Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Tuesday, June 3, 2014

Hakikat Berbicara | Perbedaan Ragam Lisan dan Ragam Tulis.

A. Keterampilan Berbicara
Pada bagian ini Anda mendapatkan teori tentang (1) hakikat berbicara, (2) perbedaan ragam lisan dan ragam tulis, (3) hubungan berbicara dengan keterampilan bahasa yang lain, (4) bentuk-bentuk berbicara, dan (5) pengajaran berbicara. Bacalah dengan seksama, agar Anda dapat memahami isinya. Setelah selesai, cobalah Anda membuat rangkuman.

1. Hakikat Berbicara

Berbicara secara umum dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain. (Depdikbud, 19843/1985:7). Pengertiannya secara khusus banyak dikemukakan oleh para pakar. Tarigan (1983:15), misalnya, mengemukakan berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan.
Berbicara pada hakikatnya merupakan suatu proses berkomunikasi sebab didalamnya terjadi pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain. Proses komunikasi itu dapat digambarkan pemindahan pesan dari suatu sumber ke tempat lain. Dalam proses komunikasi terjadi pemindahan pesan dari komunikator (pembicara) kepada komunikan (pendengar). Komunikator adalah seseorang yang memiliki pesan. Pesan yang akan disampaikan kepada komunikan lebih dahulu diubah ke dalam simbel yang dipahami oleh kedua belah pihak. Simbel tersebut memerlukan saluran agar dapat dipindahkan kepada komunikan.
Bahasa lisan adalah alat komunikasi berupa simbol yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Saluran untuk memindahkan adalah udara. Selanjutnya simbol yang disalurkan lewat udara diterima oleh komunikan. Karena simbol yang disampaikan itu dipahami oleh komunikan, komunikan dapat memahami pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Tahap selanjutnya, komunikan memberikan umpan balik kepada komunikator. Umpan balik adalah reaksi yang timbul setelah komunikan memahami pesan. Reaksi dapat berupa jawaban atau tindakan. Dengan demikian, komunikasi yang berhasil ditandai oleh adanya interaksi antara komunikator dengan komunikan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa peristiwa komunikasi dapat berlangsung apabila dipenuh sejumlah persyaratan berikut:
(1) Komunikator à orang yang menyampaikan pesan
(2) Pesan à isi pembicaraan
(3) komunikan à orang yang menerima pesan
(4) Media à bahasa lisan
(5) Sarana à waktu, tempat, suasana, peralatan yang digunakan dalam penyampaian pesan.
(6) interaksi à searah, dua arah, atau multiarah.
Berbicara sebagai salah satu bentuk komunikasi akan mudah dipahami dengan cara membandingkan diagram komunikasi dengan diagram peristiwa berbahasa. Berbicara merupakan bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik. Pada saat berbicara seseorang memanfaatkan faktor fisik yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. Bahkan organ tubuh yang lain seperti kepala, tangan, dan roman mukapun dimanfaatkan dalam berbicara. Faktor psikologis memberikan andil yang cukup besar terhadap kelancaran berbicara. Stabilitas emosi, misalnya, tidak saja berpengaruh terhadap kualitas suara yang dihasilkan oleh alat ucap tetapi juga berpengaruh terhadap keruntutan bahan pembicaran. Berbicara tidak terlepas dari faktor neurologis yaitu jaringan syaraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga, dan organ tubuh lain yang ikut dalam aktivitas berbicara. Demikian pula faktor semantik yang berhubungan dengan makan, dan faktor liguistik yang berkaitan dengan struktur bahasa selalu berperan dalam kegiatan berbicara. Bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap dan kata-kata harus disusun menurut aturan tertentu agar bermakna.
Berbicara merupakan tuntutan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial (homo homine socius) agar mereka dapat berkomunikasi dengan sesamanya Stewart dan Kenner Zimmer (Depdikbud, 1984/85:8) memandang kebutuhan akan komunikasi yang efektif dianggap sebagai suatu yang esensial untuk mencapai keberhasilan dalam setiap individu, baik aktivitas individu maupun kelompok. Kemampuan berbicara yang baik sangat dibutuhkan dalam berbagai jabatan pemerintahan, swasta, juga pendidikan. Seorang pemimpin, misalnya, perlu menguasai keterampilan berbicara agar dapat menggerakkan masyarakat untuk berpartisipasi terhadap program pembangunan. Seorang pedagang perlu menguasai keterampilan berbicara agar dapat meyakinkan dan membujuk calon pembeli. Demikian halnya pendidik, mereka dituntut menguasai keterampilan berbicara agar dapat menyampaikan informasi dengan baik kepada anak didiknya.

2. Perbedaan Ragam Lisan dan Ragam Tulis.

Bahasa ragam lisan agak berbeda dengan ragam tulis. Ragam lisan atau ragam ajaran dimiliki oleh masyarakat bahasa, sedangkan ragam tulis yang lahir kemudian tidak harus dimiliki oleh masyarakat bahasa. Bahasa Melayu sebagai akar bahasa Indonesia semula cenderung digunakan secara lisan. Namun, dalam perkembangannya beberapa macam huruf digunakan untuk menuliskan bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya digunakan huruf dewa Nagari untuk menuliskan bahasa Melayu Kuno, sedangkan pada masa kejayaan Malaka digunakan huruf Arab-Melayu (huruf pegon atau huruf Jawi). Pada perkembangan berikutnya, bahasa Melayu menggunakan huruf Latin, terutama semenjak diberlakukannya ejaan van Ophuysen tahun 1901. Setelah bahasa Melayu diresmikan menjadi bahasa nasional dengan nama bahasa Indonesia digunakan ejaan yang tulisannya mengacu pada huruf Latin.
Perbedaan antara ragam lisan dan ragam tulis ada dua macam. Pertama, berhubungan dengan peristiwanya. Jika digunakan ragam tulis partisipan tidak saling berhadapan. Akibatnya, bahasa yang digunakan harus lebih terang dan lebih jelas sebab berbagai sarana pendukung yang digunakan dalam bahasa lisan seperti isyarat, pandangan dan anggukan, tidak dapat digunakan. Itulah sebabnya mengapa ragam tulis harus lebih cermat. Pada ragam tulis fungsi subjek, predikat, dan objek serta hubungan antar fungsi itu harus nyata. Pada ragam lisan partisipan pada umumnya bersemuka sehingga kelengkapan fungsi-fungsi itu kadang terabaikan. Meskipun demikian, mereka dapat saling memahami maksud yang dikemukakan karena dibantu dengan unsur paralinguistik.
Orang yang halus rasa bahasanya sadar bahwa kalimat ragam tulis berkaitan dengan kalimat ragam ajaran. Oleh karena itu, sepatutnya mereka berhati-hati dan berusaha agar kalimat yang dituliskan ringkas dan lengkap. Bentuk akhir ragam tulis tidak jarang merupakan hasil dari beberapa kali penyuntingan. Hal ini akan berbeda dengan kalimat ragam lisan yang kadang kala kurang terstruktur, karena sifatnya yang spontanitas.
Hal kedua yang membedakan ragam lisan dan tulis berkaitan dengan beberapa upaya yang digunakan dalam ajaran, misalnya tinggi rendah, panjang pendek, dan intonasi kalimat. Semua itu tidak terlambang dalam tata tulis maupun ejaan. Dengan demikian, penulis acap kali perlu merumuskan kembali kalimatnya jika ingin menyampaikan jangkauan makna yang sama lengkapnya atau ungkapan perasaan yang sama telitinya dengan ragam lisan. Dalam ragam lisan, penutur dapat memberikan tekanan atau memberikan jeda pada bagian tertentu agar maksud ajarannya lebih mudah dipahami.
3. Hubungan Berbicara dengan Keterampilan Bahasa yang lain.
Berbicara sebagai keterampilan berbahasa berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Kemampuan berbicara berkembang pada kehidupan anak apabila didahului oleh keterampilan menyimak. Keterampilan berbicara memanfaatkan kosakata yang pada umumnya diperoleh anak melalui kegiatan menyimak dan membaca. Materi pembicaraan banyak yang diangkat dari hasil menyimak dan berbicara. Demikian pula sering terjadi keterampilan berbicara dibantu dengan keterampilan menulis, baik dalam bentuk pembuatan out line maupun naskah.
Secara garis besar hubungan ini dapat dikemukakan berikut ini.
a. Berbicara dan menyimak merupakan keterampilan berbahasa yang bersifat langsung dan resiprokal.
b. Berbicara dipelajari melalui keterampilan menyimak.
c. Peningkatan keterampilan menyimak akan meningkatkan keterampilan berbicara.
d. Bunyi dan suara merupakan faktor penting dalam keterampilan berbicara dan menyimak.
e. Berbicara diperoleh sebelum pemerolehan keterampilan membaca.
f. Pembelajaran keterampilan membaca pada tingkat lanjut akan membantu keterampilan berbicara.
g. Keterampilan berbicara diperoleh sebelum pembelajaran keterampilan menulis.
h. Berbicara cenderung kurang terstruktur dibandingkan dengan menulis.
i. Pembuatan catatan, bagan, dan sejenisnya dapat membntu keterampilan berbicara.
j. Performasi menulis dan berbicara berbeda, meskipun keduanya sama-sama bersifat produktif.
4. Bentuk-bentuk Berbicara.
Wilayah berbicara biasanya dibagi menjadi dua bidang, yaitu (1) berbicara terapan atau fungsional (the speech art), dan (2) pengetahuan dasar berbicara (the speech science). Dengan kata lain, berbicara dapat ditinjau seni dan sebagai ilmu. Berbicara sebagai seni menekankan penerapannya sebagai alat komunikasi dalam masyarakat, dan yang menjadi perhatiannya diantaranya (1) berbicara di muka umum, (2) diskusi kelompok, (3) debat, sedangkan berbicara sebagai ilmu menelaah hal-hal yang berkaitan dengan (1) mekanisme berbicara dan mendengar, (2) latihan dasar tentang ujaran dan suara, (3) bunyi-bunyi bahasa, dan (4) patologi ujaran.
Pengetahuan tentang ilmu atau teori berbicara sangat menunjang kemahiran serta keberhasilan seni dan praktik berbicara. Untuk itulah diperlukan pendidikan berbicar (speech education). Konsep-konsep dasar pendidikan berbicara mencakup tiga kategori., yaitu (1) hal-hal yang berkenaan dengan hakikat atau sifat-sifat dasar ujaran, (2) hal-hal yang berhubungan dengan proses intelektual yang diperlukan untuk mengembangkan kemampuan berbicara, dan (3) hal-hal yang memudahkan seseorang untuk mencapai keterampilan berbicara.
Penekanan berbicara sebagai seni atau berbicara fungsional berarti membahas berbagai model praktik berbicara. Dalam hal ini, berbicara secara garis besar dapat dibagi atas (1) berbicara di muka umum atau public speaking, yang mencakup pada konferensi atau conference speaking, yang meliputi diskusi kelompok, prosedur parlementer, dan debat.
Selain itu, berbicara dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa aspek, diantaranya (1) arah pembicaraan, (2) tujuan pembicaraan, dan (3) suasana. Pengelompokan berdasarkan arah pembicaran dihasilkan berbicara satu arah (pidato dan ceramah), dan berbicara dua/multi arah (konversasi, diskusi). Berdasarkan aspek tujuan, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam berbicara persuasi, argumentasi, agitasi, instruksional dan rekretif. Sementara itu, berdasarkan suasana dan sifatnya, berbicara dapat dikelompokkan ke dalam berbicara formal dan nonformal.
5. Pengajaran Berbicara.
Berbicara sebagai salah satu unsur kemampuan berbahasa sering dianggap sebagai suatu kegiatan yang berdiri sendiri. Hal ini dibuktikan dari kegiatan pengajaran berbicara yang selama ini dilakukan. Dalam praktiknya, pengajaran berbicara dilakukan dengan menyuruh murid berdiri di depan kelas untuk berbicara, misalnya bercerita atau berpidato. Siswa yang lain diminta mendengarkan dan tidak mengganggu. Akibatnya, pengajaran berbicara di sekolah-sekolah itu kurang menarik. Siswa yang mendapat giliran merasa tertekan sebab di samping siswa itu harus mempersiapkan bahan sering kali guru melontarkan kritik yang berlebih-lebihan. Sementara itu, siswa yang lain merasa kurang terikat pada kegiatan itu kecuali ketika mereka mendapatkan giliran.
Agar seluruh anggota kelas dapat terlibat dalam kegiatan pengajaran berbicara, hendaklah selalu diingat bahwa hakikatnya berbicara itu berhubungan dengan kegiatan berbahasa yang lain, seperti menyimak, membaca, dan menulis, serta berkaitan dengan pokok-pokok pembicaraaan. Dengan demikian, sebaiknya pengajaran berbicara mempunyai aspek komuniksi dua arah dan fungsional.
Pendengar selain berkewajiban menyimak ia berhak untuk memberikan umpan balik. Sementara itu, pokok persoalan yang menjadi bahan pembicaraan harus dipilih hal-hal yang benar-benar diperlukan oleh partisipan. Tugas pengajar adalah mengembangkan pengajaran berbicara agar aktivitas kelas dinamis, hidup, dan diminati oleh anak sehingga benar-benar dapt dirasakan sebagai sesuatu kebutuhan untuk mempersiapkan diri terjun ke masyarakat. Untuk mencapai hal itu, dalam pengajaran berbicara harus diperhatikan beberapa faktor, misalnya pembicara, pendengar, dan pokok pembicaraan.
Pembicara yang baik memberikan kesan kepada pendengar bahwa orang itu menguasai masalah, memiliki keberanian dan kegairahan. Penguasaan masalah akan terlibat pada kedalaman isi dan keruntutan penyajian. Sementara itu, keberanian dan kegairahan akan terlihat pada penampilan, kualitas suara, dan humor yang ditampilkan. Pembicara yang baik perlu didukung oleh pendengar yang baik, yaitu pendengar yang memiliki sifat kritis, dan responsif. Pendengar yang demikian itu pada umumnya bersedia memahami dan menanggapi pokok pembicaran secara kritis. Dengan demikian, akan terjadi interaksi timbal balik antara pembicara dengan pendengar sehingga tercipta pembicaran yang hidup.
Topik pembicaraan juga sangat menentukan berhasil tidaknya suatu kegiatan berbicara. Topik pembicaraan dinilai baik apabila menarik bagi pembicara dan pendengar, misalnya aktual dan relevan dengan kepentingan partisipan. Agar topik pembicaraan itu mudah dipahami perlu disusun naskah secara sistematis, misalnya sesuai dengan urutan waktu, tempat dan sebab akibat.
Kegiatan berbicara acap kali ditopang dengan persiapan tertulis, baik berupa referensi yang harus dibaca maupun konsep yang akan disampaikan. Pokok pembicaraan itu ada baiknya dipersiapkan dalam bentuk tertulis, misalnya berupa naskah lengkap atau out line. Para penyimak ada kalanya juga memerlukan kegiatan tulis-menulis, terutama untuk membuat catatan atau ringkasan dari apa yang didengarnya. Dengan demikian, keterpaduan keempat keterampilan berbahasa dalam pengajaran berbicara harus diwujudkan secara alami seperti halnya yang terjdi di tengah masyarakat.
Di samping itu, pengajaran berbicara perlu memperhatikan dua faktor yang mendukung ke arah tercapainya pembicaraan yang efektif, yaitu faktor kebahasan dan non kebahasan. Faktor kebahasan yang perlu diperhatikan ialah (1) pelafalan bunyi bahasa (2) penggunaan informasi, (3) pemilihan kata dan ungkapan, (4) penyusunan kalimat dan paragraf. Sementara itu, faktor non kebahasan yang mendukung keefektifan berbicara ialah (1) ketenangan dan kegairahan, (2) keterbukaan, (3) keintiman, (4) isyarat nonverbal, dan (5) topik pembicaraan.
B. Bercerita, Berdialog, Berpidato/Berceramah, Berdiskusi.
Berikut ini secara berurutan akan Anda pelajari (1) bercerita, (2) berdialog, (3) berpidato, dan (4) diskusi. Agar keterampilan berbicara ini dapat dikuasai dengan baik. Anda diminta untuk mempraktikkannya.
1. Bercerita
a. Bercerita dapat diartikan menuturkan sesuatu hal misalnya terjadinya sesuatu, perbuatan, dan kejadian baik yang sesungguhnya maupun yang rekaan.
b. Sejak zaman dahulu leluhur kita mempunyai kebiasaan bercerita secara lisan. Tukang cerita dan pelipur lara mendapat tempat terhormat di hati masyarakat. Sayang budaya baca tulis yang masuk ke Indonesia bersama-sama dengan masuknya peradaban modern telah menggeser kedudukannya.
c. Meskipun demikian, orang yang mahir bercerita tetap diperlukan. Guru atau orang tua yang mahir bercerita akan disenangi oleh anak didik anak-anak. Melalui cerita dapat pula dijalin hubungan yang akrab dan hangat.
d. Di samping itu, ada tiga manfaat yang dapat dipetik dari bercerita, yaitu (1) memberikan hiburan, (2) mengajarkan kebenaran, dan (30 memberikan keteladanan atau model. Cerita adalah sejenis hiburan yang murah, yang kehadirannya amat diperlukan sebagai bumbu dalam pergaulan.
e. Pertemuan akan terasa kering dan gersang tanpa kehadiran cerita. Kisah-kisah lama pada umumnya memiliki tema hitam putih, artinya kebenaran dan keluhuran budi yang dipertentangkan dengan kebatilan akan selalu dimenangkan. Disitulah pencerita mengajarkn nilai luhur yang bersifat universal, sekaligus menghadirkan tokoh protogonis sebagai model keteladanan.
f. Untuk menjadi pencerita yang baik dibutuhkan persiapan dan latihan. Persyaratan yang perlu diperhatikan, antara lain (1) penguasaan dan penghayatan cerita, (2) penjelasan dengan situasi dan kondisi, (3) pemilihan dan penyusunan kalimat, (4) pengekspresian yang alami, (5) keberanian.
Nadeak (1987) mengemukakan beberapa petunjuk yang berkaitan dengan aspek lisan dan tulisan. Petunjuk tersebut mencakup 18 hal, yaitu (1) memilih cerita yang tepat, (2) mengetahui cerita, (3) merasakan cerita, (4) menguasai kerangka cerita, (5) menyelaraskan cerita, gaya diperlukan, (6) pemilihan pokok cerita yang tepat dan kena, (7) menyelaraskan cerita dan menyarikan, (8) menyelaraskan dan memperluas, (9) menyederhanakan cerita, (10) mengisahkan cerita secara langsung, (11) bercerita dengan tubuh yang alamiah, (12) menentukan tujuan, (13) mengenali tujuan dan klimaks, (14) memfungsikan kata dan percakapan dalam cerita, (15) melukiskan kejadian, (16) menetapkan sudut pandang, (17) menciptakan suasana dan gerak, (18) merangkai adegan.
Kegiatan
Pada bagian ini, berturut-turut Anda diminta untuk melakukan kegiatan berikut ini.
a. Baca kisah Gajah yang congkak
b. Catat dan ingat bagian cerita yang penting, terutama unsur ceritanya.
c. Susun kembali cerita itu dengan kata-kata Anda sendiri.
d. Coba Anda sampaikan cerita itu secara lisan di depan teman-teman
e. Anda sebutkan pula nilai-nilai moral/budi pekerti/pesan yang terdapat dalam cerita.
f. Mintalah tanggapan dan komentar dari teman-teman.

Gajah yang Congkak

Di sebuah hutan belantara hiduplah berbagai jenis binatang. Binatang besar maupun kecil berkumpul dalam keadaan tenteram dan damai. Pada suatu hari, hutan dengan penghuninya yang tenteram dan damai itu dikejutkan oleh suara Gajah. Binatang yang besar lagi kuat itu berkata lantang menyombongkan diri.
“Hai, sekalian binatang penghuni hutan belantara ini! Ketahuilah bahwa akulah binatang paling besar, kuat dan paling unggul di kawasan hutan ini. Lihatlah, badanku besar dan tenagaku luar biasa tak ada binatang lain yang mampu menandingiku. Karenanya, sudah selayaknya aku menobatkan diri sebagai raja rimba ini.”
Tanpa diduga, perkataan si Gajah itu terdengar oleh seekor Kancil yang sedang duduk di bawah pohon yang rindang tidak jauh dari tempat si Gajah.
“Huh…, sobat! Ucapanmu tidak sepenuhnya benar!” ujar si Kancil. “Badanmu memang besar dan tenagamu kuat luar biasa, tapi mampukah engkau mengungguli dalm hal lari cepat?” Jika engkau tak berkeberatan, boleh saja engkau bertanding denganku sekarang !”
Bukan main geramnya hati Gajah mendengar ucapan si Kancil itu. Tapi ia masih dapat mengendalikan amarahnya. Ia tidak langsung menerjang si Kancil. Sebab bila dia melabrak si Kancil, pasti ia akan mendapat malu. Si Kancil tentu akan lari dengan gesitnya sambil mengejeknya.
Selagi mereka berdebat, diam-diam seekor ular mendengarkannya. Kemudian ular berkata kepada si Kancil, “Benar kamu, Cil! Yang bertubuh besar dan bertenaga kuat belum tentu dapat mengalahkan yang bertubuh kecil lagi lemah. Seperti aku ini misalnya, sekali saja aku mematuk …, Gajah pun pasti akan mati oleh keampuhan bisaku!”
Sang Gajah sudah tidak dapat mengendalikan amarahnya lagi. Ucapan Ular dianggapnya sudah amat keterlaluan. Dia merasa tersinggung, dan dipandang remeh oleh si Ular. Dengan geramnya si Gajah lalu mengangkat kakinya hendak menginjak Ular yang tidak jauh dari kakinya. Akan tetapi si Ular waspada dan berkelit sehingga Gajah menginjak tanah kosong. Kemudian dengan cekatan si Ular berbalik dan mematuk kaki si Gajah.
Gajah tidak dapat mengelakkan diri, dan beberapa saat kemudian dirinya merasakan nyeri di kakinya. Sekujur tubuhnya gemetar dan pandangan matanya nanar serta berkunang-kunang. Akhirnya Gajah roboh dan tak berkutik lagi untuk selamanya. Dia mati. Itulah balasan baginya akibat kecongkakannya. Kriteria penilaian dalam bercerita yang perlu Anda perhatikan adalah sebagai berikut.
1. Ketepatan isi cerita
2. Sistematika (jalan) cerita
3. Penggunaan Bahasa:
· pelafalan
· informasi
· pilihan kata
· struktur kata
· struktur kalimat
4. Kelancaran bercerita
2. Berdialog
Dialog atau percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai suatu topik antara dua atau lebih pembicara . Dalam setiap dialog atau percakapan ada dua kegiatan berbahasa yang dilaksanakan secara simultan yakni berbicara dan menyimak. Pertukaran pembicara menjadi penyimak atau dari penyimak menjadi pembicara berlangsung secara wajar, sistematis, dan otomatis.
Dialog atau percakapan yang pesertanya dua orang dapat berwujud dalam berbagai nama, misalnya, bertelepon, bercakap-cakap, tanya-jawab, dan wawancara. Sedang percakapan yang pesertanya lebih dari dua orang dapat berwujud diskusi kelompok kecil. Diskusi panel, kolokium, simposium, dan debat.
Dialog atau percakapan ini akan berjalan baik, lancar, dan mengasyikkan manakala partisipan saling memperhatikan. Sikap take and give, serta saling pengertian perlu dikembangkan. Pokok pembicaraan berkisar pada persoalan yang relevan dengan kepentingan bersama. Ucapan yang menyinggung perasaan serta perilaku menonjolkan diri harus dihindari. Santun dialog perlu dipelihara, dengan menghindari sikap mendikte, ekspresi kekesalan atau kejengkelan, sikap dipelihara, dengan menghindari sikap mendikte, ekspresi kekesalan atau kejengkelan, sikap merendahkan diri yang berlebih-lebihan, dan sikap merasa lebih dari yang lain.
Hal ini perlu mendapatkan perhatian dalam percakapan adalah (1) bagaimana seseorang menarik perhatian, (2) bagaimana cara mulai dan memprakarsai suatu percakapan, (3) bagaimana cara menginterupsi, menyela, memotong pembicaraan, mengoreksi, memperbaiki kesalahan, dan mencari kejelasan, serta (40 bagaimana mengakhiri suatu percakapan. Analisis terhadap praktik dialog yang sesungguhnya akan meningkatkan kesadaran secara sungguh-sungguh.
Bahasa dalam dialog biasanya pendek-pendek, dan kurang terstruktur. Meskipun demikian, pembicaraan dapat dipahami sebab disertai mimik dan pantomimik yang mendukung. Ekspresi wajah, gerakan tangan, anggukan kepala, dan sejenisnya yang termasuk paralinguistik amat penting dalam percakapan.
Dalam pengajaran bahasa di sekolah, terutama di sekolah dasar dialog perlu diberikan agar mereka dapat bergaul di tengah masyarakat. Dalam buku pelajaran dikemukakan beberapa contoh percakapan agar dapat dipraktikkan secara berpasangan seperti (1) melakukan percakapan sederhana tentang pengalaman atau kegiatan sehari-hari; (2) melakukan percakapan tentang peristiwa yang terjadi di lingkungannnya; (3) membaca teks percakapan (dialog) tentang suatu kegiatan dan memerankan di depan kelas; (4) melakukan percakapan berdasarkan gambar/benda-benda di sekitar, bacaan, atau cerita guru.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top