Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Thursday, January 7, 2016

CONTOH PROPOSAL PENGGUNAAN MEDIA KERTAS BERPETAK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PENGUKURAN LUAS DAERAH BANGUN DATAR

A.    JUDUL
PENGGUNAANMEDIA KERTAS BERPETAK UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP PENGUKURAN LUASDAERAH BANGUN DATAR  
(Penelitian Tindakan Kelas pada Pembelajaran Matematika Kelas III  SDN Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya).

B.     LATAR BELAKANG MASALAH     
Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) berkembang pesat seiring dengan tuntutan zaman, yang memungkinkan semua pihak dapat memperoleh informasi dengan cepat dan mudah dari berbagai sumber dan tempat di dunia. Selain perkembangan yang pesat, perubahan juga terjadi dengan cepat. Karena itu untuk mengikutinya diperlukan kemampuan untuk memperoleh dan mengelola serta memanfaatkan informasi untuk bertahan pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti dan kompetitif.
Seiring dengan kemajuan IPTEK, pendidikan matematika diberbagai Negara terutama negara-nagara maju telah berkembang dengan cepat, disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa kemajuan sains dan teknologi. Terkait dengan pembelajaran matematika, banyak kecendrungan baru yang tumbuh dan berkembang diberbagai negara, sebagai inovasi dan reformasi model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan yang akan datang.
“Pada hakekatnya matematika itu adalah ilmu dedukatif yang abstrak, sedangkan anak usia SD relatif berada pada pemikiran konkret dengan kemampuannya yang bervariasi, sehingga strategi dan pendekatan psikologi sebagai jembatan sementara adalah salah satu alternatifnya (Karso, 2007 : 1.1).
Belajar matematika bagi para siswa merupakan alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan atau tabel-tabel dalam pembelajaran matematika. Belajar matematika juga merupakan pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun dalam penalaran suatu hubungan.
“Dalam setiap kesempatan, pembelajaran matematka hendaknya di mulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem).dengan mengajukan masalah kontekstual, siswa secara bertahap dapat dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk mengefektifkan kegiatan pembelajaran, sekolah diharapkan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi seperti komputer, alat peraga dan media lainnya (Permendiknas, 2006 : 109).”

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika khususnya di Sekolah Dasar (SD) adalah modal dasar siswa dalam pengembangan keterampilan maupun dalam penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari. Dalam aplikasi pembelajaran matematika tentunya banyak faktor yang menjadi tantangan yang dihadapi baik oleh guru maupun siswa sebagai pembelajar. Berdasarkan hal tersebut salah satu kesulitan yang dihadapi yaitu mengenai penguasaan konsep matematika. Seperti penemuan penulis yang terjadi di SDN Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya, sebagian besar siswa dalam pembelajaran matematika yaitu mengenai konsep pengukuran luas daerah bangun datar yang terjadi di kelas III. Para siswa kesulitan memahami tentang bagaimana konsep pengukuran luas daerah bangun datar.
Selain karena tahap perkembangan berpikir para siswa SD yang masih belum formal dan relatif masih konkret, salah satu faktor penunjang keberhasilan pembelajaran matematika di SD adalah bagaimana menggunakan media dan alat bantu belajar agar siswa lebih mudah dalam setiap menerima materi pelajaran yang diberikan. Penggunaan media dan alat peraga yang efektif sesuai dengan perkembangan berpikir siswa yang masih konkret.
Sesuai dengan ruang lingkup mata pelajaran matematika pada satuan pendidikan SD yang meliputi aspek geometri dan pengukuran, bilangan dan pengolahan data, maka materi tentang geometri menjadi suatu kewajiban bagi semua siswa untuk dikuasai. Didalam pembelajaran geometri, bangun datar merupakan salah satu pokok bahasan yang sangat penting untuk dipelajari. Penggunaan media sebagai alat bantu pembelajaran yang disengaja dan terencana akan memperjelas materi pelajaran yang diberikan dan digunakan siswa untuk terlibat langsung dengan pembelajaran matematika. “Salah satu keuntungan penggunaan media pembelajaran adalah membuat siswa lebih mudah memahami materi karena dibantu oleh visualisasi yang dapat memperjelas uraian (Muhsetyo, 2009 : 2.3).”
Media kertas berpetak adalah salah satu media dalam pembelajaran matematika yang dapat digunakan untuk memperjelas banyak hal yang terkait dengan geometri (bangun datar dan sifat-sifatnya, hubungan antar bangun datar, dan luas daerah bangun datar). Media kertas berpetak termasuk kedalam bahan manipulatif dalam pembelajaran matematika di SD. Dalam perkembangannya, pengguanaan media kertas berpetak ini dapat dibuat dengan menggunakan white board.
Berdasarkan hasil pengamatan tentang kesulitan siswa maupun guru yang terjadi di SDN Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya khususnya dalam pembelajaran matematika mengenai materi konsep pengukuran luas daerah bangun datar yang terjadi di kelas III, maka penggunaan media kertas berpetak yang tepat adalah salah satu solusi yang bisa diajukan. Dari uraian di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan judul “Penggunaan media kertas berpetak untuk meningkatkan pemahaman konsep pengukuran luas daerah bangun datar”. 

C. PERUMUSAN MASALAH
1.      Identifikasi Masalah dan Analisis Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat diidentifikasi  dan dianalisis beberapa masalah sebagai berikut:
a.       Rendahnya kemampuan dalam konsep pengukuran
b.      Siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran
c.       Guru masih menggunakan pembelajaran konvensional
d.      Siswa kurang dilatih dalam penguasaan konsep matematika
e.       Guru jarang menggunakan alat peraga khususnya dalam pembelajaran pengukuran luas daerah bangun datar
2.      Rumusan Masalah
a.       Rumusan masalah secara umum
Memperhatikan latar belakang di atas masalah yang akan diteliti adalah “ Bagaimanakah upaya meningkatkan pemahaman konsep pengukuran luas daerah bangun datar dengan media kertas berpetak ?” 
b.      Rumusan masalah secara khusus :
1)      Bagaimanakah perencanaan pembelajaran dengan menggunakan media kertas berpetak dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pengukuran luas daerah bangun datar?
2)      Bagaimanakah proses pembelajaran dengan menggunakan media kertas berpetak dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pengukuran luas daerah bangun datar?
3)      Bagaimanakah hasil belajar siswa dengan menggunakan media kertas berpetak dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep pengukuran luas daerah bangun datar?

D. TUJUAN PENELITIAN
Secara umum tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh informasi secara objektif dan ilmiah tentang pemahaman konsep pengukuran luas daerah bangun datar dengan menggunakan media kertas berpetak.
Secara khusus tujuan dari penelitian ini adalah :
1.      Untuk memperoleh perencanaan pembelajaran dengan menggunakan media kertas berpetak dalam konsep pengukuran luas daerah bangun datar yang tepat dan memadai.
2.      Untuk meningkatkan proses pembelajaran dengan menggunakan media kertas berpetak dalam konsep pengukuran luas daerah bangun datar.
3.      Untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan media kertas berpetak dalam konsep pengukuran luas daerah bangun datar.

E. MANFAAT PENELITIAN
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran matematika terutama dalam pemahaman konsep luas daerah bangun datar di sekolah dasar.
Adapun manfaat penelitian ini sebagai berikut :
1.      Bagi Siswa
a.       Meningkatkan kemampuan siswa tentang pengukuran luas daerah bangun datar.
b.      Mengembangkan kemampuan berpikir aktif dan kreatif melalui penggunaan media kertas berpetak.
2.      Bagi Guru
Memperbaiki dan meningkatkan pembelajaran matematika di kelas sehingga dapat meminimalisasi permasalahan yang dihadapi oleh siswa maupun oleh guru.
3.      Bagi Sekolah
Memberikan masukan berkenaan dengan pelaksanaan pembelajaran matematika di sekolah dasar dalam upaya peningkatan mutu pendidikan.


F. LANDASAN TEORI
1.      Hakikat Matematika
Johnson dan Rising (1972, dalam Suherman, et al. 2001:190) dalam buku mengatakan bahwa matematika adalah pola berpikir, pola mengorganisasi, pembuktian yang logis, matematika itu adalah bahasa yang menggunakan istilah yang didefinisikan dengan cermat, jelas, dan akurat, representasinya dengan simbol dan padat, lebih berupa bahasa simbol mengenai ide daripada mengenai bunyi. Matematika tumbuh dan berkembang karena proses berpikir, oleh karena itu logika adalah dasar untuk terbentuknya matematika.
“Pembelajaran matematika merupakan ilmu yang universal yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin ilmu dan memajukan daya pikir manusia (Permendiknas, 2006 : 109).”
Pembelajaran matematika didalamnya selalu melibatkan teori belajar para ahli. Salah satunya yang harus menjadi pertimbangan dalam keberhasilan pembelajaran adalah teori-teori belajar yang didalamnya membicarakan perkembangan siswa berikut karakteristiknya. Hal ini sangat sesuai karena pembelajaran akan bergerak dalam ruang lingkup siswa. Teori belajar akan selalu membantu dalam proses belajar mengajar khususnya bagi guru yang mana didalamnya terkandung unsur-unsur seperti metode, media, pendekatan, dan teknik yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

2.      Matematika di Sekolah Dasar
Matematika sekolah adalah matematika yang diajarkan di sekolah yang terdiri atas bagian-bagian matematika yang dipilih guna menumbuhkembangkan kemampuan-kemampuan dan membentuk pribadi serta berpandu pada perkembangan IPTEK. Hal ini menunjukan bahwa matematika sekolah tetap memiliki ciri-ciri yang dimiliki matematika, yaitu memiliki objek kejadian yang abtraks serta berpola pikir deduktif konsisten.
“Mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua siswa mulai dari sekolah taman kanak-kanak sampai ke tingkat perguruan tinggi, sehingga dapat memberikan kemampuan untuk berpikir secara logis, analitis, sisitematis, kritis, dan kreatif serta kemampuan bekerja sama (Dedi, 2010 : 34).”

Kompetensi dalam matematika tersebut diperlukan agar siswa memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.
Fungsi mata pelajaran matematika adalah sebagai alat, pola pikir dan ilmu atau pengetahuan. Ketiga fungsi matematika tersebut hendaknya dijadikan acuan dalam pembelajaran matematika sekolah (Suherman, et al. 2001).

3.      Pembelajaran Geometri (Bangun Geometri Datar)
“Bangun datar merupakan salah satu pokok bahasan yang sangat penting baik dalam mempelajari geometri, maupun penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari (Muchtar, 2007 : 1.1).” bangun datar sangat dibutuhkan sebagai prasyarat untuk mempelajari bangun ruang. Hal ini dapat diterima karena saat kita mempelajari balok ataupun kubus misalnya, kita akan menggunakan titik, garis, ruas garis, sudut, persegi panjang, dan persegi. Dalam kehidupan sehari-hari, bangun datar sangat banyak ditemukan, misalnya kusen pintu ruang kelas dan sisi atau tepi papan tulis.
Dalam mempelajari geometri pasti akan berhubungan dengan beberapa ide, atau gagasan dasar yang tidak mempunyai definisi dalam bidang geometri. Contoh ide dasar dalam geometri antara lain adalah titik, garis, bidang, permukaan dan ruang. Didalam penelitian ini, penulis memfokuskan penelitian pada bangun datar sederhana yaitu pada luas daerah bangun datar persegi dan persegi panjang di kelas III.
Sudut adalah gabungan dua sinar garis yang titik pangkalnya bersekutu. Kurva merupakan kumpulan semua titik yang dapat digambar tanpa mengangkat pensil. Ada dua jenis kurva yaitu kurva tertutup dan kurva tidak tertutup. Segi banyak adalah suatu kurva sederhana tertutup yang terbentuk oleh/ terdiri atas segmen garis. Segmen garis-segmen garis yang telah membentuk segi banyak tersebut dinamakan sisi. Segi banyak paling sedikit memiliki tiga sisi yang dinamakan segitiga. Segi banyak dengan empat sisi dinamakan segi empat dan begitu juga seterusnya.
“Persegi adalah segi empat dengan empat sisi sama panjang dan empat sudutnya siku-siku. Persegi panjang adalah segi empat dengan empat sudutnya siku-siku (Muchtar, 2007 : 1.27).”

4.      Media Kertas Berpetak sebagai media pembelajaran
“Istilah media berasal dari bahasa latin yang merupakan bentuk jamak “medium” yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Makna umumnya adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan informasi dari sumber informasi kepada penerima informasi. Proses belajar mengajar pada dasarnya juga merupakan proses komunikasi, sehingga media yang digunakan dalam pembelajaran disebut media pembelajaran (Aristo, 2003 : 9).”
Istilah alat peraga, alat bantu guru, atau alat bantu belajar paa dasarnya dapat dimasukan dalam konsep media, karena konsep media merupakan perkembangan lebih lanjut dari konsep-konsep tersebut. Didalam pembelajaran matematika penggunaan media pembelajaran merupakan salah satu prasyarat dalam keberhasilan pembelajaran.
“Alat dan media pembelajaran matematika pada dasarnya merupakan dunia nyata dengan cara memanipulasikan sebagai perantara pembelajaran (Dedi, 2010 : 36).” Pengelompokan berbagai jenis media dilihat dari segi perkembangan teknologi disebutkan bahwa “Media kertas berpetak adalah salah satu bentuk media visual tradisional yang tak diproyeksikan yaitu termasuk ke dalam media tabel (Arsyad, 2007 : 33)
“Media kertas berpetak adalah salah satu media dalam pembelajaran matematika yang dapat digunakan untuk memperjelas banyak hal yang terkait dengan geometri (bangun datar dan sifat-sifatnya, hubungan antar bangun datar, dan luas daerah bangun datar). Media kertas berpetak termasuk kedalam bahan manipulatif dalam pembelajaran matematika di SD. Dalam perkembangannya, pengguanaan media kertas berpetak ini dapat dibuat dengan menggunakan white board (Muhsetyo, 2007 : 2.3).”

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa media kertas berpetak adalah salah satu media pembelajaran matematika yang dapat digunakan sebagai alat bantu belajar khususnya di dalam mempelajari pengukuran luas daerah bangun datar sederhana seperti bangun datar persegi dan persegi panjang.



G.    KERANGKA BERPIKIR
Penelitian ini menindaki ketertautan antara variabel proses dengan variabel hasil. Variabel proses berupa penggunaan media kertas berpetak  pembelajaran matematika, sedangkan variabel hasil adalah kemampuan siswa didalam pengukuran luas daerah bangun datar sederhana yaitu persegi dan persegi panjangMedia kertas berpetak adalah salah satu media visual dalam pembelajaran matematika yang bisa digunakan didalam konsep penghitungan luas daerah bangun datar khususnya bangun datar sederhana. Didalam proses pelaksanaan pembelajarannya, guru membimbing siswa didalam menggunakan media kertas berpetak didalam pembuatan bangun datar sederhana yang dimulai dari pembuatan titik, garis, ataupun sebuah kurva bidang. Melalui penggunaan media kertas berpetak ini diharapkan siswa mampu dan terampil serta menguasai konsep didalam penghitungan luas daerah bangun datar khususnya bangun datar persegi dan bangun datar persegi panjang.

  1. ANGGAPAN DASAR
Menurut Surakhmad (dalam Suharsimi, 2005 : 28) disebutkan bahwa anggapan dasar atau postulat adalah sebuah titik tolak pemikiran yang kebenarannya diterima oleh penyelidik. Adapun anggapan dasar dalam penelitian ini adalah :
1.    Kegiatan belajar mengajar (KBM) memerlukan media yang tepat dan sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
2.    Media kertas berpetak adalah salah satu media pembelajaran matematika yang bisa digunakan didalam konsep pengukuran luas daerah bangun datar.
   
I. HIPOTESIS TINDAKAN
Menurut Hermawan, R. et All (2007 : 19) “Hipotesis adalah jawaban sementara atau dugaan sementara terhadap pertanyaan penelitian. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan sebelum dibuktikan dengan penelitian. Adapun hipotesis dalam tindakan penelitian ini adalah dalam pembelajaran matematika dengan menggunakan media kertas berpetak secara baik yang dilaksanakan di kelas III Sekolah Dasar Negeri Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya diyakini akan mampu meningkatkan pemahaman siswa dalam pembelajaran  matematika khususnya dalam penguasaan konsep pengukuran luas daerah bangun datar.

J. METODE PENELITIAN
1.      Model PTK
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK).
Menurut Basuki (2003: 6) “Penelitian Tindakan Kelas adalah suatu penelitian yang mengangkat masalah-masalah aktual yang dihadapi ole guru di lapangan. Didalam pelaksanaan PTK, guru mempunyai peran ganda sebagai praktisi dan peneliti.
Ada beberapa alasan mengapa PTK itu penting dan merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesionalismenya. Salah satu alasannya yaitu karena PTK sangat kondusif untuk membuat guru menjadi peka san tanggap terhadap dinamika pembelajaran dikelasnya. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru mampu memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan aktual guru semata-mata didasarkan pada masalah aktual dan faktual yang berkembang di kelasnya.
Siklus tindakan penelitian akan dilaksanakan dalam beberapa siklus dengan menggunakan model Kemmis dan Mc.Taggart seperti tertuang pada gambar dibawah ini:
Alur Pelaksanaan Tindakan Dalam PTK
Penelitian Tindakan Model Kemmis dan Mc. Taggart

Teknik pelaksanaan tindakan penelitian terdiri atas empat kegiatan, yaitu perenanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Namun PTK yang digunakann adalah model Kemmis dan Mc. Taggart, yaitu kegiatan tindakan dan observasi  dilaksanakan secara serempak.
Jika pada siklus pertama penelitian tersebut hasilnya kurang dari indikator keberhasilan yang ditetapkan baik indikator keberhasilan untuk guru maupun siswa, maka penelitian dilanjutkan dengan siklus berikutnya dengan melakukan  perbaikan terhadap rencana penelitian sebelumnya (rencana direvisi). Siklus tersebut akan berhenti jika penelitian yang dilakukan telah dirasa berhasil dan sesuai dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan oleh peneliti sebelum penelitian dilaksanakan.
2.      Setting Penelitian
a.       Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri 2 Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya. Alasan memilih lokasi penelitian ini sebab setelah penulis melaksanakan observasi awal, terdapat masalah dalam pembelajaran matematika khususnya dalam pembelajaran bangun datar sederhana. Hasil yang diperoleh siswa kurang dari standar Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah.
b.   Subjek Penelitian
Subjek penelitian ini adalah siswa kelas III SD Negeri Sukarapih  Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.

c.   Definisi Operasional
1)  Variabel proses pada Penelitian Tindakan Kelas ini adalah  Pembelajaran Matematika dengan menggunakan media kertas berpetak dalam pengukuran luas daerah bangun datar sederhana. Media kertas berpetak yang dimaksud adalah media visual sederhana yang terbuat dari kertas yang digunakan dalam pembuatan titik, garis, sudut maupun kurva. Selanjutnya dibuat bagun datar sederhana berupa bangun datar persegi dan persegi panjang kemudian dihitung luas daerah bangun tersebut.
 2)  Variabel hasil pada penelitian ini adalah kemampuan siswa didalam penguasaan konsep penghitungan luas daerah bangun datar sederhana yang difokuskan pada bangun datar persegi dan persegi panjang.
d.   Fokus Tindakan
Fokus tindakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)      Kinerja Guru
a)      Meningkatkan kemampuan guru dalam membuat rencana pembelajaran metematika dengan menggunakan media kertas berpetak.
b)      Meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran metematika dengan menggunakan media kertas berpetak.

2)      Aktifitas dan Hasil Belajar Siswa
a)      Meningkatkan pemahaman siswa tentang konsep matematika khususnya dalam konsep pembelajaran bangun datar sederhana.
b)      Meningkatkan kemampuan atau hasil belajar siswa dalam konsep penghitungan luas daerah bangun datar sederhana melalui media kertas berpetak.
3. Prosedur Penelitian
a.   Orientasi dan Identifikasi Masalah
Orientasi dan identifikasi masalah merupakan tahap awal dalam kegiatan penelitian. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam tahap ini adalah sebagai berikut :
1)      Melakukan telaah kurikulum terkait materi pembelajaran matematika  kelas III semester 1 di sekolah dasar.
2)      Melakukan orientasi dengan berfokus terhadap perencanaan pembelajaran matematika dengan menggunakan media kertas berpetak.
3)      Mengidentifikasi kemampuan awal siswa tentang bangun datar sederhana.
4)      Mengidentifikasi proses pembelajaran matematika dengan menggunakan media kertas berpetak.
5)      Mengidentifikasi hasil pembelajaran matematika dengan menggunakan media kertas berpetak.
b.   Perencanaan Tindakan Penelitian
Perencanan tindakan penelitian dilakukan berdasarkan pada hasil orientasi dan identifikasi masalah kemampuan awal siswa tentang bangun datar sederhana di kelas III SD Negeri Sukarapih. Kegiatan yang dilakukan, diantaranya sebagai berikut:
1)      Siklus tindakan penelitian dilaksanakan dalam beberapa siklus. Sebagaimana dijelaskan diatas bahwa jenis PTK yang akan digunakan adalah model Kemmis dan Mc. Tagart.
2)      Penerapan teknik pelaksanaan tindakan penelitian
      Teknik pelaksanaan tindakan penelitian terdiri atas empat kegiatan, yaitu perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Namun PTK yang digunakan adalah model Kemmis dan Mc.Tagart, yaitu kegiatan tindakan dan observasi dilaksanakan secara bersamaan.
3)      Penerapan instrument tindakan penelitian
      Instrument yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah :
Lembar observasi, digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan guru dalam menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, menjawab aktifitas guru dan siswa selama proses pembelajaran berlangsung.
a)      Lembar tes tertulis, digunakan untuk memperoleh data hasil belajar siswa.
c.   Pelaksanaan tindakan penelitian
1)      Tindakan pembelajaran siklus 1
a)      Menyusun perencanaan pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.
b)      Melaksanakan pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri  Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.
c)      Merefleksi pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.
Hasil refleksi siklus pembelajaran siklus 1 dijadikan bahan bagi tindakan pembelajaran pada siklus selanjutnya.
2)      Tindakan pembelajaran siklus 2
a)      Menyususn perencanaan pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya untuk siklus 2 berdasarkan hasil refleksi pada pembelajaran siklus 1.
b)      Melaksanakan pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri  Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya berdasarkan hasil refleksi dan upaya perbaikan terhadap perbaikan siklus 1.
c)      Refleksi hasil pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri  Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.
4. Teknik Pengumpulan Data
Pada penelitian ini digunakan teknik pengumpulan data, yaitu teknik tes dan observasi.
a.       Teknik Tes
Teknik tes digunakan dan dilaksanakan setiap akhir tindakan pembelajaran dengan bertujuan untuk mengetahui dan mengukur kemampuan hasil belajar siswa setelah proses pembelajaran serta melihat perkembangannya.
b.  Teknik Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran dengan menggunakan lembar obervasi selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
5. Teknik analisis data
Analisis data hasil penelitian menggunakan teknik analisis deskriftif kualitatif. Analisis dilakukan pada setiap siklus pembelajaran dengan menggunakan tahapan sebagai berikut :
a.       Pengumpulan data hasil penelitian tindakan kelas tentang kemampuan siswa dalam penghitungan luas daerah bangun datar sederhana dalam pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri Sukarapih Kecamatan Sariwangi  Kabupaten Tasikmalaya.
b.      Pengelompokkan data yaitu kinerja siswa, kinerja guru dan peningkatan hasil belajar siswa dalam pembelajaran matematika di kelas III SD Negeri Sukarapih Kecamatan Sariwangi Kabupaten Tasikmalaya.
c.       Interpretasi dan refleksi data berdasarkan tingkatan pencapaian misalnya baik, sedang dan kurang.
d.      Rekomendasi dan tindak lanjut ditentukan berdasarkan hasil refleksi data, apakah perlu atau tidak diadakan siklus pembelajaran berikutnya.

6. Kriteria Keberhasilan
Indikator keberhasilan tindakan perbaikan yang dilakukan guru untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam penghitungan luas daerah bangun datar sederhana sebagai berikut:
a.                Bagi Guru
Kemampuam guru memiliki kriteria baik apabila sekurang-kurangnya memenuhi 65%  jumlah indikator keberhasilan yang telah tetapkan.
b.   Bagi Siswa
Kemampuan siswa meningkat apabila minimal sebanyak 65% siswa dapat meningkatkan kemampuan atau hasil belajar dalam pengukuran daerah bangun datar sederhana.
   
K.    JADWAL PENELITIAN
Jadwal penelitian ini 5 bulan mulai dari bulan September 2010 sampai dengan bulan Januari 2011 dengan jadwal penelitian sebagai berikut :

Tabel 1.1

Jadwal Penelitian

  
L.     DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2006). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik.
Jakarta: Rineka Cipta.
Aristo. (2003). Media Pembelajaran. Jakarta : Depdiknas.
Arsyad, A (2007). Media Pembelajaran. Jakarta : Grapindo Persada.
Basuki. (2003). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Depdiknas.
Dedi. (2010). Matematika di kelas 4 SD. Bandung : Diknas Provinsi Jawa barat.
Depdiknas.(2006). Kurikulum- 2006 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Pepublik Indonesia No 22 Tahun 2006 Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Media Makmur maju Mandiri.
Hermawan, Ruswandi, Mujono dan Suherman, Ayi. (2007). Metode Penelitian Pendidikan Sekolah Dasar. Bandung: UPI PRESS.
Karso, dkk. (2007). Pendidikan Matematika I. Jakarta : Universitas Terbuka.
Muchtar, dkk. (2007). Pendidikan Matematika II. Jakarta : Universitas Terbuka.
Muchsetyo, dkk (2007). Konsep Dasar Matematika. Jakarta : Universitas Terbuka.
Suherman,  at. al. (2001). Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
            Bandung: JICA Tim MKPBM Universitas Pendidikan Indonesia.
Tim Penyusun Pedoman Penulisan. (2006). Pedoman Penulisan Karya Ilmiah.       Bandung: UPI
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top