Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Thursday, January 14, 2016

Perubahan Anatomik dan Fisiologik pada Kehamilan

Perubahan Anatomik dan Fisiologik pada Kehamilan Pada kehamilan terdapat perubahan pada seluruh tubuh wanita, khususnya pada alat-alat genitalia eksterna dan interna serta pada mammae. Perubahan yang terdapat pada wanita hamil ialah antara lain sebagai berikut :

a. Uterus 
Uterus membesar pada bulan-bulan pertama yang dipengaruhi oleh hormone estrogen dan progesteron yang kadarnya meningkat. Pembesaran ini pada dasarnya disebabkan oleh hipertrofi otot polos uterus.

Berat uterus normal lebih kurang 300 gram, pada akhir kehamilan (40 minggu) berat uterus menjadi 1000 gram, dengan panjang lebih kurang 20 cm dan dinding lebih kurang 2,5 cm. Hubungan antara besarnya uterus dengan tuanya kehamilan sangat penting diketahui untuk menentukan diagnosis hamil fisiologis, kehamilan ganda, mola hydatidosa, dsb.

b. Servik Uteri
Servik uteri pada kehamilan mengalami perubahan karena pengaruh hormon estrogen. Servik yang terdiri atas jaringan ikat dan hanya sedikit mengandung jaringan otot tidak mempunyai fungsi sebagai sfingter. Pada partus servik membuka mengikuti tarikan-tarikan korpus uteri keatas dan tekanan bagian bawah janin kebawah. 

c. Vagina dan vulva
Karena adanya hipervaskularisasi vagina dan vulva tampak lebih merah, agak kebiru-biruan (livide) yang dikenal dengan tanda Chadwick, porsio pun tampak livide. Pembuluh-pembuluh darah alat genitalia interna akan membesar karena adanya oksigenisasi dan nutrisi pada alat-alat genital tersebut meningkat.

d. Ovarium
Pada permulaan kehamilan masih terdapat korpus luteum graviditatis sampai terbentuk plasenta terbentuk pada kehamilan 16 minggu. Korpus luteum graviditatis berdiameter kira-kira 3 cm kemudian mengecil setelah plasenta terbentuk. Korpus luteum mengandung estrogen dan progesteron dan lambat laun fungsinya diambil alih oleh plasenta.

e. Mammae
Mammae akan membesar dan tegang akibat hormon somatomamotropin, estrogen, dan progesteron akan tetapi belum mengeluarkan air susu.

Estrogen menimbulkan hipertrofi sistem saluran sedangakan progesteron menambah sel-sel asinus pada mammae, somammotropin mempengaruhi pertumbuhan sel-sel asinus dan menimbulkan perubahan dalam sel-sel sehingga terjadi pembuatan kasein, laktoalbumin dan laktoglobulin. Dengan demikian mammae dipersiapkan untuk laktasi.

f. Sirkulasi darah
Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, volume darah ibu dalam kehamilan bertambah secara fisiologis dengan adanya pencairan darah yang disebut dengan hidremia. Volume darah akan bertambah banyak kira-kira 25% dengan puncak kehamilan 32 minggu dengan diikuti cardiac output yang meninggi sebanyak kira-kira 30%. Akibat hemodilusi tersebut yang mulai jelas timbul pada kehamilan 16 minggu, ibu dengan riwayat penyakit jantung dapat jatuh dalam keadaan dekompensasi kordis.

g. Sistem Respirasi
Sering terjadi sesak dan pendek napas pada kehamilan 32 minggu keatas karena usus-usus tertekan oleh uterus yang membesar kearah diafragma, sehingga diafragma kurang leluasa bergerak. Untuk memenuhi kebutuhan oksigen yang meningkat kira-kira 20% dianjurkan untuk selalu bernapas dalam.

h. Traktus Digestivum
Pada bulan-bulan pertama kehamilan terdapat perasaan enek (nausea), akibat kadar hormone estrogen yang meningkat. Tonus-tonus otot traktus digestivum menurun sehingga motilitas seluruh traktus digestivum juga berkurang.

i. Traktus Urinarius
Pada bulan-bulan pertama kehamilan kandung kemih tertekan oleh uterus yang mulai membesar sehingga menimbulkan sering miksi. Keadaan ini akan menghilang dengan makin tuanya kehamilan bila uterus gravidus keluar dari rongga panggul akan tetapi pada akhir kehamilan apabila kepala janin mulai turun kebawah pintu atas panggul sering miksi akan timbul lagi karena kandung kemih mulai tertekan kembali.

j. Kulit
Pada kulit akan terdapat deposit pigmen dan hiperpigmentasi alat-alat tertentu. Pigmentasi ini disebabkan oleh pengaruh Melanophore Stimulating Hormon (MSH) yang meningkat (www.poltektegal.ac.id 2007).
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top