Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Friday, January 16, 2015

Makalah Memahami Penulisan Diksi

PENDAHULUAN
1.1.LATAR BELAKANG
Guru merupakan kunci dan sekaligus ujung tombak pencapaian misi pembaharuan pendidikan, mereka berada di titik sentral untuk mengatur, mengarahkan dan menciptakan suasana kegiatan belajar mengajar yang untuk mencapai tujuan dan misi pendidikan nasional yang dimaksud. Permasalahan pendidikan selalu muncul bersamaan dengan berkembang dan meningkatnya kemampuan siswa, situasi dan kondisi lingkungan yang ada, pengaruh informasi dan kebudayaan, serta berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi.

1.2.RUMUSAN MASALAH
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia kita dituntut untuk memahami penggunaan-penggunaan diksi, baik dalam kalimat, paragraph atau bahkan pilihan kata dalam pembuatan sebuah puisi, berbeda sekali dengan pemilihan diksi pada kata-kata yang mengandung unsur semantic. Sebab kita tahu bahwa unsur leksikal akan sangat erat kaitannya dengan hubungan antara diksi dan penggunaan kondisi, dengan demikian kita akan tahu bahwa penggunaan diksi menuntut untuk bisa menerapkan pada saat seperti apa penggunaan diksi digunakan. Bagaimana diksi dan seperti apa situasi dalam penggunaan diksi digunakan?

1.3.TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN
Tujuan penulisan yang akan penulis sampaikan adalah untuk menambah khasanah perilmuan yang dimiliki oleh penulis, lewat tulisan-tulisan yang memang secara referensi, penulis ambil dari berbagai sumber. Selain untuk mengembangkan teori pembelajaran bahasa dengan memilih topik tentang diksi,  dengan menggunakan teknik objek langsung kepada pembaca agar memahami.
Analisis penulisan tentang diksi ini diharapkan mampu menghasilkan manfaat teoretis, yaitu dapat memberikan sumbangan pemikiran dan tolok ukur kajian pada penelitian lebih lanjut yaitu berupa alternatif yang dapat dipertimbangkan dalam usaha memperbaiki mutu pembelajaran bahasa dan mempertinggi khasanah pemikiran, khususnya dalam pembelajaran tentang diksi.

BAB II
LANDASAN TEORI

1.1.                 LANDASAN TEORI
            Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-ungkapan individu atau karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi. Ungkapan dalam kalimat terdiri dari beberapa kata yang mempunyai makna yang sama dengan sebuah kata tertentu (Kridalaksana, 1993:223). Marwoto (1985: 117) menyatakan bahwa diksi mengandung pengertian teknis sebagai pemilihan kata dalam mengarang. Tujuan pemilihan kata tersebut agar orang lain dapat memahami pikiran dan perasaan pemapar karangan secara pasti. Oleh karena itu pemilihan kata merupakan unsur yang sangat penting dalam karang-mengarang.
Ada pula dalam pemilihan kata dapat menjadi sebuah rujukan akibat gejala bahasa kontaminasi yang terjadi kerancuan atau kekacauan (Badudu, 1981: 47). Keiancuan atau kekacauan yang dimaksud dalam hal ini adalah susunan, perangkaian, atau penggabungan yang seharusnya merupakan bentuk tersendiri, tetapi dipadukan. Seperti, bentuk kata menundukkan kepala dengan membungkukkan badan karena terjadi kekacauan maka terbentuklah menundukkan badan atau membungkukkan kepala. Peristiwa semacam mi sering terjadi, walaupun memang tidak mengganggu makna yang sebenarnya, namun hanya tidak sesuai dengan diksi yang diperlukan dalam konteks tersebut. Oleh karena itu jelas gejala semacam ini termasuk bidang diksi. Bisa juga termasuk golongan majas Pleonasme. Gejala pleonasme adalah gejala penggunaan unsur bahasa yang berupa kata yang berlebih-lebihan (Badudu,1981: 55). Yang secara diksi tidak merupakan kaidah yang diharuskan.
Teori-teori dalam landasan teoritis ini berkaitan dengan penulisan yaitu meliputi teori tentang diksi atau pemilihan kata, hakikat diksi berkaitan dengan kontekstual pembelajaran menulis. Dan teori ini akan menjadi landasan dalam penelitian ini.

           
BAB III
METODE DAN PEMBAHASAN

3.1.METODE DAN PROSEDUR KAJIAN
3.1.1.       Metode Penulisan
Setelah mempertimbangkan kajian analisis pemilihan kata tersebut barulah kita memilih salah satu metode pengembangan sebuajh pemikiran yang dianggap paling tepat dan efektif.
Metode dalam penulisan ini mengkaji pada pemilihan kata atau diksi, bergantung pada keadaan yang dibutuhkan dan disampaikan dalam kondisi tertentu.

3.1.2.       Prosedur Kajian
Pengungkapkan ide atau gagasan dan biasanya sangat miskin variasi bahasanya. Akan tetapi, ada pula penulis yang sangat boros atau tidak efektif menggunakan perbendaharaan kata, sehingga tidak ada isi yang terdapat di balik kata-katanya. Kata-kata atau istilah dapat digunakan penulis menyimpan pesona makna yang terselubung atau simbolis, sehingga jika dipahami memerlukan interpretasi dan renungan-renungan yang dalam. Dengan demikian, kata tidak hanya sekedar mengemban nilai-nilai indah (estetis), melainkan juga nilai-nilai filosofi maupun pedagogis.

3.2.PEMBAHASAN
3.2.1.Pengertian Diksi
Dalam pengertian aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Dan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu seperti yang diharapkan.
Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa- nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa.
3.2.1.1. Pemilihan kata situasi formal
Sesuai yang telah diungkap di atas, bahwa pemilihan kata, tentu kita harus memperhatikan situasi dan penempatan, seperti pada bahasa percakapan yang ditulis, cenderung selalu menggunakan bahasa non baku seperti pada penulisan SMS. Tetapi dalam situasi penulisan formal, seperti penulisan makalah, PTK, Skripsi, jelas disini kita dituntut untnuk menggunakan bahasa baku. Bahasa baku atau kata baku sendiri memilki pengertian bahasa atau kata yang mengikuti ragam atau kaidah yang telah ditentukan atau telah dilazimkan berdasarkan ejaan yang telah disempurnakan. Fungsi bahasa baku sendiri adalah: Fungsi pemersatu, Fungsi pemberi kekhasan, Fungsi pembawa kewibawaan, Fungsi sebagai kerangka acuan. Ciri-ciri bahasa baku: (1). Kemantapan dinamis. (2). Kecendikiaan. (3).  Keragaman kaidah
Penggunaan bahasa baku: Alat komunikasi resmi, seperti dalam upacara kenegaraan, rapat dinas, administrasi pemerintahan, surat-menyurat resmi, perundang-undangan, dan sebagainya. Sebagai bahasa pengantar dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Bahasa dalam wacana teknis, seperti laporan kegiatan, laporan penelitian, usulan proyek, karangan ilmiah, lamaran pekerjaan, seminar ilmiah, makalah ilmiah, artikel/karangan tentang sesuatu ilmu yang ditulis dalam majalah atau buku, dan sebagainya. Alat pembicaraan dengan orang-orang yang patut dihormati dan/atau orang-orang yang belum atau baru saja dikenal. Lebih jelas pemilihan kata dengan membandingkan kata baku dan non baku.
3.2.1.2. Pemilihan kata dalam penulisan karya sastra puisi
Kata-kata sangat penting dalam menulis sebuah karya sastra puisi. Tapi tidak semua kata dituliskan dalam bentuk karya sastra puisi. Kata-kata dalam puisi merupakan kata yang telah terkonsentrasi dan terpadatkan maknanya. Dalam menulis puisi penyair harus cermat menggunakan pemilihan kata. Termasuk bunyi kata itu sendiri harus dipertimbangkan pula dalam penulisa puisi. Meskipun makna suatu kata sama, tapi efek estetikanya berbeda. Sehingga kata yang digunakan penyair seolah-olah tidak bisa digantikan oleh kata lain karena akan berpengaruh pada aspek estetika dan daya magis puisi itu.
Dalam penulisan puisi, kata yang dipilih adalah kata yang memiliki makna yang bergantung pada pemahaman penyair, dengan tujaun untuk merasakan keindahan. Hal yang menyangkut pilihan kata, dilihat dari Perbendaharaan kata, Seorang penyair di samping sebagai sarana ekspresi kata yang digunakan dalam puisi juga akan menjadi ciri khas penyair. Perbendaharaan kata yang dimiliki penyair ini dipengaruhi oleh sosial budaya, agama, pendidikan, jenis kelamin, suasana batin, juga tema yang diusung dalam puisi itu.
3.2.2. Rambu-rambu Penulisan Diksi
Sebelum menentukan pilihan kata yang diperlukan dalam mengarang, terlebih dahulu penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni masalah makna dan relasi makna.
1. Makna. Makna sebuah kata atau sebuah kalimat merupakan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas bebcrapa makna yaitu:
a.   Makna Leksikal dan makna Gramatikal. Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).
b.  Makna Referensial dan Nonreferensiai. Makna referensial dan nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu sesuatu dilua^ bahasa yang diacu oleh kata itu, kata tersebut bermakna refcrensial, kalau tidak mempunyai referen, maka kata disebut kata bermakna nonreferensial. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan te/opi_(bermakna nonreferensial).
c.       Makna Denotatif dan Konotatif. Makna denotatif adaiah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil dan ukuran badannya normal. Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang atau kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, irtinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, ni’ai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.
d.      Makna Konseptual dan Makna Asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yang bisa dikendarai”. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem atau kata berkenaan dengan adanya hu’oungan kata itu deagan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata melati berasosiasi dengan suatu yang suci atau kesucian. Kata merah berasosiasi berani atau paham komunis.
e.       Makna Kata dan Makna Istilah. Makna kata, walaupun secara sinkronis ddak bembah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.  Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.
f.       Makna Idiomatikal dan Peribahasa. Yang dimaksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidrk dapat diramalkan dari makna leksikal, unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contoh: Kata ketakutan, kesedihan, keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yang disebut makna dasar, Kata rumah kayu bermakna, rumah yang terbuat dari kayu. Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa.
g.      Makna Kias dan Lugas. Makna kias adalah kata, frase maupun kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Contoh: Putri malam, bermakna bulan.
h.      Relasi Makna. Relasi adalah hubungan makna ini menyangkut hal kesamaan makna (sinonim), kebalikan makna (antonim), kegandaan makna (polisemi dan ambiguitas), ketercakupan makna (hiponimi), kelainan makna (homonimi), kelebihan makna (redundansi) dan sebagainya.
1. Kesamaan Makna (Sinonim).
2. Kebalikan Makna (Antonim).

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.KESIMPULAN
Diksi berarti "pilihan kata yang tepat dan selaras (dalam penggunaannya) untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu (seperti yang diharapkan)”. Dari pernyataan itu tampak bahwa penguasaan kata seseorang akan mempengaruhi kegiatan berbahasanya, termasuk saat yang bersangkutan membuat karangan. Setiap kata memiliki makna tertentu untuk membuat gagasan yang ada dalam benak seseorang. Bahkan makna kata bisa saja “diubah” saat digunakan dalam kalimat yang berbeda
Berdasarkan hal itu dapat dikatakan bahwa diksi memegang tema penting sebagai alat untuk mengungkapkan gagasan dengan mengharapkan efek agar sesuai. Plilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata-kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata-kata yang tepat atau menggunakan ungkapan-ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi. Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa- nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.
4.2.SARAN
Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh penguasa sejumlah besar kosa kata atau perbendaharaan kata bahasa itu. Sedangkan yang dimaksud pembendaharaan kata atau kosa kata suatu bahasa adalah keseluruhan kata yang dimiliki suatu bahasa. Istilah umum adalah istilah yang berasal dari bidang tertentu, yang karena dipakai secara luas, menjadi unsur kosakata umum. memperhatikan situasi formal, seperti penulisan makalah, PTK, Skripsi, jelas disini kita dituntut untnuk menggunakan bahasa baku. Bahasa baku atau kata baku sendiri memilki pengertian bahasa atau kata yang mengikuti ragam atau kaidah yang telah ditentukan atau telah dilazimkan berdasarkan ejaan yang telah disempurnakan. Fungsi bahasa baku sendiri adalah: Fungsi pemersatu, Fungsi pemberi kekhasan, Fungsi pembawa kewibawaan, Fungsi sebagai kerangka acuan. Ciri-ciri bahasa baku: (1). Kemantapan dinamis. (2). Kecendikiaan. (3).  Keragaman kaidah. Berusahalah untuk membuat atau mempraktikan dalam kehidupan sehari-hari dengan belajar berlatih dalam pembelajaran berbahasa dengan menggunakan diksi.

DAFTAR PUSTAKA

www.google.co.id//pengertiandiksi//.id//
www:http://.geocity.id.//.gejalakontaminasi//Badudu,1981: 55.
www:http://.geocity.id.//.gejalapleonasme//Badudu,1981: 55.
www.http://wilkipedia.id.com// Ungkapan dalam kalimat. Marwoto (1985: 117
www.http://wilkipedia.id.com// pengertian teknis diksi. Kridalaksana, 1993:223).
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top