Doa doa, Surat Yasin, Surat Al Waqiah, Asmaul Husna, Ayat Kursi, Juz Amma, Contoh Surat Lamaran Kerja, Proposal, Makalah dan Puisi

Sunday, March 1, 2015

Mengenal Pengertian Alat Musik French Horn

French horn yang paling awal berupa tanduk hewan yang dilubangi, atau objek alam lain yang akan beresonansi dengan nada tertentu saat pemain menggetarkan bibir di lubang yang ada di salah satu ujungnya.

Instrumen modern adalah keturunan dari instrumen-instrumen tiup masa awal ini yang digunakan selama berabad-abad di Eropa untuk kepentingan militer dan berburu. horns ini memiliki berbagai bentuk dan ukuran. Horn orkestra khususnya diturunkan dari trompe de chasse Perancis, yang menghasilkan nama “French Horn”. Horn berburu ini, digunakan di Perancis pada abad ketujuh belas, adalah tabung ramping yang digulung menjadi sebuah lingkaran besar yang bisa dengan mudah digantungkan di bahu para pemburu. Tabung ini panjangnya hanya 7 kaki (210 cm) dan lebih silindris dari horn modern. Cor de chasse abad ke delapan belas, instrumen tipikal dalam orkestra masa Bach dan Handel, dua kali lebih panjang dan digulung dalam dua lingkaran. Instrumen ini tidak memiliki katup dan awalnya dimainkan dengan belnya mengarah keatas dan keluar.

Dengan demikian alat ini hanya bisa memainkan nada-nada dalam rangkaian satu harmoni. Hal ini sangat membatasi bagian-bagian yang bisa dimainkan oleh satu instrumen, french horn yang bisa memainkan rangkaian harmoni dengan nada dasar Eb, misalnya, bisa memainkan sejumlah nada yang ada dalam kunci Eb, tapi tidak semuanya. Bahkan bisa memainkan lebih sedikit nada dalam kunci-kunci yang terkait erat dengan kunci E, dan sama sekali tidak bisa memainkan satu nada pun dalam kunci yang tidak terkait dengan kunci Eb.

Ini berarti bahwa seorang pemain french horn yang ingin bisa memainkan lebih dari satu kunci akan memerlukan beberapa french horn yang berbeda, yang pastinya membutuhkan waktu lebih untuk beralih dari satu horn ke horn lain kapanpun musik mengubah kuncinya, dan masih akan tetap tidak bisa memainkan semua nada dalam kunci tersebut. Selama berabad-abad, sejarah horn adalah sejarah pencarian solusi untuk keterbatasan ini.

Salah satu solusi untuk masalah ini adalah dengan menambahkan rangkaian pemain kedua. Sepasang terompet bisa bermain di satu kunci; pasangan lainnya bermain di kunci yang berbeda. Penyusunan orkestra modern seringkali masih menggambarkan solusi masa awal ini, dengan empat horn bermain sebagai dua pasangan, dan bagian horn ketiga bertindak hampir seperti horn pertama.

Solusi kedua adalah untuk mengubah posisi horn sehingga belnya berada di kaki pemain, dan tangan kanan bisa ditempatkan di bagian dalam bel. Pemain kemudian bisa menggunakan tangan kanan dengan dua cara yang berbeda, sebagian menghalangi aliran udara, atau hampir sepenuhnya menghentikan aliran udara dengan tangan. Menghalangi udara sebagian akan menurunkan nada sekitar setengah, namun menghentikan nada sepenuhnya akan memendekkan napas instrumen tersebut dan dengan demikian akan menaikkan nadanya sekitar satu tingkat. Timbre nada yang dihentikan sebagian dan dihentikan sepenuhnya sangat berbeda satu sama lain dan juga sangat berbeda dari suara nada ‘terbuka’. Nada-nada ini mungkin terdengar sangat bergetar bagi telinga penikmat musik modern.

Namun teknik penjarian horn, yang ditemukan oleh pemain horn dari Dresden yang bernama Hampl sekitar tahun 1770, memungkinkan keseluruhan skala kromatik dimainkan oleh satu instrumen tanpa jeda. Hal ini sangat berguna hingga French horn tangan jadi diterima secara luas terlepas dari keanehan timbrenya. Sebenarnya, horn tangan ini masih terus digunakan selama berpuluh-puluh tahun meski telah tidak terlalu diperlukan lagi.

Solusi masa awal yang sangat terkenal melibatkan penambahan panjang tabung instrumen untuk mengubah kuncinya. Ada berbagai catatan untuk menambahkan tabung tambahan tersebut, lekukan bisa dimasukkan kedalam soket di lingkaran, pengganda bisa ditambahkan diantara bagian mulut dengan instrumen. Sekarang seorang pemain horn bisa memainkan berbagai kunci hanya dengan satu horn dan sekantong lekukan atau pengganda.

Dia masih perlu waktu untuk mengubah lekukan di instrumennya saat musik mengubah kunci, namun tidak serepot dan selama dulu. Untuk menyederhanakan hal ini untuk pemain horn, para komposer akan menuliskan lekukan mana yang dibutuhkan (sebuah gerakan mungkin dinamai “untuk horn pada nada A”) dan mengubah nada instrumen untuk bagian itu. Ini membuat musik mudah dibaca harmoni pertama selalu seperti C, yang ketiga G, dan seterusnya mudah bagi para pemain horn masa itu, yang instrumennya mengubah nada untuknya, namun lebih sulit bagi pemain horn jaman modern yang mencoba membaca musik lama, yang mungkin harus mengubah nada A ke nada F di hornnya yang telah dibuat khusus.





Tentu saja, horn ideal bisa memindahkan lekukan hampir secara langsung, dan banyak terompet baru ditemukan untuk memungkinkan solusi ini. Sejumlah penemuan ini lebih berhasil dari penemuan lainnya. Horn omnitonis menambahkan semua lekukan ke instrumen, dengan sebuah alat untuk memindahkan dari satu tabung ke tabung lain. Ini menjadikan pemindahan lekukan sangat mudah dan cepat, namun teknik penjarian horn masih dibutuhkan untuk bisa memainkan semua nada dalam satu kunci.

Penemuan yang benar-benar membebaskan horn memainkan skala kromatis penuh adalah valve. Sebuah valve bisa menutup dan membuka hampir seketika, mengarahkan aliran udara melalui lekukan tambahan di bagian tengah instrumen. Tidak terlalu jelas siapa yang pertama menemukan horn valve, namun pada 1818 sebuah horn valve dengan valve dua piston dipatenkan, pada tahun 1830, ditambahkan valve piston ketiga. Meski kebanyakan instrumen tiup modern lainnya masih menggunakan valve piston, horn beralih ke valve rotari (berputar), sepertinya ditemukan oleh Joseph Riedl dari Vienna tahun 1832. Horn modern menggunakan tiga valve rotari, yang menurunkan rangkaian harmoni (F) aslinya sampai setengah nada, dan satu setengah nada, memberikan skala kromatis yang cepat dan mudah untuk horn.

Kebanyakan horn modern juga berupa Double Horn, yaitu dua horn jadi satu. Saat pembuat dan pemain instrumen tersebut sibuk memilih diantara banyak instrumen (Horn di D? Di Eb?) untuk digunakan sebagai horn valve modern, horn nada F awalnya dipilih karena memiliki suara yang penuh, sedang dan menyenangkan. Namun sulit memainkan nada tinggi dengan akurat menggunakan horn F, sehingga rangkaian lekukan kedua, untuk horn Bb yang lebih kecil dan lebih tinggi, ditambahkan. valve keempat, atau pemicu membuka rangkaian lekukan yang lebih pendek, mengubah instrumen dari ‘sisi’ F ke ‘sisi’ Bb untuk memainkan nada tinggi.

Horn adalah bagian dari orkestra standar. Sebuah orkestra kecil pasti memiliki dua horn, orkestra besar memiliki empat horn atau lebih. Bagian pemain horn pertama (yang utama) mungkin sangat melelahkan sehingga orkestra yang besar mungkin memiliki cadangan pemain horn utama untuk mengambil tempat pemain utama tersebut di sebagian program yang mereka bawakan, dan asisten pemain horn utama untuk bermain bersama pemain utama tersebut di bagian bukan penampilan solo.

Band biasa atau ensembel juga pasti memiliki paling sedikit empat horn. Sejumlah rekaman yang mudah ditemukan yang menampilkan horn dalam ensembel yang lebih besar adalah waltz “Blue Danube” karya Strauss, “Waltz of the Flower” dari tarian balet Tchaikovsky yang berjudul Nutcracker, “Nocturne” dari Midsummer Night’s Dream gubahan Mendelssohn, dan “Ride of the Valkyries”, musik dari opera Wagner berjudul Die Walkuere.

French horn juga ditampilkan dengan baik dalam repertoire musik kamar. Kuintet tiup standar mencakup sebuah horn, begitu juga dengan quintet instrumen tiup kayu(woodwind). Ada juga banyak musik yang ditulis untuk quartet horn, sejumlah namun tidak semuanya berasal dari pembuatan orkestra.

Terlepas dari keterbatasan historis instrumen ini (lihat bagian sejarah, diatas), sejumlah komposer terkenal juga menulis musik solo untuk horn. Yang paling terkenal dari para komposer ini adalah keempat conserto horn Mozart.

Horn pertama sesuai dengan namanya dibuat dari tanduk binatang di afrika, instrument ini terutama dibuat dari tanduk antelope, tanduk lembu sebagai pengganti yang lebih lemah. salah satu dari jenis yang paling tua dari horn adalah shofar dari yahudi atau horn domba jantan. Dibuat dari domba atau kambing yang dibunuh dalam upacara agama, shofar adalah satu satunya instrument yang bertahan hingga abad XX dalam bentuk yang sama.

Pemain French Horn terkemuka yaitu, Denis brain, Berry tuckwell. “Problem utama dari horn adalah tanpa penghentian tangan, mereka hanya dapat bermain satu set harmonics”.(Buku Musik, 2000:21). Maksud dari kutipan diatas bahwa, awal dari instrument Horn tidak ada penghentian tangan (tidak ada Valve atau klep), maka Satu solusi, diambil pada tahun 1750 oleh pembuat instrumen asal Dresden yang bernama johann Werner, adalah slide crook. Pada 1815, penemuan valve/ (pengatur tonal(not) atau nada), merombak kondisi permainan french horn dengan dua katup yang disesuaikan pada french horn.

French Horn Alat musik tiup logam “brass aerophone”. French Horn terbuat dari logam (biasanya dari kuningan), instrument ini memiliki beberapa standar titi nada yaitu french horn in F, C, aS, dan Bes.. Alat ini berpipa silinder dan ujungnya melebar menjadi seperti lonceng. French Horn terdiri dari mouthpiece berbentuk cangkir yang bisa dilepas pasang, pipa silinder, valve atau klep yang biasanya terdiri dari 3 buah valve, dan sebuah corong ”bell” (Buku Vizzutti, 2000: 8). Range suaranya dari f# oktaf kecil dan c3 atau lebih.

Sumber bunyi yang dihasilkan oleh French Horn berasal dari angin/tiupan, oleh karena itu French Horn termasuk alat musik tiup (aerophone). Pemain French Horn meniupkan udara melewati mouthpiece pada ujung French Horn, angin yang ditiupkan menyebabkan getaran pada bibir atas dan bawah yang bersentuhan, dan getaran bibir tersebut menyebabkan udara yang ditiupkan tadi bergetar melewati pipa. Getaran tersebut membuat rangkaian not yang naik, disebut overtone series. Menurut Vizzutti, (2000: 8) menjelaskan sebagai berikut: “Tiupan udara yang banyak melewati mouthpiece, menyebabkan bibir bergetar dan menimbulkan suara pada terompet, fungsi bibir di sini hampir sama dengan fungsi reed pada alat tiup kayu”.
Facebook Twitter Google+
 
Back To Top