Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Sunday, March 1, 2015

Hakikat dan Pembelajaran Matematika di SD

Belajar matematika bagi para siswa merupakan alat untuk memahami atau menyampaikan suatu informasi misalnya melalui persamaan-persamaan, atau tabel-tabel dalam pembelajaran matematika. Belajar matematika adalah pembentukan pola pikir dalam pemahaman suatu pengertian maupun penalaran dalam suatu hubungan. Matematika berasal dari bahasa Yunani atau Latin “Thanein” atau “Mathein” yang artinya belajar atau hal yang dipelajari, sedangkan dalam bahasa Belanda disebut “Wiskunde” atau ilmu pasti yang semuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2006: 2).

Ruseffendi (Tim MKPBM, 2001 : 18) menyatakan bahwa “Matematika terbentuk sebagai hasil pemikiran manusia yang berhubungan dengan ide, proses, dan penalaran”. Tahap awal matematika terbentuk dari pengalaman manusia dalam dunianya secara empiris, karena matematika sebagai aktifitas manusia. Kemudian pengalaman itu diproses, diolah secara analisis dan sintesis dengan penalaran di dalam pola pikir kognitif sehingga sampai pada suatu kesimpulan berupa konsep matematika.

Karso (2007 : 1.4) menyatakan bahwa “Matematika adalah ilmu yang deduktif, aksiomatik, formal, hirarkis, abstrak, bahasa simbol yang padat arti dan semacamnya”. Para ahli matematika dapat mengembangkan sebuah sistem matematika. Mengingat adanya perbedaan karakteristik, maka diperlukan adanya kemampuan khusus dari seorang guru untuk menjembatani antara dunia siswa yang belum berpikir secara deduktif untuk dapat mengerti dunia matematika yang bersifat deduktif. 

Secara etimologis, Elea Tinggih (Tim MKPBM, 2001 : 18) menyatakan bahwa “Perkataan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar”. Hal ini dimaksudkan bukan berarti ilmu lain diperoleh tidak melalui penalaran, akan tetapi dalam matematika lebih menekankan dalam aktifitas dunia rasio (penalaran). Sedangkan dalam ilmu lain lebih menekankan hasil observasi atau eksperimen disamping penalaran.

Dari beberapa pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa matematika adalah salah satu ilmu yang menekanakan pada penalaran manusia yang terbentuk dari suatu pengalaman yang melibatkan aktifitas manusia. Terkait dengan pembelajaran matematika, banyak kecendrungan baru yang tumbuh dan berkembang di banyak negara, sebagai inovasi dan reformasi model pembelajaran yang diharapkan sesuai dengan tantangan sekarang dan mendatang. 

“Beberapa model matematika di antaranya : Contextual Learning, Cooperative Learning, Realistic Mathematic Education (RME), Problem Solving, Mathematical Investigation, Guided Discovery, Open-Ended (Multiple Solutions, multiple method solution), Manipulative material, Concept Map, Quantum Teaching and Learning, and Writing in Mathematics (Muhsetyo, 2009 : 12)”.

Sebagai pengetahuan, matematika mempunyai ciri-ciri khusus antara lain abstark, deduktif, konsisten, hierarkis, dan logis. Soedjadi (dalam Muhsetyo, 2009 : 12) menyatakan bahwa “Keabstrakan matematika karena objek dasarnya abstrak, yaitu fakta konsep, operasi, dan prinsip”. Ciri keabstrakan matematika beserta dengan ciri yang lainnya yang tidak sederhana, menyebabkan matematika tidak mudah untuk dipelajari, sehingga banyak siswa yang kurang tertarik terhadap matematika.

Pencarian dan pemilihan model pembelajaran matematika perlu berorientasi pada perkembangan teknologi mutakhir di dunia. Model pembelajaran matematika yang berkembang didasarkan pada teori-teori belajar. Hakikat dari teori belajar yang sesuai dengan pembelajaran matematika perlu dipahami sungguh-sungguh sehingga tidak keliru dalam menerapkannya. Seoarang guru matematika yang profesional dan kompeten mempunyai wawasan landasan yang dapat dipakai dalam perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran matematika. Wawasan itu berupa dasar-dasar teori belajar yang diterapkan untuk pengembangan atau perbaikan pembelajaran matematika.

Dalam pelaksanaan pembelajaran matematika yang merupakan ilmu deduktif dan abstrak, sedangkan perkembangan kognitif siswa yang cenderung masih konkrit dan induktif, maka hal ini harus disesuaikan dengan penggunaan strategi serta model dan media yang relevan untuk mengajarkan matematika, agar materi yang disampaikan dapat dipahami oleh siswa. Seorang guru harus dapat mengurangi sifat abstrak dari objek matematika itu sehingga pada akhirnya akan memudahkan siswa memahami pelajaran matematika yang diajarkan.

Hierarki perencanaan, penyusunan, dan pelaksanaan pembelajaran matematika yang efektif di sekolah dasar dan sesuai dengan hierarki belajar matematika, maka perlu mempetimbangkan materi matematika, tujuan belajar matematika, sumber belajar, strategi praasesmen, strategi belajar mengajar, dan strategi protasemen.

Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar bertujuan untuk mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan-perubahan di dalam kehidupan dan dunia yang sedang berkembang. 

Mata pelajaran matematika di Sekolah Dasar diberikan kepada siswa dengan tujuan agar siswa memiliki kemampuan berpikir logis, analisis, sistematis, kritis dan kreatif serta kemampuan bekerja sama. Selain itu kurikulum 2006 menjelaskan bahwa pembelajaran matematika di Sekolah Dasar ditujukan pula agar siswa memiliki kemampuan memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah-ubah tidak pasti dan kompetitif (Depdiknas, 2006 : 109)”.

Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar matematika dalam kurikulum disusun sebagai landasan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan tersebut. Selain itu untuk mengembangkan kemampuan menggunakan matematika dalam pemecahan masalah dan mengkomunikasikan ide atau gagasan dapat digunakan simbol, tabel, diagaram, dan media lainnya. Untuk meningkatkan kemampuan memecahkan masalah perlu dikembangkan kemampuan memecahkan masalah, menyelesaikan masalah, dan menafsirkan solusinya.

Pembelajaran matematika di Sekolah Dasar merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan karena adanya perbedaan karakteristik khususnya antara hakikat anak/siswa dengan hakikat matematika. Matematika bagi siswa SD berguna untuk kepentingan hidup dalam lingkungannya, untuk mengembangkan pola pikirnya, dan untuk mempelajari ilmu-ilmu yang lainnya. Kegunaan atau manfaat matematika bagi siswa SD adalah sesuatu yang jelas yang tidak perlu dipersoalkan lagi, lebih-lebih pada era pengembangan ilmu pengetahuan dewasa ini.

Menurut Karso (2007, 1.4) “Hakikat anak didik dalam pembelajaran matematika di Sekolah Dasar adalah :
1. Anak dalam pembelajaran matematika di SD.
2. Anak sebagai individu yang berkembang.
3. Kesiapan intelektual anak.

Ruseffendi (Tim MKPBM, 2001 : 24) menyatakan bahwa “Setiap konsep yang abstrak dalam matematika yang baru dipahami segera diberi penguatan supaya mengendap, melekat dan tahan lama tertanam dalam diri anak sehingga menjadi miliknya dalam pola pikir maupun tindakannya. Untuk itu maka perlu belajar melalui perbuatan dan pengertian, tidak hanya sekedar hapalan dan mengingat fakta saja yang tentunya akan mudah dilupakan dan sulit untuk dimiliki siswa”.

Dalam setiap pembelajaran matematika hendaknya dimulai dengan pengenalan masalah yang sesuai dengan situasi (contextual problem). Dengan mengajukan masalah kontekstual secara bertahap dibimbing untuk menguasai konsep matematika. Untuk meningkatkan keaktifan pembelajaran maka dituntut untuk menggunakan alat atau media pembelajaran yang dapat membantu proses dan keberhasilan pembelajaran. Selain itu, dalam pembelajaran matematika juga dituntut menerapkan sebuah model dan metode pembelajaran yang tepat, sehingga pada akhirnya pembelajaran matematika dapat diserap dengan baik oleh siswa. Begitu juga dengan pembelajaran pada materi konsep pengukuran luas daerah bangun datar, seorang guru harus bisa menggunakan media pembelajaran yang tepat dan efektif.

Dalam mengembangkan kreatifitas dan potensi siswa, maka guru hendaknya dapat menyajikan pembelajaran yang efektif dan efisien sesuai dengan kurikulum dan pola pikir siswa. Dalam mengajarkan matematika, seorang guru harus memahami bahwa kemampuan setiap siswa itu berbeda-beda serta tidak semua siswa menyenangi pelajaran matematika. 

Menurut Syarif (2010) menjelaskan bahwa “Konsep-konsep pada kurikulum matematika SD dapat dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu penanaman konsep dasar, pemahaman konsep, dan pembinaan ketrampilan”. Tujuan akhir pembelajaran matematika di SD ini yaitu agar siswa terampil dalam menggunakan berbagai konsep matematika dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi, untuk menuju tahap keterampilan tersebut harus melalui langkah-langkah benar yang sesuai dengan kemampuan siswa dan lingkungan sekitarnya. Penjabaran pembelajaran yang ditekankan pada konsep matematika yaitu : 1. Penanaman konsep dasar, 2. Pemahaman konsep, 3. Pembinaan keterampilan”.

Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika di Sekolah Dasar (SD) adalah ilmu yang sangat penting dan berguna untuk diberikan kepada siswa untuk masa depan hidupnya agar siswa mampu memaksimalkan potensi yang ada dalam dirinya yang harus diberikan oleh guru dengan memperhatikan kondisi lingkungan dan karakteristik dari setiap siswa
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top