Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Friday, January 30, 2015

Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbicara ?

Cara Meningkatkan Kemampuan Berbicara

Pengertian Berbicara
Berbicara merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa dan juga merupakan sasaran pembelajaran berbahasa Indonesia. Keterampilan berbicara dapat meningkat jika ditunjang oleh keterampilan berbahasa yang lain, seperti menyimak, membaca, dan menulis. Keterampilan berbicara ini sangat penting posisinya dalam kegiatan belajar-mengajar.

Pentingnya keterampilan berbicara bukan saja bagi guru, tetapi juga bagi siswa sebagai subjek dan objek didik. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia dituntut terampil berbicara. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang dilontarkan oleh Suyoto (2003:32) bahwa seseorang yang terampil berbicara cenderung berani tampil di masyarakat. Dia juga cenderung memiliki keberanian untuk tampil menjadi pemimpin pada kelompoknya.

Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan (Tarigan, 1993 : 15).

Pendapat yang sama disampaikan oleh Tarigan, dkk (1997 : 13). Mereka berpendapat bahwa berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan kepada orang lain.


Berbicara merupakan suatu keterampilan, dan keterampilan tidak akan berkembang kalau tidak dilatih secara terus menerus. Oleh karena itu, kepandaian berbicara tidak akan dikuasai dengan baik tanpa dilatih. Apabila selalu dilatih, keterampilan berbicara tentu akan semakin baik. Sebaliknya, kalau malu, ragu, atau takut salah dalam berlatih berbicara, niscaya kepandaian atau keterampilan berbicara itu semakin jauh dari penguasaan. Keterampilan berbicara lebih mudah dikembangkan apabila murid-murid memperoleh kesempatan untuk mengkomunikasikan sesuatu secara alami kepada orang lain, dalam kesempatan-kesempatan yang bersifat informal. Selama kegiatan belajar disekolah, guru menciptakan berbagai lapangan pengalaman yang memungkinkan murid-murid mengembangkan kemampuan berbicara.


Strategi Untuk Meningkatkan Kemampuan Berbicara

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, strategi bermakna rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Strategi kompetensi disebut juga dengan strategi komunikasi atau communication strategies (Thornburry, 2006: 29). Ada beberapa hal yang yang harus diperhatikan dalam strategi komunikasi yakni:
  1. Menggunakan kata-kata yang banyak/tidak langsung (tidak to the point)
  2. Mengubah kata-kata baru agar lebih dikenal (penyerapan kata asing), contoh: mesjid
  3. Menggunakan kata-kata yang umum atau sudah dikenal.
  4. Menggunakan ekspresi atau alih kode, contoh:menggunakan bahasa yang sopan pada orang yang lebih tua.
  5. Menggunakan gerak tubuh atau mimik untuk meyakinkan maksud yang kita inginkan.
Strategi berbicara menurut Modul untuk Profesional Persiapan Pengajaran Asisten dalam Bahasa Asing (Grace Stovall Burkart, ed 1998 ; Pusat Linguistik Terapan,) adalah sebagai berikut.

1. Menggunakan minimal tanggapan

Bahasa peserta didik yang kurang percaya diri dalam kemampuan mereka untuk berpartisipasi dengan sukses dalam interaksi lisan sering mendengarkan dalam keheningan sementara yang lain yang bicara. Salah satu cara untuk mendorong peserta didik tersebut untuk mulai berpartisipasi adalah untuk membantu mereka membangun suatu persediaan tanggapan minimal yang mereka dapat digunakan dalam berbagai jenis pertukaran..tanggapan tersebut dapat sangat berguna untuk pemula.
Tanggapan minimal dapat diprediksi bahwa peserta percakapan digunakan untuk menunjukkan pemahaman, perjanjian, keraguan, dan tanggapan lain untuk apa yang dikatakan pembicara lain.. Memiliki stok tanggapan tersebut memungkinkan pelajar untuk fokus pada apa peserta lain katakan, tanpa harus secara simultan rencana tanggapan.

2. Menggunakan bahasa untuk berbicara tentang bahasa
Bahasa peserta didik sering terlalu malu atau malu untuk mengatakan sesuatu ketika mereka tidak mengerti pembicara lain atau ketika mereka menyadari bahwa mitra percakapan tidak mengerti mereka. Guru dapat membantu siswa mengatasi keengganan ini dengan meyakinkan mereka bahwa kesalahpahaman dan kebutuhan untuk klarifikasi dapat terjadi pada berbagai tipe interaksi, apapun bahasa peserta tingkat keterampilan. Guru juga dapat memberikan strategi siswa dan frase yang digunakan untuk klarifikasi dan cek pemahaman.

Dengan mendorong siswa untuk menggunakan frase klarifikasi di kelas saat terjadi kesalahpahaman, dan dengan menanggapi positif ketika mereka melakukannya, guru dapat menciptakan lingkungan praktek otentik di dalam kelas itu sendiri. Ketika mereka mengembangkan kontrol dari strategi berbagai klarifikasi, siswa akan mendapatkan kepercayaan diri dalam kemampuan mereka untuk mengelola berbagai situasi komunikasi yang mungkin mereka hadapi di luar kelas.


Setelah mengetahui langkah-langkah atau strategi dalam meningkatkan kemampuan berbicara, maka kemampuan berbicara diharapkan dapat meningkat.


4.Permainan Simulasi
Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya pura-pura atau berbuat seolah-olah. Kata simulation artinya tiruan atau perbuatan yang pura-pura. Dengan demikian, simulasi dalam metode mengajar dimaksudkan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu (bahan pelajaran) melalui perbuatan yang bersifat pura-pura atau melalui proses tingkah laku imitasi, atau bermain peranan mengenai suatu tingkah laku yang dilakukan seolah-olah dalam keadaan yang sebenarnya. Permainan simulasi adalah model yang mengilustrasikan atau menggambarkan baik sistem sosial maupun sistem fisik yang diabstraksi dari realitas dan disederhanakan.

Berdasarkan peristiwa yang sebenarnya, dilakukan abstraksi (pemindahan) terhadap kondisi-kondisi yang mendukung terjadinya peristiwa tersebut, ditambah dengan penyederhanaan-penyederhanaan, kemudian menyusun ulang peristiwa tersebut sesuai dengan kondisi-kondisi yang telah disederhanakan. Di samping itu, metode permainan simulasi cocok diterapkan pada semua tingkatan siswa, dari siswa taman kanak-kanak, sampai siswa pada tingkatan yang lebih tinggi. Sebagai contoh dari permainan simulasi yaitu saat siswa bermain peran dan berusaha menghayati perannya. Disinilah akan adanya suatu keberanian untuk mengekpresikan dirinya dengan belajar untuk berbicara dan memerankan orang lain.
Dongeng

Peristiwa atau cerita yang terjadi dalam lingkungan masyarakat maupun dari buku-buku dongeng yang tersedia di perpustakaan belum dimanfaatkan dengan maksimal sebagai sumber belajar yang dapat menunjang proses pembelajaran khususnya dalam pembelajaran berbicara.


Dongeng adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi oleh yang empunya cerita dan dongeng tidak terikat oleh waktu maupun tempat. James Danandjaja (1986: 86) berpendapat bahwa kata dongeng menurut pengertian yang sempit adalah cerita pendek kolektif kesusastraan lisan, sedangkan pengertian dongeng dalam arti luas adalah cerita prosa rakyat yang tidak dianggap benar-benar terjadi.


Dongeng diceritakan terutama untuk hiburan walaupun banyak juga melukiskan kebenaran, berisikan pelajaran (moral) bahkan sindiran. Jadi, dongeng adalah cerita prosa rakyat yang dianggap benar-benar terjadi dan tidak terikat oleh waktu maupun tempat, yang mempunyai keguanaan sebagai alat hiburan atau pelipur lara dan sebagai alat pendidik (pelajaran moral).

Cara meningkatkan kemampuan berbicara siswa dengan dongeng dapat didahului dengan dipraktekkan terlebih dahulu oleh guru. Unsur keterampilan berbahasa yang terdapat didalamnya adalah menyimak dan berbicara. Menyimak dengan siswa mendengarkan cerita yang disampaikan dan menugaskan siswa untuk menceritakan kembali dongeng yang telah didengarnya dengan bahasanya sendiri. Disini akan menggali keberanian siswa untuk tampil ke depan dan mendongeng untuk temannya dengan cara dan gayanya sendiri. Jika seorang siswa berani tampil dengan bagus, hal itu akan memotivasi siswa lain untuk mencoba berbicara kedepan.

Bermain peran
Bermain peran merupakan salah satu bentuk aktivitas drama yang didalamnya terdapat aktivitas berbicara. Aktivitas tersebut mencakup lafal, intonasi, jeda, aksentuasi/tekanan yang jelas, kemudian penggunaan bahasa yang baik, serta pengorganisasian ide yang terstruktur. Artinya ketika bermain peran aspek tersebut secara otomatis akan dipergunakan. Bermain peran merupakan teknik yang banyak dipakai oleh guru bahasa Indonesia di sekolah, untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berbicara muridnya.

Selain menyenangkan juga menawarkan pelarian mental atau pengungkapan ekspresi sebagai feedback dari keterampilan berbicara. Cara atau strategi yang bisa diterapkan dengan bermain peran yaitu dengan mengajak siswa untuk memerankan tokoh dalam sebuah cerita dengan karakter tertentu dan membimbing siswa untuk mendalami karakter yang didapatkannya.
]
Menggunakan strategi Modelling The Way
Pelaksanaan pembelajaran bahasa Indonesia pada keterampilan berbicara bahasa Indonesia perlu menerapkan strategi Modeling The Way (membuat contoh praktik). Strategi ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempraktikkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia melalui demonstrasi, dari hasil demonstrasi ini kemudian diterapkan dalam keseharian di sekolah, yaitu siswa dibagi dalam beberapa kelompok kecil, identifikasi beberapa situasi umum yang biasa siswa lakukan di ruang kelas dan luar kelas dalam berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, kemudian siswa mendemonstrasikan satu persatu dalam berbicara bahasa Indonesia.

Modeling The Way memberi waktu siswa untuk menciptakan skenariosendiri dan menentukan bagaimana mengilustrasikan keterampilan berbicara sesuai kelompoknya. Kemudian siswa diberi kesempatan untuk memberikan feedback pada setiap demonstrasi yang dilakukan.

5.Cerita berantai

Menurut Tarigan (1990), “Penerapan teknik cerita berantai ini dimaksudkan untuk membangkitkan keberanian siswa dalam berbicara. Jika siswa telah menunjukkan keberanian, diharapkan kemampuan berbicaranya menjadi meningkat.” Teknik cerita berantai bisa dimulai dari seorang siswa yang menerima informasi dari guru, kemudian siswa tadi membisikkan informasi itu kepada teman lain, dan teman yang telah menerima bisikan meneruskannya kepada teman yang lain lagi. Begitulah seterusnya. Pada akhir kegiatan akan dievaluasi, yaitu: siswa yang mana yang menerima informasi yang benar atau salah. Siswa yang salah menerima informasi tentu akan salah pula menyampaikan informasi kepada orang lain. Sebaliknya, bisa saja terjadi informasi yang diterima oleh siswa itu benar tetapi mereka keliru menyampaikannya kepada teman yang lain. Untuk itu, diperlukan pertimbangan yang cukup bijak dari guru untuk menilai keberhasilan teknik cerita berantai ini. Tarigan (1990) berpendapat bahwa teknik cerita berantai adalah salah satu teknik dalam pengajaran berbicara yang menceritakan suatu cerita kepada siswa pertama, kemudian siswa pertama menceritakan kepada siswa kedua, dan seterusnya kemudian cerita tersebut diceritakan kembali lagi kepada siswa yang pertama. Menurut Tarigan (1990), cerita berantai dapat diterapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut.
a) Guru menyusun suatu cerita yang dituliskan dalam sehelai kertas.
b) Cerita itu kemudian dibaca dan dihapalkan oleh siswa.
c) Siswa pertama menceritakan cerita tersebut, tanpa melihat teks, kepada siswa kedua.
d) Siswa kedua menceritakan cerita itu kepada siswa ketiga.
e) Siswa ketiga menceritakan kembali cerita itu kepada siswa pertama.
f) Sewaktu siswa ketiga bercerita suaranya direkam.
g) Guru menuliskan isi rekaman siswa ketiga di papan tulis.
h) Hasil rekaman diperbandingkan dengan teks asli cerita.

Pembentukan kelompok dalam menerapkan teknik cerita berantai dapat membangkitkan minat dan motivasi siswa untuk berbicara dan sekaligus menyimak bahan pembicaraan. Pada waktu siswa menyimak pesan, tampak siswa saling mengingatkan dengan sesama anggota kelompok. Ini dilakukan agar siswa tidak keliru menyampaikan isi bahan simakan. Fenomena ini membuat siswa harus dapat menyimak dengan teliti, sebab siswa takut sekali akan membuat kesalahan dalam menyampaikan isi bahan simakan pada saat ia disuruh untuk berbicara. Kegiatan yang dilakukan guru ini merupakan upaya guru untuk menarik perhatian, minat, dan motivasi siswa sehingga pada akhirnya dapat menciptakan keaktifan dan ketelitian siswa pada waktu akan menyampaikan isi bahan simakan di depan kelas. Cara ini akan menunjukkan kemampuan berpikir, menyimak serta berbicara siswa.


6.Media gambar dalam bercerita

Guru mengembangkan media pembelajaran melalui penggunaan media gambar cerita dengan maksud agar siswa dapat menginterpretasikan isi cerita sesuai dengan imajinasinya yang akhirnya siswa dapat mengungkapkan kembali isi cerita, mengungkapkan hasil pengamatan dengan bahasa yang runtut, sehingga bermakna. Penggunaan gambar cerita merupakan alat bantu (media) agar pembelajaran tidak terkesan monoton dan terjadi bina suasana kelas.

Dengan media ini diharapkan anak terangsang untuk menggunakan daya indera pendengarannya secara maksimal untuk menyimak cerita guru. Setelah anak menyimak cerita guru, daya imajinasi anak akan muncul selaras dengan alur dan tokoh cerita guru, dan akhirnya anak diharap mempunyai kemampuan menceritakan kembali apa yang telah diceritakan oleh gurunya dan juga dapat mengadopsi perilaku positif dari tokoh cerita. Kemampuan anak untuk menceritakan kembali isi cerita merupakan modal dasar anak dalam melatih aspek keterampilan berbicara. Siswa kurang berminat terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya keterampilan berbicara, karena tidak dipergunakannya alat peraga atau gambar yang membuat siswa tertarik untuk mempelajarinya. Siswa juga kurang menguasai keterampilan berbicara dalarn Bahasa Indonesia yang baik dan benar.


7.Menyajikan Informasi

Salah satu bentuk kegiatan penyajian informasi yang sesuai bagi anak-anak kelas 3-6 SD ialah menyampaikan laporan secara lisan. Untuk mengingatkan agar anak-anak menggunakan cara-cara yang efektif dalam menyajikan laporan secara lisan, masalah mereka menceritakan hal-hal yang mereka inginkan dan tidak mereka inginkan dari seorang pembicara. Bentuk kegiatan lain yang untuk melatih penyajian informasi ialah dengan berpidato. Tujuan kegiatan ini untuk menolong anak-anak mengembangkan rasa percaya diri dalam berbicara dengan orang lain, belajar menyusun, dan menyajikan suatu pembicaraan, dan mempelajari cara yang terbaik untuk berbicara di hadapan sejumlah pendengar. Empat langkah dalam menyiapkan dan menyajikan pidato yang seharusnya dikerjakan oleh anak-anak yang belajar berpidato adalah sebagai berikut (Ross and Roe, 1990: 135136).

8.Merencanakan pidato

Tentukan tujuan berpidato, untuk menginformasikan, menghibur, atau mendorong suatu tindakan. Pilihlah topik yang menarik, tidak terlalu sulit dan dapat diceritakan secara ringkas.

9.  Menyusun pidato
Membuat kerangka pidato, menentukan urutan untuk menyajikan hal-hal yang penting, buatlah awal dan akhir pidato yang mengesankan, dan rencanakan penggunaan media visual apabila meyakinkan.

10   Mempraktikan
Praktikan berpidato di depan teman-teman sekelompok atau di depan kelas sebagai latihan.
Menyampaikan pidato di depan pendengar yang sebenarnya. Apabila tidak memungkinkan penyampaian pidato dapat dalam bentuk simulasi dikelas. Anak-anak lain yang menjadi pendengar diamati berperan sebagai pendengar yang sebenarnya, sesuai dengan tujuan pidato tersebut.

11. Berpartisipasi Dalam Diskusi

Diskusi memberikan kesempatan kepada murid untuk berinteraksi dengan murid-murid laindan guru, mengekspresikan pikiran secara lengkap, mengajukan berbagai pendapat, dan mempertimbangkan perubahan pendapat apabila berhadapan dengan bukti-bukti yang meyakinkan atau tangapan yang masuk akal yang dikemukakan oleh peserta diskusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskusi merupakan strategi yang membuat murid-murid lebih bergairah dalam proses pembelajaran (Alverman, dkk, lewar ross and Roe, 1990: 138). Diskusi kelompok, merupakan teknik yang paling sering digunakan sebagai teknik pengembangan bahasa lisan yang menuntut kemampuan murid untuk membuat generalisasi dan mengajukan pendapat-pendapat mengenai suatu topik atau permasalahan.Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka, murid-murid mengungkapkan gagasan dan berbagi informasi dengan mendeskripsikan keputusan, dan mengajukan pemecahan masalah. Selama berpartisipasi dalam diskusi, murid-murid kurang bergantung pada jawaban benar dari guru, tetapi mencermati gagasan mereka sendiri dan gagasan teman-teman mereka. Diskusi untuk memecahkan masalah akan berhasil dengan baik apabila guru dan murid-murid bersama-sama merumuskan masalah-masalah yang akan di diskusikan. Guru dapat mengontrol pelaksanaan diskusi dengan memfokuskan perhatian pada ketertarikan murid pada topic yang didiskusikan. Apabila pelaksanaan diskusi menyimpang dari topic, guru dapat mengarahkan engan mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan topic diskusi.9. Menghibur (menyajikan pertanyaan)

Kadang-kadang murid-murid dapat menyajikan pertunjukan untuk teman atau teman sekelas, teman-teman dari kelas lain, orang tua dan angota masyarakat di sekitar gedung sekolah. Siswa dapat menyatakan keingintahuannya dengan bertanya. Tingkat atau ragam pertanyaan yang sistematis siswa dapat menemukan apa yang diinginkannya.

11. Sandiwara boneka
Pertunjukan sandiwara boneka memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk berbagai gagasan dan cerita lewat percakapan, disertai dengan gerakan boneka. Di dalam kelas anak-anak dapat menggunakan boneka dengan dua cara. Mereka menemukan (mencari) cerita yang sesuai dengan boneka-boneka yang sudah sesuai tersedia, atau mereka dapat membuat beberapa boneka kemudian mengarang cerita yang sesuai. Cerita yang baik untuk sandiwara boneka adalah yang dialognya terasa hidup dan sederhana, yang alur ceritanya bergerak cepat (tidak berputar-putar). Agar dapat memainnkan sandiwara boneka dengan baik, anak-anak perlu berlatih mengucapkan dialog atau monolog dan menggerakkan tangan. Anak-anak harus berbicara seolah-olah menjadi pelaku yang sebenarnya. Misalnya dalam cerita kancil dan gajah, kancil berbicara dengan suara tinggi dan cepat, sedangkan gajah dengan suara rendah dan mantap. Ucapan anak-anak harus benar dan jelas agar dapat ditangkap dengan baik oleh pendengar. Boneka dapat dibeli atau dibuat sendiri oleh anak-anak. Tentu saja guru perlu memberikan bimbingan dan menyediakan bahan yang diperlukan, atau meminta anak-anak memebawa sebagian bahan tersebut seperti jarum, benang, kertas, pensil, lem, pita atau kain perca.

12.Bercerita atau membaca puisi secara Kor

Melalui kegiatan bercerita atau membaca puisi secara kor, anak-anak dapat mengekspresikan karya sastra. Mereka dapat merasakan keindahan karya sastra lewat ritme, rima, aliterasi, dan suasana batin yang diungkapkan. Beberapa cerita rakyat dapat digunakan untuk kegiatan ini, tetapi yang paling mudah digunakan untuk kegiatan ini adalah puisi. Cerita atau puisi yang digunakan harus menarik bagi anak-anak, yang mudah dipahami secara lisan, dan yang mudah dihafalkan. Mereka perlu mendengarkan cerita atau puisi yang akan dibaca secara kor itu berulang-ulang agar dapat menafsirkan isinya. Mereka harus dapat menangkap perasaan batin yang terkandung didalam cerita atau puisi tersebut, mungkin bersifat humor, menyedihkan, misterius dan mereka mengetahui perhentian serta mengetahui kata-kata yang harus diberi tekanan. Tujuan utama bercerita dan membaca puisi secara kor adalah untuk memperoleh kesenangan. Oleh karena itu guru hendaknya tidak mengharapkan penampilan yang benar-benar bagus, tetapi ia harus menolong murid-murid belajar menafsirkan karya satra secara lisan untuk memproleh kesenangan. Norton (lewat Ross dan Roe, 1990: 143) menyajikan lima bentuk bercerita atu membaca puisi secara lisan seperti tertera di bawah ini. Refren. Guru atau murid yang mampu melakukan dengan baik menyajikan bagian utama ceritya atu puisi, kemudian anak-anak yang lain menirukan bersama-sama. Contoh: Satu baris per anak atau satu baris perkelompok. Seorang anak atau suatu kelompok mulai membacakan baris pertama, anak atau kelompok yang lain membacakan baris berikutnya. Demikian seterusnya sampai cerita atau puisi terbaca selurhnya. Contoh: Antifonal atau dialog. Setiap bagian dibaca oleh kelompok yang berbeda, seperti anak-anak laki-laki dan perempuan, suara tinggi dan suara rendah, atau anak-anak yang duduk di sebelah kanan dan yang duduk di sebelah kiri. Komulatif. Kelompok I membacakan bagian awal cerita atau bait pertama puisi , kemudian kelompok II bergabung pada bagian tengah cerita atau bait kedua puisi. Demikian seterusnya sampai semua kelompok berpartisipasi. Contoh : serentak. Semua anak di kelas membacakan cerita atau puisi bersama-sama.

13.Bermain Drama

Bentuk lain apresiasi sastra secara lisan ialah membacakan naskah drama atau bermain drama. Diantara anak-anak yang berperan sebagai narrator, yakni yang membacakan diskripsi cerita. Anak-anak yang lain memerankan semua pelaku cerita yang ditentukan. Dalam memilih naskah drama yang memiliki perwatakan yang kuat dan menggunakan gaya penyajian yang lembut. Anak-anak harus dapat memahami karakter pelaku yang akan dierankannya sehingga dapat memerankannya dengan baik. Dalam membacakan atau memerankan drama, setiap anak harus dapat membayakan latar dan tindakan pelaku dan dapat menggunakan suara sesuai dengan pemahamannya terhadap perasaan dan pikiran pelaku tersebut. Dengan kegiatan ini para murid dapat menunjukkan sebag dalam menerjemahkan tulisan kedalam bahasa lisan yang ekspresif sebagai ungkapan perasaan dan pikiran. Disamping yng telah diutarakan di atas, pengemb ngn kemampuan bhasa lisan juga dapat berbentuk curah pendapat, dan percakapan. Curah pendapat digunakan untuk merangsang kemampuan berfikir dan berekspresi secara lisan. Guru perlu menyampaikan aturan-aturan sederhana dalam melakukan curah pendapat, sebagi berikut:
a) Berpikir untuk mengungkapkan gagasan sebanyak mungkin yang berhubungan dengan topic.
b) Dengarkan yang dikatakan teman-temanmu, kemudian kembangkan gagasan mereka.
c) Pikirkanlah gagasan-gagasan yang asli dan belum dikemukakan orang lain.
d) Kemudian satu gagasan setiap kali berbicara.
e) Jangan mengkritik gagasan seseorang.

14. Wawancara

Wawancara dapat digunakan oleh murid untuk memproleh informasi yang berhubungan dengan suatu tugas tertentu. Melakukan wawancara membutuhkan keterampilan berbicara dan menyimak. Hal ini dapat dilakukan dengan baik apabila murid-murid mengikuti langkah-langkah sesui dengan rencana. Langkah pertama adalah tujuan mewawancarai seseorang, seperti memperoleh informasi untuk majalah dinding, mengumpulkan bahan mengenai cara hidup pada zaman dulu, atau untuk mempelajari tanggung jawab dalam pekerjaan-pekerjaan yang berbedaagar dapat memilih pekerjaan. Langkah berikutnya ialah menyusun daftar pertanyaan terbuka (yang tidak dapat dijawab dengan ya atau tidak saja), kemudian membuat perjanjian dengan orang yang akan diwawancarai mengenai waktu yang tepat untuk pelaksanaan wawancara. Sebelum melakukan wawancara, anak-anak daptberlatih dengan mewawancarai temannya.

15.Bercakap-cakap

Bercakap-cakap adalah berbicara secara alami antara dua atau lebih pembicara. Bercakap-cakap merupakan bentuk ekspresi lisan yang paling alami dan bersifat tidak resmi, tetapi anak-anak kurang mendapat kesempatan untuk melakukan percakapan khususnya percakapan dalam bahasa Indonesia bagi anak-anak yang berbahasa ibu bahasa daerah, selama berada di sekolah. Oleh sebab itu, sebaiknya tersedia tempat bercakap-cakap dengan tempat duduk yang nyaman (anak-anak duduk di karpet atau tikar). Anak-anak bercakap-cakap dalam kelompok-kelompok kecil selama waktu tertentu. Untuk melatih siswa mau dan mampu berbicara, guru bersama siswa dapat merencanakan materi percakapan. kegiatan ini dapat dilakukan di luar waktu belajar.

16. Laporan Lisan

Siswa dilatih menyusun laporan sederhana yang menyangkut yang menyangkut topic atau tema mata pelajaran. Laporan dapat beruberupa isi buku, hasil percobaan, hasil pengamatan, ataupun isi cerita.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top