Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Tuesday, January 19, 2016

Materi tentang Bahasa dan Membaca

Materi tentang Bahasa dan Membaca 

Bahasa dan Membaca

Bahasa dibentuk oleh kaidah, aturan serta pola yang tidak boleh dilanggar agar tidak menyebabkan gangguan pada komunikasi yang terjadi. Kaidah, aturan, dan pola-pola yang dibentuk mencakup tata bunyi, tata bentuk, dan tata kalimat agar komunikasi yang dilakukan berjalan lancar, penerima, dan pengirim bahasa harus menguasai bahasanya.

Bahasa juga diartikan sebagai suatu sistem dari lambang bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia dan dipakai oleh masyarakat komunikasi, kerja sama dan identitas diri. Bahasa lisan merupakan bahasa primer, sedangkan bahasa tulisan merupakan bahasa sekunder.

Membaca dipahami sebagai bagian dari fungsi berbahasa dalam komunikasi. Karenanya, peneliti membahas masalah membaca tidak dapat dilepaskan dari teori dasarnya, yaitu bahasa. 

Membaca dan Kemampuan Berbahasa

a. Membaca
Membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa, selain keterampilan menyimak, berbicara dan menulis. Teks berfungsi sebagai media interaksi penulis dan pembaca. Penulis menyampaikan pesan, sedangkan pembaca melakukan serangkaian kegiatan secara bertahap dan berkesinambungan.


Howell dan Nolet (2000 : 203) mengemukakan bahwa : membaca adalah sebuah proses interaktif. Dalam prose situ pembaca menggunakan kode, kanalisis konteks pengetahuan awal, bahasa dan strategi control memakai teks.

Pada waktu membaca, mata mengenali kata sementara pikiran menhubungkan dengan maknanya. Makna kata dihubungkan satu sama lain menjadi makna frasa, klausa, kalimat dan akhirnya makna seluruh bacaan.

Membaca merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari yang penting bagi kehidupan sosial dan akademik, mengingat pentingnya kegiatan membaca bagi kehidupan manusia, maka tidak mengherankan jika banyak pihak yang peduli dan berupaya serta mencurahkan perhatiannya pada proses pembelajaran membaca.

b. Kemampuan Berbahasa

Perkembangan bahasa pada anak usia dini sangat penting karena dengan bahasa sebagai dasar kemampuan seorang anak akan dapat meningkatkan kemampuan-kemampuan yang lain. Pendidik perlu menerapkan ide-ide yang dimilikinya untuk mengembangkan kemampuan berbahasa anak, memberikan contoh penggunaan bahasa yang benar, menstimulasi perkembangan bahasa anak dengan berkomunikasi secara aktif. Anak terus perlu dilatih untuk berpikir dan menyelesaikan masalah melalui bahasa yang dimilikinya. Kegiatan nyata yang diperkuat dengan komunikasi akan terus meningkatkan kemampuan berbahasa anak.

Sebagaimana sudah diketahui ada empat kemampuan berbahasa. Keempatnya meliputi mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Cintami (2009) menyatakan bahwa, secara normal seseorang sudah akan mendengarkan bunyi-bunyian yang dihasilkan oleh apapun yang ada disekitarnya. Namun, sebagai individu yang baru saja tumbuh apa yang didengarkan tidak dapat langsung dikenali anak. Ada proses pengenalan terhadap apa dan siapa yang mengeluarkan bunyi. Hal ini secara luar biasa, terasah dengan baik disepanjang hidup manusia sehingga kita dapat membedakan siapa atau apa yang mengeluarkan berbagai bunyi itu, dengan cara seperti ini seorang bayi dapat mengenal suara ibunya atau ayahnya.

Kemampuan berbicara menjadi kemampuan berikutnya yang dimiliki oleh setiap manusia, hal ini diperolehnya sebagai bentuk peniruan bunyi bahasa sebagaimana dijelaskan di atas. Itulah sebabnya, seseorang yang dalam masa kecilnya atau yang terlahir dengan kecacatan dalam pendengaran akan menjadi orang yang tidak mampu berbicara.

Meski demikian, dari sudut bahasa non verbal, kemampuan berbicara tampaknya sudah melekat dalam diri anak sejak lahir. Hal ini diwujudkan dalam bentuk tangisan. Ketika anak lahir, jerit tangisannya mulai mengarahkan dirinya untuk berbicara secara non verbal. Itulah bahasa lisan non verbal dan merupakan bahasa lisan pertama manusia.

Kemampuan membaca menjadi kemampuan ketiga sekaligus kemampuan tingkat tinggi pertama sebelum menulis. Dalam komunikasi dengan bahasa tulis kegiatan membaca seorang pembaca memahami atau menangkap makna dari pesan yang disampaikan penulis melalui bahasa tulis.
Sebagai kemampuan tingkat tinggi tahap pertama, membaca menjadi kemampuan yang harus dimiliki dengan baik oleh seseorang sebelum masuk ke tahap berikutnya, yaitu kemampuan menulis. Tidak dapat dielakkan bahwa kemampuan membaca menjadi pintu menuju kemampuan menulis.
Bagaimanapun juga, kemampuan menulis yang baik jelas menunjukkan kemampuan berbahasa yang baik pula. Karena ketika seseorang sudah mampu menulis dengan baik, hal ini menunjukkan tiga kemampuan dasar lainnya cukup terlatih dengan baik pula.

Cintami (2009 : 3) menyatakan bahwa :Membaca merupakan proses komunikasi. Di dala kata “membaca” terdapat aktifitas atau proses penangkapan dan pemahaman sejumlah pesan (informasi) dalam bentuk tulisan. Jadi, membaca adalah kegiatan otak untuk mencerna dan memahami serta memaknai simbol-simbol. Aktifitas membaca telah merangsang otak untuk melakukan olah piker memahami makna yang terkandung dalam rangkaian simbol-simbol (tulisan). Semakin seseorang membaca maka semakin tertantang seseorang untuk terus berfikir terhadap apa yang mereka telah baca.


Aktifitas membaca sering diartikan dengan aktifitas berbicara, tetapi tidak semua orang yang melakukan aktifitas berbicara mempunyai kesempatan untuk membaca. Oleh karena itu, orang lebih senang berbicara daripada membaca karena membaca merupakan aktifitas yang kompleks. Ketika sebuah proses membaca sedang berlangsung, seluruh aspek kejiwaan dapat dikatakan ikut terlibat. Dalam aktifitas membaca, terjadi proses kemampuan berfikir dan proses mengolah rasa. Seorang anak yang sedang membaca berate sedang membangun kepribadian dan kemampuannya. Oleh karena itu, tahapan menuju proses kegemaran membaca berkaitan erat dengan sebuah kerangka tindakan AIDA (attention, interest, desire, dan action) (Prasetyono, 2008 : 58).

Prasetyono (2008 : 58-59) berpendapat bahwa :Rasa keingintahuan atau perhatian (attention) terhadap suatu objek dapat menimbulkan rasa ketertarikan atau menaruh minat pada sesuatu (interest). Rasa ketertarikan akan menimbulkan rangsangan atau keinginan (desire) untuk melakukan sesuatu (membaca). Keinginan yang tinggi dalam diri seorang anak selalu berusaha untuk mempunyai kebiasaan membaca, ditunjukkan oleh kesediannya untuk mendapatkan sejumlah bacaan dan kemudian membacanya atas dasar kesadarannya sendiri.


Hal inilah yang menyebabkan empat variabel pokok AIDA berhubungan erat dengan tugas-tugas pokok orangtua dan tenaga pendidik dalam menumbuhkan minat membaca pada anak. Membaca bukan hanya sekedar membaca, tetapi aktifitas ini mempunyai tujuan, yaitu untuk mendapatkan sejumlah informasi baru. Oleh karena itu, orangtua dan pendidik perlu membentuk kebiasaan membaca pada diri anak itu sendiri terlebih dahulu, sehingga anak dapat mengikuti kebiasaan dan kegemarannya dalam membaca.

Hakekat Membaca

Winarsih (2007 : 3) mengatakan bahwa :
Pada hakekatnya membaca merupakan proses memahami dan merekonstruksikan makna yang terkandung dalam bahan bacaan. Pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan merupakan interaksi timbal balik, interaksi aktif, dan interaksi dinamis antara pengetahuan dasar yang dimiliki pembaca dengan kalimat-kalimat, fakta dan informasi yang tertuang dalam teks bacaan. Informasi yang terdapat dalam bacaan merupakan informasi yang kasat mata atau dapat disebut dengan sumber informasi visual. Pengetahuan dasar yang sebelumnya telah dimiliki pembaca merupakan informasi yang tersimpan dalam memori otak/pikiran pembaca atau dapat disebut dengan sumber informasi non visual.
Kedua macam sumber informasi tersebut perlu dimiliki secara berimbang oleh pembaca, artinya kemampuan mengenai informasi visual perlu diikuti dengan pengetahuan dasar yang diperlukan untuk memahami suatu teks bacaan. Demikian pula sebaliknya, pengetahuan dasar yang telah dimiliki perlu diikuti dan perlu dilanjutkan dengan kemampuan memahami informasi visual yang ada pada teks bacaan. Kemampuan penunjang lain yang perlu dimiliki pembaca yaitu kemampuan menghubungkan gagasan yang dimiliki dengan materi bacaan. Dalam kaitannya dengan pemahaman dan perekonstruksian pesan atau makna yang terkandung dalam teks bacaan.

Membaca merupakan salah satu jenis kemampuan berbahasa tulis yang bersifat reseptif. Disebut reseptif karena dengan membaca seseorang akan memperoleh informasi, memperoleh ilmu, dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Semua diperoleh melalui bacaan akan memungkinkan seseorang mampu mempertinggi daya pikirnya, mempertajam pandangannya, dan memperluas wawasannya (Zuchdi dan Budiasih, 1997 : 49). Pendapat tersebut menekankan tentang pentingnya membaca bagi peningkatan kualitas diri seseorang.

Membaca adalah salah satu keterampilan berbahasa, selain keterampilan menyimak, berbicara dan menulis. Teks berfungsi sebagai media interaksi penulis dan pembaca. Penulis menyampaikan pesan, sedangkan pembaca melakukan serangkaian kegiatan secara bertahap dan berkesinambungan.

Ada 2 aktifitas yang dilakukan waktu membaca yaitu :
  1. Aktifitas proses yang mengacu pada kegiatan fisik dan mental.
  2. ktifitas produk yang mengacu pada konsekuensi dari kegiatan aktifitas proses sehingga pembaca mengetahui isi dari bacaan.

Richard, Pat dan Weaber (1987 : 7) mengatakan bahwa membaca adalah memahami makna yang terkandung dalam tulisan/teks.
Teks merupakan area isi pembelajaran menulis artinya peningkatan kemampuan anak untuk terampil membaca hanya bias dilaksanakan apabila anak belajar berinteraksi melalui teks, yang didalamnya dapat mengetahui : (1) sistem penulisan dalam suatu bahasa, (2) konteks komunikasi apa yang terjadi siapa yang terlibat (pelaku) dan kaidah bahasa yang digunakan, (3) proses berinteraksi pengetahuan dan pengalaman, (4) peran sosial yang dikemas ke dalam tulisan (Tim Dosen Bahasa Indonesia, 2007 : 13-14).
Tarigan (1987 : 7-8) menyatakan bahwa membaca merupakan proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata atau bahasa tulis.
Menurut Anderson, dkk dalam Sabarti (1992 : 22), membaca merupakan suatu kesatuan yang terpadu yang mencakup beberapa kegiatan seperti mengenali huruf dan kata-kata, menghubungkan dengan bunyi serta maknanya, serta menarik kesimpulan mengenai maksud bacaan.


Dari pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa membaca merupakan suatu proses psikolonguistik yang berupa pengalaman berbahasa, bersifat aktif reseptif dan menekankan aktifitas komunikatif antara pembaca dengan isi teks dimulai dengan mengenali huruf, kata dan kalimat untuk menangkap ide atau pikiran penulis.

Anderson, dkk dalam Sabarti (1992 : 23-24) mengemukakan lima ciri-ciri membaca yaitu :
  1. Membaca adalah proses konstuktif
  2. Memahami tulisan harus mempunyai pengetahuan dan pengalaman untuk mengolah sandi dan informasi dalam bacaan.
  3. Membaca harus lancar
  4. Kelancaran membaca ditentukan oleh kesanggupan pembaca untuk menghubungkan tulisan dengan maknanya.
  5. Membaca harus dilakukan dengan strategi yang tepat
  6. Pembaca harus menyesuaikan strategi membaca dengan taraf kesulitan tulisan seperti topic dan tujuan membaca.
  7. Membaca memerlukan motivasi
  8. Motivasi merupakan kunci keberhasilan dalam belajar membaca, terutama yang mengalami kegagalan dalam pembelajaran.
  9. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan seara berkesinambungan.
Keterampilan membaca tidak diperoleh secara mendadak tetapi diperoleh melalui belajar tahap demi tahap dalam waktu yang terus menerus.

Perlunya keterampilan membaca disebabkan karena membaca bukanlah keterampilan yang langsung bisa ditransfer begitu saja juga tidak hanya diterapkan pada salah satu bidang studi khusus, tetapi membaca menyangkut kemampuan menginterprestasi banyak hal dari suatu pengalaman tertentu. Karena itu dengan adanya bimbingan membaca diharapkan diperoleh suatu hasil yang lebih baik.

Keterampilan membaca diatur sedemikian rupa sehingga memenuhi tuntutan perkembangan spiral, keterampilan membaca sudah tentu dapat diperluas, ditambah, dikembangkan sesuai dengan tujuan pada tiap jenjang pendidikan.

Menurut Prasetyono (2008 : 16-17), ada beberapa fase-fase perkembangan membaca, yaitu :
a.      Fase pramembaca (3-6 tahun)
Anak-anak mengenal huruf dan mempelajari perbedaan huruf dan angka. Kebanyakan anak akan mengenal nama jika ditulis.

b.      Fase ke-1 (7-8 tahun)
Kira-kira kelas dua, anak-anak memperoleh pengetahuan tentang huruf, suku kata, dan kata sederhana melalui cerita.

c.      Fase ke-2
Kira-kira kelas tiga dan empat, anak-anak dapat menganalisis kata-kata yang tidak diketahuinya menggunakan pola tulisan.

d.     Fase ke-3
Dari kelas empat sampai dengan kelas dua SMP, anak dapat memahami bacaan.

e.      Fase ke-4
Pada akhirnya SMP sampai SMA, anak mampu menyimpulkan dan mengenal maksud penulis dalam bacaan.

f.       Fase ke-5
Pada tingkat tinggi dan seterusnya orang dewasa dapat mengintegrasikan hal-hal yang dibaca dan menanggapi materi bacaan secara kritis.

Membaca merupakan kegiatan sehari-hari, karena membaca tidak hanya untuk memperoleh informasi, tetapi berfungsi sebagai alat untuk memperluas bahasa seseorang. Dengan demikian, anak usia TK perlu memperoleh latihan membaca dengan baik khususnya membaca dini.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top