Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Saturday, August 1, 2015

Contoh Makalah Teori Kognitivisme

PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
            Pembelajaran merupakan suatu proses perubahan dalam tingkah laku, dimana perubahan tersebut dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik, tetapi dapat pula mengarah kepada tingkah laku yang buruk.
Dalam proses pembelajaran terdapat beberapa teori salah satunya teori pembelajaran kognitivisme yang merupakan suatu perangkat dan suatu proses yang di dalamnya terdapat asosiasi dan interalasi antara berbagai pengalaman yang kemudian membentuk pola-pola pengertian atau pengetahuan yang teroganisir di dalam diri kita, Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada.

1.2 Tujuan
            Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.    Untuk  mengetahui bagaimana konsep belajar kognitivisme.
2.    Untuk lebih mengenal karakteristik teori belajar kognitivisme.
3.    Untuk mengetahui perkembangan model kognitivisme.

1.3  Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam menyusun makalah ini adalah metode pustaka, yaitu mencari dari buku sumber yang membahas tentang Asas- asas pokok Pendidikan

BAB II
PEMBAHASAN

Model kognitif mulai berkembang pada abad terakhir sebagai protes terhadap teori perilaku yang yang telah berkembang sebelumnya. Model kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses infromasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisir, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada bagaimana informasi diproses

2.2 Teori Perkembangan Kognitif ( Jean Piaget )
Perkembangan kognitif merupakan salah satu aspek perkembangan mental yang bertujuan untuk :
  1. Memisahkan kenyataan yang sebenarnya dengan berfantasi
  2. Menjelajah kenyataan dan menemukan hokum-hukumnya
  3. Memilih kenyataan-kenyataan yang serbaguna bagi kehidupan
  4. Menentukan kenyataan yang sesungguhnya dibalik sesuatu yang nampak
Menurut Jean piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana kemajuan individu melalui satu rangkaian yang secara kualitatif berbeda dalam berfikir. Paget memandang bahwa kognitif merupakan hasil dari pembentukan adaptasi biologis yang terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dan lingkungannya dan terjadi dua proses yaitu organisasi dan adaptasi. Organisasi adalah proses penataan segala sesuatu yang ada dilingkungan sehingga dikenal oleh individu. Dan adaptasi adalah proses terjadinya penyesuaian antara individu dengan lingkungan, yang terjadi dalam dua bentuk yaitu asimilasi (proses menerima dan mengubah apa yang diterima dari lingkungan) dan akomodasi (proses individu mengubah dirinya agar berkesesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya). Disamping itu interaksi dengan lingkungan dikendalikan oleh adanya prinsip keseimbangan yaitu upaya individu agar memperoleh keadaan seimbang antara keadaan dirinya dengan tuntutan yang datang dari lingkungan.

2.3 Masa Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif merupakan pertumbuhan berfikir logis dari masa bayi hingga dewasa, yang berlangsung melalui empat peringkat yaitu :
1. Peringkat sensori-motor ( 0-1,5 tahun )
            Aktivitas kognitif pusat aspek alat dria (sensori) dan gerak (motor). Artinya, dalam peringkat ini anak hanya mampu melakukan pengenalan lingkungan dengan melalui alat drianya dan pergerakannya. Keadaan ini merupakan dasar bagi perkembangan kognitif selanjutnya. Aktivitas sensori motor, terbentuk melalui proses penyesuaian struktur fisik sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan.
2. Peringkat Pre-operational ( 1,5-6 tahun )
Tahap ini anak telah menunjukan aktivitas kognitif dalam menghadapi berbagai hal diluar dirinya. Aktivitas berfikirnya belum mempunyai system yang teroganisasikan. Cara berfikir anak pada peringkat ini ditandai dengan cirri-ciri :
  1. Transduktif reosaning, yaitu cara berfikir tidak logis
  2. Ketidak jelasan hubungan sebab akibat
  3. Animism, yaitu menganggap semua benda-benda hidup seperti dirinya
  4. Artificialism, yaitu kepercayaan bahwa segala sesuatu dilingkungan mempunyai jiwa seperti manusia
  5. Perceptually bound, yaitu anak menilai sesuatu berdasarkan apa yang ia lihat atau dengar
  6. Mental experiment, yaitu anak mencoba melakukan sesuatu untuk menemukan jawaban dari persoalan yang dihadapinya
  7. Centration, yaitu anak memusatkan perhatiannya kepada suatu cirri yang paling menarik dan mengabaikan ciri yang lainnya
  8. Egosentrism, yaitu anak melihat dunia lingkungannya menurut kehendaknya sendiri
3. Peringkat concrete operational ( 6-12 tahun )
Dalam tahap ini anak telah dapat membuat pemikiran tentang situasi atau hal konkrit secara logis. Terdapat 3 konsep dalam peringkat ini yaitu :
  1. Konsep klasifikasi, ialah kecakapan anak untuk melihat secara logis persamaan-persamaan suatu kelompok objek dan memilihnya berdasarkan cirri-ciri yang sama
  2. Konsep hubungan, yaitu kematangan anak memahami hubungan antara suatu perkara dengan perkara lainnya
  3. Konsep kuantitas, yaitu kesadaran anak bahwa suatu kuantitas akan tetap sama meskipun bentuk fisiknya berubah asalkan tidak ditambahkan atau dikurangi
4. Peringkat formal operational ( 12 tahun keatas )
Dalam tahap ini perkembangan kognitif ditandai dengan kemampuan individu untuk berfikir secara hipotesis dan berbeda dengan fakta, memahami konsep abstrak, dan mempertimbangkan kemungkinan cakupan yang luas dari perkara yang sempit. Perkembangan kognitif pada peringkat ini merupakan cirri perkembangan remaja dan dewasa yang menuju kearah proses berfikir dalam peringkat yang lebih tinggi yang sangat diperlukan dalam pemecahan masalah.
Proses pembelajaran akan berhasil apabila disesuaikan dengan perkembangan kognitif siswa. Siswa hendaknya banyak diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya, dan dibantu oleh pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan pada siswa agar mau berinteraksi dengan lingkungan dan secara aktif mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.

Implikasi teori perkembangan kognitif Page dalam pengajaran antara lain :
  1. Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh krena itu, Guru hendaknya menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak
  2. Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu agar anak dapat berinteraksi dengan lingkungan dengan sebaik-baiknya
  3. Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing
  4. Beri peluang agar anak belajar sesuai dengan peringkat perkembangannya
  5. Didalam kelas anak-anak hendaknya banyak diberi peluang untuk saling berbicara dengan teman-temannya dan saling berinteraksi

2.4 Teori Perkembangan Model Kognitivisme
Berpijak pada teori belajar seperti dijelaskan di atas, maka dalam pengembangan model pembelajaran harus selaras dengan teori belajar yang dianut. Dengan kata lain, apabila kita menganut kognitivisme, model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model pembelajaran yang mengarah pada proses pengolahan informasi.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Setelah memperhatikan uraian diatas, maka kami dapat menyimpulkan sebagai berikut:
  1. perkembangan kognitif merupakan suatu proses dimana kemajuan individu melalui satu rangkaian yang secara kualitatif.
  2. kognitif merupakan hasil dari pembentukan adaptasi biologis yang terbentuk melalui interaksi yang konstan antara individu dan lingkungannya dan terjadi dua proses yaitu organisasi dan adaptasi
  3. Organisasi adalah proses penataan segala sesuatu yang ada dilingkungan sehingga dikenal oleh individu.
  4. adaptasi adalah proses terjadinya penyesuaian antara individu dengan lingkungan, yang terjadi dalam dua bentuk yaitu asimilasi (proses menerima dan mengubah apa yang diterima dari lingkungan) dan akomodasi (proses individu mengubah dirinya agar berkesesuaian dengan apa yang diterima dari lingkungannya).
3.2 Saran
Setelah Penulis menguraikan masalah tersebut ternyata banyak sekali kekurangannya. Oleh karena itu penulis mengharapkan kepada para pembaca untuk meneliti dan mengkaji kembali hal- hal yang berhubungan dengan masalah ini, supaya para pembaca mendapat pengetahuan dan wawasan yang luas. selain itu penulis mengharapkan kritik dan sarannya untuk perbaikan dalam penyusunan makalah selanjutnya.

 DAFTAR PUSTAKA
Syah, Muhibbin, M. Ed. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Rosda. Bandung. 1992.
Kartono, S Kep. Ilmu Prilaku. 2003.
Natawidjaya, Rochman. Moesa, Moein, H.A. Psikologi Pendidikan. 1992. 1993.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top