Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Friday, March 25, 2016

Parafrase Puisi Tuhan Sembilan Senti ( Puisi Karya : Taufik Ismail )


Tuhan Sembilan Senti
Banyak masyarakat kini yang berkegiatan merokok, petani asyik dengan rokoknya, pegawai pabrik pun merokok, para etlite politik iktu merasakan asap rokok yang membumbung, seperti para kabinet menteri, rapat parlemen anggota DPR MA bergaun toga pun merokok denga nikmatnya. Indonesia merupakan surga bagi para penduduk penghisap perokok, para perokok aktif yang dpat merugikan diri sendiri dan orang lain, karena bagi orang yang tidak merokok hal ini menjadi ujian yang tidak tertahankan. 

Saat mencari ikan para nelayan erat sekali dengan merokok, bahkan pabrik petasanpun pegawainya merokok, padahal akibat dari percikan punting api rokok, dapat menyebabkan meledaknya petasan. Yang disayangkan, ketika menghantar jenazah sebelum dikebumikan, pengantar tetap saja merokok. Merokok yang tidak ada manfaatnya ini tidak lepas dari kebiasaan dan pengetahuan hingga banyak para penikmat asap rokok. Hansip, bintara, perwira pun merokok, mereka perokok berat, bahkan saat menongkrong merokoknya makin mengasap, perkebunan teh terkenal dengan udara sejuk, tetap saja mengabaikan udara segar, dan lebih memilih asap rokok, hingga pemetiknya pun menghisap rokok. 


Indonesia merupakan tempat untuk para perokok yang sangat ramah yang dapat dikatakan surga firdaus Jannatunain dan orang perokok pasif hal ini sebagai sisksaan. Sayangnya para siswa SMA bukannya belajar, tetapi mencuri rokok kemudian menghisap rokok dibalik pagar dengan nikmatnya. Di Ruang Kepala sekolah ada kepala sekolah dan gurunya sedang merokok. Mahasiswa dengan asyiknya tanpa memperhatikan etiak merokok, hingga akhirnya dosenpun ikut merokok saat memberikan matari perkuliahan seperti kereta api, dari mulutnya keluar asap. Saat rapat POMG orang tua pun ikut merokok, sehingga ada siswa yang banyak bertanya tentang cara merokok yang baik. 

Tidak hanya itu orang-orang yang menumpang kapal penyebrangan orang-orang merokok. Di Yogya, andong yang dikendalikan kusir, kusirnya merokok, yang lucu, kudanya minta diajarin merokok. Di angkot kijang, penumpang sedang merokok sampai-sampai di kota yang sumpek padat dan pengap, kepulan asap rokok menghias ruangan itu, orang yang duduk dan berdiri terus berlomba mengadu asap rokok, di penjualan loket dan karcis orang-orang merokok, apalagi di dalam kereta yang sesak orang-orang pesta merokok seperti festival, mengepul dari mulut-mulut. 

Di warung Tegal pembeli nasi dan minuman tidak lupa merokok, di warung Tegal pun orang merokok, apalagi di restoran pembelinya orang-orang beruang, pasti merokoknya lebih mengepul, di toko buku orang merokok, apalagi di diskotik orang-orang mebepul merokok dari mulutnya bau arak dan nikotin. Negeri kita seperti surge firdaus bagi para penghuni dewa-dewa perokok, tetapi bagi yang tidak merokok merupakan cobaan, karena pengapnya asap rokok. Rokok yang telah dijadikan berhala, tuhan baru, diam-diam telah mengendalikan kita, mengatur kita, uang habis dipakai merokok. Di pasar, orang yang menjual dan membeli merokok. 

Saat berbincang-bincangpun dengan tindak dan tuturan yang tidak ada manfaatnya ghibah dan membuka aib orang lain dengan sengaja yang paling parah sambil gibah aroma bau abu dan bau asbak tercium dari para mulut perokok, ini diakibatkan banyak merokok, padahal jarak pembicaraan setengah meter, isteri-isteri yang bertahun-tahun di kamar tidur dengan suami yang bermulut bau asbak, yang berhidung mirip cerobong asap pabrik, dapat dibayangkan? 

Ada yang duduk dan terbaring di tempat tidur, saat orang-orang bergumul saling menularkan penyakit Human Infeksi Virus AIDS ke sesama lawan jenisnya, tapi kita masih beruntung jauh dari perbuatan zinah. Tetapi walaupun kita beruntung tapi masih merugi, kita duduk berdampingan dengan orang yang tidak peduli dengan keadaan lingkungan, dengan mengepulkan asap rokok dari mulut dan hidungnya. Di halte, di stopan, orang merokok tanpa peduli, bisa ketularan paru-paru, bengek, dan batuknya. Tapi jika dibandingkan antara penyakit kelamin dan penyakit paru-paru dan batuk. HIV AIDS menularkan penyakit saat sudah jauh mengenal, tapi Nikotin lebih jahat bisa menularkan tanpa harus kenal dahulu, ke siapa dari siapa asapnya membumbung 

Indonesia adalah kultur pengembangbiakan nikotin yang paling subur di dunia, lewat kebun-kebun tembakau, kita yang tidak merokokpun bias ketularan penyakitnya, walaupun tidak menghisap rokok, karena asapnya sudah membumbung dan mengepul menularkan berbagai penyakit. 

Saat mengantar keluarganya yang sakit, sambil menunggu dokter memanggil, di ruang tunggu orang-orang mengepul merokok, ironisnya dokternya pun merokok, padahal dia pelayan kesehatan. Pantas saja puskesmas lembaga penyedian kesehatan, walaupun tempatnya di kampung tetaplah lembaga kesehatan, pegawainya merokok. Orang yang antri memesan obat resep tebusan, layaknya menginginkan kesehatan, tapi masih sempat-sempatnya merokok. Jangan salah jika di panti pijat, orang-orang merokok pasti diperbolehkan, sebab di tempat umum merokok, apalagi di panti pijat. Pijatnya pijat plus, ditambah dengan Sembilan senti. 

Orang yang ingin mendapatkan kesehatan, saat bulutangkis, waktu istirahat tetap merokok, orang yang ingin mendapatkan kesehatan fisik, di pinggir-pinggirnya orang merokok, sambil memegang raket, orang masih sempat merokok. Lebih lucu lagi, olahraga adalah kesehatan, tapi panitia pertandingan olahraga yang dilaksanakan panitia, panitianya malah mencium kaki bos si sponsor, karena perusahaan rokok telah mensponsori pertandingan tersebut. 

Indonesia seperti surga janatun-na’im sangat ramah bagi para perokok, tapi tempat siksaan seperti di alam kubur bagi orang-orang yang tidak merokok, rokok kini telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, yang diam-diam telah mengendalikan, menguasai, memperdaya, memperbudak kita. Orang saat di kamar kecil sambil buang air kecil dan besar, orang goblok mengepulkan asap rokok. Di dalam lift gedung tingkat tidak peduli orang goblok merokok, di ruang sidang ketika sedang yang ruangannya ber-AC, dengan tidak peduli, para elit politik berdasi, gobloknya semua merokok. 

Di ruang ber-AC, ketika sidang, sejumlah ulama terhormat mengacu pada kitab kuning dan mempersiapkan beberapa fatwa. Mereka itu ulama ahli hisap. Hassaba, yuhaasibu, hisaaban. Ulama ini rapat tapi bukan ahli hisab ilmu falak, fiqih, dan tauhid, tetapi ahli hisap rokok. Yang terselip di antara jari telunjuk dan tengah terselip berhala-berhala kecil yang selalu setia menemani, seperti menyembah berhala dengan api. Sembilan senti panjangnya, putih warnanya, kemana-mana dibawa dengan setia, satu kantong terisi dengan kalung tasbih 99 butirnya. Tetapi tidak lupakan 12 batang berhala kecil. 

Kita melihat dari kaca jendela, di ruangan sidang, mereka asyiknya merokok dengan tangan kanan, tetapi hanya sedikit yang memegang dengan tangan kiri. Mungkinkah ini tanda-tanda kelompok terbanyak ashabul yamiin dan yang sedikit golongan ashabul syimaal? 

Asap rokok di ruangan ber-AC tersebut penuh dengan kepulan warna putih. Terdengar suara, “Mamnu’ut takhdin, ya ustadz. Laa tasyrabuud dukhaan, ya ustadz.” Ternyata terdapat 25 penyakit yang ada dalam arak yang diharamkan. 15 penyakit yang ada dalam daging babi. Tetapi lebih hebat lagi 4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Jika demikian rokok harus dibagaimanakan patutnya? 

Pertanyaan ini tidak dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharimu ‘alayhimul khabaaith. Seharusnya hal ini direnungkan dengan tenang, karena pada zaman Rasullullah dahulu, alkohol (khamr) sudah ada, babi sudah ada, tapi rokok belum ada. 

Selain ini tugas Pekerjaan PR bagi para ulama, ini PR juga untuk umaro, dan kita masyarakat awan akan bahaya rokok, tapi jangan heran dengan argumentasi ustadz, karena suka rokok, lantas hukumnya jadi dimakruhkan. Jika dari kedua perbandingan ini para ulama ahli hisap terkejut dengan pernyataan, bahwa rokok adalah haram. 

Diam-diam banyak orang merokok dengan membakar tuhan-tuhan kecil yang kepalanya berapi, yaitu ujung rokok yang mereka capit di antara dua jari. Akhirnya sekarang para pecandu rokok, berpikir. Biarkanlah mereka berpikir, mudah-mudahan menuju kesembuhan. Asap rokok yang masih mengepul di ruangan berAC, makin pengap serta mulai terbatuk-batuk. 

Pada saat sajak ini dibuat, sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit yang diakibatkan merokok dan diakibatkan oleh rokok. Ternyata rokok lebih dahsyat membunuh manusia, dibanding korban kecelakaan lalu lintas. Kematian akibat penyakit rokok, lebih gawat dibanding korban bencana banjir, gempa bumi dan longsor. Hanya saja untuk kematian yang diakibatkan penyakit rokok setingkat di bawah korban narkoba. Dan anehnya kematian akibat rokok, diabaikan. 

Pada saat sajak ini ditulis, berhala-berhala kecil itu masih dan terus dicapit dengan kedua jari yang masih menguasai negeri kita, jumlahnya jutaan, karena tidak dapat dihitung berapa jumlah orang yang sedang merokok, dan menyembunyikan rokok yang tersembunyi dalam kantong baju atau celana yang dibungkus kertas berwarna-warni, iklan yang mengiklankanpun dengan cerdas dan pintar. 

Tidak perlu bersuci diri dengan berwudu atau bertayamum, dan tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarub pada tuhan-tuhan kecil ini, karena orang akan khusyuk dan fana ketika menikmati asap lewat upacara pembakaran tuhan-tuhan kecil ini, yang terselip di jari mereka. 

Ya Robbana, beri kami kekuatan untuk menghadapi tuantuan sembilan senti ini, itulah tuhan-tuhan kecil, si berhala-berhala kecil yang harus dihanguskan. 

Demikian contoh Parafrase Puisi Tuhan Sembilan Senti semoga bermanfaat bagi anda semua.

Facebook Twitter Google+
 
Back To Top