Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Friday, January 16, 2015

CONTOH KRITIK OBJEKTIF DAN PRAGMATIK TERHADAP NOVEL BURUNG-BURUNG MANYAR


Identitas Novel : 
Judul novel : Burung-burung Manyar
Pengarang : Y.B. Mangunwijaya 
Cetakan baru : 2001
Tebal Halaman : 268 hlm
Produksi tahun : 1981
Percetakan : PT. Listafariska Putra
Penerbit : Jambatan


Kritik Essai
1. Sinopsis novel “Burung-Burung Manyar”
Pada masa pemerintahan KNIL Belanda, kehidupan keluarga Teto (Setadewa) sangat berkecukupan. Dia dilahirkan dari keluarga terpandang. Segala kemauannya selalu dituruti oleh kedua orang tuanya. Ayahnya, Letnan Barjabasuki, adalah salah seorang Letnan tamatan Akademi Militer Breda di Belanda dan menjabat kepala Garnisun Devisi II di Magelang. Itulah sebabnya, Teto bebas bergaul dengan orang-orang inlander, anak-anak Belanda ataupun Indo-Belanda.

Kedua orang tua Teto bukanlah orang biasa. Ayahnya masih keturunan bangsawan keraton, sedangkan ibunya keturunan Indo-Belanda. Masa kecil Teto benar-benar berada dalam kejayaan orang tuanya. Itulah sebabnya Teto merasa sangat bangga pada ayahnya. Dia bercita-cita menjadi tentara KNIL Belanda seperti ayahnya. Ia beranggapan bahwa dengan bergabung dan mengabdi pada KNIL Belanda, maka kehidupanya akan menjadi lebih baik. Ia akan disegani, serta di hormati oleh masyarakat sekitarnya.

Karena masa kecilnya, yaitu zaman tentara KNIL Belanda, Teto hidup dalam kemewahan, maka ketika Jepang berhasil mengusir tentara KNIL Belanda dari Indonesia Teto merasa terpukul. Kehidupan keluarganya berubah menjadi kacau. Ayahnya ditangkap dan disiksa oleh tentara-tentara Jepang. Ia hampir dibunuh oleh tentara Jepang, kalau saja ibunya tidak menyelamatkanya. Ketika pimpinan tentara Jepang memberi pilihan pada ibunya untuk menjadi wanita penghibur pimpinan tentara Jepang atau nyawa suaminya akan melayang, ibu Teto memutuskan untuk menjadi wanita penghibur demi menyelamatkan nyawa suaminya. Berkat pengorbanan istrinya itu, Letnan Barjabasuki atau ayah Teto selamat serta dibebaskan oleh tentara Jepang.

Betapa hancur hati Teto menyaksikan kenyataan itu. Dia merasa gusar dan sangat dendam kepada tentara Jepang. Perlakuan tentara Jepang terhadap kedua orang tuanya dan telah menghancurkan rasa gemilang keluarganya melekat terus dalam hatinya. Dia bertekad untuk membalas semua perlakuan tentara Jepang tersebut sampai kapanpun.

Tiga tahun kemudian, Jepang hengkang dari Indonesia dan tentara KNIL dari Belanda datang kembali ke Indonesia dengan berlindung di balik tentara sekutu. Teto sangat gembira menyambut kedatangan mereka. Dia gembira sebab cita-citanya menjadi seorang tentara KNIL Belanda dapat menjadi kenyataan. Ia pun langsung bergabung dengan tentara KNIL. Berkat bantuan seorang mayor bernama Verbruggen, dia diterima menjadi tentara KNIL.

Betapa bangga hati Teto ketika dia menjadi tentara KNIL Belanda. Dia bekerja dengan penuh disiplin. Semua tugas yang dibebankan pimpinannya kepada pemuda itu selalu dapat diselesaikan dengan baik. Itulah sebabnya ia sangat di sayang oleh pimpinannya. Hanya dalam waktu dua bulan, dia diangkat menjadi komandan patroli dengan pangkat Letnan dua.

Lain nasib Teto, lain pula nasib ibunya, Maurice yang mempunyai nasib yang naas. Kerena tak tahan menanggung penderitaan lahir dan batin, ia mengalami gangguan jiwa dan menjadi pasien tetap di sebuah rumah sakit jiwa di Bogor. Sedangkan nasib Letnan Barjabasuki, ayah Teto, tidak jelas. Namun, menurut informasi Mayor Verbruggen, dia bergabung dengan tentara Republik. Dengan demikian, dia termasuk buronan tentara KNIL Belanda. Ini berarti bahwa Letnan Barjabasuki menjadi buronan anaknya sendiri, Letnan dua Teto.

Kejayaan Letnan dua Teto sebagai komandan patroli tentara KNIL Belanda tidak berjalan lama. Tentara KNIL Belanda makin lama makin lemah. Perlawanan rakyat Republik Indonesia terhadap gempuran-gempuran mereka tidak pernah surut. Lama-kelamaan tentara KNIL Belanda menjadi frustasi. Belanda yang hendak menguasai seluruh wilayah Indonesia akhirnya mengalah dan memutuskan kembali ke negerinya.

Kekalahan tentara KNIL Belanda membuat hati Teto menjadi ciut. Dia merasa malu pada dirinya, malu terhadap Larasati wanita yang sangat dicintainya. Bila Larasati berjuang membela bangsanya sendiri, dia malah membela musuh. Pada saat itu Larasati mengabdi di depertemen luar negeri. Kerena perasaan malunya itu, Teto memutuskan untuk keluar dari Indonesia dan berangkat ke Amerika. Di negara tersebut, dia masuk Universitas Harvard mengambil jurusan komputer dan mendapat gelar doktor. 

Setamat dari Universitas Harvard, Teto bekerja di sebuah perusahaan besar di Amerika bernama Pacifik Oil Wells Company sebagai tenaga analisis komputer. Perusahaan Pacifik Oil Wells Company tempat ia bekerja menjalin hubungan kerja sama dengan pemerintah Indonesia. Selama bekerja di perusahaan itu, kesejahteraan Teto sangat terjamin. Bahkan, ia kemudian menikah dengan Barbara, putri salah seorang direktur perusahaan itu. Namun semua itu tidak membuat hatinya tenang. Dia tidak bahagia hidupnya di negeri orang. Hatinya terus bergejolak untuk kembali ke tanah air. Dia sangat merindukan orang-orang yang dicintainya. Dia teringat kepada ibunya. Dia juga rindu pada Larasati, kekasih yang sangat dicintainya itu. Hasrat Teto kembali ke tanah air semakin menjadi-jadi ketika dia menemukan kecurangan di perusahaan tempat dia bekerja. Dia bertekat membuka kecurangan tersebut. Apapun resikonya walaupun harus di berhentikan dari pekerjaannya.

Akhirnya, Teto benar-benar kembali ke Indonesia setelah ia bercerai dengan Barbara. Sesampainya di tanah air hatinya gelisah. Perasaannya bergelora ketika melihat perkembangan Indonesia. Tanah airnya telah mengalami kemajuan pesat di berbagai bidang. Ia juga mengingat semua kejadian yang pernah dialaminya. Dia mengingat dirinya yang telah salah langkah dan berjuang membantu pihak Belanda, dan bukan membantu tanah airnya sendiri. Dia juga ingat akan kejayaannya semasa ia masih bersama kedua orang tuanya. Dia juga ingat bagaimana ibunya berkorban demi menyelamatkan nyawa ayahnya.

Dia juga teringat Larasati, kekasih yang sangat dirindukannya. Semua itu berkecamuk dalam hatinya. Dia merasa malu kepada Larasati dan takut bertemu dengannya. Namun ia sangat merindukannya. Dua perasaan yang saling bertentangan berkecamuk dalam dadanya.

Secara diam-diam, Teto menghadiri acara presentasi gelar dokter yang akan dilakukan Larasati di Jakarta. Selama presentasi tersebut, dia hanya diam dan bersembunyi di balik orang-orang yang hadir. Setelah selesai membacakan disertasinya, Larasati mendapat sambutan yang hangat dari semua yang hadir. Ketika orang-orang berebutan memberi ucapan selamat kepadanya, Teto tidak berani melakukannya. Padahal, dia sangat ingin menyentuh tangan kekasaihnya itu. Perasaan malu dan bersalah dalam dirinya semakin memuncak saat dia mendengar disertasi yang dibacakan Larasati. Disertasi itu membahas tentang burung-burung manyar dan tingkah lakunya. Dia begitu malu sebab tingkah laku burung-burung manyar itu persis seperti tingkah laku dirinya.

Walaupun Teto berusaha keras untuk tidak menemui Larasati, namun nasib berkehendak lain karena keesokan harinya, Larasati dan suaminya datang ke rumahnya. Betapa terkejutnya Teto melihat kedatangan mereka, hatinya berdebar-debar ketika bertatapan mata dengan wanita yang sangat dicintainya itu. Sebenarnya, Larasati pun memiliki perasaan yang sama. Bagaimanapun dia pernah menaruh hati kepada Teto ketika mereka masih remaja. Teto menyadari bahwa ia pun masih mencintai Larasati. Namun, Larasati kini telah menjadi milik Janakatamsi, anak seorang Direktur Rumah Sakit Jiwa Keramat. Di rumah sakit itulah, ibunya dirawat sampai akhir hayatnya.

Janakatamsi memahami bahwa antara istrinya dan Teto terdapat kisah tertentu. Dengan bijaknya, dia menawarkan kepada Teto untuk menjadi kakaknya. Mendengar ajakan tersebut, hati Teto menjadi terharu dan dia pun menerimanya.

Atas ajakan Janakatamsi, Teto mengunjungi rumah ibu Antana, ibunya Atik di Bogor. Kedatangan Teto di sambut hangat oleh ibu Antana. Ia memang sudah mengenalnya sebab sejak kecil keluarga Atik telah bersahabat dengan keluarga Teto. Kedua keluarga itu sering saling mengunjungi.

Ketika diberi tahukan tentang kecurangan perusahaan tempat Teto bekerja, Janakatamsi mendukung niat Teto untuk membongkar kasus kecurangan yang terjadi dalam perusahaan Pacifik Oil Wells Company. Atas bantuannya pula Teto berhasil membongkar kecurangan keuangan yang dilakukan perusahaan asing tersebut walaupun kemudian dia diberhentikan dari perusahaan itu.

Belum habis kesedihan Teto akibat pemutusan hubungan kerja tersebut, datang lagi kesedihan baru. Larasati dan suaminya meninggal dunia karena kecelakaan pesawat sewaktu berangkat ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Pesawat mereka jatuh di Colombo. Demi membalas kebaikan yang telah diberikan Atik dan suaminya, Teto memutuskan untuk mengasuh ketiga anak Atik. Dia berjanji untuk menjaga dan mendidik mereka menjadi anak yang berbakti pada bangsa dan negara.

2. Analisis Sastra
2.1 Analisis Intrinsik
2.1.1 Tokoh dan Penokohan

a. Teto atau Setadewa seorang pemuda yang berpendidikan tinggi. Dia adalah seorang doktor tamatan Universitas Harvard yang menjadi ahli komputer di sebuah perusahaan besar di Amerika. Dia adalah anak seorang kepala garnisun II pada masa KNIL Belanda. Ia lebih mencintai Belanda daripada negerinya sendiri. Berdasarkan frekuensi kehadiran atau keterlibatannya, Satadewa atau Teto merupakan tokoh sentral dalam cerita itu. Dari episode novel yang ada, ternyata Teto mendominasinya, ia hampir selalu hadir dan terlibat dalam setiap episode, kecuali pada episode 4, 9, 11, 13 dan episode 14. Jadi, tokoh Teto terlibat dalam 17 episode novel yang ada. Oleh karena itu, tokoh Teto dapat dinyatakan sebagai tokoh sentral. Ketidakhadiran tokoh sentral dalam kelima episode tersebut mempunyai fungsi tersendiri.

Ketidakhadiran tokoh sentral di dalam episode 4 dalam Burung-Burung Manyar berfungsi memberi kesempatan pada tokoh feriferal (kurang penting) Atik (Larasati) dan kedua orang tuanya untuk membicarakan tokoh sentral. Walaupun dalam episode ini Mangunwijaya tidak secara ekplisit menunjuk pada nama tertentu, pembicaraan antara tokoh-tokoh feriferal mengisyaratkan bahwa pokok permasalahannya ditujukan untuk menanam rasa simpati ketiganya pada tokoh sentral.

Ketidakhadiran tokoh Teto dalam episode 9 adalah untuk memaparkan atau meng-gambarkan Atik dan ayahnya, untuk memberi kesempatan kepada tokoh lain buat membicarakan tokoh sentral, dan untuk menunda komplikasi dan atau ketegangan cerita. Episode 9 ini sesungguhnya menceritakan meninggalnya ayah Atik yang disebabkan oleh serangan Belanda. Artinya, kematian itu secara tidak langsung juga disebabkan oleh tokoh sentral Teto. Sementara pada saat yang bersamaan sesungguhnya Tetopun ikut dalam penyerbuan ke Yogya tersebut. Dalam episode 11, ketidakhadiran tokoh sentral berfungsi untuk melukiskan akibat-akibat yang ditimbulkan oleh prilaku-prilaku Belanda, dimana tokoh sentral termasuk di dalamnya. Dan episode 13, ketidakhadiran tokoh sentral berfungsi memberikan kesempatan pada tokoh feriferal Atik dan Ibunya (Bu Antana) untuk membicarakan tokoh sentral. Pembicaraan ini terfokus pada tebalnya rasa simpati mereka pada tokoh sentral.

Dalam episode 14, ketidahadiran tokoh sentral berfungsi untuk membeberkan situasi sesudah perang kemerdekaan dan memberikan kesempatan kepada tokoh feriferal, Tuan Ambasador melihat-lihat kemajuan pembangunan yang telah dicapai oleh Indonesia. Kehadiran tokoh feriferal Tuan Ambasador berfungsi untuk merambah jalan bertemunya tokoh sentral dengan tokoh feriferal Atik (Larasati).

b. Larasati atau Atik seorang perempuan modern yang berpendidikan tinggi. Selama hidupnya, ia selalu mengabdi pada nusa dan bangsa. Ia mempunyai tiga orang anak. Pada masa agresi Belanda kedua, ia bekerja di departemen luar negeri. Jabatan terakhir yang disandangnya adalah kepala direktorat alam.

c. Janakatamsi Pemuda medern yang berpendidikan tinggi. Dia termasuk anak seorang kaya yang berhati baik. Dialah suaminya larasati. Ayahnya adalah seorang direktur Rumah Sakit Jiwa Kramat.

d. Letnan Barjabasuki adalah seorang kepala Garnesun II dimasa KNIL Belanda dengan pangkat letnan. Gelar itu diperolehnya dari Akademi Breda Belanda. Dia adalah keturunan keraton dan merupakan ayah kandung Teto.

e. Ibu Teto atau Istri Letnan Barjabasuki adalah wanita berhati mulya keturunan Indo-Belanda. Demi menyelamatkan suaminya, dia rela mengorbankan jiwa raganya. Dia rela menjadi wanita pemuas nafsu tentara-tentara Jepang. Karena tidak sanggup menahan penderitaan lahir batin, akhirnya dia menjadi penghuni rumah sakit jiwa.

f. Mayor Verbruggen salah seorang pimpinan tentara KNIL Belanda ketika agresi Belanda kedua.

g. Bu Antana seorang ibu yang baik. Dia ibu kandung Atik atau Larasati.

h. Barbara adalah istri Teto, dia anak seorang direktur pacifik Oil Wells Company.

2.1.2 Tema
Kisah seorang anak manusia yang merasa gagal dalam menjalani hidup karena trauma masa lalu. 

2.1.3 Latar/ Setting
Terjadi pada zaman modern dengan berlatar belakang kehidupan berbagai masa: masa lalu, masa revolusi, dan masa penjajahan jepang maupun belanda. Cerita ini terjadi di Indonesia (Jakarta dan Bogor).

2.1.4 Alur
Alur cerita dalam novel Burung-Burung Manyar yaitu menggunakan alur maju, dimana setiap kejadian selalu bergerak maju sesuai dengan perputaran waktu. 

2.1.5 Sudut Pandang
Tokoh Teto atau Satadewa dipandang sebagai pemuda yang gagal dalam hidupnya. Ia dianggap sebagai sosok yang sikapnya sesuai dengan burung-burung manyar. Ia lebih mengutamakan kepentingan bangsa Belanda dibanding dengan bangsanya sendiri, bahkan ia ikut serta dalam pemberontakan terhadap tentara Republik.

Tokoh Larasati adalah seorang wanita yang berpendidikan tinggi. Ia adalah seorang yang setia terhadap Nusa Bangsanya sendiri. Dalam hidupnya ia pergunakan untuk mengabdi terhadap Tanah Airnya.

2.1.6 Amanat
Pesan pengarang yaitu ingin memperlihatkan kepada masyarakat pada saat itu bahwa pengabdian terhadap Bangsa sendiri lebih baik dan lebih terhormat dari pada mengabdi kepada Bangsa lain (Belanda). Hal ini di contoh oleh tokoh yang bernama Satadewa yang dalam hidupnya mengabdikan diri kepada Belanda, akhirnya ia harus menanggung malu terhadap Bangsanya sendiri. 

2.1.7 Gaya Bahasa/Majas
Bahasa yang digunakan dalam novel Burung-Burung Manyar adalah bahasa gaul atau bukan bahasa baku.

2.2 Analisis Ekstrinsik
Dari hasil penganalisisan penulis, unsur ekstrinsik yang terdapat dalam novel burung-burung manyar adalah bertemakan pendidikan, sosial, dan psikologis yaitu adanya unsure pendukung di berbagai sektor isi yang mengedepankan nilai-nilai realistis kehidupannya.

Dapat penulis uraikan. Tema tersebut adalah
Pendidikan : isi karya sastra ini mengedepankan nilai pendidikan, terbukti semua hampir tema mengedepankan nilai-nilai pendidikan pada hampir semua tokoh, tokoh yang mendapatkan penokohan berpendidikan yaitu Teto, Larasati (Atik), Janakatamsi, Letnan Barjabasuki.

Psikologis : Selain pendidikan ada nilai psikologis yang dapat kita analisis yakni pengarang menerapkan kejiwaan, pada pemeranan Ibu Teto atau Istri Letnan Barjabasuki, dia korban pemuas nafsu tentara Jepang, yang berakhir dengan sakit jiwa.

3. Penafsiran isi
3.1 Burung-burung Manyar merupakan novel yang ditulisnya dengan penuh kebernanian dan kejujuran tentang kehidupan manusia-manusia yang terlibat peperangan baik fisik maupun batin. 

3.2 Alasan mengapa penulis (pengkritik) mengkritisi novel ini dengan sebutan kritisi Abrams (objektif) sebab novel ini berisikan kisah apa adanya, yakni adanya kepalsuan pada diri manusia yang terjadi di lapangan saat itu, pengabdian terhadap Bangsa sendiri lebih baik dan lebih terhormat dari pada mengabdi kepada Bangsa lain (Belanda). Hingga banyak pejuang yang mengorbankan jiwa dan raganya.

4. Menilai karya sastra:
a. Penulis tujukan kepada pengarangnya
Pengarang cerita ini memperlihatkan pengetahuan dan pengalaman yang banyak serta pengetahuan tentang manusia yang mendalam. Nadanya di sana-sini humoristis, kadang-kadang tajam mengiris. Dari apa yang dianalisa pengarang ada isi yang mengejek diri tak tanggung-tanggung, hal ini wajar karena suatu tanda kedewasaaan jiwa dari pengarang. Bahasanya segar dan kontemporer (kekinian). Isinya penuh pengalaman dahsyat, keras dan kasar, tapi juga romantis penuh kelembutan dan kemesraan. 

Banyak hal yang menjadikan buku ini menarik. Bukan saja gaya bercerita Y. B. Mangunwijaya yang khas, bahasanya yang hidup dan mampu membawa pembaca ke alam pikiran sang tokoh. Juga bukan lembaran sejarah yang dibuka kembali, dengan titik pandang yang hingga kini jarang ditemukan dalam sastra Indonesia.

b. Penulis tujukan berdasarkan isinya
Y. B. Mangunwijaya dengan novelnya Burung-burung Manyar mencoba melihat revolusi Indonesia dari segi yang obyektif bahkan agak cenderung melihatnya dari segi Belanda, dengan memasang protagonis orang Indonesia yang anti Republik. Nilai isi novel ini terletak pada keberanian bahasa tulisan yang mengisahkan konflik jiwa seorang anti republik semasa revolusi, segi informasinya tentang kehidupan tentara KNIL dan gaya humor dari isinya kadang-kadang terselip ejekan yang penuh kejutan. Dengan bahasa yang khas “kemangunwijayaan”, kata-kata majemuk berkadar tinggi utnuk menampilkan sebanyak mungkin makna; lucu dan sarat sindiran, novel ini mengungkap kepalsuan sekaligus “jatidiri dan citra pengungkapan” manusia. Lalu novel ini menutup diri dengan kesimpulan yang kaya makna, yang tak layak dikemukakan lain daripada apa yang tertulis pada bukunya. 

c. Penulis tujukan kepada penerbitnya
Penerbit dalam hal ini sangat memiliki keberanian dalam go international mempromosikan novel revolusi Indonesia, dalam berbagai bahasa, yang menjadi tujuan utama novel ini dikirimkan kepada para sastrawan dunia yang haus akan karya-karya fiksi. Novel ini dikirim ke Jepang, Belanda, Inggris dan Jerman dengan masing-masing bahasa tujuan novel ini dikirim. Penerbit menerbitkan dalam bahasa Jepang (1987) dengan judul Arasi no Naka no Manyar (1987), dalam bahasa Belanda Het boek van de Wevervogel (1989), dalam bahasa Inggris The Weaverbirds, dan dalam Bahasa Jerman Bok da Webervoler (1991).

Kesimpulan penulis dari penilaian karyanya.
Karya sastra yang besar selalu menghimbau angan-angan kita untuk bergerak dengan leluasa di dalam ruang jagatnya. Untuk mememukan makna bagi kehidupan kita sendiri. Burung-burung Manyar telah sanggup memberikan makna itu. Selain itu juga kaya jika dipandang dari sudut pusat pengisahan, novel ini menarik. Cara menghadirkan tokoh pun diperhitungkan dengan cermat. 
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top