Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Saturday, January 31, 2015

CONTOH SKRIPSI TUBERKOLOSIS PARU

A.    Tuberkulosis Paru
Definisi“Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TBC (Mycobacterium tuberkulosis). Sebagian besar kuman TBC menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. “(Kemenkes RI, 2010 hlm. 10)

“Penyakit Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi kronis menular yang masih tetap merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk Indonesia.”(Survey Prevalensi TB, 2004 hlm 1)

Gambaran Klinis
Diagnosis tuberkulosis paru dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, jasmani, pemeriksaan bakteriologi, radiologi dan pemeriksaan penunjang lainnya.

Gejala klinis tuberkulosis dapat menjadi 2 golongan, yaitu gejala pernapasan dan gejala sistemik :

a.  Gejala pernapasan:

  1. batuk > 2-3 minggu (merupakan gejala utama),
  2. batuk darah,
  3. nyeri dada,
  4. gejala pernapasan lainnya adalah sesak napas yang ditemukan bila terdapat effusi pleura, lesi luas, luluh paru dll.
b. Gejala sistemik :

  1. demam
  2. malaise
  3. keringat malam
  4. anoreksia
  5. berat badan menurun.
Tuberkulosis juga dapat mengenai ekstraparu dengan keluhan sesuai organ yang terlibat. Pada praktek klinis dapat ditemukan TB Paru disertai TB ekstraparu, misalnya pada limfadenitis, efusi pleura, laryngitis, TB milier, spondilitis, meningitis, dll. (Kemenkes RI, 2010 hlm. 11)

Diagnosis 
Diagnosis tuberkulosis paru ditegakkan dengan pemeriksaan bakteriologi, pemeriksaan radiologi/foto toraks dan uji tuberculin.

a.       Pemeriksaan Bakteriologi
Pemeriksaan bakteriologi untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urine, faeces  dan jaringan biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH).
Pemeriksaan dahak dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS).
  1. S (Sewaktu) : dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pada pagi hari kedua.
  2. P (Pagi) : dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK (Unit Pelayanan Kesehatan).
  3. S (Sewaktu) : dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.
b.      Pemeriksaan Radiologi foto toraks
Pada sebagian besar TB Paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut :

  1. Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini pemeriksaan foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif (lihat bagan alur)
  2. Ketiga specimen dahak hasilnya tetap negative setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya negatif dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT (Obat Anti TB). (lihat alur).
  3. Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak napas berat yang memerlukan penanganan khusus (seperti pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis, atau efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan bronkiektasis atau aspergiloma).
  4. (Kemenkes RI, 2010 halaman 12-13)
c.       Uji Tuberkulin
“Uji tuberkulin yang positif menunjukkan adanya infeksi tuberkulosis. Di Indonesia dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi, uji tuberculin sebagai alat bantu diagnostic penyakit kurang berarti pada orang dewasa, tetapi pada anak merupakan salahsatu kriteria untuk menegakkan diagnosis. (Kemenkes RI, 2010 halaman 13)
Uji tuberkulin dilakukan untuk melihat seseorang mempunyai kekebalan terhadap basil TB, sehingga sangat baik untuk mendeteksi infeksi TB. Tetapi uji tuberkulin ini tidak dapat untuk menentukan M.tb tersebut aktif atau tidak aktif (latent). Oleh sebab itu harus dikonfirmasi dengan ada tidaknya gejala dan lesi pada foto thorak untuk mengetahui seseorang tersebut terdapat infeksi TB atau sakit TB.” (Kenyorini, 2006 hal.1)
Klasifikasi Penyakit Tuberkulosis
    a.      Tuberkulosis Paru
    Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura. Tuberkulosis diklasifikasikan berdasarkan pemeriksaan dahak (BTA).
    TB Paru dibagi atas :
    1)      Tuberkulosis paru BTA (+) adalah :

    • Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif
    • Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan radiologi menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif
    • Hasil pemeriksaan satu specimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif.
    2)      Tuberkulosis paru BTA (-) :

    • Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukkan tuberkulosis aktif
    • Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negative dan biakan M.tuberkulosis positif
    b.      Tuberkulosis Ekstra Paru
    Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput otak, tulang, ginjal, saluran kemih dan lain-lain. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi dari tempat lesi. Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan specimen maka diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstraparu aktif. (Kemenkes RI, 2010 hal. 13-14)

    5. Penularan Tuberkulosis 
    Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Daya penularan seorang pasien ditentukan banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.

    Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.  Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan gelap dan lembab. (Depkes RI, 2008 hlm. 5)
    Secara teoritis seorang penderita tetap menular sepanjang ditemukan basil TB didalam sputum mereka. Penderita yang tidak diobati atau yang diobati tidak sempurna dahaknya akan tetap mengandung basil TB selama bertahun tahun. Tingkat penularan sangat tergantung pada hal-hal sebagai berikut :

    1. Jumlah basil TB yang dikeluarkan
    2. Virulensi dari basil TB
    3. Terpajannya basil TB dengan sinar ultra violet
    4. Terjadinya aerosolisasi pada saat batuk, bersin, bicara atau pada saat bernyanyi
    5. Tindakan medis dengan risiko tinggi seperti pada waktu otopsi, intubasi atau pada waktu melakukan bronkoskopi.
    Pemberian OAT yang efektif mencegah terjadinya penularan dalam beberapa minggu paling tidak dalam lingkungan rumah tangga. Anak-anak dengan TB primer biasanya tidak menular. (Kandun, 2001 hal. 546)

    6. Faktor Risiko Kejadian TB
    Hanya sekitar 10% orang yang terinfeksi kuman mycobacterium tuberculosis akan menjadi sakit TB. Faktor yang mempengaruhi seseorang menjadi sakit TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).

    Riwayat alamiah pasien TB yang tidak diobati, setelah jangka waktu 5 tahun : 50% meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi, 25% akan menjadi kasus kronis yang tetap menular. (Depkes RI, 2008 hlm.5-6)

    7. Indikator Pencapaian Program
    a.       Angka penjaringan Suspek
    Angka penjaringan suspek adalah jumlah suspek yang diperiksa dahaknya diantara 100.000 penduduk pada suatu wilayah tertentu dalam 1 tahun. Angka ini digunakan untuk mengetahui akses pelayanan dan upaya penemuan pasien dalam suatu wilayah tertentu, dengan memperhatikan kecenderungannya dari waktu ke waktu (triwulan / tahunan ).

    b.      Proporsi Pasien TB BTA (+) diantara Suspek.
    Proporsi pasien TB BTA (+) diantara suspek adalah persentase pasien BTA positif yang ditemukan diantara seluruh suspek yang diperiksa dahaknya. Angka ini menggambarkan mutu dari proses penemuan sampai diagnosis pasien, serta kepekaan menetapkan kriteria suspek, angka ini sekitar 5 – 15%

    c.       Proporsi Pasien TB Paru BTA Positif diantara Semua Pasien TB Paru Tercatat.
    Adalah persentase pasien Tuberkulosis paru BTA positif diantara semua pasien Tuberkulosis paru tercatat. Indikator ini menggambarkan prioritas penemuan  pasien Tuberkulosis yang menular diantara seluruh pasien Tuberkulosis paru yang diobati. Angka ini sebaiknya tidak kurang dari 65%.

    d.      Proporsi Pasien TB Anak diantara seluruh pasien TB
    Proporsi pasien TB anak diantara seluruh pasien TB adalah persentase pasien TB anak (<15 tahun) diantara seluruh pasien TB tercatat. Angka ini sebagai indikator dalam mendiagnosis TB anak, angka yang baik berkisar 15%.

    e.       Angka Konversi (Conversion Rate)
    Angka konversi adalah persentase pasien TB paru BTA (+) yang mengalami konversi menjadi BTA (-) setelah menjalani masa pengobatan intensif. Angka minimal yang harus dicapai adalah 80%.

    f.       Angka Kesembuhan (Cure Rate)
    Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang sembuh setelah selesai masa pengobatan, diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Angka minimal yang harus dicapai yaitu 85%.

    g.      Kesalahan Laboratorium
    Indikator Kesalahan Laboratorium menggambarkan mutu pembacaan sediaan secara mikroskopis langsung laboratorium pemeriksa pertama.
    h.      Angka Notifikasi Kasus (Case Notification Rate = CNR)
    Angka notifikasi kasus dalah angka yang menunjukkan jumlah pasien baru yang ditemukan dan tercatat diantara 100.000 penduduk di suatu wilayah tertentu. Angka ini berguna untuk menunjukkan trend atau kecenderungan meningkat atau menurunnya penemuan pasien pada wilayah tersebut.

    i.        Angka Penemuan Kasus (Case Detection Rate = CDR)
    Cross detection rate adalah persentase jumlah pasien baru BTA positif yang ditemukan dibanding jumlah pasien baru BTA positif yang diperkirakan ada dalam wilayah tersebut. Target yang harus dicapai adalah 70%.

    j.        Angka Keberhasilan Pengobatan (Kesembuhan)
    Angka kesembuhan adalah angka yang menunjukkan persentase pasien TB BTA positif yang menyelesaikan pengobatan (baik yang sembuh maupun pengobatan lengkap) diantara pasien TB BTA positif yang tercatat. Dengan demikian angka ini merupkan penjumlahan angka kesembuhan dan pengobatan lengkap.
    (Depkes RI, 2008 hlm. 86-90)


    E.     Kerangka Penelitian
    Berdasarkan kerangka konsep tersebut peneliti ingin mencari hubungan antara pengetahuan petugas, penjaringan tersangka, penyuluhan kesehatan, pemeriksaan kontak serumah dan dukungan masyarakat sebagai variabel independen dengan pencapaian Case detection rate sebagai variabel dependen. Output dari penelitian ini adalah ketercapaian angka Case detection rate (mencapai 70% atau tidak).

    F.     Hipotesis
    Hipotesis yang digunakan pada penelitian ini adalah hipotesis hubungan, yaitu hipotesis yang berisi tentang dugaan adanya hubungan antara dua variable.  Adapun rumusan hipotesisnya adalah sebagai berikut :

    1. Terdapat hubungan antara pengetahuan petugas pelaksana dengan pencapaian Case Detection Rate TB Paru BTA (+).
    2. Terdapat hubungan antara kegiatan penjaringan tersangka dengan pencapaian Case Detection Rate TB Paru BTA (+).
    3. Terdapat hubungan antara kegiatan penyuluhan kesehatan dengan pencapaian Case Detection Rate TB Paru BTA (+).
    4. Terdapat hubungan antara kegiatan pemeriksaan kontak serumah dengan pencapaian Case Detection Rate TB Paru BTA (+).
    5. Terdapat hubungan antara dukungan masyarakat dengan pencapaian Case Detection Rate TB Paru BTA (+).
    G.    Definisi Operasional
    Tabel 2.1. Definisi Operasional
    .NO
    Variabel
    Definisi Operasional
    Alat ukur
    Hasil ukur
    Skala
    1.
    Variabel terikat :

    Case detection rate



    Cakupan penemuan penderita baru TB paru BTA (+) dibanding penderita TB paru BTA (+) yang diperkirakan



    1: Tercapai : CDR >70%
    2: Tidak tercapai : CDR <70%



    ordinal
    No.
    Variabel
    Definisi Operasional
    Alat ukur
    Hasil ukur
    Skala


    2.
    Variabel bebas :
    Pengetahuan petugas pelaksana


    Pengetahuan petugas mengenai teori dan konsep TB yang lebih dititik beratkan pada teori dan konsep yang menunjang pencapaian CDR, yakni mengenai :
    Diagnosis TB, penyuluhan, pendekatan masyarakat,


    Kuesioner


    1: Baik
    > 60%
    2: Kurang
    < 60%


    Ordinal
    strategi DOTS, system rujukan mikroskopis, penjaringan tersangka, pemeriksaan kontak serumah dan keikut sertaan dalam pelatihan TB
    3.
    Penjaringan tersangka
    Upaya kolektif petugas dalam menangkap suspek TB paru, serta dalam  menentukan kriteria suspek.
    Kuesioner
    1: Baik
    > 60%
    2: Kurang
    < 60%
    Ordinal
    4.
    Pemeriksaan kontak serumah
    Pemeriksaan dahak yang dilakukan oleh petugas terhadap seluruh kontak serumah penderita TB BTA (+) melalui kunjungan rumah
    Kuesioner
    1: Dilakukan
    2: Tidak dilakukan
    Diskrit (nominal)
    No.
    Variabel
    Definisi Operasional
    Alat ukur
    Hasil ukur
    Skala
    5.
    Penyuluhan kesehatan
    Kegiatan promosi kesehatan mengenai TB paru yang dilakukan dalam rangka meningkatkan cakupan penemuan, meliputi frekuensi, sasaran dan alat/media yang digunakan
    Kuesioner
    1: Aktif
    > 60%
    2: Tidak aktif
    < 60%
    Ordinal
    6.
    Dukungan/peranserta masyarakat
    Dukungan/peranserta masyarakat dalam menunjang keberhasilan program TB melalui penemuan suspek, peranserta masyarakat dalam sistem rujukan penderita TB dan sosialisasi TB yang dilakukan masyarakat
    Kuesioner
    1: Ada dukungan
    2: Tidak ada dukungan
    Diskrit

    Facebook Twitter Google+
     
    Back To Top