ini memiliki hasrat atau keinginan untuk mengembangkan kreativitas pada anak didiknya yang harus terlebih dahulu berusaha supaya guru tersebut kreatif. Pada umumnya seorang guru yang kreatif pada awalnya pernah dididik oleh orang-orang kreatif dalam lingkungan yang mendukungnya.

Guru-guru yang kreatif sebelumnya pernah mendapatkan pendidikan selama bertahun-tahun, misalnya untuk membuat alat-alat pelajaran dan alat-alat peraga dari bahan seadanya atau bahan-bahan bekas, sehingga guru-guru yang digembleng ketetapan hatinya tersebut memiliki kreativitas. Dengan demikian dapat dipastikan guru-guru yang semacam itu akan kreatif serta akan mampu membangkitkan dan mengembangkan daya kreatifnya dimanapun mereka bertugas, dengan memberikan wawasan kepada anak didiknya bukan untuk dijadikan koleksi pribadinya.

Sekalipun hasil perkembangan dari pendekatan-pendekatan baru, metoda-metoda baru dan gagasan-gagasan baru tidak dapat diukur dengan seksama, namun tidak dapat disangkal lagi bahwa guru yang kreatif tersebut jauh melebihi para ilmuan yang merupakan penghimpun ilmu akumulatif dibidang yang lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Balnadi Sutadipura yang menyatakan bahwa :

“ Proses pendidikan ini terjadi dalam situasi yang melibatkan banyak aspek, yaitu interaksi antar pendidik dengan peserta didiknya, tujuan pendidikan, metoda pengajaran, materi atau bahan pelajaran dan sarana atau fasilitas yang digunakan. Dimana agar proses ini berjalan secara efektif dan efisien, maka semua aspek yang terkait perlu mendapat perhatian yang sebaik-baiknya, oleh karena diantara salah satu aspek tersebut adalah kreativitas peserta didik. “ (Balnadi Sutadipura, 1985 : 107).

F.           Metode Penelitian
Dalam penelitian skripsi ini penulis mempergunakan metode deskriptif analitis, yaitu suatu metode atau cara untuk memecahkan masalah atau menjawab permasalahan yang sedang dihadapi, dilakukan dengan menempuh jalan pengumpulan, klasifikasi data, analisis data yang disimpulkan dengan tujuan untuk membuat suatu gambaran umum mengenai suatu keadaan secara objektif (Winarno Surakhmad, 1998 : 12), yaitu mengenai pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap kreativitas siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas V Sekolah Dasar Negeri Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya.

Penelitian yang dilakukan dalam rangka penyusunan skripsi ini juga menggunakan metode penulisan normatif sosiologis, yaitu suatu cara penelitian bahan yang mengutamakan cara penelitiannya tidak hanya terpaku terhadap bahan-bahan kepustakaan atau yang lazim disebut dengan bahan data sekunder, (Soerjono Soekamto, 1985 : 17) namun berdasarkan hasil observasi ke lapangan yang menjadi objek penelitian, yaitu Sekolah Dasar Negeri Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya.
Untuk mengumpulkan bahan-bahan dan data-data, penulis menggunakan teknik pengumpulan data random sampling (acak), yaitu sebagai berikut :
1.      Studi Kepustakaan (Library Research), yaitu pengumpulan bahan dan data yang meliputi :
a.       Bahan Primer, meliputi :
Buku-buku literatur yang berlaku, memperlihatkan dan menunjukan hubungan dengan permasalahan yang diteliti.
b.      Bahan Sekunder, meliputi :
Buku-buku literatur yang mempunyai relevansi dan mengandung materi untuk mengkaji permasalahan yang diteliti.
c.       Bahan Tersier, meliputi :
Majalah-majalah Pendidikan, Kamus Bahasa Indonesia serta  Kliping - Kliping Pendidikan yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. (Soerjono Soekamto, 1984 : 52).  
2.      Studi Lapangan (Field Research), yaitu suatu penelitian yang dilakukan dengan cara :
a.       Observasi adalah suatu cara untuk mengamati dan mempelajari serta menganalisis suatu kegiatan-kegiatan dan bahan-bahan serta fakta -fakta yang terjadi sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi. Dalam hal ini observasi ini dilakukan di Sekolah Dasar Negeri Cibuni Geulis 3 Kota Tasikmalaya, oleh karena dengan alasan :
1)      Masalah penelitian ditemukan di lokasi itu.
2)      Penulis mengajar di sekolah tersebut.
3)      Jarak tempat tinggal penulis dengan sekolah itu dekat.
4)      Kepala sekolah dan guru-gurunya sudak dikenal secara baik oleh penulis.
5)      Banyak data yang akurat dapat diperoleh.

b.      Wawancara adalah suatu metode atau cara yang dilakukan dengan komunikasi atau tanya jawab kepada para pihak yang terkait. Dalam hal ini wawancara penulis lakukan dengan berbagai sumber yang secara langsung ada kaitannya dengan permasalahan yang sedang diteliti, yaitu antara lain Kepala Sekolah, Komite Dewan Sekolah, Guru-Guru, Orang Tua Siswa, Siswa pada umumnya dan siswa yang secara khusus terhadap pengaruh metode pemecahan masalah (problemasologis) terhadap kreativitas siswa didalam suatu mata pelajaran yang telah diberikan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA ATAS PENGARUH
METODE PEMECAHAN MASALAH (PROBLEMA SOLVING)
TERHADAP KREATIVITAS SISWA

A.          Kegiatan Metode Pemecahan Masalah (Problema Solving) Terhadap Kreativitas
1.      Syarat-syarat Metode Pemecahan Masalah
Sebagaimana telah dikemukakan diatas, bahwa setiap upaya pendidikan atau pengajaran yang diharapkan harus berhasil, yang memerlukan suatu lingkungan suasana yang merupakan suatu dorongan untuk memupuk, memperlancar atau memperhalus jalan untuk proses pendidikan atau pengajaran itu sendiri. Lingkungan yang menguntungkan itu hendaknya harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1.     Harus menghargai bakat dan kemampuan setiap anak. Dimana pemecahan masalah (problema solving) yang dilakukan perseorangan dan analisis individual yang berbeda-beda hendaknya dihargai. Dengan demikian hafalan di luar kepala dari definisi-definisi dan lain sebagainya hendaknya jangan dianjurkan.
2.     Harus dapat mengembangkan disiplin yang tinggi yang timbul dari diri sendiri, tidak selalu disuruh atau diperingatkan. Oleh karena hal ini akan menghasilkan seorang pelajar atau anak didik yang memiliki pendirian sendiri yang sehat.Harus membuka kesempatan untuk menyelidiki pengalamannya dan mengambil keputusan yang tidak terlalu terpimpin.
3.     Dalam hal ini hendaknya guru-guru hendaknya lebih menitikberatkan pada kreativitas pribadi (Creative Quotient) dari pada kepintaran pribadi (Intelligence Quotient).
4.     Keterbukaan pengalaman hendaknya merupakan tujuan pokok dan penghayatan yang telah dialas hendaknya dihindarkan.
5.     Para administrator dan supervisor hendaknya menetapkan kreativitas sebagai suatu tujuan penting. Dimana para siswa dan guru janganlah sekali-kali dipandang dari suatu keinginan sebagai unsure-unsur dari teka teki birokrasi yang rumit.
6.     Para siswa yang menyampaikan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ortodoks dan kadang-kadang saling memperolok-olok hendaknya jangan lekas disalahkan.
7.     Alat-alat pelajaran hendaknya bervariasi secara luas dan berkualitas lebih baik. Dimana para murid yang mendambakan keterampilan dalam persoalan untuk mengucapkan perumusan-perumusan, definisi-definisi dan sebagainya hendaknya jangan diberi angin.
8.     Keseragaman hanyan dapat dibenarkan, apabila dapat menjamin keluwesan dan kebebasan untuk berkomunikasi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa apabila persyaratan-persyaratan diatas dapat terpenuhi dengan pelaksanaan yang baik, maka keluhan-keluhan, rasa putus asa dan kekecewaan lainnya yang ditujukan kepada para pendidik atau pengajar tidak akan pernah terjadi. Oleh karena, khususnya didalam taraf permulaan dari tingkat Sekolah Dasar hendaknya kreativitas ini dipupuk sedemikian rupa didalam melakukan pemecahan masalah dengan mempergunakan peranan metode pemecahan masalah (problema solving) itu sendiri, sehingga dapat dipastikan bahwa di sekolah atau kelas-kelas tingkat lanjutannya (tingkat menengah, dimana siswa atau pelajar itu melanjutkan studinya) dapat menjadi suatu kebiasaan yang sangat baik dalam pemecahan masalah secara kreativitas.   

2.      Guru Pembangkit Kreativitas dalam Metode Pemecahan Masalah
Didalam bidang pendidikan atau pengajaran, yang memegang peranan penting didalam upaya pembangkitan dan pengembangan daya kreativitas si anak didik adalah guru. Dimana seorang guru yang memiliki keinginan untuk mengembangkan kreativitas pada anak-anak didiknya, maka haruslah terlebih dahulu berusaha supaya ia sendiri kreatif. Pada umumnya guru yang kreatif itu pernah dididik oleh orang-orang yang kreatif didalam lingkungan yang mendukungnya.

Keberadaan guru didalam lingkungan yang sangat kreatif tersebut diatas, setidaknya pernah mendapatkan pendidikan bertahun-tahun, misalnya untuk membuat alat-alat peraga dari bahan-bahan yang seadanya atau bahan-bahan bekas, guru-guru yang digembleng ketetapan hatinya sehingga memiliki kebulatan mental yang handal. Dimana para guru-guru yang semacam itu pasti akan kratif dan akan mampu didalam membangkitkan dan mengembangkan daya kreatif dimana mereka bertugas.

Douglas Brown J, mengungkapkan bahwa pengertian kreatif didalam proses pendidikan atau pembelajaran adalah merupakan suatu proses rangkaian kegiatan yang dilakukan secara sistematis dan baik. Dimana peranan dan tugas guru-guru ini selalu mengkomunikasikan kepada anak-anak didiknya ide-ide lama dan iode-ide baru dalam bentuk yang baru. (Douglas Brown J, 1965 : 107).

Dimana pekerjaan guru ini meliputi antara lain menggalakan dan memberikan wawasan (insight) kepada para anak didiknya. Sekalipun hasil perkembangan dari pendekatan-pendekatan baru, metoda-metoda baru dan gagasan-gagasan baru yang tidak dapat diukur dengan seksama, namun tidak dapat disangkal lagi bahwa para guru sekolah yang kreatif itu jauh dari para ilmuan yang merupakan para penemuan ilmu pengetahuan yang baru di suatu bidang yang lain.

Douglas Brown J (1965 : 107), juga mengungkapkan bahwa beliau merumuskan ciri-ciri seorang guru sekolah yang kreatif itu antara lain :
1.     Guru selalu mempunyai jiwa yang penasaran, dimana ia selalu berkeinginan bertanya tentang segala sesuatu hal yang masih belum jelas difahaminya.
2.     Setiap hal atau perbuatan yang akan dilakukan terlebih dahulu dianalisa secara seksama yang kemudian disaringnya untuk dikualifikasikan yang ditelaah dan dimengerti yang untuk kemudian diendapkannya sebagai bahan “gudang pengetahuan”.
3.     Intuisi adalah merupakan suatu kemampuan untuk dibawah sadar menghubung-hubungkan gagasan-gagasan lama guna membentuk ide-ide yang baru. Intuisi ini berada diatas logika, sehingga didalam intuisi itu tergantung terhadap hasil penemuan (inovasi) baru juga.
4.     Guru sekolah yang kreatif itu memiliki kemampuan untuk melakukan pertimbangan-pertimbangan antara analisa dan intuisi untuk diambilnya guna menentukan suatu putusan akhir atau final.
5.     Guru sekolah tidak akan pernah merasa puas dengan jhasil yang sifatnya sementara, dimana ia tidak akan pernah menerima begitu saja atas setiap hasil yang belum begitu memuaskan.
6.     Suka melakukan introspeksi. Dimana hal ini sifatnya mengandung kemampuan untuk menaruh suatu kepercayaan terhadap gagasan-gagasan orang lain yang bagaimanapun juga. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa orang-perorangan harus menolak pergaulan akademis antara teman-teman sejawatnya, dimana terdapat upaya-upaya diskusi dan debat-debat tentang pendapatnya masing-masing.
7.     Mempunyai kepribadian yang kuat, sehingga tidak mudah diberi instruksi yang dilakukan tanpa pemikiran terlebih dahulu.

Dengan demikian, maka dapat disimpulkan bahwa bagaimanakah upaya guru didalam mengetahui sampai sejauhmana seorang murid mempunyai bakat untuk bekerja secara kreatif. Dimana hal ini tidak mustahil dianatara sekian banyak muridnya itu terdapat banyak yang berbakat dalam hal untuk menemukan dan mengembangkan bakat tersebut.

Test intelegence dianggap tidak mampu untuk membeda-bedakan antara anak-anak yang kreatif diantara mereka. Oleh karena kemahirannya didalam menyerap dan mereproduksi informasi-informasi yang diterimanya secara tradisional. Dimana Taylor, C.W. dkk sejak tahun 1960-an sudah menyusun suatu daftar test dan alat-alat lain untuk menemukan unsur-unsur kreativitas pada anak-anak. (Taylor, C.W., 1963 : 104)

Berfikir kreatif dalam bidang pendidikan atau pengajaran harus dibandingkan dengan jenis berfikir yang terdapat dalam seni dan penemuan-penemuan. Dimana usaha-usaha yang dijalankan adalah daya upayanya yang tidak ada ketergantungan satu sama lain, dimana usaha itu mengandung resiko dan ketidaktentuan yang seperti dapat diharapkan yang akan berakhir secara jelas dengan suatu penemuan. Dimana penemuan ini akan sangat layak untuk mendapatkan perhatian yang berarti atas sesuatu hal apapun yang telah diketemukan tersebut, sehingga penemuan ini harus ada sesuatu yang berguna atas jasa dan nilainya.
Dengan demikian persoalan ini haruslah ditonjolkan untuk membedakannya dari pemecahan masalah (problem solving) dan “berfikir secara kritis” dimana tidak terdapat unsure untuk berfikir secara kreatif. Bagaimana seorang pelajar dapat berfikir secara kreatif, sementara penyelidik itu sendiri dapat mengetahuinya secara tidak langsung mengenai apakah pelajar yang bersangkutan harus menjelaskan apakah ia berfikir melalui berbagai tahapan atau tidak.

Perihal pola berfikir kreatif ini pernah disusun dalam bentuk laporan oleh (Fox H.A., 1953 : 106) yang mengemukakan bahwa seorang ilmiah akan berfikir secara kreatif dilakukan melalui 3 (tiga) tahapan atau fase, yaitu :
1.    Tahap inkubasi, yaitu merupakan awal permulaan dari problema, oleh karena seseorang yang berfikir secara kreatif tersebut melakukan suatu penganalisaan secara seksama terhadap problema tersebut dalam jangka waktu yang menurutnya cukup lama untuk mendapatkan sebuah keyakinan bahwa ia sudah mengetahui secara jelas apa yang akan dikerjakannya dan dicatatkannya juga problema-problema sampingan manakah yang harus diperhatikannya.

Dimana dalam tahap ini dia memikirkan persoalan itu dalam sesuatu bentuk pemecahan terhadap problema yang akan terjadi kemudian, sehingga tidak ada pemikiran yang sistematis atau hanya sedikit sekali. Persoalan yang digarafnya tersebut berada dilubuk dibawah sadarnya yang dibiarkan mengalami inkubasi atau pengeraman.

2.      Tahap iluminasi, yaitu tahap setelah tahap inkubasi berjalan selesai dengan asumsi bahwa orang yang berfikir itu “melihat cahaya” dengan anggapan seolah-olah, pemecahan masalah itu timbul secara spontan dengan sendirinya dengan harapan bahwa pemecahan masalah yang diapresiasikan secara spontan tersebut dapat merupakan suatu pemecahan masalah yang tepat untuk dilakukan.
Dimana berkali-kali pemecahan masalah didalam tahap ini timbul sebagai salah satu dari sekian banyak metoda pemecahan-pemecahan masalah yang ada tetapi tetap bukan merupakan suatu pemecahan masalah yang dicari atau dikehendakinya.
3.      Tahap evaluasi, yaitu pemecahan yang ditimbulkan sementara berdasarkan tahap iluminasi, maka ditinjau, ditelaah dan di evaluasi. Dimana dalam hal pemecahan masalah yang dihasilkan itu diterimanya atau ditolaknya, maka penelaahan pemecahan masalah tersebut diulang kembali.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dari ketiga tahapan atau fase tersebut diatas, maka yang memegang peranan penting didalam mencapai pemecahan masalah yang dapat dilakukan secara kreatif tersebut adalah ketetapan hati. Oleh karena kita ketahui bahwa tehapan iluminasi dapat berlangsung sesaat saja, akan tetapi tahapan-tahapan yang lainnya sangat memerlukan suatu kemauan yang tidak kenal lelah.

Penyelesaian suatu kreasi yang dihasilkan atau ditimbulkan dari hasil kreativitas atau creator yang belum memuaskan, maka dibiarkannya terlebih dahulu dengan segala kekurangan-kekurangannya untuk kemudian dilengkapi secara berangsur-angsur atau lambat laun. Oleh karena hal ini dengan jelas dapat kita lihat pada suatu bentuk sajak, ceritera, lukisan, lagu dan lain sebagainya yang baru dianggap selesai setelah mengalami berbagai perubahan (metamorfosa) dan tambahan-tambahan yang sifatnya penemuan baru secara inovatif, dalam artian tidak mempertahankan suatu metoda yang lama untuk memberikan suatu pemecahan masalah yang sangat dinamis yang didasari oleh perkembangan ilmu pengetahuan didalam kehidupan yang sangat dinamis ini pula.

Dengan demikian, aktivitas seorang guru hanya terbatas pada suatu rangkaian kegiatan untuk membangkitkan kreativitas dan inisiatif anak-anak yang bukan merupakan suatu pertunjukan kekuatan anak terhadap suatu system metoda pemecahan masalah (problema solving), jika kita memahami akan keberadaan diri kita pribadi, mengamati dan melakukan kegiatan pengevaluasian dapat dipastikan kita tidak akan mengalami suatu kekecewaan, oleh karena sedikit banyak kita telah memiliki sifat-sifat seorang guru sekolah seperti yang digambarkan oleh Brown.
Satu hal yang sangat penting didalam penerapan metode pemecahan masalah (problema solving) terhadap suatu proses krativitas seorang siswa adlah kita harus dapat melepaskan diri dari pola fakir yang bernuansakan takhayul (irasional) yang mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki keinginan yang sangat besar didalam melakukan suatu perubahan-perubahan dalam hal melakukan penemuan yang sifatnya relatif atau bahkan sangat baru (inovatif), mengikat dan menerima berbagai sara atau kritik-kritikan yang sifatnya membangun guna suatu perubahan akan penyempurnaan hasil suatu penemuan.

Dengan hal tersebut, maka seorang guru sekolah memiliki kewajiban untuk mengembangkan kreativitas anak didiknya di sekolah seoptimal mungkin didalam menyisipkan unsur-unsur pembangkit inisiatif dan kreativitas didalam kegiatan yang direncanakan, terutama dalam hal pemecahan masalah (problema solving) secara kreativ dengan mengembangkan metode hasil penemuan yang baru secara inovatif guna menunjang proses kegiatan pendidikan atau pengajaran di sekolah untuk bekal kehidupan di masa yang akan datang.   

B.           Prosfek Peranan Kreativitas
1.      Pengertian Kreativitas
Sehubungan dengan definisi kretivitas secara definitif, didalam bahasa sehari-hari sering kita pergunakan kata kreasi yang dapat diartikan sebagai “ciptaan”, sehingga dengan demikian kreativitas dapat kita terjemahkan secara etimologi, yaitu suatu daya cipta. (Moch. Idochi Anwar, 1986 : 100). Untuk memberikan suatu definisi dengan apa yang dimaksudkan dengan kreativitas secara menyeluruh, sebelumnya kita harus menentukan terlebih dahulu dari segi atau sudut pandangan mana persoalan itu harus kita tinjau.

Dimana apakah kreativitas itu menurut pandangan seorang sasterawan atau seorang pelukis, penyair, pemahat, arsitek dan lain sebagainya. Oleh karena para seniman itu termasuk orang-orang yang telah menciptakan dan melahirkan hasil-hasil karyanya dibidang kesusasteraan, seni lukis, seni musik dan sebagainya yang telah mempengaruhi perikehidupan manusia dari zaman ke zaman. Apa yang mereka ciptakan dan bagaimana mereka menghasilkan karya-karyanya itu.

Menurut Pablo Picasso ( Umar Tirtarahardja dan La S.L. Sulo, 2005 : 101), konon pernah mengatakan bahwa seorang seniman yang kreatif itu adalah seseorang yang sanggup merombak apa yang telah diterimanya sebagai suatu keyakinan didalam bidangnya, disusunnya kembali bagian-bagian yang dipilhnya kemudian dengan cara yang berbeda dari semula. Pandangan ini dapat dianggap sebagai suatu pandangan yang dikemukan bagi seorang seniman.
Masyarakat luas akan sependapat dengan definisi yang terdapat didalam kamus-kamus, sebagai berikut :
1.      menurut pandangan para pendidik, dimana kreativitas adalah kesanggupan untuk menemukakan sesuatu yang baru dengan jalan mempergunakan daya khayal, fantasi atau imajinasi.
Dengan demikian dalam batasan sebagaimana pengertian kreativitas tersebut diatas, maka tersimpul antara lain dua sifat khas dari kreativitas ini adalah originality dan kemampuan untuk membuat penilaian-penilaian yang logis, maka sangatlah jelas bahwa kreativitas itu bukan merupakan suatu kegiatan yang diperoleh dari hasil menghafal di luar kepala hasil metoda jejal atau metoda bubur.
2.      Menurut pandangan para ahli psikologi yang dirumuskan salah satunya adalah Horace, dkk, dimana kreativitas adalah kemampuan untuk menemukan cara-cara baru bagi pemecahan problema-problema,  baik yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, seni sastra atau seni-seni lainnya yang mengandung suatu hasil atau pendekatan yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan, meskipun bagi orang lain bukan merupakan sesuatu hal yang tidak begitu asing.
Batasan-batasan atau definisi tersebut diatas, mengandung inti yang sama meskipun kesemuanya itu berlainan dengan perumusannya, implicit atau eksplisit (secara jelas atau tidak jelas), yang mana kesemuanya tersebut mengetengahkan 3 (tiga) unsure yang penting, yaitu :
1.      Kreativitas itu merupakan suatu proses dari pada suatu perubahan.
2.      Perubahan itu terutama lebih menyangkut perorangan dari pada kelompok.
3.  Perubahan ini harus menyangkut suatu segi yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan.

2.      Fungsi Kreativitas
Kesimpulan yang dapat kita tarik dari adanya unsur-unsur penting ini, khususnya untuk kepentingan pendidikan melalui pendidikan atau pengajaran yang kreatif adalah bahwa setiap usaha pendidikan atau pengajaran yang mengutamakan kreativitas itu harus menyediakan suatu lingkungan tempat mendidik atau belajar dimana setiap individu dengan pandangan - pandangannya mendapatkan  penghormatan atau penghargaan yang sama seperti yang diberikan kepada kelompok. Adapun Sebagai fondamen dari pendidikan, kreativitas itu merupakan suatu syarat yang mutlak harus ada untuk mencapai suatu tujuan yang akan dicapai, yaitu :

1)      Kreativitas harus merubah konsep lama yang mengatakan bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem, dimana faktor-faktor yang telah terdahulu dikumpulkan, dipelihara dan disistimatisasikan. Dengan demikian kreativitas itu harus mengembangkan pendidikan ke arah kekuatan yang sangat dinamis yang mampu mengkukuhkan kreativitas sebagai tujun akhir yang bukan merupakan suatu cara guna mencapai tujuan yang tidak menentu yang bersifat semu.

2)      Kreativitas yang harus kita kembangkan pada anak-anak didik kita adalah suatu kreativitas yang akan dapat mempersiapkan setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, sehingga dapat memberikan suatu arti kepada perikehidupan didalam dunia yang begitu berubah dengan cepat.
Sebagaimana diatas, telah digambarkan dengan sebuah contoh, bahwa sistem pendidikan kita sedikit banyak didalam tugasnya tidak begitu berhasil didalam membentuk manusia yang kreatif, yang dapat maju seirama dengan lajunya kecepatan perubahan dibidang teknologi dan sosial. Dengan demikian kepada kita telah dilemparkan suatu tuduhan bahwa pendidikan kita telah membuat manusia-manusia yang berkarakter statis yang harus menghuni dunia yang sangat dinamis.

Untuk sebagian hal, maka tuduhan itu disebabkan oleh karena kita, kaum guru yang telah terlanjur terlalu meletakan titik berat kepada “penimbunan fakta-fakta” dan melupakan “belajar berfikir yang mandiri” untuk menemukan suatu perubahan yang sangat baru dengan mempergunakan daya kreativitas yang dimiliki oleh peserta didik kita, sehingga dengan demikian akibatnya terjadi proses stagnasi yang menjurus ke arah statis dan akhirnya akan menjurus ke arah macet dalam berfikir dan bertindak.

Kreativitas yang harus kita kembangkan adalah daya cipta yang mula-mula timbul dari daya merangsang si anak ke arah penyajian kembali, penelaahan kembali yang lambat laun tetapi pasti, sehingga memastikan menjurus ke arah penemuan yang baru dan timbul problema baru. Proses penting sekali untuk menjamin terbentuknya suatu masyarakat yang dinamis. Tanpa usaha ke arah kreativitas ini betul-betul tidak akan menghasilkan suatu penemuan yang baru bagi kita.
Dengan demikian dapat disimpukan bahwa persoalan prosfek peranan kreativitas merupakan suatu pokok pemikiran yang aktual dalam dunia pendidikan kita, dimana dalam hal ini diperlukan adanya suatu syarat untuk membentuk manusia Indonesia yang seutuhnya yang kreatif, yang meliputi :
1.     Lingkungan, dimana lingkungan merupakan suatu suasana yang kondusif sangat diperlukan didalam proses belajar mengajar yang menguntungkan.
2.     Anak-anak didik, dimana hal ini dimaksudkn kita pada umumnya dibekali dengan pembawaan intelektual yang mengandung harapan.
3.     Motivasi, dimaksudkan sebagai bekal penting yang harus dimiliki oleh setiap pelajar maupun pengajar.
4.     Sarana-sarana pendidikan yang tidak mengecewakan.
5.     Para pelaksana pendidikan atau pengajaran yang berdedikasi dan pada umumnya memiliki sifat-sifat yang diperlukan yang tidak sedikit jumlahnya.
6.     Faktor-faktor pendukung lainnya yang berasalah dalam internal negara kita sendiri yang berbeda dengan faktor pendukung negara lain.
Berfikir kreatif dalam bidang pendidikan harus dibandingkan seperti halnya dengan jenis berfikir yang terdapat dalam seni (art) dan penemuan-penemuan. Dimana usaha-usaha yang dijalankan adalah ada upayanya yang tidak adanya ketergantungan satu sama lainnya. Dimana usaha itu mengandung resiko dan ketidaktentuan yang seperti diharapkan akan berakhir secara jelas dengan suatu penemuan. Penemuan ini layak untuk mendapat perhatian, oleh karena penumuan ini mengandung maksud apapun hasil penemuannya, namun penemuan tersebut tetap memiliki suatu kegunaan yang sangat bernilai.

C.          Pengaruh Kreativitas Terhadap Metode Pemecahan Masalah (Problema Solving)
Sebelum kita membahas secara jauh mengenai pengaruh kreativitas terhadap metode pemecahan masalah (problemasolving), maka sebaiknya kita mengetahui apa yang dimaksud dengan metode pemecahan masalah (problemasolving) itu sendiri, sehingga kita akan melihat seberapa besar pengaruh yang diberikan oleh metode pemecahan masalah (problemasolving) didalam pembentukan kreativitas itu sendiri. Adapun yang dimaksud dengan metode itu sendiri adalah merupakan suatu cara untuk melakukan sesuatu hal yang bermanfaat dan baik sedangkan pemecahan masalah adalah merupakan suatu upaya atau usaha didalam menemukan suatu jawaban atau solusi didalam menghadapi suatu problem -problem tertentu.

Dengan demikian definisi atau pengertian metode pemecahan masalah (problema solving) secara menyeluruh adalah suatu cara yang dilakukan terhadap suatu upaya atau usaha didalam menemukan suatu jawaban atau solusi didalam menghadapi suatu problem-problem tertentu hal yang pada dasarnya dapat memberikan suatu faedah atau manfaat yang sangat besar didalam tindakan yang akan dilakukan setelah problem itu sendiri terpecahkan.

Berkaitan dengan pengertian (definisi) metode pemecahan masalah (problema solving) diatas, maka dapat kita simpulkan bahwa pengaruh metode pemecahan masalah (problema solving) akan dapat memberikan suatu dampak atau pengaruh yang sangat besar terhadap suatu daya kreatif seseorang dalam hal ini anak didik, didalam melakukan atau membuat suatu trik atau upaya untuk menyelesaikan suatu permasalah yang timbul berkaitan dengan suatu cara bagaimana kita atau anak didik dapat dengan sedapat mungkin memecahkan suatu hal (masalah) tanpa adanya suatu masalah di kemudian hari atau dengan kata lain dampak yang berkelanjutan.

Bertitik tolak dari adanya proses kegiatan yang kreatif tersebut, maka harus kita ketahui bahwa didalam dunia pendidikan yang memegang kunci dalam pembangkitan dan pengembangan daya kreativitas si anak didik adalah guru. Dimana seorang guru ini memiliki hasrat atau keinginan untuk mengembangkan kreativitas pada anak didiknya yang harus terlebih dahulu berusaha supaya guru tersebut kreatif. Pada umumnya seorang guru yang kreatif pada awalnya pernah dididik oleh orang-orang kreatif dalam lingkungan yang mendukungnya.

Guru-guru yang kreatif sebelumnya pernah mendapatkan pendidikan selama bertahun-tahun, misalnya untuk membuat alat-alat pelajaran dan alat-alat peraga dari bahan seadanya atau bahan-bahan bekas, sehingga guru-guru yang digembleng ketetapan hatinya tersebut memiliki kreativitas. Dengan demikian dapat dipastikan guru-guru yang semacam itu akan kreatif serta akan mampu membangkitkan dan mengembangkan daya kreatifnya dimanapun mereka bertugas, dengan memberikan wawasan kepada anak didiknya bukan untuk dijadikan koleksi pribadinya.

Sekalipun hasil perkembangan dari pendekatan-pendekatan baru, metoda-metoda baru dan gagasan-gagasan baru tidak dapat diukur dengan seksama, namun tidak dapat disangkal lagi bahwa guru yang kreatif tersebut jauh melebihi para ilmuan yang merupakan penghimpun ilmu akumulatif dibidang yang lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Balnadi Sutadipura yang menyatakan bahwa :

“ Proses pendidikan ini terjadi dalam situasi yang melibatkan banyak aspek, yaitu interaksi antar pendidik dengan peserta didiknya, tujuan pendidikan, metoda pengajaran, materi atau bahan pelajaran dan sarana atau fasilitas yang digunakan. Dimana agar proses ini berjalan secara efektif dan efisien, maka semua aspek yang terkait perlu mendapat perhatian yang sebaik-baiknya, oleh karena diantara salah satu aspek tersebut adalah kreativitas peserta didik. “ (Balnadi Sutadipura, 1985 : 107).

Kehidupan yang kita hadapi dan jalani di dunia modern sekarang ini, sering kita mengalami saat-saat dimana kita seolah-olah diombang -ambingkan antara cemas dan harapan, antara fesimisme yang kejam dan optimisme yang penuh dengan harapan. Optimisme yang selalu tergugahkan dengan pidato-pidato dalam berbagai nada dan irama yang diucapkan pejabat-pejabat dari yang tertinggi sampai dengan echelon-echelon yang paling rendah, dimana yang memperingkatkan kita kembali kepada tujuan paling akhir dari pendidikan kita, yaitu manusia Pancasila Paripurna yang dihiasi dengan sifat-sifat utama seperti berilmu, tanggung jawab, kreatif dan sebagainya. Hal tersebutlah yang masih memberikan harapan untuk kita selalu optimisme.

Kreativitas merupakan suatu sifat yang ideal yang dapat membawa anak-anak didik kita kedalam suatu dunia yang penuh dengan perubahan-perubahan yang inovatif, sehingga dapat menimbulkan suatu kenikmatan yang membayangkan indahnya dunia yang penuh dengan perubahan-perubahan yang inovatif tersebut. Namun kenikmatan tersebut sering diganggu dengan gambaran nyata yang kita sering hayati dalam dunia realistis yang penuh dengan berbagai isu dan intrik serta kontropersi.
Sebuah analisis sederhana yang mesti kita telaah, dimana betapa banyaknya jalan yang di rusak air hujan, oleh karena selokan-selokan pelindungnya tidak berfungsi yang disebabkan pengerukan selokan itu belum saja diintruksikan dari atas. Inisiatif yang merupakan sinonim dari kreativitas sama sekali tidak ada.
Satu ilustrasi diatas, merupakan suatu bentuk kreativitas di kalangan kita yang sudah cukup kiranya untuk mendorong kita selaku kaum pendidik, ke arah usaha menyisipkan pembangkitan kreativitas tersebut didalam segala kegiatan termasuk di bidang pendidikan atau pengajaran. Di samping pesimesme yang berkaitan dengan ilustrasi diatas, kita sering digembirakan dengan berita-berita dari pelosok tentang suatu penemuan-penemuan baru diberbagai bidang.
Akan tetapi, sebagaimana telah diba
has diatas, bahwa kita tidak boleh menganggap enteng terhadap pengaruh kreativitas terhadap metode pemecahan masalah (problema solving) didalam pendidikan atas suatu kenyataan yang memberikan suatu petunjuk bahwa faktor kreativitas, khususnya dibidang pengajaran belum mendapat tempat yang layak dalam perencanaan interaksi guru dan murid.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa setiap usaha untuk pendidikan/pengajaran yang mengutamakan kreativitas itu harus menyediakan suatu lingkungan tempat mendidik atau belajar dimana setiap individu dengan pandangan-pandangannya yang mendapatkan penghormatan atau penghargaan yang sama seperti yang diberikan kepada kelompok. Sebagai fondamen dari pendidikan, kreativitas itu merupakan suatu syarat yang mutlak harus ada untuk mencapai suatu tujuan yang akan dicapai, yaitu :
1.  Kreativitas harus merubah konsep lama yang mengatakan bahwa pendidikan itu merupakan suatu sistem, dimana faktor-faktor yang telah terdahulu dikumpulkan, dipelihara dan disistimatisasikan. Dengan demikian kreativitas itu harus mengembangkan pendidikan ke arah kekuatan yang sangat dinamis yang mampu mengkukuhkan kreativitas sebagai tujun akhir yang bukan merupakan suatu cara guna mencapai tujuan yang tidak menentu yang bersifat semu.
2.  Kreativitas yang harus kita kembangkan pada anak-anak didik kita adalah suatu kreativitas yang akan dapat mempersiapkan setiap individu untuk dapat menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya, sehingga dapat memberikan suatu arti kepada perikehidupan didalam dunia yang begitu berubah dengan cepat.
Dengan demikian sebagaimana telah kita ketahui tujuan daripada kreativitas tersebut diatas, maka menurut Balnadi Sutadipura mengemukakan bahwa kreativitas itu harus dapat memenuhi 3 (tiga) unsur yang penting, yaitu sebgai berikut :
a)    Kreativitas itu merupakan suatu proses daripada perubahan.
b)    Perubahan itu terutama lebih menyangkut terhadap perseorangan dari pada kelompok.
c) Perubahan itu haruslah menyangkut suatu segi yang sama sekali baru bagi yang bersangkutan. (Balnadi Sutadipura, 1985 : 102).

Dengan adanya ketiga unsur penting tersebut diatas, maka sebagaimana telah digambarkan diatas, dalam suatu contoh yang menggambarkan bahwa sistem pendidikan kita sedikit banyak dalam tugasnya tidak begitu berhasil didalam membentuk manusia yang begitu kreatif, yang dapat maju seirama dengan lajunya kecepatan perubahan dibidang teknologi dan sosial. Sehingga demikian kepada kita telah dilemparkan suatu tuduhan bahwa kita dengan sengaja telah membentuk manusia-manusia statis yang harus menghuni dunia yang sangat dinamis.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top