Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Saturday, March 1, 2014

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN SISWA MENGKOMUNIKASIKAN HASIL PEMBELAJARAN MELALUI PENGGUNAAN PENILAIAN UNJUK KERJA (PERFORMANCE) DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR

UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN SISWA MENGKOMUNIKASIKAN  HASIL PEMBELAJARAN  MELALUI PENGGUNAAN PENILAIAN UNJUK KERJA (PERFORMANCE) DALAM PEMBELAJARAN TEMATIK DI SEKOLAH DASAR

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A.    Pendekatan Keterampilan Proses
1.      Pengertian
Pendekatan  Keterampilan Proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia seutuhnya yang diimplementasikan dalam kegiatan belajar mengajar dengan memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap dan nilai serta keterampilan (Karso,dkk,1993:186).

Keterampilan-keterampilan yang biasa dilakuakn oleh para ilmuwan dalam rangka memperoleh pengetahuan (R.Chaerul ,1994;3).

Pendekatan Keterampilan Proses merupakan pendekatan yang menekankan pada pengembangan sejumlah keterampilan atau kemampuan khusus peserta didik dalam memperoleh informasi. Dengan kemampuan terebut peserta didik akan dapat memperoleh informasi baik yang berupa fakta, konsep, atau informasi jenis yang lainnya, akan lebih bermanfaat dan bermakna karena ditemukan secara terproses.

2.      Alasan Keterampilan Proses Digunakan dalam Pembelajaran
Karso dalam Tim Dosen PGSD (1993:189) mengajukan beberapa alasan perlunya pendekatan keterampilan proses diterapkan dalan kegiatan belajar mengajar bagi (khususnya) di sekolah dasar, sebagai berikut.
  1. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung semakin cepat, sehingga guru akan mengalami kesulitan jika harus mengajarkan semua fakta dan konsep kepada semua siswa.
  2. Dengan keterampilan proses mereka dapat menemukan sendiri konsep-konsep dari berbagai sumber belajar melalui latihan-latihan yang berkualitas dan terencana dengan baik.
  3. Secara psikologis siswa pada pendidikan dasar akan dengan mudah memahami konsep-konsep yang abstrak dan rumit jika disertai dengan contoh-contoh konkrit, memulai dengan konsep yang telah mereka miliki sebelumya, dan berlangsung wajar sesuai dengan stuasi dan kondisi yang dihadapi.
  4. Pemahaman siswa yang didapat melalui keterampilan prose akan lebih bermakna dan dapat mengingat lebih lama, jika mereka mendapat kesempatan mempraktekkan sendiri, melakukan penemuan konsep melalui perlakuan terhadap kenyataan fisik dan penanganan benda-benda.
  5. Siswa perlu dilatih dan dirancang untuk selalu bertanya, berfikir kritis-objektif, serta terbiasa mengungkapkan kemungkinan-kemungkinan jawaban terhadap sesuatu masalah.
3. Manfaat Keterampilan Proses

Selain alasan-alasan diatas, keteramilan proses juga sangat bermanfaat jika diterapkan sejak pendidikan sekolah dasar. Manfaat tersebut antara lain :
  1. bermanfaat sebagai cara memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan yang relevan;
  2. memberi bekal siswa cara-cara membentuk konsep sendiri, dan cara bagaiman cara mempelajari sesuatu;
  3. membantu siswa mengembangkan dirinya sendiri;
  4. sangat membantu siswa yang masih berada pada tarap perkembangan berfikir konkrir;
  5. mengembangkan kreativitas siswa.
4. Kemampuan yang Dikembangkan dalam Keterampilan Proses

Merujuk kepada Nuryani Rustaman (1996) keterampilan proses dasar yang dapat dikembangkan dalam pembelajaran di SD adalah:
  1. melakukan pengamatan (observasi), yaitu keterampilan mengumpulkan data atau informasi melalui penerapan dengan indera;
  2. menafsirkan hasil pengamatan (interpretasi dan inferensi), yaitu keterampilan menafsirkan sesuatu berupa benda kenyataan , konsep atau informasi yang telah dikumpulkan melalui pengamatan , perhitungan , penelitian atau eksperimen;
  3. mengelompokkan (klasifikasi), yaitu keterampilan menggolongkan benda, kenyataan, konsep, nilai atau kepentingan tertentu;
  4. meramalkan (prediksi), yaitu mengantisipasi atau menyimpulkan suatu hal yang akan terjadi pada waktu yang akan datang berdasarkan perkiraan atas kecendrungan, pola tertentu, hubungan antar data, atau informasi;
  5. mengkomunikasikan (berkomunikasi), yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan , gambar, gerak, tindakan dan penampilan;
  6. berhipotesis, yaitu keterampilan dalam membuat suatu anggapan dasar berdasarkan konsep yang sudah dipelajari;
  7. merencanakan percobaan atau penyelidikan, yaitu keterampilan yang amat penting karena menentukan berhasil tidaknya melakukan penelitian;
  8. menerapkan konsep atau prinsip (aplikasi), yaitu menggunakan  hasil belajar berupa informasi, kesimpulan, konsep, hukum, teori dan keterampilan;
  9. mengajukan pertanyaan, yaitu keterampilan yang melatih keberanian dalam mengungkap konsep yang belum jelas dengan cara mengajukan pertanyaan; dan
  10.     keterampilan menyimpulkan, yaitu keterampilan dalam membuat rangkuman atau ringkasan dari hasil pembelajaran yang sudah dilaksanakan.
5.      Keterampilan Mengkomunkasikan

Menurut Hendro Darmodjo dan Jenny R.E Kaligis http:www.geocities.com/guruvalah/penelitian2.html menjelaskan bahwa keterampilan mengkomunikasikan yaitu kemampuan siswa untuk dapat mengkomunikasikan pengetahuannya, hasil pengamatan, maupun penelitiannya kepada orang lain baik secara lisan maupun secara tertulis.

Menurut Moh.Uzer Usman dan Llis Setiawati dalam situs yang sama menyebutkan bahwa mengkomunikasikan yaitu keterampilan menyampaikan perolehan atau hasil belajar kepada orang lain dalam bentuk tulisan, gambar, tindakan, atau penampilan.

Merujuk pada pernyataan di atas dapat dikatakan bahwa keterampilan mengomunikasikan merupakan keterampilan yang harus dimiliki siswa untuk dapat menyampaikan ide, pendapat dan pengetahuannya yang sudh didapat apakah yang berasal dari hasil belajar, pengamatan, pembelajaran ataupun penelitian, yang dilaksanakan baik dalam bentuk  lisan, tulisan, gambar, tindakan atau penampilan yang ditujukan pada orang lain.

Dalam penelitian yang dilakukan, keterampilan siswa mengkomunikasikan yang dilakukan adalah merupakan hasil dari pembelajaran yang telah dilakukan  oleh siswa pada saat pemantapan, dan setiap selesai tahap itu dilalui maka siswa mengkomunikasikan hasil pembelajarannya baik secara lisan ataupun secara tulisan.

6. Tujuan Pendekatan Keterampilan Proses
Keberhasilan pembelajaran yang optimal akan dicapai, bila salah satu usahanya yaitu pengembangan Pendekatan Keterampilan Proses kita lakukan. Pembelajaran akan lebih bermakna dan akan membekas pada skemata anak, apabila peserta didik mengalami dan melakukan peristiwa belajar tersebut. Selain itu pula tujuan dari dari pendekatan keterampilan proses adalah :


    Memberikan motivasi belajar pada siswa karena dalam keterampilan proses ini siswa dipacu untuk senantiasa berpartisipasi secara aktif dalam belajar.
    Untuk lebih memperdalam konsep, pengertian dan fakta yang dipelajari siswa karena hakekatnya siswa sendirilah yang mencari dan menemukan konsep tersebut.
     Untuk mengembangkan pengetahuan teori dengan kenyataan hidup di masyarakat sehingga antara teori dengan kenyataan hidup akan serasi.
    Sebagai persiapan dan latihan dalam menghadapi kenyataan hidup di dalam masyarakat sebab siswa telah dilatih untuk berpikir logis dalam memecahkan masalah.
    Mengembangkan sikap percaya diri, bertanggungjawab dan rasa setiakawanan  sosial dalam menghadapi berbagai problem hidup.

B.     Penilaian Unjuk Kerja  (Performance)
1.      Pengertian
Sebelum definisi dari penilaian unjuk kerja diungkapkan, alangkah lebih baik kalau makna dari penilaian sendiri diungkapkan.

Penilaian (assessment) adalah penafsiran hasil pengukuran dan penentuan pencapaian hasil belajar. Dapat diartikan juga bahwa penilaian adalah suatu kegiatan pengukuran, kuantifikasi, dan penetapan mutu pengetahuan siswa secara menyeluruh. Sehingga penilaian harus terintegrasi dalam proses pembelajaran dan menggunakan beragam bentuk. (Paket pembinaan penataran, 2003:3)                                                     

Menurut Danielson (1998:1) dalam paket pembinaan penataran mendefinisikan:

‘Penilaian unjuk kerja adalah penilaian belajar siswa yang meliputi semua penilaian dalam bentuk tulisan, produk atau sikap kecuali bentuk pilihan ganda, menjodohkan, benar-salah, atau jawaban singkat.


Penilaian unjuk kerja memiliki kelebihan dapat mengungkap potensi siswa dalam memecahkan masalah, penalaran, dan komunikasi dalam bentuk tulisan  maupun lisan.’


Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (2006:591-592). “Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai keterampilan kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu misalnya praktek di laboratorium. ”


Penggunaan penilaian unjuk kerja dalam pembelajaran sangat diperlukan. Penilaian jenis ini dapat mengungkap kemampuan siswa dalam hal pemahaman konsep, prosedur, komunikasi, penalaran dan semua aspek kemampuan siswa yang tidak dapat diungkap dengan menggunakan tes konvensional. Untuk mengungkap semua kemampuan tersebut, maka penilaian jenis unjuk kerja digunakan dalam pembelajaran.


Jika guru hanya menggunakan teknik penilaian yang tidak dapat mengungkapkan penguasaan siswa terhadap kompetensi yang diharapkan, maka akan terjadi kontradiksi. Di salah satu sisi siswa dianggap sudah menguasai kompetensi yang diharapkan, tetapi yang sebenarnya adalah siswa belum menguasai kompetensi tersebut. Apabila hal ini terus dibiarkan maka akan terjadi akumulasi ketidakmengertian pada diri anak, karena ada beberapa materi pelajaran yang membutuhkan pengetahuan prasyarat materi sebelumnya.


Dalam pelaksanaannya, penilaian unjuk kerja memerlukan waktu, energi, dan pengetahuan yang lebih dibandingkan dengan penggunaan penilaian yang sifatnya konvensional. Walaupun demikian, tetapi jenis penilaian ini tetap dilaksanakan karena dapat mengungkap potensi siswa dalam memecahkan masalah, penalaran, dan komunikasi dalam bentuk tulisan maupun lisan.


2. Komponen Penilaian

Semua bentuk penilaian mempunyai lima komponen utama. Komponen-komponen itu adalah instrumen penilaian, tanggapan siswa, penafsiran terhadap tanggapan siswa, pemberian skor, pencatatan hasil yang diperoleh dan pelaporan.


a. Instrumen (Tugas)

Instrumen penilaian dapat berupa tugas atau masalah yang diajukan kepada siswa, diskusi kelas, aktivitas atau pertanyaan yang akan menghasilkan tanggapan siswa.


b. Tanggapan terhadap tugas

Sebuah tanggapan dapat berbentuk jawaban menarik atau jawaban tertulis yang menjelaskan suatu pemecahan masalah, presentasi lisan, atau portofolio karya siswa yang sudah dikumpulkan selama periode tertentu. Bermacam-macam tanggapan diperlukan untuk mengetahui pengetahuan siswa secara luas.


c. Penafsiran tanggapan yang diberikan siswa

Penafsiran ini dilakukan oleh guru atau oleh siswa sendiri dengan menggunakan penilaian diri sendiri (self assessment). Penafsiran ini dapat berupa membandingkan tanggapan siswa dengan kompetensi yang diharapkan.


d. Pemberian skor atau skala penafsiran tanggapan siswa

Hasil penskoran ini dapat menjadi umpan balik bagi siswa untuk melihat sejauh mana kompetensi yang sudah dicapai.


e. Pencatatan dan pelaporan hasil yang diperoleh

Laporan ini dapat berbentuk tertulis seperti ”Bagus” atau ”Cukup” atau biasannya berupa nilai ”A”, ”B” atau berupa angka.


3. Tujuan Penilaian

Dalam paket pembinaan penataran, (2004:7) penilaian yang dilakukan terhadap siswa mempunyai tujuan antara lain :

a. Mengetahui tingkat pencapaian kompetensi siswa.

b. Mengukur pertumbuhan dan perkembangan kemajuan siswa.

c. Mendiagnosis kesulitan belajar siswa.

d. Mengetahui hasil pembelajaran.

e. Mengetahui pencapaian kurikulum.

f. Mendorong siswa belajar.

g. Umpan balik untuk guru supaya dapat menjadi lebih baik.


4. Faktor yang Harus Diperhatikan dalam Membuat Instrumen Penilaian Unjuk Kerja

a. Ukuran Instrumen

Ukuran instrumen dapat kecil atau bisa juga besar. Tugas besar dapat mengukur lebih dari satu kompetensi dasar dan umumnya membutuhkan waktu yang lebih banyak.


Tugas kecil dapat berupa pertanyaan terbuka dengan memberi solusi suatu soal dan menjelaskan penalaran mereka. Tujuan penilaian yang dilakukan oleh guru menjadi dasar dalam penentuan tugas kecil atau tugas besar. Dalam penentuan tujuan penilaian unjuk kerja, perlu diperhatikan :

1). Tugas kecil lebih sesuai untuk umpan balik saja.

2). Tugas besar mencakup tujuan penilaian yang lebih luas, tidak sekedar umpan balik saja.


b. Keterampilan dalam Memulai

Umumnya pada waktu memulai menggunakan penilaian unjuk kerja, guru belum begitu yakin dan nyaman dengan apa yang mereka kerjakan. Bagi pemula, instrumen yang digunakan sebaiknya dimulai dengan instrumen unjuk kerja yang kecil dulu.


c. Kriteria Instrumen Unjuk Kerja yang Baik

1). Autentik dan menarik

2). Memungkinkan penilaian individu

3). Memuat petunjuk yang jelas

5. Teknik Penilaian Unjuk Kerja (BSNP, 2006:591)


Untuk mengamati unjuk kerja peserta didik, dapat menggunakan alat atau instrument berikut :


a. Daftar Check (Check-List)

Peserta didik dapat nilai bila kriteria penguasaan kompetensi tertentu dapat diamati oleh peneliti. Jika tidak dapat diamati, peserta didik tidak memperoleh nilai. Kelemahan cara ini adalah penilaian hanya mempunyai dua pilihan mutlak, misalnya benar-salah, atau baik-tidak baik. Dengan demikian tidak terdapat nilai tengah, namun daftar check lebih praktis digunakan untuk mengamati subjek dalam jumlah besar.


a. Skala Penilaian (Rating Scale)

Penilain unjuk kerja yang menggunakan skala penilaian memungkinkan penilai memberi nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu, karena pemberian nilai secara kontinyu dimana pilihan kategori nilai lebih dari dua. Skala penilaian terentang dari tidak sempurna sampai sangat sempurna. Misalnya : 1 = sangat kurang (0-2); 2 = kurang (3-4); 3 = cukup (5-6); 4 = baik (7-8); 5 = sangat baik (9-10).

C. Komunikasi

1. Pengertian Komunikasi

Menurut Onong Uchjana dalam bukunya Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (1990:9) menjelaskan bahwa : Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama, sama di sini maksudnya sama makna.


Menurut Carl I. Hovland dalam Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek (1990:10) mengatakan bahwa komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behavior of other individuals). Sedangkan menurut paradigma Lasswell komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu.


Berdasarkan beberapa pengertian tentang komunikasi diatas, maka dapat dikatakan bahwa seseorang akan dapat mengubah perilaku seseorag, apabila terjadi komunikasi yang komunikatif antara komunikator dan komunikan, selama proses komunikasi. Komunikasi yang dijalin akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari, sebaliknya komunikasi akan gagal jika sewaktu menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol.


Proses komunikasi dapat berlangsung jika terdapat dua individu yang mempunyai pesamaan tujuan, dan saling bertukar informasi sehingga diantara mereka terjadi pengertian yang mendalam. Dalam prosesnya penyampaiannya melalui penggunaan simbol-simbol yang diubah baik kedalam bentuk lisan atau tulisan. Diantara kedua individu tersebut minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif dalam artian seseorang harus mengerti, tetapi juga bersifat persuatif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan melakukan suatu perbuatan atau kekgiatan dan lain-lain.


Pada hakekatnya proses komunikasi merupakan proses penyampaian pikiran atau perasaan oleh seseorang (komunikasi) kepada orang lain (komunikan) pikiran bisa merupakan gagasan, informasi, opini, dan lain-lain yang muncul dari benak pikirannya.


2. Proses Komunikasi

Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yaitu secara primer dan secara sekunder.

a. Proses Komunikasi Secara Primer

Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran atau perasaan seserang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol) sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, kiat, isyarat, gambar, warna, dan sebagainya yang secara langsung maupun ”menerjemahkan” pikiran atau perasaan komunikasi kepada komunikan.


b. Proses Komunikasi Secara Skunder

Proses komunikasi secara sekunder merupakan proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang sebagai media pertama.


Seorang komunikator menggunakan media kedua untuk melancarkan komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang realatif jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, faks, surat kabar, majalah, radio. Televisi, film dan lain sebagainya yang sering digunakan dalam komunikasi


3. Komponen Komunikasi

a). Komunikator, b). Pesan, e). Efek

c). Media, d). Komunikasi, dan


4. Bentuk Komunikasi

a. Komunikasi Personal (Personal Communication)

1). Komunikasi Intrapersona (intrapersonal communication)

2). Komunikasi Antarpersona (interpersonal communication)


b. Komunikasi Kelompok (Group Communication)

1). Komunikasi kelompok kecil (small group communication):

- ceramah (lecture), - diskusi panel (symposium), - forum, - seminar, dan - curahsaran (brainstorming).


2). Komunikasi kelompok besar (large group communication / public speaking)

c. Komunikasi Massa (Mass Communication)

1) pers,

2) radio,

3) televisi,dan 4) film.


d. Komunikasi Medio (Medio Communication)

1) surat,

2) telepon,

3) pamflet,

4) poster, dan

5) spanduk.


5. Sifat Komunikasi

a. Tatap muka (face- to- face)

b. Bermedia (mediated)

c. Verbal (verbal)

1) lisan (oral),

 2). tulisan (written / printed)


d. Nonverbal (non-verbal)

1) kial atau isyarat badaniah (gestural),

2) bergambar (pictorial)


D. Pembelajaran Tematik

1. Belajar dan Pembelajaran Bermakna

Belajar pada hakekatnya merupakan proses perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian. Perubahan ini bersipat menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.


Pembelajaran pada hakekatnya adalah suatu proses interaksi antar anak dengan anak, anak dengan sumber belajar dan anak dengan pendidik. Kegiatan pembelajaran ini akan menjadi bermakna bagi anak jika dilakukan dalam lingkungan yang nyaman dan memberikan rasa aman bagi anak. Proses belajar bersifat individual dan kontekstual, artinya proses belajar terjadi dalam diri individu sesuai dengan perkembangan dan lingkungannya.


Belajar bermakna (meaningfull learning) merupakan suatu poses dkaitkannya informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Kebermaknaan belajar sebagai hasil dari peristiwa mengajar ditandai oleh terjadinya hubungan antara aspek-aspek, konsep-konsep, informasi atau situasi baru dengan komponen-komponen yang relevan di dalam struktur kognitif siswa. Proses belajar tidak sekedar menghafal konsep-konsep atau fakta-fakta belaka, tetapi merupakan kegiatan menghubngkan konsep-konsep untuk menghasilkan pemahaman yang utuh, sehngga konsep yang dipelajari akan dipahami secara baik dan tidak mudah dilupakan. Dengan demikian guru-guru harus terus menggali pengetahuan awal siswa sehingga bisa dipadukan secara harmonis dengan pengetahuan baru yang akan dipelajari.


Dengan kata lain bahwa pembelajaran akan lebih bermakna jika anak mengalami langsung apa yang dipelajarinya dengan mengaktifkan lebih banyak indera daripada hanya mendengarkan guru menjelaskan.


2. Pengertian Pembelajaran Tematik

Menurut Badan Standar Nasional Pendididkan, 2006; 37 dan 39

Pembelajarna tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa.

Menurut Poerwadarminta 1983

Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.

Merujuk pada pengertian pembelajaran tematik diatas, beberapa keuntungan yang dapat diambil dari pembelajaran tematik antara lain :


a. Siswa mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu.

b. Siswa mampu mempelajari pengetahuan dan mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran dalam tema yang sama.

c. Pemahaman terhadap materi pelajaran lebih mendalam dan berkesan.

d. Kompetensi dasar dapat dkembangkan lebih baik dengan mengaitkan matapelajaran lain dengan pengalaman pribadi siswa.

e. Siswa lebih mampu merasakan manfaat dan makna belajar karena materi diajikan dalam konteks tema yang jelas.

f. Siswa mampu lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi dalam situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan dalam satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain.

g. Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkan sekaligus dan diberikan dalam dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan,atau pengayaan.


3. Karakteristik Pembelajaran Tematik (BSNP, 2006:39)

a. Berpusat pada siswa;

Pembelajaran tematik berpusat pada siswa (student centered), hal ini sesuai dengan pendekatan belajar modern yang lebih banyak menempatkan siswa sebagai subjek belajar sedangkan guru lebih banyak berperan sebagai fasilitator yaitu memberikan kemudahan-kemudahan kepada siswa untuk melakukan aktivitas belajar.


b. Memberikan pengalaman langsung;

Pembelajaran tematik dapat memberikan pangalaman langsung kepada siswa (direct experiences). Dengan pengalaman langsung ini, siswa dihadapkan pada sesuatu yang nyata (konkrit) sebagai dasar untuk memahami hal-hal yang lebih abstrak.


c. Pemisahan antar mata pelajaran tidak begitu jelas;

Dalam pembelajaran tematik pemisahan antar mata pelajaran menjadi tidak begitu jelas. Fokus pembelajaran diarahkan kepada pembehasan tema-tema yang paling dekat berkaitan dengan kehidupan siswa.


d. Menyajikan konsep dari berbagai mata pelajaran;

Pembelajaran tematik menyajikan konsep-konsep dari berbagai mata pelajaran dalam suatu proses pembelajaran. Dengan demikian, siswa mampu memahami konsep-konsep tersebut secara utuh. Hal ini diperlukan untuk membantu siswa dalam memecahkan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupansehari-hari.


e. Bersipat fleksibel; dan

Pembelajaran tematik bersifat luwes (fleksibel) dimana guru dapat mengaitkan bahan ajar dari satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lainnya, bahkan mengaitkannya dengan kehidupan siswa dan keadaan lingkungan dimana sekolah dan siswa berada.


f. Hasil pembelajaran sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa.

Siswa diberi kesempatan untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan minat dan kebutuhannya.


g. Menggunakna prinsip belajar sambil bermain dan menyenangkan


4. Rambu-rambu Pembelajaran Tematik (BSNP, 2006:39)

a. Tidak semua mata pelajaran harus dipadukan;

b. Dimungkinkan terjadi penggabungan kompetensi dasar lintas semester;

c. Kompetensi dasar yang tidak dapat dipadukan, jangan dipaksakan untuk dipadukan. Kompetensi dasar yang tidak diintegrasikan dibelajarkan secara tersendiri;

d. Kompetensi dasar yang tidak teracakup pada tema tertentu harus tetap diajarkan baik melalui tema lain maupun disajikan secara tersendiri;

e. Kegiatan pembelajaran ditekankan pada kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, serta penanaman nilai-nilai moral;

f. Tema-tema yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik siswa, minat, lingkungan, dan daerah setempat.


5. Implikasi Pembelajaran Tematik

a. Implikasi bagi guru

Pemeblajaran tematik memerlukan guru yang kreatif baik dalam menyiapkan kegiatan atau pengalaman belajar bagi anak, juga dalam memilih kompetensi dari berbagai mata pelajaran dan mengaturnya agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, menarik, menyenangkan dan utuh.


b. Implikasi bagi siswa

Siswa harus sisp mengikuti kegiatan pembelajaran yang dalam pelaksanannya dimungkinkan untuk bekerja baik secara individual, pasangan, kelompok kecil ataupun klasikal. Siswa juga harus siap mengikuti kegiatan pembelajaran yang bervareasi secara aktif misalnya melakukan diskusi kelompok, mengadakan penelitian sederhana,dan pemecahan masalah.


c. Implikasi terhadap sarana ,prasarana, sumber belajar dan media

- Pembelajaran tematik pada hakekatnya menekankan pada siswa secara individual maupun kelompok untuk aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta prinsip-prinsip secara otentik dan holostik. Oleh sebab itu, dalam pelaksanaannya memerlukan berbagai sarana dan prasarana belajar.


- Pembelajaran ini perlu memanfaatkan berbagai sumber belajar baik yang sifatnya didisain secara khusus untuk keperluan pelaksanaan pembelajaran (by design),maupun sumber belajar yang tersedia di lingkungan yang dapat dimanfaatkan (by utilization).


- Pembelajaran ini juga perlu mengoptimalkan penggunaan media pembelajaran yang bervareasi sehngga akan membantu siswa dalam memahami konsep-konsep yang abstrak.


- Penerapan pembelajaran tematik di sekolah dasar masih dapat menggunakan buku ajar yang sudah ada saat ini untuk masing-masing mata pelajaran dan dimungkinkan pula untuk menggunakan buku suplemen khusus yang memuat bahan ajar yang terintegrasi.


d. Implikasi terhadap pengaturan ruang

Untuk menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, maka diperlukan penataan ruangan yang meliputi :- Ruang perlu ditata disesuaikan dengan tema yang sedang dilaksanakan.


- Susunan bangku peserta didik dapat berubah-ubah disesuaikan dengan keperluan pembelajaran yang sedang berlangsung.


- Peserta didik tidak selalu duduk di kursi tetapi dapat duduk di tikar atau karpet.


- Kegiatan hendaknya bervareasi dan dapat dilaksanakan baik di dalam kelas maupun di luar kelas.


- Dinding kelas dapat dimanfaatkan untuk memajang hasil karya peserta didik dan dimanfaatkan sbagai sumber belajar.


- Alat, sarana dan sumber belajar hendaknya dikelola sehingga memudahkan peserta didik untuk menggunakan dan menyimpannya kembali.


e. Implikasi terhadap pemilihan metode

Sesuai dengan karakteristik pembelajaran tematik, maka dalam pembelajaran yang dilakukan perlu disiapkan berbagai variasi kegiatan dengan menggunakan multi metode, misalnya percobaan, bermain peran, tanya jawab, demonstrasi dan bercakap-cakap.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top