Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Monday, February 16, 2015

Makalah Beberapa Adat Pernikahan di Indonesia

Makalah Beberapa Adat Pernikahan di Indonesia
BAB I
PENDAHULUAN
Dalam kemajemukan budaya indonesia kita mengenal ada banyak sekali tata cara dan prosesi perkawianan. Dalam adat pernikahan Sunda misalnya, sehari sebelum pernikahan ada acara yang dinamakan   Ngeuyeuk seureuh yaitu acara pertemuan atau silahturahmi yang dilakukan oleh keluarga calon mempelai pria ke keluarga calon mempelai wanita.
Tujuannya untuk silahturahmi dan berkenalan dengan calon menantu masing-masing. Sebelum keluarga pihak pria datang, calon pengantin wanita melakukan acara  siraman  yaitu memandikan pengantin wanita dengan air kembang setaman yang dilakukan oleh kedua orang tua serta sanak keluarga dekat. Lalu dilanjutkan dengan acara kerikan  yaitu pengerikan rambut-rambut halus di sekitar wajah (alis dan pipi) serta tengkuk calon pengantin wanita. Kemudian acara pemberian cindera mata bagi calon mempelai wanita. kemudian juga dalam adat betawi misalnya, dikenal istilah seperti Ngedelengin, Nglamar, Bawa tande putus dan lain sebagainya.
Dari keragaman tata cara perkawinan ini sebenarnya ada satu pertanayaan yang cukup menarik untuk dibahas, apakah adat-adat perkawinan tersebut sudah sesuai dengan syariat’ ajaran islam bagi masyarakat indonesia yang menganut islam sebagai agamanya.


BAB II
PEMBAHASAN

Upacara pernikahan adat yang kita bahas pada pendahuluan diatas merupakan keragaman corak budaya yang ada di masyarakat kita, dan tentu saja masih banyak lagi upacara adat pernikahan tiap daerah berbeda-bada. Misalnya adat pernikahan Jawa, Lampung, Sumatera dan lainnya yang sama sekali tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam.
Kalau kita lihat gambaran upacara adat pernikahan di atas, betapa banyak adegan-adegan yang dilakukan oleh pihak kedua mempelai bersama keluarganya. Semua rangkaian adegan itu tidak ada yang dikenal oleh Islam, tetapi mengapa tetap juga dilakukan? Hanya karena alasan melestarikan adat nenek moyang?
Coba bandingkan antara adat pernikahan daerah dengan tata cara pernikahan secara Islam, pasti jauh lebih baik dan terhormat cara Islam, karena Islamlah satu-satu agama yang sempurna ajaran nya di segala bidang.
Islam telah memiliki tata cara pernikahan yang lebih terhormat, mengapa masih juga mengambil adat pernikahan yang ada disekitar kita? Yang dapat menjerumuskan pelakunya kepada hal-hal yang diharamkan dalam syariat. Hal-hal yang sudah umum dilakukan oleh muslimin di masyarakat kita tetapi haram bagi Islam, seperti:
1. Pacaran
Yaitu perkenalan dengan menjalin ikatan cinta yang berkepan jangan (bertahun-tahun) tanpa adanya ikatan yang sah menurut agama Islam (aqad). Hal ini haram hukumnya karena dapat menjerumuskan pelakunya pada perzinahan minimal zina hati atau mata atau bahkan zina yang sebenarnya. Keterangan tentang kejinya zina ada dalam Al-Qur'an surat Al-Isra' ayat 32, yang artinya:

"Janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk."


2. Pertunangan
Acara pertunangan yang biasa dikenal dengan  tukar cincin , biasanya laki-laki (calon mempelai laki-laki) memasukkan cincin ke jari jemari perempuan yang akan dinikahinya. Padahal dalam Islam haram hukumnya dua orang yang bukan mahram saling bersentu han. Karena Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh wanita yang bukan mahramnya, seperti dalam sebuah riwayat dari Aisyah radliyallahu 'anha , dia berkata: "Tiada pernah tangan Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam menyentuh tangan seorang perempuan kecuali perempuan yang telah menjadi miliknya."  (HR.Bukhari, At-Tirmidzi dan Ahmad dari Aisyah)
Bukan hanya itu saja yang diharamkan, tetapi acara tukar cincin itu sendiri adalah merupakan  Tasyabbuh  (penyerupaan/meniru orang kafir) dengan orang "barat", dan memakai cincin emas bagi pria juga haram hukumnya. Belum lagi kebanyakan para orang tua beranggapan bahwa setelah bertunangan, kedua calon pengantin ini sudah dianggap resmi menjadi pasangannya sehingga diperbolehkan pergi hanya berduaan saja, yang mana hal ini adalah haram pula hukumnya.

3. Ikhtilath
Percampuran laki-laki dan wanita yang bukan mahram dalam satu tempat memungkinkan untuk saling bertemu pandang atau bercakap-cakap secara langsung (tanpa hijab). Ini adalah diharamkan dalam syari'ah (bisa lihat keterangan masalah ini pada SALAFY edisi V).

4. Tasyabbuh bil kuffar
Penyerupaan dengan orang-orang kafir dalam hal ini adat seperti ini adalah warisan dari agama nenek moyang bangsa ini yaitu agama Hindu atau Budha. Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam mengatakan pada kaumnya yang mengikuti acara-acara orang kafir, maka akan termasuk golongan mereka, seperti dalam sabda beliau:
"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka"   (HR.Imam Ahmad dalam musnadnya juz II hal.50, dan Abu Dawud dengan sanad jayyid, dishahihkan Al-Albani dalam  Shahih Al- Jami'ush Shaghir  hadits no. 6025).

Masih dalam hal amalan Tasyabbuh dengan orang-orang non muslim adalah adalah bertabarruj (berhias diri) untuk dilihat oleh yang bukan mahramnya, mengerik bulu di atas mata (alis), memakai   pakaian yang tidak menutup aurat,   berjabat tangan dengan yang bukan mahramnya (tamu-tamu yang hadir).

5. Memakai sanggul
Baik pengantin wanita maupun para tamu yang hadir, biasanya mereka memakai sanggul atau rambut palsu dalam rangka mempercantik diri. Perbuatan ini adalah dilarang keras dalam agama Islam. Sebagaimana dalil-dalil dibawah ini:
"Sesungguhnya yang menyebabkan Bani Israil binasa adalah karena mereka mengmbil ini (rambut palsu) untuk wanita mereka"  (HR.Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi, dan selain mereka).

"Bersabda Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam : Ada dua golongan ahli neraka yang belum pernah aku melihat mereka, sekelompok manusia (kaum) yang memiliki cambuk seperti ekor lembu, yang dengannya mereka memukul orang lain. Dan para wanita yang berpaling dari taat kepada Allah dari apa yang harus mereka pelihara, serta mengerjakan tindakan-tindakan yang tercela tersebut kepada wanita- wanita yang lainnya. Kepala mereka menyerupai punuk (bungkul) seekor unta yang mendoyong, mereka tidak masuk surga dan tidak pula mendapatkan baunya, dan sesungguhnya bau surga sudah tercium dari jarak yang demikian."  (HR.Muslim).

6. Mahalnya Mas Kawin atau Mahar
Dengan pesta pernikahan yang banyak menghamburkan uang tersebut, maka standart mas kawin akan menjadi mahal, padahal sebaik-baik mas kawin adalah yang paling murah sebagaimana sabda Beliau shallalahu 'alaihi wa sallam:
"Dari Uqbah bin 'Amir beliau berkata: Rasulullah  shallallahu `alaihi wa sallam  bersabda: Sebaik-baik mas kawin itu adalah yang paling murah (bagi laki-laki)."  (Hadits shahih diriwayatkan oleh Al-Hakim dan Ibnu Majah, lihat   Shahih Al-Jami'us Shaghir  3279).

7. Menghambur-hamburkan Harta atau Uang,
Biasanya hal ini terjadi pada acara puncak yaitu resepsi atau acara walimah. Dalam kesempatan mereka berfoya-foya (berlebih-lebih) terutama dalam hal makanan hiasan-hiasan tempat pelaminan, bahkan ada yang melangsungkan acara ini selama 7 hari 7 malam. Mereka beranggapan bahwa pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup jadi harus diramaikan. Acara yang memakan biaya besar ini tidak jarang uangnya didapat dari hutang. Ini merupakan perkara yang tidak mulia dan bisa jadi haram Allah dan Rasul-Nya sangat tidak suka pada hal yang berlebih-lebihan.

8. Adanya Tari-tarian yang Diiringi oleh Musik
Tarian yang diiringi oleh musik adalah hal yang dilarang dalam Islam. Apalagi penarinya seorang wanita yang berpakaian membuka aurat dan ditonton oleh banyak laki-laki. emang benar sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa sallam yang mengatakan bahwa: Sungguh akan ada dari ummatku beberapa kaum yang menghalalkan  zina, sutra, khamr (minuman keras) dan alat-alat musik." (Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Abu Daud).

9. Kesyirikan
Dalam menetapkan hari pernikahan yang baik, sering pula terjadi kesyirikan dengan menghitung hari agar tidak jatuh pada hari sial. Ada pula yang memberi sesajen untuk dewa atau ruh-ruh tertentu agar mendapat restu serta selamat jalannya acara pernikahantersebut dan lain-lain. Padahal kita tahu bahwa dosa terbesar yang tidak diampuni (jika tidak segera bertaubat) adalah dosa syirik.
Dalam suasana yang sakral seperti ini (walimatul 'urus), biasanya para malaikat Allah ikut hadir untuk meng- amin -kan doa-doa, dan waktu ini pula termasuk waktu maqbulnya doa. Namun jika di dalam acara seperti ini banyak penyimpangan atau pelanggaran syari'ah, bagaimana mungkin malaikat rahmat akan hadir di sana? dan bagaimana doa bisa terkabul? Apa jadinya rumah tangga yang akan dijalani kelak oleh pengantin tadi jika tidak adanya iringan doa-doa kebaikan dari orang-orang yang hadir saat itu.

Demikianlah fenomena yang kita jumpai pada masyarakat kita. Terlalu banyak kemaksiatan dimana-mana, tidak hanya pada salah satu bidang saja akan tetapi di segala bidang di seluruh penjuru dunia ini. Semoga dengan tulisan yang singkat ini dapat bermanfaat bagi orang tua yang akan menikahkan anaknya atau pria yang akan menikah.
Pakailah tata cara Islam yang telah dituntunkan oleh Rasulullah shallalahu 'alaihi wa sallam agar mendapatkan barakahnya dari Allah Ta'ala kepada kedua mempelai dan rumah tangga yang akan dijalaninya kelak.
Dalam study kasus ini yang akan kami bahas adalah perniklahan adat sunda. Dalam Pernikahan Adat Sunda rangkaian acaranya di mulai dari pembicaraan orang tua dari pihak kedua mempelai sampai acara yang dinamakan: muka panto (buka pintu). Bagi banyak orang Sunda, tahap-tahap proses adat pernikahan wajib dilakukan. berbagai proses acara pernikahan khas Sunda sebelum dan sesudah pernikahan adalah sebagai berikut:
Pertama, tahap Nendeun Omong. Tahap ini adalah pembicaraan orang tua kedua pihak mempelai atau siapapun yang dipercaya jadi utusan pihak pria yang punya rencana mempersunting seorang gadis sunda. Orang tua atau sang utusan datang bersilaturahmi dan menyimpan pesan bahwa kelak sang gadis akan dilamar. Sebelumnya memang orang tua masing-masing sudah membuat kesepakatan untuk menjodohkan atau laki-laki dan perempuannya sudah sepakat untuk ‘mengikat janji’ dalam suatu ikatan pernikahan, maka selanjutnya orang tua pria datang sendiri atau menyuruh orang ke rumah sang gadis untuk menyampaikan niat. Intinya, neundeun omong (titip ucap, menaruh perkataan atau menyimpan janji) yang menginginkan sang gadis agar menjadi menantunya. Dalam hal ini, orang tua atau utusan memerlukan kepandaian berbicara dan berbahasa, penuh keramahan.
Kedua, tahap Lamaran. Tahap melamar atau meminang ini sebagai tindak lanjut dari tahap pertama. Proses ini dilakukan orang tua calon pengantin keluarga sunda dan keluarga dekat. Hampir mirip dengan yang pertama, bedanya dalam lamaran, orang tua laki-laki biasanya mendatangi calon besannya dengan membawa makanan atau bingkisan seadanya, membawa lamareun sebagai simbol pengikat (pameungkeut), bisa berupa uang, seperangkat pakaian, semacam cincin pertunangan, sirih pinang komplit dan lainnya, sebagai tali pengikat kepada calon pengantin perempuannya. Selanjutnya, kedua pihak mulai membicarakan waktu dan hari yang baik untuk melangsungkan pernikahan.
Ketiga, tahap Tunangan. Tahap ini adalah prosesi ‘patuker beubeur tameuh’, yaitu dilakukan penyerahan ikat pinggang warna pelangi atau polos kepada si gadis.
Keempat, tahap Seserahan (3-7 hari sebelum pernikahan). Calon pengantin pria membawa uang, pakaian, perabot rumah tangga, perabot dapur, makanan, dan lain-lain.
Kelima, tahap Ngeuyeuk seureuh (opsional, jika ngeuyeuk seureuh tidak dilakukan, maka seserahan dilaksanakan sesaat sebelum akad nikah). Tahap ini dilakukan sebagai berikut:
1. Dipimpin Pengeuyeuk.
2. Pengeuyek mewejang kedua calon pengantin agar meminta ijin dan doa restu kepada kedua orang tua serta memberikan nasehat melalui lambang-lambang atau benda yang disediakan berupa parawanten, pangradinan dan sebagainya.
3. Diiringi lagu kidung oleh Pangeuyeuk
4. Disawer beras, agar hidup sejahtera.
5. dikeprak dengan sapu lidi disertai nasehat agar memupuk kasih sayang dan giat bekerja.
6. Membuka kain putih penutup pengeuyeuk. Melambangkan rumah tangga yang akan dibina masih bersih dan belum ternoda.
7. Membelah mayang jambe dan buah pinang (oleh calon pengantin pria). Bermakna agar keduanya saling mengasihi dan dapat menyesuaikan diri.
8. Menumbukkan alu ke dalam lumpang sebanyak tiga kali (oleh calon pengantin pria).
Keenam, tahap Membuat Lungkun. Dua lembar sirih bertangkai saling dihadapkan. Digulung menjadi satu memanjang. Diikat dengan benang kanteh. Diikuti kedua orang tua dan para tamu yang hadir. Maknanya, agar kelak rejeki yang diperoleh bila berlebihan dapat dibagikan kepada saudara dan handai taulan. Ketujuh, tahap Berebut uang di bawah tikar sambil disawer. Melambangkan berlomba mencari rejeki dan disayang keluarga.
Kedepalan, tahap Upacara Prosesi Pernikahan:
1. Penjemputan calon pengantin pria , oleh utusan dari pihak wanita
2. Ngabageakeun, ibu calon pengantin wanita menyambut dengan pengalungan bunga melati kepada calon pengantin pria, kemudian diapit oleh kedua orang tua calon pengantin wanita untuk masuk menuju pelaminan.
3. Akad nikah, petugas KUA, para saksi, pengantin pria sudah berada di tempat nikah. Kedua orang tua menjemput pengantin wanita dari kamar, lalu didudukkan di sebelah kiri pengantin pria dan dikerudungi dengan tiung panjang, yang berarti penyatuan dua insan yang masih murni. Kerudung baru dibuka saat kedua mempelai akan menandatangani surat nikah.
4. Sungkeman,
5. Wejangan, oleh ayah pengantin wanita atau keluarganya.
6. Saweran, kedua pengantin didudukkan di kursi. Sambil penyaweran, pantun sawer dinyanyikan. Pantun berisi petuah utusan orang tua pengantin wanita. Kedua pengantin dipayungi payung besar diselingi taburan beras kuning atau kunyit ke atas payung.
7. Meuleum harupat, pengantin wanita menyalakan harupat dengan lilin. Harupat disiram pengantin wanita dengan kendi air. Lantas harupat dipatahkan pengantin pria.
8. Nincak endog (menginjak telur), pengantin pria menginjak telur dan elekan sampai pecah. Lantas kakinya dicuci dengan air bunga dan dilap pengantin wanita.
9. Muka Panto (buka pintu). Diawali mengetuk pintu tiga kali. Diadakan tanya jawab dengan pantun bersahutan dari dalam dan luar pintu rumah. Setelah kalimat syahadat dibacakan, pintu dibuka. Pengantin masuk menuju pelaminan.

  
BAB III
KESIMPULAN
Setelah kita bahas adat pernikahan yang dilakukan di Sunda, bisa kita simpulkan adanya kebiasaan-kebiasaan yang bertentangan dengan agama, karena walimatu ur’si yang di anjurkan oleh islam atau menurut hukum fiqih yaitu walimatu ur’si yang sangat sederhana dan tidak berlebih-lebihan.


 DAFTAR PUSTAKA
1.      http://budayakita.wordpress.com/
2.      Shahih Al-Jami'us Shaghir  3279).
3.      SALAFY edisi V).
4.      http://syikinyahya.wordpress.com/
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top