Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Tuesday, September 30, 2014

Upaya Pencegahan dan Deteksi Dini Kanker Payudara

 I.  EPIDEMIOLOGI

a.     Di Eropa bagian barat dan Amerika Serikat, penyakit kanker payudara (KPD) merupakan penyakit keganasan terbanyak yang dijumpai pada kelompok wanita. Sebaliknya di Amerikas Serikat dan Asia KPD mempunyai insiden rendah. Diperkirakan Jepang dan Indonesia mempunyai insidens sama.Dinegara barat dimana industri merupakan kegiatan ekonomi yang utama, tidak hanya didapat insidens tinggi  untuk KPD tetapi juga angka kematian yang tinggi sehingga masalah untuk kesehatan masyarakat pada negara tersebut. Indonesia yang penduduknya kurang lebih 180 juta, sampai saat ini  belum mempunyai sisitem pencatatan penyakit kanker  atau registrasi kanker yang baku. Berdasarkan survey rumah tangga pada beberapa rumah sakit dan pencatatan hasil pemeriksaan patologi, frekuensi KPD menempati peringkat tertingi nomer 2 seteleh kanker mulut rahim. Penyakit ini juga dapat diderita pada laki-laki dengan frekuensi sekitar 1 persen.

b.    Faktor resiko tertinggi KPD adalah :

 Riwayat keluarga menderita KPD, biasanya generasi pertama : ibu atau saudara perempuan
 Pernah menderita kanker payudara
 Pada biopsy didapat hasil kelainan hiperplasia dengan sel atipik
 Dari kepuastakaan dikenal factor resiko yang berhubungan dengan KPD yaitu umur wanita > 40 tahun yang tidam mempunyai anak, wanita yang tidak kawin, wanita yang mempunyai anak > 40 tahun, menarche dini (12 tahun), menopause lambat, riwayat trauma pada payudara, konsumsi tinggi makanan berlemak, masa mnyusui yang singkat.

Identifikasi faktor resiko KPD ditiap-tiap negara sangat berfariasi  dan tergantung dengan penelitian yang telah dilakukan  pada populasi ditempat tersebut.  FKUI telah melakukan penelitihan kerjasama dengan lembaga penleitian Jepang suatu studi kasus  kontril (case control study)  pada 3000 KPD di  RSUPN Dr. Ciptomangunkusumo. Penelitian memberi hasil adanya  beberapa factor yang meningkatkan resiko KPD yaitu :
 1.     trauma pada payudara
 2.     berat badan yang rendah
 3.     menopouse yang lambat/ induksi
 4.     jumlah kehamilan rendah
 5.     masa menyusui  yang singkat
 6.     hubungan keluarga dengan penderita KPD
 7.     Konsumsi tinggi makanan berlemak
 Peningkatan factor resiko dua sampai tiga kali dijumpai  pada keadaan berat badan rendah dan konsumsi makanan berlemak dengan resiko relatif masing-masing 2.85 dan 2.63.

 II. MASALAH

a.     Meskipun telah banyak dilakukan peneleitian dan memberikan dampak kemajuan dalam pengobatan  KPD, namun hingg saat ini angka kesakitan (insidens), kejadian (morbiditas) dan angka kematian kematian (mortalitas) masih tetap[ tinggi. Dari hasil penelitian  telah berhasil diidentifikasifaktor prognosis baik dalam tingkat klinis maupun tingkat  maupun tingkat  seluler. Penilaian tingkat klinis seperti : besarnya tumor, jumlah kelenjar getah bening  yang psitif mengandung sel ganas atah KGB (+) serta derajat keganasanan, perlu dipadukan dengan hasil pemeriksaan tingkat seluler lainnya. Diperlukan suatu program yang dapat menurunkan angka kematian dengan pendekatan individu atau komunitas/ masyarakat.

b.     Tidak berbeda dengan penanggulangan penyakit kanker pada umumnya, maka penanggulangan KPD merupakan upaya komprehensif atau terpadu dari berbagai disiplin ilmu meliputi

  1. Pencegahan/ pencegahan primer
  2. Deteksi dini/ pencegahan skunder
  3. Diagnosis
  4. Pengobatan
  5. Rehabilitasi
Di Indonesia di data rumah sakit  dijumpai lebih dijumpai lebih dari 50% penderita KPD dating dengan stadium lanjut dan kegiatan untuk menurunkan angka kematian masih terbatas pada diagnsosis, pengobatan dan rehabilitasi. Dari berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa KPD stadium dini dapat memberi keberhasilan dalam meningkatkan angka survival.

c.     Pengertian tentang screening dan pencegahan KPD dan manfaatnya belum difahami secara mendalam oleh masyarakat maupun tegaga kesehatan.
 

III.   PENGERTIAN PENCEGAHAN DAN SKRINING KPD


  1. Pencegahan KPD adalah pencegahan primer yang bertujuan menurunkan insidens KPD  dan secara tidak langsung akan menurunkan angka kematian Secara teoritis KPD payudara dapat dicegah dimana hal ini sangat berhubungan dengan lingkuangan dan kebiasaan hidup. Phenomena tingginya factor resiko KPD migran wanita  Jepang tinggal di Amerika dibandingkan dengan  yang tinggal di Jepang serta tingginya resiko KPD  pada kelompok  konsumsi tinggi lemak dibandingkan rendah lemak membuktikan pernyataan diatas
  2. Skrining  KPD  adalah pencegahan  sekunder dengan melakukan pemeriksaan yang bertujuan menemukan tanda-tanda dini KPD  pada kelompok tanpa symtomp atau keluhan. Jika pada skrining didapatkan tanda dan gejala kecurigaan KPD maka peserta skrining tersebut  tidak termasuk dalam program skrining. Peserta tersebut akan dilakukan beberapa pemeriksaan dengan tujuan untuk diagnostik. Dengan skrining akan didapatkan stadium KPD dini sehingga memberikan keberhasilan dalam pengobatan yaituiu menurunkan morbioditas dan mortalitas.
  3. Pencegahan dan skrining KPD, merupakan upaya pencegahan primer dan skunder dengan bertujuan yang sama yaitu menurunkan insidens dan angka kematian. Perbedaannya adalah pada strategi  pelaksanaannya dimana pada pencegahan primer (pencegahan) lebih  mementingkanidentifikasi factor resiko dengan harapan dapat menelusur etiologi dari KPD, sedangkan pencegahan skunder (skrining) suatu upaya mendapatkan KPD sedini mungkin dengan melakukan beberapa pemeriksaan. Intervensi pengobatan yang diberikan  pada KPD dini akan memberikan perubahan perjalanan penyakit KPD dan haisl pengobatan . Perjalanan penyakit KPD meliputi:
 Perubahan biologik  pada saat terjadinya KPD

  • Interval pre klinik (interval pada saat terdeteksi KPD dan timbul gejala/ tanda-tanda KPD) 
  • Stadium klinik (keadaan adanya gejala/ tanda-tanda KPD
  • Terpaparnya keadaan klinis KPD baik yang diobati maupun yang tidak diobati.

 IV.  PENCEGAHAN PRIMER

 Konsep dasar dari pencegahan primer adalah menurunkan insidens KPD dengan secara
 1. Mencegah terpaparnya substansi yang menurunkan resiko terjadinya KPD
 2. Menggunakan proteksi terhadap bahan karsinogenik
 3.     Menggunakan bahan yang dapat mencegah proses karsinogenik
 Upaya pencegahan pada KPD sampai saat ini masih dalam taraf eksperimental. Beberapa factor seperti genetic, epidemiologi dan studi laboratorium memegang peranan penting dalam usaha yang akan dilakukan. Hal lain adalah uapaya untuk  untuk mencari factor resiko  KPD pada kelompok masyarakat tertentu yang sangat berguna untuk di Informasikan kepada masyarakat sehingga dapat berperan serta pada program pencegaha.

Pembuktian adanya hubungan antara KPD dengan hormon telah diketahui dengan melakukan menopouse artificial yang dapat menurunkan factor resiko KPD. Resiko  relatif wanita umur anatara 35 tahun – 44 tahun turun dari 0.68 menjadi 0.65 jika dilakukan menopouse artificial, tetapi tidak akan terjadi penurunan jika dilakukan pada umur 50 tahun  Diet rendah lemak juga berpengaruh pada terhadap proses metabolisme hormonal yang akan merendahkan factor resiko KPD. Studi lain menghubungkan diketemukannya petanda genetic BRCA1 dan BRCA 2 pada  2% KPD, terutama pada kelompok yang memupnyai riwayat KPD pada keluarga (ibu, nenek atau saudara perempuan). Masalah yang timbul jika telah diketahui factor resiko tinggi tersebut adalah apakah perlu dilakukan intervensi seperti pengangkatan payudara sebagai upaya pencegahan atau hanya dilakukan observasi saja. Hal ini juga masih dipertentangkan pada keadaan kelainan hiperplasia dengan sel atipik yang merupakan factor resiko tinggi KPD.

Penelitian yang sekarang sedang berlangsung  adalah pemberian preparat antiestrogen (Tamoxifen) pada 16.000 wanita secara prospektif dan acak dengan tujuan tujuan untuk menurunkan resiko terjadi KPD.

V.    PENCEGAHAN SKUNDER (SKRINING= DETEKSI DINI)


a.     Tiga macam upaya pencegahan yang sangat penting dalam penanggulangan KPD  adalah : pencegahan, deteksi dini dan pengobatan. Upaya pencegahan atau pencegahan primer sangat sulit dilaksanakan mengingat belum diketemukannya etiologi KPD dan untuk menilai keberhasilan dalam menurunkan insidens membutuhkan  waktu yang sangat lama. Dengan keadaan tersebut maka upaya deteksi didni atau skrining dianggap rasional untuk menurunkan angka kematian. Penelitian untuk pertama kali pada tahun 1963 oleh Health Insurance Plan of Greather New York  dan studi lainnya di Kanada, Swedia dan Belanda telah memberikan berbagai pengalaman petunjuk dalam melaksanakan skrining.

b.     Rasionalisasi deteksi dini pada KPD adalah berdasarkan  suatu konsep pengobatan pada KPD akan memberikan peningkatan survival dan menurunkan angka kematian jika dilakukan pada stadium dini. Pengertian ini adalah bagaimana kita dapat mengobati  KPD dengan ukuran tumor seminimal mungkin atau sedini mungkin dalam mencapai  keberhasilan dalam pengobatan. Dari perjalanan penyakit KPD didapat hubungan anatar waktu dan besarnya  tumor dalam proses  pembelahan sel atau  dikenal dengan doubling  time. Prognosis KPD  dapat ditentukan antara lain dari factor ukuran tumornya maka prognosis makin baik atau dengan kata lain prognosis pada stadium dini akan lebih baik dibandingkan dengan KPD stadium lanjut.

c.     Metode skrining. Berbagai  cara pemeriksaan telah dipakai untuk pelaksanaan skrining yaitu

Pemeriksaan klinis payudara oleh tenaga kesehatan misalnya spesialis bedah, dokter umum, perawat yang terlatih atau peserta program sendiri (SADARI)
Pemeriksaan imaging seperti mamografi, termografi dan ultrasonografi
Pemeriksaan petanda tumor dari serum

d.     Syarat untuk melaksanakan kreteria sebagai berikut

  • Mempunyai nilai sensitifitas dan spesifitas yang tinggi
  • Sederhana
  • Aman
  • Biaya rendah
Sensifitas adalah suatu kekuatan nilai kwantitatif dari test adanya penyakit yang diukur berdasarkan proporsi penyakit yang positif dari jumlah populasi yang positif. Rendahnya false negatif akan memberikan sensitifitas  yang tinggi. Spesifitas adalah kekuatan nilai kwantitatif dari test  yang menentukan  tidak adanya penyakit dan diukur berdasarkan proporsi penyakit yang negatif dari jumlah populasi populasi penyakit yang negatif. Nilai false positif yang rendah akan meningkatkan spesifisitas.

e.     Pemeriksaan klinis payudara adalah test skrining dengan melakukan pemeriksaan pada organ payudara. Pemeriksaan ini tidak mempunyai nilai spensifitas dan spesifitas yang tinggi yaitu sekitar 40%-50%  dan rendahnya spesifitas ini disebabkan oleh karena pada pemeriksaan sering dijumpai kelainan jinak pada payudara. Di Ingris pemeriksaaan fisik dilakukan oleh dokter dan perawat yang terlatih. Dalam studi perbandingan tidak didapatkan perbedaan yang bermakna pemeriksaan fisik payudara oleh dokter maupun perawat.

f.       Pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) adalah test skrining dengan cara memeriksa payudara yang dilakukan sendiri dan sesuai dengan petunjuk serta pedoman yang diberikan kepada peserta program. Rasionalisasi  SADARI  adalah berdasarkan  banyaknya KPD diketemukan  secara kebetulan. Jika kondisi kebetulan ini dapat berubah menjadi kebiasaan yang rutin dan berkala, maka bukan tidak mungkin akan  lebih banyak KPD  stadium dini yang terdeteksi. Meskipun cara ini murah, aman, dapat diulang dan sederhana, penggunaan test SADARI  dalam program skrining dirasakanmasih belum efektif.  Hal ini disebabkan oleh ketakutan dan kecemasan dalam menghadapi kenyataan serta masih sedikit wanita yang memakai cara test ini yaitu 15-30%. Miller dankawan-kawan menyatakan bahwa SADARI mempunyai potensi yang besar dalam melaksanakan program skrining dibandingkan cara skrining lainnya karena tidak memerlukan teknologi tinggi.

g.     Mamografi adalah pemeriksaan radiodiagnostik khusus dengan mempergunakan teknik foto “soft tissue” pada payudara. Pemeriksaan ini dipergunakan pada program skrining karena mempunyai sensifitas dan spesifitas yang tinggi dibandingkan test skrining lainnya yaitu 80% sampai 90%.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top