Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Wednesday, February 17, 2016

CONTOH LAPORAN OBSERVASI PENYIMPANGAN TINGKAH LAKU ANAK DI SEKOLAH DASAR



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya, perilaku menyimpang siswa-siswi Sekolah Dasar terjadi karena adanya penyimpangan perilaku dari berbagai aturan-aturan yang berlaku khususnya di sekolah atau lembaga pendidikan lain yang bersangkutan. Perilaku menyimpang dapat dijadikan sebagai sumber masalah karena dapat dianggap membahayakan siswa bersangkutan dalam kaitannya pada proses pembelajaran dan interaksi di lingkungan sekolah.

Siswa Sekolah Dasar umumnya berperilaku atas dasar pengalaman yang telah ia serap sebelumnya. Mereka tidak menggunakan rasio kausalitas, melainkan melakuakan apa yang mereka anggap patut dilakukan karena merupakan pembenaran yang telah mereka anggap benar sebelumnya. Letak ketidaktahuan mereka adalah mereka melakukan perilaku menyimpang karena belum ada teguran atau pembenaran sebelumnya (penyimpangan yang tidak disengaja). Di sinilah peran utama seorang guru, yakni menyampaikan kebenaran atas ketidaktahuan siswa, dan membenarkan atas kekhilafan dan kesalahan siswa.

Namun lain halnya jika seorang siswa telah mengetahui kebenaran tetapi masih tetap melakuakan perilaku yang menyimpang. Karena pada keadaan normal manusia memiliki dorongan untuk menahan diri dari perilaku menyimpang, namun pada situasi tertentu, manusiapun memilIki dorongan untuk melakuakan penyimpangan. Kasus anak yang selalu menyimpang walau telah diingatkan merupakan program tanggung jawab besar guru untuk mengatasinya dengan sungguh-sungguh, dengan cara berusaha merangkul seluruh komponen pendididkan terkait.

1.2 Tujuan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan merujuk pada tujuan-tujuan sebagai berikut:
  1. Mengidentifikasi siswa-siswi Sekolah Dasar yang memiliki perilaku penyimpang.
  2. Mengetahui jenis-jenis perilaku menyimpang di kalangan murid Sekolah Dasar.
  3. Menemukan solusi atau cara mengatasi anak SD yang memiliki perilaku menyimpang.
1.3 Lokasi, Populasi dan Sampel Penelitian
Observasi dilakukan selama satu bulan yakni setiap hari jum’at, tanggal 3,17,24,5 April 2009, bertempat di SDN Sukamulya 3, Desa Sukamulya, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis.

Seluruh murid kelas 5 di SD N Sukamulya 3 merupkan populasi penelitian dengan satu sample penelitian yakni seorang siswa kelas 5 yang diduga memiliki perilaku yang menyimpang. Siswa bersangkutan adalah seorang laki-laki bernama lengkap Peri Irawan.


BAB II
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2.1 Hasil Penelitian
SDN Sukamulya 3 merupakan salah satu Sekolah Dasar yang berada di kabupaten Ciamis tepatnya di desa Sukamulya, kecamatan Baregbeg.

Begitu masuk ruangan kelas, penulis langsung disambut ramah oleh anak-anak kelas 5 serta wali kelas mereka. Meskipun dengan sarana dan prasarana yang kurang memadai, antusiasme belajar mereka patut diacungi jempol. Ada beberapa hal yang sempat penulis peroleh dari kegiatan wawancara yang ditujukan kepada guru wali kelas 5 SDN Sukamulya 3, pak Sumadi yang akrab disebut pak Madi. Berikut petikan hasil wawancara dengan beliau.

Pertanyaan:
Adakah anak peserta didik/siswa-siswi kelas 5 SDN Sukamulya 3 yang memiliki perilaku menyimpang?
Jika ya, apa bentuk perilaku menyimpang tersebut?
Berapa kira-kira jumlah siswa yang memiliki perilaku menyimpang tersebut?
Apa yang menyebabkan siswa melakukian perilaku menyimpang?
Pengertian Perilaku Menyimpang

Menurut Robert M.Z. Lawang, penyimpang perilaku adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang tersebut.

Menurut James W. Van Der Zanden, perilaku menyimpang yaitu perilaku yang bagi sebagian orang dianggap sebagai sesuatu yang tercela dan di luar batas toleransi.

Ada beberapa hal yang perlu di sampaikan dalam pembahasan ini, antara lain yaitu tentang keadaan lingkungan sekolah tempat Peri menuntut ilmu,indikator-indikator penyimpangan prilaku anak, sebab-sebab munculnya penyimpangan karena struktur keluarga, macam-macam /jenis-jenis penyimpangan individual, peran lingkungan keluarga dalam membentuk kepribadian anak,jenis/macam tipe pola asuh orang tua yang baik, peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak.

Macam-macam atau Jenis-jenis penyimpangan individual
1). Bandel atau tidak patuh dan taat perkataan orang tua untuk perbaikan diri sendiri serta tetap melakukan perbuatan yang tidak disukai orangtua dan mungkin anggota keluarga lainnya. 

7. Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak.
--------(2007).macam,jenis,pengertian penyimpangan social individual dan kolektif pelajaran sosiologi IPS.[online] tersedia:http://organisasi.org/macam-jenis-pengertian-penyimpangan-sosial-individual-dan-kolektif-pelajaran-sosiologi-ips[20 November 2008].

Jawaban: Ya, ada
Jawaban: bentuk perilakunya masih dalam batas kewajaran. Misalnya bermain atau bercanda terlalu berlebihan sehingga mengganggu tema yang lain, Mengganggu teman saat belajar, menyontek pekerjaan teman, mengobrol saat guru sedang menerangkan materi, dll.

Jawaban: ada sekitar tiga orang siswa (namun yang penulis jadikan sample hanya satu orang siswa).

Jawaban: lingkungan rumah yang kurang baik, perhatian orang tua yang kurang, dll.

5. Apakah solusi yang bapak anggap tepat untuk menghadapi anak yang berperilaku menyimpang?
Jawaban: melakukan pendekatan kepada anak dan orang tua serta memberikan teguran kepada.

Peri, menurut pengakuan pak Madi, memang siswa yang memiliki karakteristik unik. Unik dalam arti memiliki perilaku yang sedikit berbeda dari teman-temannya atau siswa pada umumnya. Yakni bahwa Peri merupakan salah satu dari tiga siswa yang memiliki perilaku menyimpang. Namun seperti telah disebutkan pada kutipan wawancara di atas, perilaku menyimpang Peri masih dalam batas kewajaran.

Selama ini tidak ada catatan khusus untuk Agi berkaitan dengan perilaku menyimpang yang dilakukannya. Peri hanyalah seorang anak biasa yang mungkin hanya sedikit berlebihan dalam bermain atau bercanda atau mungkin kurang bisa mengontrol dirinya sendiri sehingga ada sebagian temannya merasa terganggu atas sikap berlebihannya itu. Namun memang sejauh ini belum pernah ada masalah yang Peri timbulkan hingga menyakiti atau melukai fisik dirinya sendiri maupun teman-temannya. Tidak pula dengan masalah penyimpagan yang sering kita tengarai, yakni bolos sekolah, Peri tidak demikian. Berkali-kali Pak Madi tekankan bahwa perilakunya tidak berbahaya dan tidak perlu metode ekstra khusus untuk menanganinya.

Berbicara mengenai perilaku menyimpang, pak Madi memang sangat menekankan adanya campur tangan orang tua yang sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak. Walaupun siswanya bukanlah anak yang berperilaku kebablasan dalam melakukan penyimpangan, namun beliau sangat menyarankan agar siswanya tersebut senantiasa mendapat bimbingan tentang adab-adab perilaku yang baik yang harus dilakukan dan hal-hal yang buruk yang harus ditinggalkan,baik bimbingan dari gurunya maupun orang tuanya. Karena sedikit kemungkinan kita mengetaui bagaimana masa depan perilaku seseorang, dan semua pihak tentunya tidak menginginkan Peri memiliki perilaku-perilaku yang tidak diinginkan di masa yang akan datang.

2.2 Pembahasan
!.Kondisi Lingkungan Sekolah
Kondisi lingkungan SDN Sukamulya 3 saat ini belum bisa dikatakan sekolah yang layak untuk dijadikan sebagai tempat belajar mengajar. Karena memang saat ini bangunan sekolahnya sedang mengalami renovasi total. Wajar jika penulis melihat material-material bangunan berserakan di beberapa tempat sekitar bangunan. Renovasi saat ini penulis rasa memang sangat perlu dilakukan mengingat bangunan sekolah SDN Sukamulya 3 ini yang sudah cukup kumuh. Tapi walaupun bangunannya tidak cukup luas dikategorikan sebagai sebuah Sekolah Dasar,jika bangunannya layak pakai, akan cukup ideal menampung murid-murid yang bersekolah di sana.

2.Indikator Penyimpangan
Penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak biasanya tidak terlalu berdampak bagi dirinya sendiri dan lingkungan tempat ia tinggal. Lain halnya dengan penyimpangan yang dilakukan oleh remaja atau orang dewasa. Akan tetapi penyimpangan yang dilakukan oleh anak-anak secara terus-menerus akan mengganggu psikis atau kejiwaan anak tersebut. Dan jika tidak cepat dicegah dan diarahkan maka penyimpangan tersebut akan menjadi kebiasaan anak yang susah dihilangkan.

3. Sebab-sebab munculnya penyimpangan karena struktur keluarga
A. Kekerasan.
Kekerasan dan yang dilakukan orang tua terhadap anaknya sebagai penyebab penyimpangan anak karena dengan kekerasan yang menimpa anak maka ia akan mengalami tekanan-tekanan jiwa.

B. Memanjakan anak
Memanjakan anak khususnya anak tunggal membuat anak jadi celaka. Anak yang terlalu dimanja ia tidak akan mandiri dan berharap orang lain membantunya.

C. Usia orang tua
Orang tua yang sudah berusia lanjut tidak mampu melakukan reaksi yang seharusnya dilakukan untuk anaknya dan mereka tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik sesuai dengan pendidikan anak, akhirnya mereka tidak bisa menghasilkan anak yang bisa hidu dengan baik dan menghormati aturan dan nilai-nilai sosial.

D. Keterbelakangan keluarga
Keluarga yang mandek dan mundur akan menghasilkan anak-anak yang pesimis, tidak bermasyarakat dan pendosa. Keluarga yang tidak berjalan sesuai dengan zamannya dan berharap anak-anaknya hidup dengan cara yang kuno akan menghasilkan anak-anak yang jiwanya tidak cocok dengan masyarakat. Hobbes mengatakan, ‘kebanyakan anak-anak yang kondisinya menderita dan gelisah adalah anak-anak dari keluarga yang terpisah dan asing dari kehidupan sosial’. Menurut Hobbes, ‘Anak dan keluarganya harus aktif dalam masalah-masalah sosial.

E. Yatim
Kematian ayah atau ibu akan membuat anak terlantar dan terbelakang di sekolah dan di masyarakat serta kejahatan dan ketidakstabilan jiwa. Anak yatim akan mendapatkan masalah baru dengan perpindahan rumah dan perkawinan selanjutnya ayah atau ibu dan adanya ibu tiri atau ayah tiri. Sikap ayah atau ibu tiri yang tidak baik terhadap anak kecil akan membuatnya kurang kasih sayang dan pengeluyuran dan keganasan. Anak yang demikian ini tidak akan mampu menerima teladan yang ada dalam lingkungannya dengan teratur.

F. Perceraian dan perselisihan keluarga
Perpecahan keluarga sangat berpengaruh dalam munculnya perilaku anti masyarakat pada diri anak. Berdasarkan penelitian yang ada kebanyakan anak-anak nakal adalah anak-anak yang orang tuanya cerai.

G. Absennya orang tua dari keluarga
Hadirnya orang tua dalam rumah tangga khususnya ibu memiliki peran penting dalam pendidikan baik kasih sayang maupun kejiwaan anak. Tidak adanya kehadiran salah satu kedua orang tua akan menimbulkan masalah pendidikan dan kekacauan jiwa pada anak dan remaja.

H. Penyelewengan orang tua.
Kejahatan kedua orang tua atau salah satu anggota keluarga dan kebejatan akhlak mereka memiliki hubungan kuat dengan penyelewengan anak dan remaja. Keluarga yang terjangkit penyakit kecanduan dan sebaginya tidak saja tidak bisa mendidik anak dengan baik bahkan perbuatan mereka adalah teladan untuk terseretnya anak ke dalam kejahatan macam-macam penyelewengan.

I. Hal buta huruf
Bila keluarga tidak memiliki pengetahuan berkaitan dengan keperluan dan potensi serta kejiwaan anak maka akan merugikan kepribadian dan keselamatan jiwa anak yang tidak bisa diganti dan diperbaiki lagi. Maksud pengetahuan orang tua bukan hanya saja bisa membaca dan menulis bahasanya sendiri akan tetapi rendahnya tingkat budaya dan tidak mengetahui masalah-masalah ilmu dan pendidikan akan membangkitkan kejahatan dan penyelewengan.

J. Tempat tahanan
Menahan anak atau remaja yang baru pertama kali melakukan pelanggaran sosial akan membangkitkan dia untuk berbuat jahat karena pelajaran yang diambil dari penjahat profesional. Oleh karena itu untuk menjaga keselamatan dan pendidikan anak-anak yang demikian ini harus ada pakar-pakar khusus yang menangani mereka sehingga tidak belajar dari para penjahat yang sudah profesional.

K. Diskriminasi di antara anak-anak.
Simpul kata, anak adalah amanat ilahi yang nantinya kedua orang tua tidak akan bisa lepas dari pertanggungjawaban akan amanat yang dipikulnya itu. Kedua orang tua berkewajiban menjaganya, baik dari sisi jasmani maupun rohani dan anak-anak adalah tunas bangsa dan agama. Di samping itu, dengan menyadari bahwa lingkungan keluarga adalah kelompok terkecil sebuah masyarakat, maka kemajuan sebuah bangsa akan turut ditentukan oleh hadirnya lingkungan keluarga yang baik pula. Jika setiap lingkungan terkecil itu rusak maka rusaklah bangsa itu juga.


Penyimpangan individual atau personal adalah suatu perilaku pada seseorang dengan melakukan pelanggaran terhadap suatu norma pada kebudayaan yang telah mapan akibat sikap perilaku yang jahat atau terjadinya gangguan jiwa pada seseorang.

Tingkatan bentuk penyimpangan seseorang pada norma yang berlaku :

2) Tidak mengindahkan perkataan orang-orang disekitarnya yang memiliki wewenang seperti guru, kepala sekolah, ketua rt rw, pemuka agama, pemuka adat, dan lain sebagainya.

3) Melakukan pelanggaran terhadap norma yang berlaku di lingkungannya.

4)Melakukan tindak kejahatan atau kerusuhan dengan tidak peduli terhadap peraturan atau norma yang berlaku secara umum dalam lingkungan bermasyarakat sehingga menimbulkan keresahan. ketidakamanan, ketidaknyamanan atau bahkan merugikan, menyakiti, dll.

5.Peran lingkungan keluarga dalam membentuk kepribadian anak
lingkungan memiliki peran penting dalam mewujudkan kepribadian anak. Khususnya lingkungan keluarga. Kedua orang tua adalah pemain peran ini. Peran lingkungan dalam mewujudkan kepribadian seseorang, baik lingkungan pra kelahiran maupun lingkungan pasca kelahiran adalah masalah yang tidak bisa dipungkiri khususnya lingkungan keluarga. Lingkungan keluarga adalah sebuah basis awal kehidupan bagi setiap manusia. Banyak hadist yang meriwayatkan pentingnya pengaruh keluarga dalam pendidikan anak dalam beberapa masalah seperti masalah aqidah, budaya, norma, emosional dan sebaginya. Keluarga menyiapkan sarana pertumbuhan dan pembentukan kepribadian anak sejak dini. Dengan kata lain kepribadian anak tergantung pada pemikiran dan perlakuan kedua orang tua dan lingkungannya. Rasulullah saw bersabda, “Setiap anak yang dilahirkan berdasarkan fitrah, Kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya dia yahudi atau Nasrani atau majusi”.

Perlu ditekankan bahwa lingkungan tidak seratus persen mempengaruhi manusia, karena Allah menciptakan manusia disertai dengan adanya ikhtiar dan hak pilih. Dengan ikhtiarnya, manusia bisa mengubah nasibnya sendiri. Dalam tulisan ini penulis ingin mencoba mengkaji peran lingkungan keluarga dalam pembentukan pribadiseseorang.Lingkungan adalah sesuatu yang berada di luar batasan-batasan kemampuan dan potensi genetik seseorang dan ia berperan dalam menyiapkan fasilitas-fasilitas atau bahkan menghambat seseorang dari pertumbuhan.

6.Jenis/macam Tipe pola asuh orang tua yang baik

1.Pola asuh permisif
Pola asuh permisif adalah jenis pola mengasuh anak yang cuek terhadap anak jadi apapun yang mau dilakukan anak diperbolehkan saperti tidak sekolah , bandel, melakukan banyak kegiatan maksiat, pergaulan bebas negatif, matrialistis, dan sebagainya.

Biasanya pola pengasuhan anak oleh orang tua semacam ini diakibatkan oleh orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan, kesibukan atau urusan lain yang akhirnya lupa untuk mendidik dan mengasuh anak dengan baik.Dengan begitu anak hanya diberi materi eteu harta sajadan terserah anak itu mau tumbuh dan berkembang sepertai apa.

Anak yang diasuh orangtuanya dengan metode semacam ini nantinya akan berkembang menjadi anak yang kurang perhatian, mersa tidak berarti, rendah diri, nakal, memiliki kemampuan social yang buruk, kontrol diri buruk, salah bergaul, kurang menghargai orang lain, dan lain sebagainya baik ketika kecil maupun sudah dewasa.

2) Pola asuh otoriter
Pola asuh otoriter adalah pola pengasuhan anak yang bersipat pemaksaan, keras dan kaku dimana orang tua akan membuat berbagai aturan yang saklek yang harus dipatuhi oleh anak-anaknya tanpa mau tahu perasaan sang anak.orang tua akan emosi dan marah jika anak melakukan hal yangf tidak sesuai dengan yang diinginkan oleh orang tuanya.

Hukuman mental dan fisik akan sering diterima oleh anak-anak dengan alasan agar anak terus tetap patuh dan disiplin serta menghormati orang tua yang telah membesarkannya.

Anak yang besar dengan teknik asuhan anak seperti inibiasanya tidak bahagia , paranoid, / selalu barada dalam ketakutan, mudah sedih dan tertekan, senang berada di luar rumah ,benci orang tua, dan lain-lain.Namun di balik itu biasanya anak hasil didikan orangtua otoriter lebih bias mandiri, bias menjadi orang sesuai keinginan orang tua, lebih dsiplin dan lebih bertanggungjawab dalam menjalani hidup

3) Pola asuh otoritatif
Pola asuh otoritatif adalah pola asuh orangtua pada anak yang memberi kebebasan pada anak untuk berkreasi dan mengeksplorasi berbagai hal yang sesuai dengan anak dengan sensor batasan dan pengawasan yang baik dari orangtua. Pola asuh ini cocok dan baik diterapkan para orangtua kepadaa anaknya.

Anak yang diasuh dengan teknik asuhan otoritatif akan hidup ceria,menyenangkan, kreatif, cerdas, percaya diri, terbuka pada orang tua, menghargai dan menghormati orang tua, tidak mudah strea dan depresi, berprestasi baik, disukai lingkungan dan masyarakat dan lain-lain.

Peran kedua orang tua dalam mewujudkan kepribadian anak antara lain:
1. Kedua orang tua harus mencintai dan menyayangi anak-anaknya. Ketika anak-anak mendapatkan cinta dan kasih sayang cukup dari kedua orang tuanya, maka pada saat mereka berada di luar rumah dan menghadapi masalah-masalah baru mereka akan bisa menghadapi dan menyelesaikannya dengan baik. Sebaliknya jika kedua orang tua terlalu ikut campur dalam urusan mereka atau mereka memaksakan anak-anaknya untuk menaati mereka, maka perilaku kedua orang tua yang demikian ini akan menjadi penghalang bagi kesempurnaan kepribadian mereka.

2. Kedua orang tua harus menjaga ketenangan lingkungan rumah dan menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak. Karena hal ini akan menyebabkan pertumbuhan potensi dan kreativitas akal anak-anak yang pada akhirnya keinginan dan Kemauan mereka menjadi kuat dan hendaknya mereka diberi hak pilih. 

3. Saling menghormati antara kedua orang tua dan anak-anak. Hormat di sini bukan berarti bersikap sopan secara lahir akan tetapi selain ketegasan kedua orang tua, mereka harus memperhatikan keinginan dan permintaan alami dan fitri anak-anak. Saling menghormati artinya dengan mengurangi kritik dan pembicaraan negatif sekaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka yang terkait dengan diri mereka dan orang lain. Kedua orang tua harus bersikap tegas supaya mereka juga mau menghormati sesamanya.

4. Mewujudkan kepercayaan. Menghargai dan memberikan kepercayaan terhadap anak-anak berarti memberikan penghargaan dan kelayakan terhadap mereka, karena hal ini akan menjadikan mereka maju dan berusaha serta berani dalam bersikap. Kepercayaan anak-anak terhadap dirinya sendiri akan menyebabkan mereka mudah untuk menerima kekurangan dan kesalahan yang ada pada diri mereka. Mereka percaya diri dan yakin dengan kemampuannya sendiri. Dengan membantu orang lain mereka merasa keberadaannya bermanfaat dan penting.

BAB III KESIMPULAN
Penyimpangan perilaku menurut Robert M.Z. Lawang adalah semua tindakan yang menyimpang dari norma yang berlaku dalam sistem sosial dan menimbulkan usaha dari mereka yang berwenang dalam sistem itu untuk memperbaiki perilaku menyimpang tersebut. Menyimpang dari norma berarti memperlihatkan ketidakpatuhan dan pelanggaran terhadap aturan yang barang tentu akan mengakibatkan keburukan dalam tatanan sosial sebuah masyarakat. Jadi merupakan sebuah kewajiban bagi siapapun yang melihat sebuah penyimpangan untuk segera meluruskan atau melaporkannya kepada pihak yang berwenang.

Begitupun dengan penyimpangan yang terjadi pada diri seorang siswa, merupakan sebuah kewajiban bagi guru yang membimbingnya untuk memperbaiki dan mengajaknya kepada perilaku yang terpuji. Peri, walaupun bukan seseorang yang bisa dikatakan benar-benar menyimpang, perilaku berlebihannya di dalam kelas memerlukan perhatian dan bimbingan secara intensif menuju arah perbaikan. Karena kita tidak pernah tahu perilaku menyimpang sekecil apapun akan berakibat seberapa fatal bagi masa depannya kelak. Untuk itu selain peran dari orang tua siswa secara pribadi, sekolah sebagai wadah pendidikan dan pembelajaran sudah sepatutnya dijadikan pijakan dalam membimbing dan mengarahkan manusia menjadi orang-orang berbudi pekerti luhur dan jauh dari perilaku-perilaku menyimpang.

DAFTAR PUSTAKA
Salehlapadi.(2007).Peran Lingkungan Keluarga dalam membentuk kepribadian anak.[online]. 
http://salehlapadi.wordpress.com/2007/02/25/[20 November 2008].
Salehlapadi.(2007).Penyimpangan social apa tugas di hadapan anak-anaknya.[online] tersedia:http://salehlapadi.wordpress.com/2007/03/20/[20 November 2008].
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top